
khalid meninggalkan Sherina yang mengoceh sendiri, dia ingin menyusul Syafina. Dia berlari ketempat parkir lalu dia mengemudikan mobilnya menyusuri jalanan kota. Tapi tak ditemukannya Syafina. Khalid menelpon Syafina, nomornya aktif tapi tidak diangkat.
"Ini sudah jam dua belas lewat lima menit, mungkin Syafina menemui Reyhan di Cafe Bella. Khalid lalu menuju Cafe Bella.
Setelah sampai di Cafe Bella, dilihatnya Reyhan sedang duduk di salah satu meja, tapi tak ada Syafina disana.
"Apa mereka sudah selesai ketemuan? " gumam Khalid.
Reyhan menyadari kedatangan Khalid lalu dia tersenyum dan melambaikan tangannya. Khalid menghampiri Reyhan.
"Sudah selesai ketemuan sama Fina Rey, ?"
"Loh, aku kira dia nggak jadi datang dan menyuruh abang saja yang datang"
"Syafina tadi duluan berangkat, abang masih antri di apotik rumah sakit"
"Aku sudah 10 menitan disini, Syafina belum sampai"
"Kemana perginya Syafina, apa dia ke danau lagi" batin Khalid.
"Aku cari Syafina dulu ya Rey"
"Tunggu saja disini bang, Mungkin saja dia mampir ke mini market, bentar lagi juga pasti sampai"
"Ehmm, aku ingat ada urusan, kamu tunggu saja Syafina disini. Aku pergi dulu ya" Khalid berbohong padahal dia ingin mencari Syafina ke danau, dia tak ingin Arsya atau Reyhan yang duluan menemukan Syafina.
Reyhan yang ditinggal sendiri merasa ada yang aneh dengan sikap Khalid, kenapa Khalid buru buru sekali. Dan kenapa mereka tidak datang barengan.
"Apa mereka bertengkar lagi dan salah paham, sebenarnya apa penyebab Khalid dan Syafina sering bertengkar? "Reyhan bertanya dengan dirinya sendiri. Karena masih penasaran Reyhan memutuskan mencari tahu, dia lalu mengambil ponselnya.
Reyhan menelpon nomor ponsel Syafina, tapi tidak di angkat oleh Syafina.
"Kemana perginya Syafina,? " Lalu Reyhan menghubungi Dendi.
"Hallo mas,"
"Iya Rey ada apa? "
"Mas sepertinya Bang Khalid dan Syafina bertengkar lagi. Mas aku ingin tahu apa sebenarnya penyebab pertengkaran bang Khalid dan Syafina"
"Tak bisa aku jelaskan lewat telepon Rey"
"Mas, kita harus bantu menyelesaikan masalah bang Khalid dan Syafina. Aku sekarang di cafe Bella. Mas bisa kesini?"
"Iya, aku kesana sekarang".
****
Syafina menangis duduk dibangku penumpang taksi online yang mengantarnya. Driver memperhatikan wajah Syafina, rasanya wajah Syafina tak asing baginya.
"Bukannya ini Syafina, oh Tuhan " Sopir itu merasa gugup melihat Syafina. Dia menurunkan topinya agar menutupi sedikit wajahnya. Tapi dia juga penasaran kenapa penumpangnya ini menangis terisak isak.
"Nona, mengapa nona menangis? "
"Masalah keluarga, maaf aku tak bisa menceritakannya"
"O iya, maafkan saya lancang bertanya. Semoga masalah nona cepat berakhir"
"Aamiin" jawab Syafina.
Akhirnya sampailah Syafina di tempat tujuannya, Syafina pulang kerumah orang tuanya. Dia ingin berbagi keluh kesahnya dengan mamanya, ingin mengadu kesedihannya dengan papanya. Syafina membayar ongkos taksi online itu dengan uang berlebih.
"Kembaliannya ambil saja pak"
"Iya makasih nona" jawab orang itu
"Rasanya aku pernah melihat orang ini, tapi dimana? " batin Syafina.
Syafina mengucapkan salam, tak lama pintu rumahnya di buka oleh mamanya.
