
Khalid pagi itu mengunjungi Sherina di rumah sakit, dia bersama Dendi untuk menawarkan perihal memindahkan aset miliknya menjadi milik Sherina.
"Jika kau setuju, akan di selesaikan suratnya hari ini juga" Dendi yang bicara setelah Khalid menjelaskan panjang lebar maksud kedatangan mereka.
"Kau benar benar tidak takut miskin Khalid?, segitu mahalnya harga Syafina bagimu? " Sherin tak percaya ternyata Khalid benar benar serius dengan ucapannya kemaren.
"Dia tempatku untuk pulang, kau tak mengerti perasaanku Sherin"
"Sampai sampai kau mengabaikan anak dalam rahimku,?"
"Aku akan tanggung jawab dengan anak itu"
Sherina berpikir beberapa saat, dia mencerna ucapan Khalid.
"Aku terima tawaranmu, ini juga atas kemauanmu. Jangan salahkan aku bila kau jatuh miskin"
"Aku sama sekali tak takut miskin" jawab Khalid mantap.
"Okey selesaikan surat surat itu secepatnya, selagi aku belum berubah pikiran" titah Sherina.
Khalid menghembus nafas lega mendengar ucapan Sherina, biarlah hidup miskin setidaknya dia tidak stres harus beristri dua. Jika dia beristri dua sudah pasti Syafina akan makan hati dengan tingkah Sherina. Dan dia sendiri pun tak akan bisa berlaku adil dengan Sherina, karena dia tak mencintai Sherina.
"Baiklah akan segera aku selesaikan" Dendi mengangguk.
Khalid dan Dendi kemudian keluar dari ruangan itu, Khalid ke kantor sementara Dendi harus mengurus perpindahan harta milik Khalid menjadi milik Sherina. Dengan enggannya Dendi melakukan tugas itu. Tapi mungkin ini yang terbaik untuk sahabatnya itu.
"Hmm kita lihat seberapa kuat Khalid hidup miskin, dan seberapa kuat Syafina mendampingi suami miskinnya. Pada akhirnya kalian akan mengemis padaku,"
****
"Apaa, Kau menyetujui keputusan Khalid memindahkan hartanya jadi milikmu? " Fatimah setengah berteriak tak percaya.
"Bukan kehendakku bu, sudah berkali kali aku menolak, tapi bang Khalid masih dengan keputusan yang sama"
"Kau benar Sherin, ini bukan salahmu" Fatimah benar benar sudah termakan hasutan Sherina.
"Apa ibu pikir Syafina akan mendampingi suami miskinnya seperti dia mendampingi suaminya yang kaya?"
Fatimah diam saja, tak tahu harus komentar apa.
"Hmm, lihat saja nanti bu. Syafina akan perlahan meninggalkan bang Khalid. Sekarang dia merasa menang karena Khalid memilih dia dibanding ibu" Sherina mulai meracuni pikiran Fatimah.
"Semoga saja dia bisa mendampingi Khalid selamanya" Fatimah berharap.
"Istri macam apa yang sanggup melihat suaminya jatuh miskin, dasar egois"
Fatimah merenungi ucapan Sherina, ada terbersit sesal dihatinya menjodohkan Khalid dengan Syafina, semua yang dirintis Khalid selama ini akan hilang demi ke egoisan Syafina. Apasalahnya berpoligami, toh hal itu dihalalkan dalam agama.
"Hhh, ibu juga heran dengan pemikiran Syafina" Fatimah mendesah kesal.
****
Syafina sudah izin dengan suaminya akan pergi keluar bersama Linda, tentunya H dan R juga ikut. Sebelum berangkat Syafina memberi perintah kepada H dan R.
"Pak Heru, saya minta tolong datangi Reyhan, minta padanya rekaman cctv yang tempo hari akan ditunjukkannya padaku, bilang aku yang meminta"
"Baik nona"
"Aku dan Linda akan ke kota C, ke restoran Bunda milik pak Khalid, pak Ridho ikut denganku"
"Siap nona"
"Kalian tidak keberatan kan dengan perintahku?"
__ADS_1
"Sama sekali tidak nona, pak Khalid pernah bilang nona lah boss kami"
"Bagus, Pak Heru pergilah cari Reyhan. Kami juga akan berangkat sekarang"
Kemudian mereka sama sama berangkat dengan tujuan masing masing, berharap akan mendapatkan bukti yang selama ini tak terungkap.
****
Heru menemui Reyhan yang kebetulan sedang piket pagi itu. Dia masuk kedalam ruangan UGD.
"Maaf, apa anda yang bernama Reyhan?"
"Benar, bapak siapa? "
"Saya Heru, bodyguard Syafina. Dia memintaku menemui anda"
"Hmm, ada hal penting apa. Kita bicara diluar saja" Kemudian mereka berdua keluar dari ruangan UGD.
