Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 18


__ADS_3

Salman dan Zaenab sedang duduk santai di depan teras rumahnya.


"Mah, gimana ya kabar Syafina apa dia sama Khalid baik baik saja ya. Papa kuatir, soalnya kemaren kan dia nggak setuju menikah dengan Khalid"


"Mama yakin mereka baik baik saja pa, Syafina itu gadis yang penurut, nggak macam macam. Mama yakin dia mulai terbiasa dengan suaminya. Lagi pula Khalid sepertinya pandai membimbing istrinya."


"Coba mama telpon Fina deh ma"


"Tunggu ya, mama cari nomor ponsel Fina.. nah ini. Mata mama kurang jelas lihat huruf huruf kecil begini"


Zaenab lalu menelpon Syafina tak lama Syafina pun mengangkat telpon dari ibunya.


"Hallo mama, Assalamualaikum"


"Fina sayang, apa kabar kamu sama Khalid? "


"Kami baik baik ma, kenapa ma? "


"Kangen kalian nak"


"Ah mama, baru juga enam hari kami pindah"


"Mama sama papa khawatir saja takutnya kalian ada apa apa, kamu baik baik sama suami ya"


"Iya ma, "


"Salam dari mama dan papa sama suami mu"


"Iya ma nanti disampaikan"


"Assalamualaikum"


"Wa alaikumsalam" lalu hubungan telpon di putuskan oleh mama Syafina.


Khalid yang baru habis olahraga menghampiri Syafina.


"Siapa fin" Khalid duduk di atas sofa.


"Mama, dia titip salam buat abang"


"Wa alaikum salam, kenapa mama nelpon" Khalid membuka bajunya yang basah oleh keringat dan meletakkan di atas sofa.


"Kangen katanya, ihh abang itu bajunya jangan taruh disana"


"Ambillah" kata Khalid cuek.


Syafina mengambil baju itu dan membawanya ke belakang, Khalid mengikutinya. Lalu Khalid memeluk Syafina dari belakang.


"Aaa lepaass, ishh keringat abang ini nempel sama aku"


"Jangan teriak" Khalid melepaskan pelukannya.


"Nggak apa apa, mbak Lastri kan nggak ada hari ini. nggak ada juga yang dengar kalau aku teriak". Syafina memasukkan baju itu kedalam keranjang pakaian kotor


"Itu pak Udin dengar" Khalid lalu ambil air minum dari dalam dispenser. Lalu dia menenggak habis satu gelas air putih.


"Dia jauh di post satpam" jawab Syafina lagi.

__ADS_1


"Ya udah mau teriak lagi ? nggak ada yang dengar juga kan?" Khalid lalu menggendong istrinya lalu membawanya kelantai dua kekamar mereka.


"Apa sih abang turuunn, aku teriak ini"


"Teriak saja nggak ada yang dengar" Khalid tak mau menurunkan Syafina. Sesampainya Di dalam Kamar Khalid baru menurunkan Syafina.


"Mandilah kita keluar hari ini" kata Khalid.


"Aku kira abang mau ngapain tadi,"


"Pikiran mu itu kesana terus, bilang saja mau. Nggak mungkin abang ngapa ngapain kamu, pasti belum habis kan? "


"Ehmm belum, aku mandi duluan ya bang". Syafina malu sendiri dengan pikirannya tadi.


****


Didalam perjalanan Syafina penasaran diajak Khalid kemana.


"Mau kemana ini? " tanya Syafina penasaran.


"Makan makan" jawab Khalid datar.


"Dimana, ini bukan jalan ke restoran kamu"


"Udah ikut saja.." Khalid membawa Syafina ke sebuah warung bakso, di pinggir jalan. sampai disana Khalid langsung memesan dua mangkok bakso.


"Abang kok tahu tempat ini, aku sering loh makan disini. baksonya itu enak banget"


"Aku juga sering kesini, "


"Kok nggak pernah ketemu ya?"


"Masa sih pernah ketemu aku disini,"


"Iya pernah," .


"Kamu nggak tahu Fin, kalau aku selalu tahu kemana kamu pergi, sama siapa, dua belas tahun lamanya aku memperhatikanmu dari jauh. Hanya satu tahun ini aku berhenti membuntutimu, karena aku pikir suatu hal yang mustahil memilikimu" batin Khalid.


"Ini baksonya pak, buk, silahkan dinikmati" seorang pelayan mengantar pesanan mereka


Syafina benar benar senang di ajak makan di warung bakso itu, sebenarnya ini mengingatkan dia dengan Reyhan, dia dan Reyhan sering makan bakso disini. tapi dia berusaha menepis masalalunya itu. yang ada didepannya kini adalah hari harinya bersama Khalid.


