Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 36


__ADS_3

Sudah dua bulan pernikahan syafina dan Khalid, hubungan mereka semakin mesra. kadang mereka saling cemburu tapi hal itu tak membuat mereka bertengkar. Jika ada masalah selalu mereka komunikasi dengan baik.


Hari ini Syafina malas sekali bangun, rasanya kedinginan dan meriang. Padahal dia seharusnya piket pagi. Syafina lalu menelpon Eka kepala ruangan perinatologi, dia memberitahu kalau tidak bisa masuk kerja karena tidak enak badan.


"Fina, kamu sakit ya? tanya Khalid.


"Iya bang" jawab Syafina.


Khalid meraba dahi Syafina dengan telapak tangannya.


"Kamu panas Fin, demam. Berobat ya ?"


"Nggak usah, sebenarnya dari pagi kemaren aku kurang enak badan, tapi siangnya sehat. Nanti siang juga sehat kok bang"


"Terus besok pagi demam lagi gitu, ayolah kita ke dokter saja, atau di panggilkan kerumah? "


"Nggak, beliin es dawet ireng saja sama tespack"


"Es dawet ireng ?",


"Iya pengen, nanti pulang dari kerja bawain ya, sama tespacknya"


"tespack, itu alat ngcek kehamilan kan ? "


"Sudah empat hari telat datang bulannya"


"Benaran Fina? abang beli sekarang saja nggak usah nunggu pulang kerja" Khalid bergegas ganti pakaiannya, tadi dia masih memakai handuk karena habis mandi. Lalu dia mengambil kunci mobilnya.


Tak lama Khalid pun datang dengan membawa kantong plastik, dia menyerahkannya kepada Syafina.


"Ini tespacknya, ayo di tes" perintahnya.


Syafina mengambil alat tespack itu lalu kekamar mandi, diluar Khalid duduk di tempat tidurnya menunggu dengan harap harap cemas. Setelah beberapa menit Syafina keluar dari kamar mandi dengan membawa tespack di tangannya.


"Bang lihat ini" Dia tersenyum.


Khalid melihat tespack di tangan Syafina.


"Apa ini, positif apa negatif?"


"Positif abang, garis dua"


"Benaran Fina?" wajah Khalid terlihat tak percaya yang di dengarnya.


"Ehmm" Syafina mengangguk.


"Makasih Ya Allah, Fina kita bentar lagi jadi orang tua" Khalid memeluk Syafina, menciumi wajah istrinya. Lalu berjongkok dan mencium perut istrinya.


"Kapan kita periksa ke dokter, dokter Diandra saja ya?"


"Dua minggu lagi lah bang, nggak usah buru buru"


"Abang nggak sabaran"Khalid kembali menciumi pipi Syafina, dia sangat bahagia.


"Bang, abang telat nanti. Pergilah kerja aku juga mau istirahat"


"Baiklah, tapi jangan lupa sarapannya ya, abang sarapan di kantor saja, ini sudah terlambat"


Syafina mengangguk.


"Da dah sayang papa kerja ya"


Syafina tersenyum geli melihat Khalid yang kegirangan.


Setelah Suaminya berangkat kerja Syafina mencoba sarapan yang telah di hidangkan oleh bi Lastri. Syafina memakan beberapa suap saja, Syafina tak sanggup memakan satu porsi. Dia ingin makanan manis. Syafina memutuskan menunggu suaminya membawa dawet ireng.


"Tapi bang Khalid pulangnya masih lama, aku kepengen sekali". Syafina tak sabar menunggu suaminya pulang padahal Khalid baru saja berangkat kerja. Syafina akhirnya melihat lihat ponselnya untuk melihat lihat informasi seputar kehamilan.


Sudah jam sebelas siang, Syafina sudah sangat lapar. Tadi dia hanya memakan beberapa suap nasi saja. Syafina lalu menelpon suaminya.


