
Syafina mulai bosan dirumah, apalagi Khalid pagi pagi sudah berangkat kerja, pulangnya sore. Malam tadi suaminya lembur dan pulang jam sembilan malam. Benar benar membuatnya kesepian seharian.
"Dua hari lagi aku masuk kerja, gimana ini yaa,. aku takut ketemu sama mas Arsya dan Kak Reyhan." Batin Syafina.
"Apa aku pindah saja ke ruangan lain?"
Syafina mengambil ponselnya lalu menelpon suaminya.
"Assaalamualaikum bang"
"Wa alaikumsalam, ada apa Fina tumben nelpon abang?"
"Bang aku mau kerumah sakit sekarang, Fina ngasih tahu saja. Minta izin ada yang mau Fina urus"
"Baiklah, nanti selesai urusannya kabari ya kita makan siang".
"Iya bang, bye" Syafina menutup telponnya. Lalu dia menelpon Lorenna.
"Hallo Ren, kamu dimana? "
"Di kos, aku masuk kerja nanti malam pa kabar nih penganten baru? "
"Kabarku baik Ren, hari ini bisa temani aku ketemu pak Hartono nggak? "
"Bisa, kenapa mau ketemu pak Har?
"Mau pindah ruangan aku Ren, ya udah nanti saja kita sambung ngobrolnya. Tunggu aku di parkiran rumah sakit, aku siap siap sekarang".
Syafina lalu bersiap siap untuk kerumah sakit menemui pak Hartono di bagian komite keperawatan.
"Ma, aku kerumah sakit sekarang ma"
"Sudah mulai kerja Fina? "
"Belum ma, ada yang mau Fina urus"
"Kalau gitu hati hati ya" kata mama Zaenab.
Sesampainya di rumah sakit, Syafina melihat Renna telah menunggunya. Syafina menghampirinya.
"Sudah lama Ren?"
"Barusan,"
"Yuk ke ruangan pak Hartono" ajak Syafina. Mereka lalu berjalan bergandengan menuju ruangan pak Hartono.
"Kenapa pindah ruangan Fin? "
"Aku nggak nyaman kalo masih di UGD, nanti ketemu sama mas Arsya dan kak Rey."
"Oo gitu, pindah ke ruangan aku aja Fin. Di ruang perinatologi"
"Tadinya aku pikir juga gitu Ren, moga saja pak Har mau me mutasikan aku ke perinatologi".
"Mudah mudahan saja, pak Har itu nggak ribet orangnya, urusan sama dia mudah"
Akhirnya mereka sampai ke ruangan pak Hartono, nasib baik orang yang dicari ternyata ada di ruangan. Syafina mengetuk pintu, dan mengucapkan salam. Setelah ketemu pak Hartono Syafina mengatakan maksud kedatangannya.
"Oke nggak masalah, kamu bisa pindah. apa kamu bawa syarat syarat yang saya bilang tadi"
"Bawa pak, ini" Syafina menyerahkan map.
"Kamu langsung bisa masuk ke ruangan perinatologi setelah habis cuti menikah, tunggu surat pindahnya di buat ya".
Sekitar setengah jam menunggu Pak Hartono membawa dua buah amplop dan memberikannya kepada Syafina.
"Yang ini kamu serahkan ke kepala ruangan perinatologi dan yang ini kamu beri sama kepru UGD".
"Iya pak, makasih pak"
"Iya sama sama"
"Kami permisi pak" pamit Syafina. Lalu Syafina dan Lorenna keluar dari ruangan pak Hartono.
"Ren bisa minta tolong nggak, kamu saja yang antar surat pindahku. aku takut bolak balik nanti ketemu mas Arsya.
"Oke" jawab Lorenna.
Syafina memberikan amplop itu kepada lorenna.
"Aku duluan ya Ren, aku sudah janjian sama suamiku makan siang"
"Iya, hati hati. aku antar surat ini ya".
Syafina mengirim pesan kepada suaminya.
"Bang urusanku selesai, makan siang dimana? "
"Restoran Bunda, kamu tahu tempatnya kan? "
__ADS_1
"Tahu bang, Fina berangkat sekarang". Syafina dan Khalid sampai di Restoran bunda bersamaan.