"Syafina kenapa pulang nggak ngabari, Khalid dimana? "
"Aku sendiri ma"
Zaenab menatap anaknya, seketika dia mengerti karena melihat mata Syafina yang merah seperti habis menangis.
"Kau bertengkar dengan khalid? "
"Tidak ma"
__ADS_1
"Terus kenapa kau menangis, dan pulang tanpa Khalid?"
"Mama, hik hik" Tangis Syafina pecah kembali, dia memeluk mamanya dan menumpahkan air matanya dibahu mamanya .
"Sst, tenanglah. Ayo mama antar kekamarmu". Mereka lalu berjalan beriringan kekamar.
"Ma, jangan bilang sama bang Khalid kalau aku disini"
"Tapi kau jelaskan dulu masalahnya sayang"
Zaenab membantu anaknya duduk di tempat tidur, Dia memandang wajah anaknya yang kelihatan sangat lelah.
"Mama ambilkan air dulu ya" Zaenab lalu pergi kedapur mengambil segelas air, tak lama dia datang kembali. Diberikannya segelas air itu kepada Syafina. Lalu Syafina meminum habis air putih dalam gelas itu.
"Ayolah ceritakan sama mama" Zaenab mengusap kepala anaknya dengan lemah lembut.
"Ma, Sherina hamil anaknya suamiku"
Zaenab menutup mulutnya mendengar kabar itu.
"Astagfirullahaladzim, kamu yakin Fina? "
"Yakin ma, karena aku yang menemani Sherina diperiksa dokter"
"Astagfirullah, Syafina kamu harus banyak sabar, dan kamu harus melatih dirimu agar bisa ikhlas"
"Ma, aku tak sanggup menerima kenyataan ini". Syafina menangis terisak isak.
"Fina, bagaimanapun ini sudah terjadi. Khalid juga pasti sangat terpukul mendengar berita ini"
"Aku bisa sabar, tapi aku tak bisa ikhlas ma" Airmata terus mengalir dari mata indah itu, wajar jika dia belum bisa mengikhlaskan.
"Tak semua orang yang sabar bisa mengikhlaskan. Tapi dalam masalah kalian ini Kau harus belajar ikhlas Syafina, jikalau tidak kaulah yang akan kalah"
"Aku sudah kalah ma"
"Siapa bilang kau kalah. Fina kau dekatkan lagi dirimu kepada Allah. Mungkin Allah ingin mendengar kau menangis mengharapkan pertolongannya"
"Bagaimana caranya ma ? "
"Sudah pernah solat tahajud,?"
"Sebaiknya kamu seringlah solat tahajud. Dekatkan dirimu pada Allah, minta petunjuk kepadaNya. Hanya Allah tempat kita mengadu Fina"
"Baiklah ma, tapi Fina mohon jangan bilang sama bang Khalid kalau Fina disini"
"Iya, tapi kau tak boleh lama lama meninggalkan suamimu, berdosa bila seorang istri meninggalkan suaminya"
****
Dendi telah duduk berhadapan dengan Reyhan, Dua orang saudara kandung yang menganggap Khalid adalah kakak tertua mereka.
"Mas tolong ceritakan padaku apa sebenarnya yang membuat bang Khalid dan istrinya bertengkar kemaren?"
"Kenapa kau ingin tahu Rey? "
"Sebelumnya aku minta maaf mas, ikut campur urusan bang Khalid dan istrinya. Soalnya sekarang ini sepertinya mereka ada masalah lagi, Bang Khalid sekarang sedang mencari Syafina"
"Kurasa Khalid tak ingin orang banyak tahu masalah ini Rey "
"Ayolah, aku sudah anggap bang Khalid abangku sendiri. Mas ingin bang Khalid keluar dari masalahnya begitupun aku"
Dendi sejenak terdiam, apakah dia akan menceritakan hal ini kepada Reyhan.
"Ayolah, insya Allah aku akan bantu jika dibutuhkan"
"Rey, Khalid sudah menodai Sherina. Dan itu terbukti dengan pemeriksan dokter."
"Aku belum ngerti mas. Coba ceritakan dari awal"
Dendi pun menceritakan seluruhnya yang diketahuinya, seperti yang diceritakan Khalid kepadanya tanpa tertinggal.