"Hallo abang"


"Ada apa Fina, apa anak kita kangen papanya? "


"Iya nih, cepetan pulangnya bawain dawet"

__ADS_1


"Satu jam lagi Fina


"Aku mau sekarang bang, aku nggak sanggup lagi nunggu, pulang ya" rengek Syafina.


"Oke oke, abang pulang sekarang, mau apa lagi abang belikan"


"Nggak ada, cuma itu saja. Di tunggu ya cepetan"


Khalid merasa heran dengan keinginan istrinya, keinginannya sederhana dan tergolong mudah didapat.


"Kenapa nggak minta mangga muda yang aku panjat sendiri ? atau minta makanan dari negara tetangga harus benaran dari sana. Biasanya ibu hamil kan permintaannya suka aneh" Khalid bertanya pada dirinya sendiri.


"Mungkin saja anakku ini pengertian dia tahu papanya sibuk" Khalid jadi senyum senyum sendiri. Kemudian Khalid segera pulang dan mencari pesanan istrinya.


Tak lama Khalid sampai dirumahnya, Syafina sudah menunggu diteras. Dia kelihatan mengembangkan senyumnya menunggu suaminya turun dari mobil.


"Ini pesanan anak papa, dihabisin ya"


Syafina mengangguk dia sangat senang suaminya mau menuruti keinginannya.


****


Telah satu minggu Syafina hamil, dia belum melakukan pemeriksaan dengan dokter. Kondisinya baik baik saja makan juga malah bertambah banyak. Dia cuma sering merasa kedinginan dan maunya makan yang manis manis.


Kemaren Syafina menelpon mamanya mengatakan kalau dia hamil, lama Syafina curhat seputar kehamilan dengan mamanya, kata Zaenab cucunya mungkin perempuan soalnya dia dulu juga sering merasa kedinginan sewaktu hamil Syafina.


Khalid juga sudah menelpon ibunya mengatakan bahwa istrinya sudah hamil, Fatimah sangat senang mendengar berita itu, dia menyuruh Khalid menjaga Syafina baik baik dan menuruti keinginannya.


Syafina hari ini libur, dia merasa sangat bosan dirumah. Syafina memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk mengusir kebosanannya. Lalu dia mengirim pesan kepada Cintya istri Dendi untuk ketemuan. Cintya ternyata punya waktu.


"Kita kemana. Ketemuan di luar saja ya" ajak Cintya."


"Oke, nanti kita atur"


"Aku izin sama bang Khalid dulu ya"


Syafina lalu menelpon suaminya, dan dia mendapat izin keluar karena temannya keluar adalah Cintya istri Dendi.


"Hati hati saja ya sayang"


*****


Syafina dan Cintya ketemuan di Mall mereka belanja barang yang mereka suka. Kali ini Syafina banyak belanja, tidak seperti ketika dia pergi dengan suaminya. Mungkin karena pergi dengan teman sesama perempuan jadi mereka sehati, bisa tukar pendapat tentang barang yang ingin mereka beli.


"Aku lelah Tya, kita istirahat yuk.." Syafina duduk di bangku.


"Kita pulang saja, kamu sudah belanja banyak loh? "


"Aku masih mau ke toko perlengkapan bayi"


"Kamu hamil Fin ? "


Syafina mengangguk


"Oh Selamat ya ?" Cintya memeluk Syafina.


"Makasih Tya"


"Kapan ya aku juga hamil" Cintya memegang perutnya.


"Nanti kamu juga hamil, rajin rajin saja usaha"


"Ha ha.. kalau itu sih terus" kata Cintya sambil tertawa.


"Udah yok, kita ke toko perlengkapan bayi. Cuci mata dulu, besok besok saja belanjanya" ajak Syafina.


Mereka berjalan kearah toko perlengkapan bayi. hanya sekedar melihat lihat saja. Setelah lama cuci mata Syafina mengajak Cintya pulang. Dia sudah menelpon Taksi online.


