
Mobil meluncur meninggalkan pekarangan rumah itu, keluar dari gerbang yang kokoh. Khalid memejamkan matanya menarik nafas dalam, dan akhirnya Syafina meneteskan airmatanya juga yang sedari tadi ditahannya.
Memorinya teringat saat dia pertama kali memasuki gerbang itu, rumah yang sangat cantik dan megah dihadapan matanya. Waktu itu dia tak percaya suaminya mempunyai rumah semewah itu. Saat itu dia merasa jadi wanita yang sangat beruntung. Sekarang dia harus meninggalkan rumah itu, bukan enggan meninggalkan kemewahan tapi rumah itu adalah saksi tumbuhnya rasa cintanya pada suaminya. Terlalu banyak kenangan manis disana.
"Pak Khalid memang laki laki yang langka, dia sanggup meninggalkan kemewahan yang dimilikinya demi wanita yang dicintainya. Sisakan satu untukku yang seperti ini ya Allah" gumam Linda dalam hatinya, dia melirik bosnya dari kaca spion.
"Maaf, kita langsung pulang kekampung atau mampir kemana dulu ? " tanya Linda setelah beberapa saat mobil meluncur keluar dari gerbang.
"Mampir dirumah sakit, saya mau pamit dengan ibu" jawab Khalid.
"Baik pak" Linda melajukan mobilnya kerumah sakit dengan kecepatan sedang, jalanan pagi itu cukup ramai, orang orang tengah sibuk menjalani aktifitas masing masing.
Karena letaknya tak jauh, mereka telah sampai dirumah sakit dalam waktu 20 menit. Linda membuka pintu untuk Khalid, Khalid turun dan Syafina menyusul dibelakangnya. Kemudian Khalid menggandeng istrinya berjalan ke ruangan tempat Sherina dirawat. Khalid mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Tak lama kemudian pintu dibuka oleh ibunya.
"Khal, akhirnya kau menjenguk Sherina juga. Dia sudah mulai baikan. Kenapa baru kesini, apa sangat sibuk? " Fatimah lalu melihat Syafina juga ikut.
"Fina ayo masuk" ajak Fatimah.
Syafina mengangguk saja, dan memberi senyum pada ibu Fatimah.
"Bu, aku kesini bukan menjenguk Sherina, tapi aku pamit. Aku pergi dari rumahku, mulai sekarang semua hartaku telah menjadi milik Sherina."
"Khalid, apa yang kau bicarakan kau pamit kemana ?. Kenapa kau harus memberikan hartamu pada Sherina, dia tak menginginkan itu, dia hanya ingin kau menikahinya. "
"Bu aku tak bisa"
"Apa karena Syafina tak mengizinkanmu, Syafina istri macam apa kamu, tega membiarkan suamimu jatuh miskin. Poligami itu tak salah, banyak orang yang bahagia berpoligami"
"Bu, aku sudah mengizinkan. Tapi abang tetap tak mau." jawab Syafina yang tertunduk.
"Bohong, kau tak pernah mengizinkan Khalid menikahiku. Setelah suamimu jatuh miskin nanti kau pasti akan meninggalkannya juga. Malangnya Khalid punya istri seperti kamu, wanita pembawa sial" Sherina mengumpat Syafina, dan Khalid tak terima itu.
"Sherin, aku kesini bukan untuk mendengar umpatanmu pada istriku, aku hanya mau pamit sama ibu. Syafina tak pernah mempengaruhiku, dia hanya menurut dengan keputusanku."
"Khal, kalian mau kemana nak?" Tanya ibunya, sebenarnya dia juga tak ingin melihat ketegangan pagi ini.
"Kami akan pulang kekampung Syafina" Khalid lalu mendekati ibunya, mengulurkan tangannya.
Fatimah menerima tangan putranya, lalu Khalid memeluk ibunya sangat erat.
"Maafkan aku bu, aku tetap akan menjaga ibu. Tapi aku tak bisa menuruti kehendak ibu menyuruhku menikahi Sherin.. Aku benar benar tak bisa bu" Khalid meneteskan air mata membasahi pundak ibunya. Fatimah dapat merasakan apa yang dirasakan Khalid saat itu, dalam hati ia iba dengan putranya.
__ADS_1
"Ibu hargai keputusanmu, ibu harap kau sudah berpikir matang untuk keputusan ini agar kau tak menyesal nantinya"
"Iya bu, aku dan Syafina pamit ya bu"
Fatimah mengangguk, dia menghapus airmata putranya. Syafina juga mendekati mertuanya dia mengulurkan tangannya pada Fatimah, Fatimah pun tak bergeming. Syafina tak tahan untuk menangis, dan dia bersimpuh dikaki mertuanya.
"Maafkan Fina bu" ucap Syafina di sela tangisnya.
"Bangunlah, kau jaga Khalid baik baik. Jangan kau tinggalkan disaat dia tak punya apa apa".
