Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 48


__ADS_3

Salman dan Zaenab khawatir melihat putri kesayangan mereka, karena kondisi Syafina sekarang yang masih hamil muda. Syafina dan Khalid memang sebelumnya tak pernah menceritakan apa yang terjadi dengan Syafina selama ini. Karena Syafina tak ingin membuat orang tuanya jadi khawatir. Baru kali inilah mereka memberitahu orang tua mereka apa yang terjadi dengan Syafina.


"Khalid, mama dan papa pulang, kami titipkan Syafina. Jaga baik baik"


"Iya ma," jawab Khalid.


"Empat hari lagi, mama kesini lagi setelah panen nanas selesai"


"Iya ma, kira kira bagaimana hasil panennya ma?" tanya Khalid.


"Sepertinya hasil panennya meningkat dari yang kemaren"


"Alhamdulillah, Syafina biar saya yang jagain ma, lagipula ibu tinggal sama kami sekarang"


"Bibi tinggal dirumah Khalid sekarang? " tanya Salman.


"Iya, Khalid ajak bibi tinggal sama dia. Bibi pikir apa salahnya, biar Khalid nggak repot menjenguk bibi jadi bibi tinggal sama Khalid saja."


"Lebih baik begitu bi, Khalid kan sibuk, dia juga nggak bisa ninggalin bibi sendirian dirumah" kata Salman.


"Benar, lagipula dirumah Khalid bibi ada Syafina yang menemani".


"Titip Fina ya bi, Sekarang aku sama Zaenab pulang dulu" lalu Salman menyalami bibi Fatimah, zaenab pun melakukan hal yang sama.


Khalid menyalami mertuanya dan mencium tangan mertuanya. Kemudian zaenab menciumi pipi putrinya, sebenarnya ibu dan anak itu masih saling merindu.


"Mama, benaran ya empat hari lagi kembali kesini jenguk Fina" pinta Syafina.


"Insha Allah Fina, mama dan papa pulang ya"


Syafina mengangguk, matanya berkaca kaca. Dia masih ingin bersama mamanya lebih lama lagi.


****


"Bu, kalau ibu mau pulang biar ku antar, Fina nggak apa apa sendirian kan sayang? " tanya Khalid.


"Nggak apa, antarlah ibu pulang kasian ibu disini nggak bisa istirahat"


"Ibu tunggu Sherin saja, tadi ibu sudah kirim pesan."


"Kalau Sherin sampainya lama gimana..?" kata Khalid.


"Bentar lagi sampai, kamu jangan ninggalin Fina sendiri, bahaya Khal. Takut nanti ada yang nyelakain Syafina gimana? "


"Masa sih bu, ini rumah sakit. Kayak di sinetron saja ada yang nyelinap"


"Iya bu, masa sih ada yang mau nyelakain aku?"


"Sudahlah, barusan Salman nitip Syafina sama kamu. kamu nggak boleh jauh dari dia.. ada cucu ibu dalam perut Syafina."


"Oke lah bu,, aku jagain tuan putri cantik ini". Khalid duduk di tempat tidur di sebelah Syafina. Syafina menyender di bahu suaminya.


Tak lama terdengar pintu di ketuk, Fatimah kemudian membuka pintu. Rupanya Sherin yang datang.

__ADS_1


"Ibu mau pulang sekarang? " tanya Sherin.


"Iya Sherin"


"Kalau ibu mau pulang sama bang Khalid, biar aku yang nemanin Fina"


Fatimah melihat kearah Khalid dan Syafina, dilihatnya anak dan menantunya itu seperti enggan berpisah.


"Ibu pulang sama kamu saja Sher"


"Bu, biar ibu sama bang Khalid saja. Biar abang bawa pakaian kotorku pulang, dan membawa pakaian bersih lagi kesini".


"Okelah, benar kata Fina ibu pulang sama aku saja" Khalid mengambil keputusan. Lalu dia turun dari tempat tidur.


"Abang antar ibu ya, kamu disini sama Sherin?"


Syafina mengangguk.


Melihat itu Fatimah mengambil tas nya, lalu menghampiri Syafina. Ada rasa khawatir di hatinya.


"Ibu pulang ya"


"Iya bu".


Khalid dan Fatimah akhirnya pulang, tinggal Syafina di temani oleh Sherin. Sherin menghampiri Syafina.


"Apa kabar Fina? " Sherin tersenyum ke arah Syafina. Dia terlihat sangat cantik dan elegan dengan minidressnya.


"Alhamdulillah mulai membaik, " Syafina membalas senyuman Sherin.


"Darimana kamu tahu aku sering Kecelakaan? " Syafina merasa sedikit heran.


"Kamu istri Khalid. Berita tentangmu cepat sekali tersebar."


"Oh gitu ?".


"Benar, bahkan orang diluar sana tahu kedekatanmu dengan dokter Arsya"


"Maksud kamu apa Sher, aku dan Arsya hanya sebatas dokter dan perawat, bawahan dan atasan."


"Iya aku tahu, atasan dan bawahan yang spesial"


"Tidak ada yang spesial Sherin" Syafina merasa kesal dengan Sherin, tapi dia menahan suaranya agar tidak meninggi.


