Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 37


__ADS_3

Arsya mengendong Syafina ke UGD, semua teman mereka di UGD terkejut melihatnya. hari itu perawat yang piket kebetulan adalah Tim Reyhan, tapi Reyhan tidak ada karena menemani mamanya di Singapura.


"Kenapa Fina pak Arsya, ?" Tanya Saiful,


"Kakinya terkilir, tadi dia jatuh. Takut kenapa kenapa dengan kehamilannya."


Dokter Thamrin yang piket pagi itu segera menangani Syafina.


"Uhh so sweet banget pak Arsya sama Fina, pake gendong gendongan segala" celoteh Helen. Syafina memelototi Helen. takut orang lain mendengarnya, tentu saja Viana dan Cintya mendengarnya karena Helen bicara tidak pelan.


Sementara Arsya kelihatan sangat cemas.


"Fina kenapa nggak nikah sama pak Dokter saja sih kamu, lihat tuh dia khawatir banget sama kamu. Kalian serasi banget loh." Helen nyerocos lagi.


"Helen bisa diam tidak !" Suara Arsya meninggi.


"Bisa pak bisa" Helen jadi terkejut dokter Arsya membentaknya.


Syafina di rujuk kebagian poli Kandungan untuk di cek kehamilannya, Arsya ingin mengantarnya.


"Mas, biar Cintya dan mbak Viana saja yang ngantar aku" mendingan menatap Arsya.


"Mas ikut juga, tapi biar Cintya dan Viana saja yang masuk. Mas tunggu di luar saja".


"Baiklah mas"


Cintya mendorong kursi roda Syafina ke poli kandungan, disana mereka antri.


Syafina menghubungi kembali suaminya, nomornya masih tidak aktif. Syafina mengirim pesan saja memberitahu kalau dia di poli kandungan, lalu Syafina menaruh kembali ponselnya ke dalam sling bag miliknya.


****


Sementara di tempat lain Khalid sedang menenangkan Sherina yang menangis, ada memar di wajahnya. ulah dari perbuatan Roby.


"Sher, sudahlah jangan nangis lagi. mungkin kamu juga salah tadi makanya Roby mukul kamu"


"Kalau salah di bilang baik baik, jangan langsung main tangan" kata Sherina yang masih menangis.


"Sudahlah, aku juga nggak bisa langsung mengambil tindakan, siapa tahu dia berubah, aku nggak bisa ikut campur urusan rumah tangga kalian terlalu jauh. kalau ada salah paham bicarakan baik baik"


"Iya bang, kalau ada apa apa aku hubungi abang lagi ya"


"Iya, jangan nangis lagi" Khalid mengusap rambut Sherina adik angkatnya"


"Abang pulang ya" Sherina mengangguk, dalam hati dia merasa menang, Khalid percaya dengan sandiwaranya. apalagi dia tahu orang suruhannya berhasil membuat Syafina terjatuh.


"Semoga keguguran" Sherina tersenyum menyeringai.


****


Di dalam mobil Khalid mengambil ponsel dari saku celananya, untuk menghubungi Syafina mau menanyakan apakah istrinya sudah pulang kerumah.


"Ponselku mati, apa Sherin yang mematikannya ya?, tadi dia nelpon ke clinic pakai ponselku" . Tadi memang Sherin meminjam ponsel Khalid untuk menelpon ke clinic mengatakan bahwa dia lama di luar, dia bertemu dengan Khalid di coffe Shop.


Khalid lalu menghidupkan kembali ponselnya, ada beberapa pesan masuk dari Syafina. Khalid membacanya.


"Astagfirullah, Fina jatuh. ini satu jam yang lalu". Khalid melajukan mobilnya kerumah sakit dengan kecepatan tinggi, sampai dirumah sakit dia langsung menuju poli kandungan.


Di poli kandungan Khalid melihat pasien yang antri, tidak ada Syafina di antara mereka, tapi dia melihat Arsya duduk di kursi tunggu. Arsya juga melihat Khalid seperti mencari seseorang.


"Nyari Syafina ya? "


"Iya, dimana Fina?" Khalid sebenarnya tidak tahu jika yang mengantar istrinya adalah Arsya. Pikirnya Arsya mungkin ada keperluan disana.


"Didalam"


Khalid bergegas hendak masuk kedalam, Arsya menarik tangannya.


"Didalam sudah ada yang nemanin dia dua orang, nggak boleh lebih"

__ADS_1


"Aku mau lihat kondisi anakku" Kata Khalid mulai kesal dengan Arsya.


"Makanya punya istri di jaga, dulu di jebak orang, kemaren hampir di tabrak motor, hari ini jatuh, besok apa lagi? "


"Bukan urusanmu" Khalid malas bertengkar di tempat umum.


"Kalau nggak bisa jagain dia, biar aku" Arsya tersenyum tipis.


"Apa maksudmu, jangan harap kamu bisa mendapatkannya lagi Arsya !"


Khalid menatap mata Arsya tajam. Mereka saling menatap seakan tak ada yang mau kalah. Ketika itu Pintu poli kandungan pun terbuka. Khalid melihat Syafina di atas kursi roda didorong oleh Cintya.


"Sayang kamu nggak kenapa kenapa, anak kita gimana? "


"Aku hanya terkilir bang, anak kita baik baik saja kok, dia kuat" Syafina tersenyum kepada suaminya, seketika itu kecemasan Khalid jadi berkurang.


"Benar anak kita nggak kenapa kenapa sayang, yang terkilir dimana? " Khalid memeriksa Syafina.


"Benar bang, tanyain saja Cintya atau mbak Viana"


"Anak kalian nggak kenapa kenapa kok, dia baik baik saja" kata Viana seraya tersenyum.


