
Khalid membuka pintu kamar rawat inap istrinya, didapatinya Syafina yang duduk di atas tempat tidurnya. Syafina menatapnya sekilas, lalu menunduk. Dia mengenakan jilbab.
"Alhamdulillah Fina memakai jilbab, berarti tadi Arsya tak melihat aurat istriku" Khalid berkata dalam hati.
"Maafin Fina bang" Syafina membuka suara, tapi dia masih menunduk.
"Mengapa Arsya kesini? " Khalid duduk diatas sofa dikamar itu, menghadap ke tempat tidur Syafina.
"Aku nggak tahu bang"
"Kamu beritahu kalau kamu lagi sendirian ? "
"Bang dengarin dulu, aku nggak tahu kenapa Arsya kesini. Mungkin dia tahu dari Renna karena tadi aku menelpon Renna minta ditemani"
"Kenapa Arsya selalu tahu kamu lagi sendiri, kenapa dia juga selalu ada buat kamu ? "
"Bang, itu hanya kebetulan"
"Bukan kebetulan, dia sengaja menguntit kamu Fin, selalu jadi pahlawanmu. Hingga aku kelihatan tak berguna di mata kamu"
"Abang, yang penting aku selamat. Siapapun yang menolongku tak masalah"
"Apa kamu nyaman ketika dia dekat kamu,? kamu suka dia jadi pahlawanmu kan Fina?"
"Abang kenapa sih, apa yang dikatakan Arsya sama abang diluar tadi ?"
"Tidak ada apa apa"
"Aku tahu abang bertengkar dengan Arsya diluar, jangan pedulikan kata kata Arsya bang"
"Aku nggak tahu harus percaya sama siapa. Aku tidak tahu bagaimana Arsya selalu ada saat kamu butuh bantuan, sementara aku tak pernah ada buat kamu Fina"
"Maafin aku bang, percayalah sama aku. Kamu adalah suami yang sangat aku hormati. Dan hanya abang yang aku butuhkan"
Khalid menyenderkan kepalanya disandaran Sofa, dan menyilangkan dua tangannya diatas dahinya.
"Abang yang harus minta maaf. Maafin abang ya, tadi ninggalin kamu malah pergi meeting."
"Yang penting aku tidak apa apa bang, nggak ada orang yang nyelakain aku"
"Tapi kenapa kamu menangis, kamu takut sendirian? " Khalid menoleh kearah Syafina.
"Tidak ada apa apa bang" Syafina teringat kata kata Sherina tadi yang membuatnya menangis.
"Bang, abang sangat peduli sama aku. Apa abang benar benar khawatir sama aku? "
"Tentu saja Fina, kamu istriku. Kamu mengandung anakku"
"Jika aku tidak hamil, apa abang mengkhawatirkanku seperti ini juga? "
"Pertanyaan apa ini, tentu saja aku mengkhawatirkan wanita yang aku cintai, jangan nanya aneh aneh. Kamu pikir cuma Arsya yang mengkhawatirkan kamu?
Syafina terdiam mendengar jawaban Suaminya.
"Apa benar engkau mencintaiku bang, atau kau hanya tanggung jawab karena aku istrimu" Syafina membatin dalam hatinya.
Tak lama kemudian terdengar adzan berkumandang, tanda telah masuk waktu sholat magrib.
"Fina, kita solat jamaah ya, kamu tayamum saja, oh ya.. kamu sangat cantik berjilbab". Khalid bangun memandangi istrinya sejenak, lalu berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Syafina tersipu malu di puji oleh suaminya, wajahnya memerah. Tapi Khalid tak melihat itu.
Selesai berwudhu Khalid mengambil mukena istrinya dari dalam lemari, dan membantu Syafina memakainya. Kemudian mereka berdua solat magrib berjamaah.
****
Di singapura, Reyhan tengah mengemas pakaian dan perlengkapan dirinya dan mamanya. karena besok mereka sudah bisa pulang ke indonesia.
Selama menjalani pengobatan di Singapura Sefni banyak mengalami perubahan. Tubuhnya sekarang sudah terasa segar, dan sanggup melakukan aktifitas. Sebulan dari sekarang dokter menyarankan Sefni untuk kontrol kembali.
"Mama benar benar tidak menyangka akan kembali sehat. Sungguh rahmat tak terhingga bagi Mama diberi Allah kesempatan hidup lagi"
"Iya ma, tak ada yang tak mungkin ma"
"Kita berhutang budi dengan Khalid, alangkah baiknya anak muda itu. semoga Allah selalu memeliharanya".
"Aamin," Reyhan mengamini.
"Sudah siap berkemasnya Rey? "
"Semua sudah siap ma, besok tinggal angkat"
"Iya, sekarang beritahu Dendi kalau kita besok pulang, atau kau mau beri kakakmu kejutan? "
"Akan aku telpon dia ma bentar lagi"
"Kalau gitu mama istirahat duluan ya". Sefni merebahkan tubuhnya di tempat tidur hotel.
"Ya ma". Reyhan menatap mamanya, wanita yang sangat disayanginya.
****
"Eh kamu tahu nggak restoran ini milik bang Khalid loh" kata Sherin bangga.