"Syafina, tak usah malu mengakuinya. Bang Khalid juga sudah mengetahuinya."


"Iya memang, dan dia tak mempermasalahkan itu" jawab Syafina sambil tersenyum.


"Suamimu tak mempermasalahkan itu?, kamu tahu kenapa? "


Syafina diam saja, dia tidak tentu arah pembicaraan Sherin yang sepertinya sengaja cari masalah.


"Kamu nggak tahu kan kenapa?, kamu pikir suamimu begitu peduli sama kamu?, tidak Syafina, kamu itu istri pilihan ibu bukan pilihan Khalid "

__ADS_1


"Maksud kamu apa Sherin, kamu jangan mengadu dombakan aku dengan suamiku".


"Aku cuma memberi tahu kamu Fina, supaya kamu jangan terlalu baper dengan perhatian Khalid, sebagai wanita aku kasihan sama kamu".


"Lebih baik kamu keluar Sher, aku berani sendirian disini"


"Ngusir aku?, tunggu dulu.. aku beritahu ya. kamu pikir suamimu peduli sama kamu?, bang Khalid itu sama semua karyawan wanitanya juga peduli, dia itu laki laki yang sangat baik, dan sangat banyak wanita yang lebih segalanya darimu yang menginginkannya. sayangnya ibu menjodohkannya sama kamu, dan dia menyetujuinya karena dia sangat menyayangi ibu"


"Tidak Sherin, Bang Khalid sudah lama mencintaiku bahkan dari aku kecil"


"Ha ha, kamu percaya dongeng itu. Khalid memang tak pernah mau menyakiti wanita, walaupun hatinya sendiri tersakiti".


"Maksud kamu apa, khalid bahagia bersamaku, hatinya tidak tersakiti"


"Khalid tersakiti, karena selama ini dia tak benar benar mencintaimu, kalau dia benar benar mencintaimu tak mungkin dia membiarkan kamu beberapa kali hampir celaka., tak mungkin dia membiarkan Arsya menolongmu. kenapa bukan dia? "


"Lalu siapa wanita yang dicintai Khalid? " tanya Syafina, dia mulai penasaran dengan cerita Sherin.


"Nanti kamu tahu sendiri, dan tentang dongeng itu sebenarnya bukan kamu gadis kecil yang dicintainya. Dia hanya berusaha menemukan gadis itu dalam dirimu, karena kamu sudah jadi istrinya. Bang Khalid berusaha mencintaimu dan dia menjaga perasaanmu. Tapi kamu tega sama dia, kamu malah dekat sama laki laki lain".


"Sudah Sherin, hentikan ocehanmu. Jadi ini maksudmu menemaniku, kamu ingin meracuniku"


"Tidak Fina, aku tidak meracuni, aku hanya bicara sebenarnya. Aku kasihan dengan kakakku Khalid, menikah dengan wanita yang tak dicintainya, dan harus menjaga perasaan wanita yang tak dicintainya". Sherina tersenyum puas karena merasa berhasil membuat Syafina merasa bersalah.


Tert tert ponsel Syafina berbunyi tanda panggilan masuk. Syafina meraih ponselnya.


"Abang, ada apa? "


"Fina, ini tiba tiba klien ingin mengunjungi klinik sekarang juga, dia ingin abang ada disana."


"Sherin nggak kesana juga bang? "


"Sebenarnya sih iya, karena dia manager. Tapi gimana apa kamu berani sendirian di rumah sakit.?"


"Berani kok bang, kalau abang khawatir aku bisa ajak cintya kesini"


"Oke telpon Cintya, abang usahakan pulang sebelum malam".


"Iya bang, dah"


Syafina lalu menutup hubungan telponnya. lalu dia mencari kontak Cintya.


"Sher, kamu sepertinya di butuhkan di klinik. kamu kesana saja, saya berani sendirian disini"


"Iya, ini ada pesan masuk dari bang Khalid, aku pergi ya. O ya kamu pikirkan kata kataku tadi ya. apa kamu nggak kasihan sama suami mu yang harus menjaga perasaan wanita yang tak dicintainya?."


"Aku percaya suamiku mencintaiku, aku sudah hamil anaknya"


"Ha ha, naif sekali kamu Fina. Kalau semua laki laki melakukannya dengan cinta tak kan ada pelacur diluar sana, aku permisi. " Sherin membelakangi Syafina membuka pintu dan keluar. pintu itu di biarkannya terbuka.


Syafina turun dari tempat tidurnya, diangkatnya kantung cairan infus, dan ditentengnya dengan sebelah tangan. dia berjalan tertatih menuju pintu untuk menutupnya. kakinya yang terkilir sebenarnya masih terasa sakit. Dengan susah payah Syafina mendorong pintu dengan bahunya. Dia tak ingin memanggil suster hanya untuk menyuruh menutup pintu.


****

__ADS_1


maafin author sudah lama sekali tidak up karena author melahirkan adik bayi baru 😍, kebayangkan betapa sibuk ya dengan anak bayi. Malam ini up dua bab. Jangan lupa like nya yaa 😘


__ADS_2