
Menjadi seorang istri sekaligus ibu adalah tanggung jawab Syafina saat ini, semua dijalaninya dengan sabar dan ikhlas. Syafina baru saja selesai menyiapkan air hangat untuk Khalid mandi, setelah dirasakan suhunya pas Syafina lalu memanggil suaminya.
"Abang airnya sudah siap, abang mau mandi sekarang ?"
"Iya, siapin baju abang ya Fin" Khalid lalu menuju kamar mandi.
Syafina sudah menyiapkan pakaian suaminya dan meletakkannya di atas tempat tidur. Kemudian dia menyusui Syakha yang sudah merengek karena lapar. Syafina memang tidak menggunakan jasa baby sitter, dia ingin merawat bayinya sendiri karena dia ingin lebih dekat dengan Syakha dan menyaksikan setiap perkembangan Syakha.
Khalid sudah selesai mandi, dia mengambil pakaiannya dan memakainya satu persatu. Khalid sudah memakai celananya ketika hendak memakai bajunya, tiba tiba dia berhenti dan bertanya.
"Fina, apa kamu tahu luka dibahuku ini karena apa? "
"Ehm, itu luka karena ditusuk pisau. Waktu itu abang menyelamatkanku dari serangan orang jahat. Waktu itu kita belum menikah".
"Oo, kamu nggak kenapa kenapa kan waktu itu?"
"Nggak apa apa, lukanya Fina sendiri yang jahit loh bang".
"O iya, kamu kan perawat", Khalid memakai bajunya lalu dia duduk diatas sofa, dia memperhatikan istrinya menyusui anaknya. Sebenarnya dia mencoba mengingat kejadian yang baru saja diceritakan Syafina. Tapi dia tak mampu mengingatnya.
"Ya Allah, kembalikanlah ingatanku. Aku ingin mengingat kembali masa masaku bersama istriku, bersama ibuku" lirih Khalid dalam hati.
Syakha telah selesai menyusu dan dia sudah tertidur, Syafina menaruhnya kedalam inkubator kembali. Berat badannya sekarang sudah 2300 gram setelah satu minggu pulang kerumah.
"Bang, nanti setelah sarapan Fina mau ke kota."
"Ada urusan apa? "
"Menjenguk Sherina, dia kemaren dijatuhi hukuman 8 tahun penjara, sedangkan orang suruhannya masing masing 3 tahun penjara atas beberapa kali percobaan pembunuhan yang mereka lalukan".
"Sherina, bukankah dia yang menyuruh orang mencelakaiku. Dokter Zein yang memberitahuku, sebenarnya siapa Sherina? "
"Bang, nanti aku ceritakan semuanya sama abang tentang masa lalu abang, kurasa sudah saatnya abang tahu semuanya walaupun abang tak mengingatnya. Sekarang kita sarapan dulu ya.. " Syafina menggamit tangan suaminya, mengajaknya kedapur untuk sarapan.
Setelah selesai sarapan Syafina mengajak suaminya duduk di ruang keluarga untuk menceritakan masa lalu suaminya terutama mengenai Sherina.
"Abang, dengerin saja dulu cerita Fina ya bang".
__ADS_1
Khalid mengangguk, dia bersiap siap mendengar cerita Syafina.
"Sherina adalah adik angkat abang, dia mencintai abang lebih tepatnya terobsesi. Tapi abang hanya menganggapnya adik. Dulu dia bahkan beberapa kali mencelakaiku, sampai dua kali aku dilarikan ke rumah sakit sewaktu aku hamil. Dia terus berusaha mendapatkan abang, sampai suatu hari abang dijebak dan abang dituduh sudah menodainya, dan sekarang katanya dia hamil anaknya abang. Tapi aku tak percaya bang, dan abang sendiri juga tidak percaya. Walaupun semua orang bahkan orang tua abang dan Dendi sahabat abang sendiri juga mempercayainya."
"Astagfirullah, bagaimana kalau anak yang dikandungnya memang anakku ? dia sekarang kan dipenjara"
"Abang sudah janji akan tanggung jawab dengan anak itu, aku juga akan tanggung jawab jika itu memang anak abang. Tapi aku akan membuktikan jika bayi itu bukan anak abang"
"Hmm, abang percaya padamu Fin"
"Ada lagi yang ingin kuceritakan bang mengenai siapa abang sebenarnya. Abang dulu adalah pemilik sebuah perusahaan MK Group yang sedang berkembang, abang pengusaha yang cukup sukses di kota B. Dendi adalah asisten abang. Sekarang perusahaan itu telah jadi milik Sherina, dan semua aset abang telah jadi milik Sherina termasuk mobil dan rumah kita."