"Rasanya tak mungkin mas" Reyhan tak percaya dengan cerita Dendi.
"Tapi aku juga sudah menyelidikinya, dan menanyakan seluruh karyawan direstoran yang bertugas malam itu. Kesimpulanku Khalid memang sudah melakukannya"
Arga yang baru masuk ke cafe itu melihat Dendi dan Reyhan sedang mengobrol di salah satu meja.
"Hei tumben dua orang beradik ini mengobrol disini, apa kabar mama? "
__ADS_1
"Mama sehat Ga, semenjak pulang dari singapura dia sudah membaik" jawab Dendi."
"Alhamdulillah. Kenapa Khalid jarang kesini ya, apa sibuk benar dia? "
"Tadi dia barusan dari sini mas" jawab Reyhan.
"Oo, aku sebenarnya tadi melihat dia, sepertinya ada masaah. Mukanya kusut, aku lihat karena kaca mobilnya diturunkan. Dia melihat lihat kearah luar seperti mencari seseorang"
"Dia mencari Syafina"jawab Reyhan.
"Khalid itu memang laki laki yang tidak peka. makanya Syafina sering ngambek" tambah Arga
"Tapi masalah kali ini serius Ga, bukan ngambek saja. Rumah tangga mereka sedang diuji"
"Astagfirullah, ceritakan sama aku. Siapa tahu aku bisa bantu dia"
Dendi lalu menceritakan semua kepada Arga masalah yang menimpa Khalid.
"Jadi, apa Khalid akan menikahi Sherina?" tanya Arga.
"Dia tidak mau, tapi ibunya menyuruh dia menikahi Sherina" jawab Dendi.
Semoga saja Khalid dan istrinya bisa melewati masalah mereka, kasihan Syafina sedang hamil" ucap Arga lirih. Dia tak bisa membayangkan bagaimana nanti jika Khalid beristri dua.
Tert tert, ponsel Reyhan berbunyi, ternyata dari Khalid.
"Ada apa bang? "
"Apa Syafina sudah sampai disana? "
"Belum bang, abang dimana sekarang? "
"Aku di danau, tadi aku juga sudah ke kosan Renna tapi Syafina tidak ada. Coba kau tanya Arsya, mungkin dia tahu Syafina dimana."
"Iya akan ku hubungi dia"
"Aku tunggu kabarnya" Khalid lalu memutuskan sambungan telepon.
"Dari Khalid? "tanya Dendi.
"Iya mas, dia menyuruhku menanyakan Arsya apa dia tahu Syafina dimana".
Reyhan lalu mencari kontak Arsya lalu menghubunginya.
"Hallo Arsya"
"Iya Rey, ada kabar tentang orang di cctv itu? "
"Aku belum ketemu sama Syafina, apa kau tahu kira kira Syafina dimana? "
"Kenapa tanya sama aku, tanya suaminya"
"Tapi suaminya kehilangan Syafina"
"Apaa,, dimana Khalid sekarang. Benar benar laki laki brengsek tak bisa mengurus istri"
"Sudahlah, aku hanya mau menanyakan sama kamu dimana kemungkinan Syafina berada".
"Yang jelas tidak sama aku, aku tak tahu dimana tempat yang sering dikunjungi Syafina. Yang sering keluar sama Syafina kan kamu Rey."
"Kemana Syafina ya, Khalid barusan dari danau, Syafina tak disana"
"Apa mungkin pulang kerumah orang tuanya"
"Bisa jadi, aku suruh suaminya kesana".
"Kamu masih di Caffe Bella, aku kesana sekarang"
"Iya aku masih disini" Reyhan lalu menutup teleponnya.
"Mungkin Syafina pulang kerumah orang tuanya" kata Reyhan.
"Semoga saja" jawab Arga dan Dendi berbarengan.
Tiga orang laki laki itu sama sama berharap Syafina berada dirumah orang tuanya, sebagai laki laki mereka kasihan kepada istri Khalid yang sedang hamil dan dihadapi masalah besar.
****
Jempol cantiknya donk gaess
__ADS_1