"Makasih Via, Tya sudah bawa Fina kesini"


"Mas Arsya yang bantu dia, kebetulan tadi kami lewat saat Syafina terjatuh" Viana menjelaskan.


"Oh iya makasih Arsya", kata Khalid.


Arsya hanya mengangguk.


"Fina, Cintya bisa minta nomor ponsel kalian nggak?" tanya Viana. Kemudian mereka bertiga bertukar nomor ponsel.


"Siapa tahu kita setelah ini berteman ya? '


ujar Viana tersenyum ramah.


"Oh ya bang, ini resep obatnya tolong di tebus" kata Syafina kepada Khalid. Khalid mengambil resep itu dari tangan Syafina.


"Kami pulang duluan ya" Viana pamit.


"Hati hati mbak via" Kata Syafina.


Viana dan Arsya pulang terlebih dahulu, sementara khalid menebus obat. Syafina dan Cintya menunggu di ruang tunggu.


***


Khalid menggendong istrinya turun dari mobil, dan membawanya ke dalam kamar. membaringkannya di tempat tidur.


Lalu Khalid mengambil segelas air putih


di dapur.


"Fina makan obatnya ya sayang"Khalid menyodorkan obat kepada Syafina. Syafina meminumnya. Kemudian Khalid memasang salep penghilang rasa nyeri ke pergelangan Kaki Syafina yang terkilir.


"Bang, urut saja bang, panggilin pak Udin"


"Masa kamu disentuh sentuh pak Udin"


"Kan cuma ngurut bang, Sherin terkilir kemaren juga diurut sama pak Udin"


"Iya nanti saja, biar abang yang urut dulu, kalau nggak sembuh baru panggil pak Udin" Khalid mulai mengurut kaki Syafina.


"Kemaren Sherin terkilir kenapa nggak abang saja yang urut"


"Kan sudah abang bilang bukan muhrim"


"Abaang sakit ini, pelan donk" Syafina meringis kesakitan


"Ini sudah pelan Syafina"

__ADS_1


Syafina menahan rasa sakit karena di urut. lama lama sakitnya berkurang.


"Masih sakit ?" tanya Khalid.


Syafina menggeleng. Khalid lalu membalut pergelangan kaki Syafina dengan perban elastis.


"Jangan banyak gerak dulu ya, biar abang gendong saja kalau kemana mana"


Syafina mengangguk, dia senang mendapat perhatian dari suaminya. Sementara Khalid ke dapur mengambil makanan, dia tahu Syafina belum makan siang.


"Makan ya abang suapin"


"Nggak, aku makan sendiri saja, kan kaki yang sakit bukan tangan"


"Tinggal makan saja jangan banyak protes ya, udah nurut saja" Khalid menyuapi istrinya, Syafina menerima saja.


"Bang tadi abang kemana sih bang, kok handphonenya nggak aktif ? "


"Abang ketemu sama Sherin" Khalid menyuapi lagi istrinya.


"Kok ketemuan sama Sherin pakai matiin handphone sih bang, emang ketemuan dimana? "


"Di Coffee Shop, abang juga nggak tahu kenapa handphone bisa mati. Mungkin Sherin yang matiin, soalnya dia tadi minjam handphone buat nelpon"


"Sherin yang matiin ? kalian lagi ngapain sih?"


"Cuma ngobrol, emang kamu kira kami lagi ngapain? " Khalid menyuapi kembali Syafina. Syafina memakannya.


"Tau, mungkin aja lagi apa gitu, pacaran" entah kenapa Syafina jadi berpikiran begitu, mungkin karena dia merasa Sherin cari perhatian dengan suaminya


"Fina, kamu kenapa sih ?". Khalid meletakkan piring yang masih bersisa sedikit makanan itu ke atas meja rias.


"Ya kali aja bang, sampai matiin handphone segala, istri sakit sampai nggak tahu"


"Kamu sendiri kenapa bisa Arsya yang ngantar, sengaja jatuh depan Arsya biar dia nolong kamu gitu? "


"Bukan begitu bang, aku di tabrak orang"


"Siapa tau aja kamu sandiwara"


"Abang, kamu nggak percaya sama aku ya, tanyai Cintya sana, dia lihat semua kejadiannya".


"Sudahlah, istirahat saja. Tidur !"


"Aku nggak suka abang terlalu perhatian sama Sherin, kan dia bukan adik kandungmu !"


"Fina kamu terlalu berlebihan, kalau aku suka sama Sherin sudah dari dulu aku menikahinya !"


"Maaf bang, aku kenapa ya merasa Sherin itu nggak baik orangnya"


"Nggak baik kamu bilang?, kamu tahu tidak kalau dia itu menyelamatkan nyawaku, sampai dia mempertaruhkan nyawanya sendiri. Kalau dia nggak ada waktu itu mungkin aku sudah mati !".


"Maafin aku bang" kata Syafina lirih.


Khalid diam saja, mukanya merah karena menahan emosi dengan kata kata Syafina barusan.


"Bang kok diam, maafin Fina ya ?" Syafina menggoyang goyang lengan Suaminya.


"Abaang.. "


"Iya abang maafin, lain kali jangan ngomong begitu. Kamu itu terlalu mengikuti perasaanmu. mungkin karena kamu hamil jadi begitu"


"Benar, mungkin saja pengaruh hormon kehamilan".


Dalam hati kecil Syafina merasakan ada sesuatu dengan Sherin, kenapa setelah sering bertemu Sherin dia tak bisa akrab dengan Sherin. Padahal awalnya dia berharap menjadi sahabat Sherin. Dia bertemu dengan Cintya pertama kali langsung akrab, bahkan sama Viana yang baru ketemu tadi siang langsung dekat. Sherina seperti menjaga jarak dengannya.


****


like nya ya say buat karya receh author 😀

__ADS_1


__ADS_2