"Kenapa bisa begitu, apa dia juga merebut hartaku ?" Khalid menyela Karena penasaran dengan cerita istrinya.
"Sherin tak merebutnya, tapi semua abang berikan padanya karena abang tak ingin menikahinya. Abang sanggup hidup miskin asalkan tak menikahinya, abang telah memilihku. Aku harap abang tak menyesali keputusan abang meninggalkan semua harta abang demi aku dan Syakha. " Syafina berhenti bercerita, dia ingin mendengar komentar dari suaminya.
Khalid lama terdiam, lalu dia meraih tangan istrinya dan menggenggamnya.
"Abang yakin kamu pilihan abang yang tepat, kamu telah mengurusku dan anakku dengan sangat baik. Tak ada yang harus abang ragukan dari dirimu. Abang bisa melihat ketulusan dari matamu Fin. Abang bersyukur telah memilihmu.".
"Apa kau sendirian ?"
"Jody menemaniku" Syafina berdiri.
"Tunggu" Khalid mendekat, menangkupkan tangannya pada wajah Syafina. Mendekatkan bibirnya, menikmati bibir mungil itu yang sangat menggodanya.
Tin tin suara klakson mobil.
Syafina mendorong pelan tubuh suaminya.
"Itu Jody, aku pergi sekarang ya"
"Hati hati ya bunda Syakha, abang hari ini juga mau ke perkebunan. Sudah bosan dirumah" Khalid mengantar Syafina sampai keteras rumah, Jody sudah menunggu didalam mobilnya. Dia senang sekali jika harus kekota, karena dia bisa ketemuan sama pacarnya Yulia.
***
Khalid telah sampai di area perkebunan, dia berangkat bersama paman Sukri sedangkan papa Salman sudah berangkat sejak tadi. Sesampainya di perkebunan Sukri mengajak berkeliling melihat kebun cabai dan kentang milik Khalid, dan hari ini pekerja sedang menanam bibit jahe yang dipesan Khalid sama Adam tempo hari. Jahe itu di biarkan bertunas dulu sebelum ditanam.
__ADS_1
"Benarkah ini semua milikku paman ?"
"Benar Khalid, Salman punya tanah yang luas. Tentu saja diwariskan sama istrimu. Bibit dan biaya operasionalnya kan kamu yang berikan tempo hari sebelum kamu kecelakaan".
"Oo begitu"
"Bibit lengkeng dan alpukat yang kamu pesan sama Jody sudah sampai minggu kemaren, itu disebelah sana"
"Itu kapan bisa ditanam paman? "
"Mungkin dua minggu lagi, sekarang pekerja sedang menggali lubang setelah dua minggu baru bibit bisa di tanam"
"Paman, terimaksih banyak sudah membantu."
"Iya, sama sama. Papamu Salman juga sudah banyak membantu paman".
Setelah lama berkeliling mereka kembali ke pondok peristirahatan. Khalid tidak kuat untuk berpanas panas dibawah terik matahari, karena kondisinya belum benar benar pulih. Mereka berbincang bincang tentang agrobisnis yang sangat bagus prospeknya untuk dikembangkan.
Setelah cukup lama mereka beristirahat datanglah Salman, Dia habis berkeliling mengontrol pekerja, lalu dia duduk disamping Khalid.
"Khal, Tadi temanmu yang bernama Yusuf Alzyan Karim menelponku karena nomor hapemu tidak aktif lagi, entah darimana dia dapat nomor hape papa, sebaiknya kau menggunakan hape lagi karena banyak yang ingin menghubungimu".
"Yusuf Alzyan Karim, siapa dia? "
"Katanya dia temanmu di Jakarta, dia punya pabrik kelapa sawit di kota E. Di Jakarta dia juga punya pabrik obat obatan herbal. Dari pembicaraannya sepertinya dia mau menjalin kerjasama yang besar sama kamu."
"Kerjasama apa? "
"Mungkin saja dia mau bikin pabrik disini. Dia sanggup menampung Jahe berapapun katanya, termasuk rempah rempah lain seperti kunyit dan kencur. "
Mendengar itu Khalid menjadi terdiam, tadi pagi istrinya sudah bercerita bahwa dirinya dulu adalah seorang pengusaha yang cukup sukses. Tapi sekarang dia sudah tak punya apa apa, hartanya sudah jadi milik Sherina.
"Kamu jangan khawatir Khal, kalau masalah keuangan papa akan membantumu" Salman seakan tahu masalah yang mengganjal pikiran menantunya.
"Makasih pa, aku akan berusaha bangkit pa" . Dalam hati Khalid berjanji akan mengembangkan usaha pertanian milik mertuanya itu, jiwa bisnisnya memang tak hilang walaupun dia lupa ingatan.
****
__ADS_1