"Wow, berarti cabangnya di kota C juga milik Khalid, aku penasaran apa saja yang dimiliki Khalid"
"Selain restoran ada juga bengkel terbesar di kota ini, yang juga buka cabang di kota lain. Ada juga pusat kebugaran dan toko yang menjual Smarthphone mahal. aku sendiri nggak tahu sekarang usahanya sudah merambah kemana saja, semakin meluas saja"
"Dia sudah beristri? " tanya Angel.
"Sudah" jawab Sherin.
"Oh, tak kusangka aku patah hati secepat ini" kata Angel kecewa.
"Jangan khawatir, mereka dalam proses perceraian. nggak apa apa kalau mau dekatin dia, nggak akan di cap pelakor"
"Oo, benarkah sherin?, aku justru lebih senang sama duda."
"Bisa ku atur jika kau ingin ketemuan sama bang Khalid"
"Calon adik iparku ini memang tahu saja keinginanku, "
"Ha ha, asal kerjasama kita jalan, Sherin mengedipkan sebelah matanya"
"Jangan khawatir tenang saja, ngomong ngomong kenapa Khalid akan bercerai sama istrinya? "
"Istrinya selingkuh, tapi jangan kau tanyakan sama dia ya. Dia sangat sensitif bila berbicara soal istrinya. bisa bisa dia marah"
"Ike, aku ingin ketemuan sama dia secepatnya, kamu atur ya. Aku benar benar penasaran dengan abangmu itu."
__ADS_1
****
Khalid baru saja selesai menyuapi istrinya, lalu dia membereskan peralatan makannya. Khalid mengambil obat dan menyodorkan kepada Syafina untuk diminum. Syafina pun meminum obat itu.
Khalid duduk di tempat tidur disebelah istrinya.
"Fina, ada yang ingin abang tanyakan sama kamu"
"Mau tanya apa, tanya saja? "
"Kita sudah menikah lima bulan, selama ini apa ada perlakuan abang yang menyakiti hatimu ?"
"Kenapa abang bertanya seperti itu?"
"Kamu hanya perlu menjawabnya Fina, jujur sama abang"
Syafina diam sejenak, "perlakuan suamiku yang menyakiti hatiku, ah rasanya tak ada. dia sangat baik" kata Syafina dalam hati.
"Fina, kenapa diam. ayolah jawab"
"Tidak ada perlakuan abang yang menyakiti hatiku bang"
"Fina, kamu harus jujur. Abang ingin memperbaiki diri. abang ingin menjadi suami yang baik, abang ingin jadi satu satunya tempat kamu menceritakan keluh kesah kamu Fin"
"Ehmm, perlakuan abang yang bikin aku kesal ada sih. tapi tak terlalu aku ambil hati. karena abang selalu baik sama aku.. kesal sedikit jadi hilang kalau abang sudah baikin aku".
"Fina, jangan kau pendam sendiri. Mungkin ada sesuatu tindakan abang yang tak kau suka, atau tak sependapat dengan pemikiranmu.? "
"Ah nggak penting juga bang, nggak usah dibahaslah"
"Fin, abang tak mau ada salah paham di antara kita, kenapa abang bilang begini. karena tadi kita sempat agak salah paham. abang nggak mau ini berlarut larut".
"Bang, kalau abang tahu apa yang tak aku sukai, apa abang akan menjauhinya?"
"Sedapat mungkin akan abang jauhi, abang janji". Khalid meraih tangan istrinya dan menggenggamnya.
"Bang, aku tak suka abang dekat sama Sherin."
"Kenapa Sherin?, apa dia pernah mengganggumu? "
"Aku merasa dia bukan orang baik, itu saja. karena aku tak pernah bisa akrab mengobrol dengannya, beda dengan Cintya dan mbak viana. kami langsung akrab waktu pertama kali bertemu"
"Dia memang pemilih dalam berteman, dia memilih teman dari kalangan atas. tapi sebenarnya dia baik".
"Tapi aku nggak suka abang terlalu dekat sama dia" Syafina mendongak menatap wajah suaminya.
"Kalau itu permintaan kamu, sedapat mungkin abang akan menjauhinya. Tapi abang tak bisa sama sekali tak berhubungan sama dia, dia bagian dari keluarga abang"
"Iya, Fina mengerti bang".
"Oke, sekarang kamu istirahat ya, jangan banyak pikiran biar cepat sembuh, bisa cepat pulang". Khalid mengusap pipi istrinya yang semakin chubby karena kehamilannya.
Syafina mengangguk, dia berbaring dan memejam matanya berusaha untuk tidur. Sementara Khalid memasang selimut istrinya. Khalid mengelus rambut istrinya, dia sudah hapal betul cara menenangkan istrinya agar cepat tertidur.
****
"Kadang aku sendiri iri kepada Syafina yang punya suami seperti Khalid, apa apa dibicarakannya, selalu menjalin komunikasi yang baik dengan istrinya agar tak terjadi kesalah pahaman dalam rumah tangganya"
Love Syafina dan Khalid "Syakha"
__ADS_1
Tap jempolnya yah 😍