
Di ruangannya Khalid dan Dendi sedang membicarakan penyelidikan Dendi semalam.
"Benar benar licik Angel dia telah menyuruh pelayan memasukkan obat itu kedalam minumannmu, dia ingin menjebakmu"
"Aku selamat dari Angel tapi kena perangkap Sherin"
"Apa menurut kamu Sherin memanfaatkan keadaanmu malam itu"
"Kurasa begitu"
"Maaf Khal, tapi menurutku kamu memang sudah melakukannya dengan Sherin"
"Menurutmu begitu ya Den? "
"Iya, karena tidak ada hal mencurigakan disana, aku juga sudah menanyakan pelayan disana satu persatu."
"Bahkan Dendi percaya aku sudah berbuat hal itu" batin Khalid dalam hati.
"Kau mau rekaman cctv disana?"
"Tidak perlu, kau simpan saja tadi kan aku sudah lihat"
"Baiklah, aku kembali kerja ya"
Khalid mengangguk saja, dia masih memikirkan kata kata Dendi barusan.
"Jika aku benar telah menodai Sherin, aku harus bagaimana. Menikahinya? " Khalid pun menjadi ragu pada dirinya sendiri, jangan jangan dia memang sudah menodai Sherina.
"Aku tak bisa. Aku memilih memberikan hartaku padanya."
Saat jam makan siang seperti biasa Khalid pulang kerumah, dia ingin makan siang bersama istrinya. Sampai dirumah, Khalid sudah disambut oleh Syafina. Makan siang telah disajikan. Mereka bertiga dengan ibu Fatimah makan siang bersama.
Setelah makan siang Khalid memberi tahu Syafina jika dia ingin berbicara dengan ibunya .
"Fin, abang bicara sama ibu ya. Kamu kekamar saja duluan"
"Iya bang, Fina duluan ya" Syafina lalu berjalan menaiki tangga kekamarnya.
"Kenapa kamu ingin bicara sama ibu Khal? "
"Ehm, begini bu. Mengenai rencana ibu menikahkan aku dengan Sherin. Aku minta maaf sama ibu, untuk kali ini aku tak bisa menuruti perintah ibu"
__ADS_1
"Khal, maafin ibu juga nak. Ibu tahu ini berat bagi kamu. Tapi ibu kasihan kepada Sherin, dia sudah dicerai suaminya."
"Tapi keputusan pengadilan belum selesai kan bu, mereka bisa saja rujuk"
"Khal, Sherin tak mau kembali kepada suaminya. Robi sudah terlalu sering menyakitinya, jangan kau tambah kesedihannya. Ini saatnya kau membalas budi Sherin kepadamu"
Khalid mengusap mukanya, menarik nafas dan membuangnya dengan kasar. Dia tak mengerti dengan cara berpikir ibu nya, mengapa ibunya tega menyakiti Syafina.
"Sherin sudah lama mencintaimu. Syafina saja yang baru kenal sama kamu bisa jadi istri yang baik buat kamu, apalagi Sherin yang sudah paham betul sifat kamu Khal, cobalah buka hatimu untuk dia".
"Aku tak bisa bu, aku lebih memilih memberikan semua hartaku pada Sherin daripada aku menikahinya"
"Khal, ibu sudah menyuruh orang menyelidiki di restoran apakah ada hal hal yang mencurigakan. Ternyata tidak ada, hanya ada rekaman cctv kau dibawa pelayan masuk kekamar itu dan Sherin juga masuk kekamar itu."
"Ibu juga menyelidikinya? "
"Iya, besok paginya ibu langsung menyuruh orang menyelidikinya, ibu masih penasaran apa kau memang melakukannya atau tidak. Dari keterangan orang suruhan ibu sudah cukup membuktikan kau memang bersalah Khal, apalagi didukung surat keterangan dokter pagi itu"
"Tapi walaupun aku bersalah, aku tetap tak mau menikahi Sherin, sebagai gantinya aku akan memindahkan semua asetku atas nama Sherin"
"Khal, susah payah kau mencapai itu semua nak, akan kau serahkan semua kepada Sherin? "
"Aku mementingkan perasaan Syafina bu, dia hamil anakku"
Kemudian Fatimah meninggalkan Khalid yang duduk menundukkan kepalanya, kepalanya sungguh sangat berat memikirkan masalah yang menimpanya. Khalid lalu berjalan kelamarnya dia ingin istirahat, bermanja dengan Syafina itulah tujuannya saat ini. Hanya itu yang bisa menenangkan pikirannya.