"Lezat banget baksonya, kalau makan disini aku jadi pengen nambah lo bang"


"Tambah saja"


"Nggak, aku takut gendut" jawab Syafina


Setelah selesai makan bakso, Khalid mengajak Syafina ke taman kota. Sore itu taman kota cukup ramai di kunjungi pasangan muda dan beberapa keluarga kecil yang menghabiskan waktu akhir pekan. Khalid dan Syafina duduk di salah satu kursi taman. Syafina membeli sebuah gantungan kunci dengan seorang pedagang keliling yang berjualan disana, gantungan kunci itu berbentuk hati berwarna pink.


"Fina, aku nggak pernah nyangka akan jadi suami kamu,


"Lalu apa yang membuat abang langsung menyetujui di jodohkan dengan aku, bahkan abang tahu aku tidak mencintai abang? "


"Karena aku yakin, kamu yang tepat untuk jadi pendampingku"


"Abang yakin sama aku? "

__ADS_1


"Iya Fina, walaupun sekarang kamu belum mencintaiku. Tapi aku yakin suatu saat kamu akan memberi seutuhnya cintamu padaku."


Khalid menggenggam tangan Syafina, Syafina merasa hangat tanpa sadar dia menyenderkan kepalanya ke bahu Khalid. Jantung Khalid berdebar keras berdekatan dengan Syafina seperti ini. Lama mereka seperti itu, sore yang cerah itu mendadak jadi gelap akhirnya turun hujan.


"Yuk pulang Fina, sebelum hujannya lebat".


Khalid dan Syafina berlari kearah mobil mereka diparkir, Khalid menutup kepala Syafina dengan jaketnya.


"Masih jam empat sore, padahal masih ingin jalan jalan"


"Lain kali saja" kata Khalid.


"Bang, gantungan kunciku tinggal di kursi taman."


"Biar abang cari disana"


Khalid berlari kearah kursi taman tempat mereka duduk tadi, ternyata gantungan kunci itu masih ada disana.


"Aduuh, kehujanan abang jadinya. jaketnya sama aku lagi" kata Syafina. Tak lama khalid sampai kembali ke mobil, bajunya basah kuyup.


"Maaf bang, abang jadi kehujanan"


"Nggak apa apa" Khalid lalu melajukan mobilnya pulang kerumah.


Sesampainya di rumah Khalid Dan Syafina segera ganti pakaian mereka yang basah. Setelah ganti pakaian Syafina membuat secangkir kopi untuk suaminya.


"Bang Aku piket malam ini"


"Iya, nanti abang antar. Berangkat jam berapa?" tanya Khalid, lalu Khalid bersin dua kali.


"Jam delapan, abang flu ya. Pasti karena kehujanan tadi"


"Iya abang Flu, tapi nggak apa biar abang antar nanti"


"Makan obat ya bang? " Fina merasa agak cemas.


"Nggak usah nanti sembuh sendiri kalau dibawa tidur.


Malam harinya Hujan sudah reda. Khalid mengantar Syafina ke rumah sakit, dia mengantar sampai keruangan perinatologi. Setelah Syafina masuk kedalam ruanganya Khalid kembali pulang kerumah untuk beristirahat.


"Sepi banget nggak ada Syafina, aku jadi nggak bisa tidur kepikiran dia." gumam Khalid. Sebenarnya Khalid merasa tubuhnya agak meriang karena kehujanan tadi, tapi ia enggan memberitahu Syafina tadi.


****


Viana sedang bersiap siap, dia berdandan sangat cantik untuk bertemu dengan Arsya.


"Ah, pak dokter ganteng bikin gemes. pasti dia nggak akan berkedip menatapku" Viana senyum senyum melihat bayangannya dalam cermin.


Atas kehendak orang tua mereka Viana dan Arsya berjanji makan malam. Sebenarnya Arsya ingin kerumahnya saja, tapi Viana mengajak ketemuan di luar.


Viana berdandan sangat cantik malam itu, dia berharap Arsya akan terpesona oleh kecantikannya.


Mereka dinner di sebuah restoran.


"Arsya ini kaku banget orangnya, nggak seperti Khalid. Walaupun Khalid cuek tapi dia murah senyum dan nggak pelit bicara." batin Viana dalam hati.


"Apaan ini viana dandan begini, bikin gerah melihatnya." Arsya jadi teringat dengan Syafina yang sederhana tapi tetap modis, Selama ini Syafina lah yang mampu mencairkan kebekuannya. Tanpa sadar Arsya tersenyum membayangkan wajah Syafina.

__ADS_1


"Eh dia senyum, nampaknya diam diam dia suka sama aku, aku nggak boleh nyerah sama Arsya. pokoknya pepet terus" gumam Viana.


*****


__ADS_2