"Yuk masuk", Khalid menggandeng tangan Syafina. Syafina merasa jantungnya berdebar keras di gandeng seperti itu. Di dalam restoran Khalid memilih tempat duduk di tengah. Restoran itu lumayan ramai karena memang saatnya makan siang. Beberapa orang pelayan yang lewat menunduk memberikan hormat kepada mereka.
"Ramah banget pelayan disini" gumam Syafina. jujur saja dia baru pertama kali ke Restoran ini.
Seorang pelayan membawa daftar menu menghampiri mereka.
"Pesan apa tuan? "
"Gurami asam manis pakai nasi, minumnya jeruk hangat, kamu pesan apa Fin? "
"Udang saos, nasi putih, perkedel, minumnya jeruk dingin."
"Kenapa makan disini bang, kan mahal disini"
"Disini makannya enak tapi nggak semahal restoran di kota besar ."
"Abang sering makan disini ? "
"Sering, minimal dua minggu sekali, kamu pernah kesini ? "
"Belum pernah" jawab Syafina
"Masa sih, restoran ini kan sudah hampir dua tahun dibuka"
"Hehe, mana ada duit aku makan disini honorer macam Fina bang".
"Oo gitu, cobain nanti makanannya kamu pasti suka."
"Kalau aku suka nanti aku ketagihan bang, minta makan dari Restoran Bunda tiap hari" Syafina tersenyum.
"Nanti tiap hari abang bawain"
"Aishh pemborosan, nanti abang jadi tukang cuci piring disini"
Khalid tertawa mendengar perkataan istrinya. Tak lama dua orang pelayan membawa pesanan mereka. Syafina dan Khalid menikmati hidangan di depan mereka dengan lahap. karena selain makanan itu enak perut mereka memang sudah sangat lapar. Akhirnya hidangan didepan mereka habis tak bersisa.
"Ikut abang ke kantor yuk, abang masih ada kerjaan"
"Kerjaan abang apa sih bang"
"Makanya ikut nanti kamu tahu, tunggu disini ya." Khalid berjalan menuju kasir. Sekitar 15 menit Khalid berbincang dengan kasir dan manajer restoran itu, kemudian ia kembali ke meja Syafina menunggu.
"Yuk berangkat" ajak Khalid. Syafina berdiri dan mengikuti langkah suaminya. Mereka berangkat ke kantor Khalid menggunakan motor masing masing.
Sampai di kantor Khalid, Syafina mengikutinya saja. Nampak olehnya beberapa teman kerja Khalid tersenyum dan mengangguk kearah mereka. Suaminya hanya membalas dengan senyuman.
Akhirnya mereka sampai di ruangan Khalid.
"Kamu istirahat saja di sofa, kamar mandi dan toilet disebelah sana."
Syafina mengangguk, lalu dia duduk di sofa dan memainkan ponselnya. Kemudian seseorang masuk kedalam setelah dia mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk oleh Khalid.
Syafina melirik siapa yang menemui suaminya.
"Dia ini kan yang datang waktu resepsi maren, dan foto bareng" Syafina kembali memainkan ponselnya, dia tak ingin mengusik pembicaraan antara suaminya dan orang itu, sekitar setengah jam mereka berbincang lalu orang itu berdiri. Syafina mengamati dari sudut matanya.
"Syafina, baru pertama kali kesini ya. Sering sering main kesini ya biar Khalid semangat kerjanya," Dendi tersenyum lebar kepada Syafina.
"Ehhm, iya pak. Memangnya saya boleh sering sering kesini pak ?"
"Tanya aja sama suamimu, boleh nggak sering kesini".
"Tiap hari juga boleh" jawab Khalid.
"Nah itu dapat izin tiap hari kesini. Kamar mandi kan juga ada disini kalau mau mandi". Dendi tersenyum cengar cengir.
Syafina menatap Khalid, lalu menatap Dendi. Syafina diam saja tak ingin menanggapi, karena dia memang bingung dengan pembicaraan orang didepannya ini.
"Ya sudah aku permisi ya". Dendi membalikkan badannya lalu dia keluar.
"Dia bos mu? " Syafina bertanya.
"Bos apaan, coro dia"
"Coro, panggilan apa itu?". Syafina merasa heran dengan panggilan suaminya kepada temannya itu. Syafina kembali melihat lihat laman Medsos miliknya.
"Abang lembur, kamu istirahat saja solat disini saja. Nanti Yulia bawakan mukena kesini. Kalau mau tidur ada ruang pribadi sebelah sana, ada sofa disana".