Syafina telah selesai solat zuhur. Dilihatnya Suaminya masuk kedalam kamar dengan wajah kusut. Khalid kelihatan seperti orang yang putus asa.
"Abang solatlah dulu, setelah itu istirahatlah"
Khalid segera melaksanakan solat Zuhur, setelah solat dia berdoa agar terlepas dari masalah yang menimpanya ini.
Setelah selesai solat Khalid lalu menghampiri istrinya yang duduk diatas tempat tidur. Lalu dia tidur di pangkuan istrinya.
"Pijitin kepala abang Fin, pusing"
Syafina memijit kepala suaminya dan mengelus rambutnya, dia turut merasakan beban yang dirasakan suaminya.
"Bicara apa sama ibu tadi bang? "
"Abang bilang sama ibu, kalau abang tak mau menikahi Sherina"
__ADS_1
"Terus apa kata ibu"
"Dia bilang abang harus berbicara baik baik padamu, maksudnya mungkin meminta persetujuanmu untuk menikahi Sherin"
"Terus abang sekarang ingin meminta persetujuanku? "
"Tidak Fin, abang tak mau menikahi Sherin karena abang tak mau kehilangan kamu. Abang memilih memberikan semua harta abang kepada Sherin"
"Bang, apa kata ibu mendengar abang bilang begitu? "
"Dia menghargai apapun keputusan abang, tapi tentu saja dia masih berharap abang mau menikahi Sherin"
"Fina, jika abang tak punya apa apa lagi apa kau mau menemani suamimu ini dari nol, seorang pria yang miskin"
"Abang, sudah ku bilang aku akan selalu dukung kamu. Dulu aku juga tak mengira suamiku sekaya ini, aku pikir suamiku ini hanya karyawan" Syafina membelai rambut suaminya, memberi ketenangan kepada Khalid. Khalid menatap istrinya sungguh dia tak sanggup menyakiti wanita ini dengan menikah lagi.
"Apa menurutmu suamimu ini tak bersalah?"
"Suamiku tak bermasalah, dia hanya korban"
"Bagaimana jika aku memang bersalah, abang sendiri mulai ragu"
"Aku yakin Tuhan melindungi suamiku ini, Karena sedari kalian berangkat siang itu aku selalu mendoakan suamiku agar Allah melindunginya, memeliharanya, agar kuat imannya. Aku yakin Allah mengabulkan doaku kala itu"
"Terimakasih sayang sudah mendoakan suamimu, Kamu memang perhiasan yang sangat indah dan tinggi harganya. Abang tak mau berpisah denganmu karena abang ingin kau yang jadi bidadari surga abang nantinya."
Airmata Syafina menetes mendengarnya, sebegitu besar cinta suaminya kepadanya. Membuat dia tambah yakin bahwa suaminya tak bersalah, tak mungkin laki laki ini melakukan hal bejat walaupun dalam pengaruh obat.
Syafina mengusap airmatanya, dia terharu mendengar kata kata suaminya. Syafina berjanji dalam hati akan selalu mendukung suaminya apapun yang terjadi. Dia juga siap menjadi miskin bersama suaminya.
"Jangan menangis Fin, maafin abang yang selalu membuat kamu menangis."
"Bang, apa Sherin mau diberikan harta. Bagaimana jika dia hanya mau menikah dengan abang?"
"Sudah abang bilang abang tak akan menikahi Sherin, Dia lebih baik mencari orang yang mencintainya"
"Tapi ibu akan murka."
"Ibu akan mengerti Fin, lagi pula abang dijebak. Bukan kehendak abang melakukan itu. Sekarang ibu hanya termakan hasutan Sherin untuk menikahkan abang dengannya"
Khalid merasa sangat nyaman di pangku istrinya, Syafina memijat kepalanya yang tadi terasa berat sekarang sudah terasa ringan. Berada dekat Syafina dan dibelainya adalah mood booster bagi Khalid.
__ADS_1
****