Fatimah menarik nafas panjang menahan emosinya ingin dia menampar, menjambak rambut Syafina yang telah membuat putranya jatuh miskin. Tapi Syafina sedang hamil anak dari Khalid, bukankah dia juga yang menjodohkan Khalid dengan Syafina. Kini hanya ada penyesalan dalam diri Fatimah. Mengapa dulu dia tak menikahkan Khalid dengan Sherina saja.
Syafina pun berdiri "iya bu, aku akan jaga bang Khalid".
Sherina yang melihat itu merasa jijik melihat Syafina, dia membuang muka. Dia inginnya Fatimah menampar atau menendang saja gadis kampung itu.
"Ayolah Fina, kita berangkat sekarang" Khalid mengamit tangan istrinya.
"Dendi dan pengacaraku akan kesini menyelesaikan surat menyurat itu, urusanmu hanya dengan mereka"Khalid berbicara menghadap Kearah sherina.
Sherina diam saja tak ingin menampakkan rasa senangnya, dalam hati dia tersenyum puas. Dia menang mendapatkan semua harta Khalid dengan mudah, tapi dia juga merasa kalah tidak mendapatkan Khalid karena dia ingin Khalid dan hartanya juga.
****
"Iya, antar oleh oleh ini, tapi kau saja yang masuk. Aku dan bang Khalid didalam mobil saja". Syafina tak ingin mengantar oleh oleh itu secara langsung karena dia takut akan lama, dia pasti akan menangis lagi harus pamit dengan teman temannya.
kurang lebih satu jam Linda berkeliling mengantar oleh oleh kepada teman teman Syafina. Akhirnya selesai juga, dan tibalah saatnya mereka meninggalkan kota itu. Linda mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan kota, perlahan meninggalkan kota itu.
***
Dendi hari ini telah menyelesaikan semua tugasnya dari Khalid, tugas terberat selama dia menjadi asisten sahabatnya itu.
Kini Dendi termenung sendiri di kursi meja kerjanya, mengingat semua kenangannya bersama sahabat terbaiknya itu.
Flash back on
Dendi berbaring di bangku kayu dibawah pohon Akasia yang rindang, dia tak masuk jadwal pak Heri mata kuliah Akuntansi kombinasi bisnis. Mungkin dia akan berhenti saja kuliah dan mencari kerja saja. Papanya meninggal dua bulan lalu, mamanya hanya ibu rumah tangga. sekarang mama Sefni membuat kue dan keripik dan menitipkan diwarung warung. Dendi Kasihan dengan ibunya yang harus membiayai kuliahnya. Dendi sudah yakin akan berhenti kuliah, siang ini dia akan mencari kerja saja.
"Hai Den, kenapa nggak masuk tadi.?' Khalid duduk disebelah dendi berbaring.
"Mungkin aku berhenti saja kuliah Khal, aku cari kerja saja"
__ADS_1
"Berhenti kuliah ?, siapa lagi yang bantu ngerjain tugasku?"
"Alaah,, kau itu sebenarnya pintar. Hanya terlalu sibuk saja di bengkel."
"Terus kau mau melamar kerja dimana? " tanya Khalid.
"Mungkin jadi sopir, atau Satpam"
"Den, kenapa nggak kerja sama aku saja. Apa kau malu kerja sama aku? "
"Nggak, emang ada lowongan? aku nggak bisa ngebengkel, aku nggak ngerti mesin"
"Astagfirullah, siapa yang suruh kamu jadi tukang bengkel. Kamu jadi asistenku. Rencananya aku mau pindah ke ruko, pelangganku di bengkel tambah banyak, dan rumah makan juga sangat ramai"
"Benaran Khal, aku mau" Dendi bergegas bangun, dia membelalakkan matanya karena senangnya.
"Naah, untung kau cepat bilang mau cari kerja. padahal rencananya aku mau Jessica saja jadi asistenku. Kayaknya kamu lebih membutuhkan"
"Okey, kasih sama aku saja ya Khal, Jessica tinggal goyang goyang kaki saja, ke salon, Shoping ke mall, biar aku yang kerja"
"Ya udah deal ya? "
"Apa perlu masukin bahan, ijazah atau surat lamaran? "
"Bawa badan saja, besok mulai kerja"
"Benaran nih? " Dendi tak percaya semudah itu mendapat pekerjaan.
"Benar, tapi ada syaratnya"
"Apa? "
"Jangan berhenti kuliah, itu saja. Aku nggak mau asistenku hanya tamatan SMU, nantinya usahaku ini akan jadi perusahan yang besar, masa iya asistenku tamat SMU"
"Okey okey, aku nggak jadi berhenti kuliah"
Dendi sangat bersyukur dapat pekerjaan, dan masih bisa tetap kuliah. Padahal setengah jam yang lalu dia sangat galau. Uang dikantongnya hanya tinggal dua puluh ribu rupiah saja.
Semenjak saat itu Dendi jadi asisten yang sangat setia kepada Khalid.
****
__ADS_1