Sampai di area parkiran Syafina di tabrak oleh seorang pria dengan keras sehingga dia terjatuh terduduk di atas konblok dengan benturan cukup keras.


"Maaf mbak aku nggak sengaja" kata pria itu.


Seorang pria datang nenolongnya, menarik tangan Syafina. Dia Arsya, bersama Viana.


"Bangun Fina, kamu nggak apa apa ?"

__ADS_1


"Nggak apa apa Sya, biar aku bangun sendiri" Syafina menepis tangan Arsya.


"Nggak apa apa gimana, kamu kan hamil" kata Cintya.


Arsya menarik kerah baju pria yang menabrak Syafina.


"Kamu punya mata nggak, kalau ada apa apa sama dia kamu berurusan sama saya !"


"Maaf mas, saya nggak sengaja"


"Sudah lah Sya" kata Syafina dia masih duduk diatas konblok, karena kakinya memang sakit.


"Sepertinya laki laki itu memang sengaja menyenggol kakiku" batin Syafina dalam hati.


Sementara Viana dan Cintya tertegun melihat kejadian itu. Mereka sama sama tidak mengerti apa hubungan Arsya dengan Syafina.


"Apa hubungan Arsya dengan perempuan ini, apa dia mantan pacar Arsya" batin Viana dalam hati.


"Laki laki ini siapa sih perhatian banget sama Syafina" gumam Cintya.


Syafina mencoba berdiri lalu tidak bisa, Cintya membantunya.


"Au sakit, kakiku terkilir"


"Kamu terkilir Fina ? mas bawa kamu kerumah sakit ya"


"Nggak usah Sya"


"Kamu nggak bisa jalan Fina, sekalian cek kehamilanmu takutnya ada apa apa" tanpa minta izin Arsya menggendong Syafina mengangkatnya kedalam mobil miliknya.


"Sya turunkan aku" Syafina memberontak.


"Kamu nurut saja" Arsya meletakkan Syafina kedalam mobilnya sebelah depan. lalu dia duduk di bangku Sopir.


"He, kalian kenapa bengong, ayo masuk" Arsya setengah berteriak kearah Cintya dan Viana yang terbengong bengong. Kemudian mereka berdua bergegas masuk ke dalam mobil, Cintya membawa barang belanjaan mereka juga kedalam mobil Arsya.


Di dalam mobil Viana dan Cintya saling berpandangan, akhirnya Viana membuka suara.


"Mbak boleh kenalan, saya Viana"


"Saya Cintya" mereka bersalaman.


"Mbak, kalau boleh tau teman mbak siapa nya mas Arsya sih mbak? "


"Aku juga nggak tahu, Fina itu istri teman suamiku jadi kami juga berteman. Memangnya mbak siapanya Arsya? "


"Aku pacarnya mas Arsya" Viana tersenyum.


"Oo," Cintya mengangguk angguk.


"Kalau boleh tau suami teman mbak itu siapa sih? "


"Khalid"


"Whatt, Muhammad Khalid maksudmu? "


"Ehmm" Cintya mengangguk.


"Apa kamu istrinya Dendi? " tanya Viana


"Iya, kok mbak tahu? "


"Iya tahulah, aku temannya Khalid dan Dendi tapi aku nggak pergi ke acara nikah kalian, kan nggak ada resepsinya"


"Hem iya mbak,"


"Pantasan wajah Fina rasanya aku pernah lihat, rupanya dia istrinya Khalid" Viana mengangguk angguk.


"Apa Syafina itu temannya pacar kamu ya? " tanya Cintya.


"Mungkin mantan pacarnya" Viana yakin Syafina lah mantan pacar Arsya yang membuatnya susah move on.


Sementara Syafina di bangku depan berkali kali menghubungi suaminya, tapi nomor itu tidak aktif. Akhirnya dia mengirim pesan mengatakan dia ke rumah sakit.


****

__ADS_1


__ADS_2