Syafina mengangguk, kemudian seorang wanita masuk membawa kantong berisi mukena.
"Ini mukenanya pak"
"Iya terimakasih" Khalid mengambil kantong itu. wanita itu kembali keluar.
Khalid memberikan mukena itu kepada istrinya.
"Kalau mau solat ini mukenanya, jangan lupa kabari mama dirumah kalau kamu sama abang".
__ADS_1
Syafina mengangguk lalu mengambil mukena itu dari tangan suaminya. Dia lalu pergi keruangan yang ditunjuk oleh suaminya.
****
"Fina bangun.." Khalid menggoyang goyangkan bahu Syafina. Tapi Syafina sangat lelap dia belum juga terbangun. Khalid mentowel hidung istrinya, tapi Syafina nggak bereaksi.
"Tidur siang kok begini ya, apalagi tidur malam. urusan tidur Syafina ini memang juara". Khalid mendapat ide licik untuk membangunkan istrinya.
"Kalau nanti nggak terbangun juga awas saja kau Syafina", Khalid tersenyum menyeringai.
Khalid mendekat kepada Syafina, dia mengecup bibir istrinya itu. Syafina melenguh, matanya masih terpejam. Khalid memberi satu kecupan lagi yang lebih dalam dan bermain disana. Syafina membuka matanya perlahan.
"Aaa, dia melempar bantal sofa kepada Khalid"
"Hahaha" Khalid malah tertawa.
"Apaan sih, malah ketawa !"
"Bangunlah, mandi solat Ashar"
"Jam berapa ini? " kata Syafina sambil mengucek ngucek matanya.
"Jam 16.15 ayolah bangun, mandi. Ini baju gantimu"
Syafina bangun dan mengambil bungkusan dari tangan Khalid yang berisi pakaian.
"Dapat dari mana baju ini?" Syafina bertanya heran.
"Jatuh dari langit" jawab Khalid
"Ya aku belilah"
"Ooh, makasih ya bang". Syafina tersenyum, lalu beranjak dari tempat itu.
Sementara Khalid kembali ke pekerjaannya di temani oleh Dendi dan Yulia sekretarisnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 20.30. Syafina masih sedang menonton televisi.
"Fina yuk pulang" ajak Khalid.
Syafina lalu berdiri mengambil tas dan ponselnya, lalu dia mematikan televisi.
"Abang sering lembur ya?"
"Nggak juga, kalau akhir bulan seperti sekarang saja, ini bukan perusahaan besar seperti di tv itu jadi tidak terlalu banyak pekerjaan disini". Khalid melangkah keluar dari ruangannya, Syafina mengikutinya.
Sampai diluar Khalid mengajak Syafina masuk kedalam mobil miliknya. Khalid membukakan pintu untuk istrinya.
"Ayo masuk,"
"Motor kita mana bang ?"
"Sudah dibawa pak Lukman kerumah abang"
"Siapa pak lukman?"
"Sopir disini, ayolah masuk kok malah bengong"
Syafina lalu masuk kedalam mobil itu, lalu Khalid menjalankan mobilnya.
"Mobil siapa ini bang, mobil abang? "
"Iya, mobil abang"
"Kemaren kok nggak nampak. Taruh dimana? "
"Dibawa pak lukman" khalid menatap jalan, dia mengemudi dengan kecepatan sedang.
"Fin, maafin abang soal yang tadi ya? "
Fina mengangguk, "Lain kali jangan begitu"
"Kenapa jangan ?"
"Aku.. " ucapan Syafina tertahan, dia memikirkan kata kata yang tepat sebagai alasan.
"Kenapa, kamu malu? "
Syafina mengangguk lagi.
"Ya Tuhan sampai kapan istriku begini" batin khalid dalam hati. Dia melirik istri pemalunya itu.
"Kok senyum senyum, terbayang yang tadi ya?"
Syafina terkejut dan bertambah malu lagi, dia ketahuan senyum senyum. Dan tebakan suaminya tepat kalau dia memikirkan kejadian tadi. Mukanya jadi merah jambu.
"Kalau mau ayolah, abang juga mau".
Syafina malah diam seribu bahasa. Tak menanggapi ocehan suaminya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau nggak mau" Khalid senyum senyum sendiri melihat istrinya yang kelihatan gugup.
****