"Maaf pak Heru, ada apa Syafina menyuruh anda menemui saya?"
"Nona Syafina menyuruh saya meminta rekaman cctv yang tempo hari akan anda tunjukkan padanya"
"Kenapa tidak dia sendiri saja yang meminta?"
"Karena dia ke kota C, "
"Ke kota C, ?"
"Benar, apa bisa saya meminta sekarang rekaman itu?"
"Okey, saya telpon Syafina dulu"
"Silahkan"
"Bagaimana Reyhan, apa kata Nona Syafina? "
"Baiklah, tunggu dulu disini. Kebetulan saya bawa salinan rekaman itu."
Tak berapa lama Reyhan datang lagi, dia membawa salinan rekaman itu.
"Ini salinannya, mudah mudahan Syafina mengenali laki laki dalam rekaman itu. Dan bisa jadi petunjuk"
"Oke, terimakasih. saya permisi dulu"
Reyhan mengangguk, dalam hatinya dia bertanya tanya kenapa Syafjna ke kota C. Apa akan menyelidiki kejadian yang menimpa Khalid tempo hari.
"Seharusnya aku bisa mendampingi Syafina menyelidiki kasus itu, sayangnya dia tak memintaku menemaninya" gumam Reyhan.
****
Syafina telah sampai dikota C jam 10.00, ditemani Ridho dan Linda dia memasuki restoran itu. Tentu saja semua pelayan disana tidak ada yang mengenalinya sama sekali.
"Silahkan duduk bu, mau pesan apa?" tanya salah satu pelayan dengan ramah.
"Ehmm, saya kesini bukan untuk makan. Tapi ingin melihat rekaman cctv tanggal sekian. Oh ya kenalkan saya Syafina istri pak Khalid"
"Oh maafkan saya bu Syafina, saya tak mengenal anda" pelayan itu kelihatan cemas ."
"Tak apa, saya memang baru pertama kali kesini, dimana saya bisa melihat rekaman itu? "
"Mari bu, saya antar anda keruang pak Anton"
Setibanya di depan ruangan pak Anton, pelayan itu mengetuk pintu. Tak berapa lama pak Anton membuka pintu, dan dia sangat terkejut melihat siapa tamu yang datang.
__ADS_1
"Bu Syafina, ada perlu apa Bu Syafina kesini? ehm silahkan masuk bu"
Syafina lalu masuk kedalam dengan ditemani Ridho dan Linda. Syafina lalu menceritakan maksud kedatangannya pada pak Anton.
"O silahkan," Lalu pak Anton mencari rekaman cctv tanggal dimana kejadian itu.
"Ehmm maaf pak Anton, kok rekaman ini sepertinya terputus, ada yang dihapus"
"Saya tak tahu menahu menahu soal itu, maaf hanya ini yang bisa saya bantu"
"Tak apa, Pak Ridho tolong salin saja rekaman ini"
"Baik nona"
"Hhmm, sebenarnya Dendi juga sudah menyalin rekaman cctv ini. Apa dia tidak memperlihatkannya pada bu Syafina? "
"Tidak, mungkin dia rasa saya tak perlu mengetahuinya"
Pak Anton mengangguk, "apa hanya ini yang bu Syafina perlukan?"
"Saya juga ingin bertemu dengan pelayan yang membawa bang Khalid kedalam kamarnya"
"Baiklah, kebetulan dia masuk kerja pagi ini, mari saya antar bu Syafina menemuinya"
Syafina lalu bertemu dengan dua orang pelayan itu dengan ditemani, Ridho dan Linda.
"Apa kalian yang mengantar pak Khalid kedalam kamarnya? " tanya Syafina.
"Benar bu"
"Apa waktu itu pak Khalid dalam kondisi sadar atau tertidur?"
"Dia tertidur bu, tapi dia beberapa kali mengerang."
"Apa Sherina juga masuk kedalam kamar, ?"
"Benar bu, kemudian nona Sherina menutup pintunya. Nona Sherina bilang pak Khalid mabuk berat"
Syafina mengangguk angguk.
"Apa pengunjung restoran hari itu ramai? " Ridho ikut bertanya.
"Sangat ramai pak"
"Apa ada tamu yang mencurigakan? "
"Kami tidak sempat memperhatikannya pak"
"Oke, dimana letak cctv ini? "
"Sebelah sana pak, itu bisa dilihat dari sini" pelayan itu menunjuk kearah Cctv itu berada.
"Baiklah, saya rasa cukup nona. Kita selesai"
"Oh, kalo gitu kita permisi ya pak Anton. Kami hanya ingin menanyakan hal itu"
"Baiklah bu, maaf atas kekurangan kami"
"Tak apa" Lalu Syafina mengajak Ridho dan Linda kembali ke kota B.
Di dalam perjalanan, Syafina meminta Pak Anton memutar kembali rekaman cctv itu. Dia memperhatikan dengan seksama rekaman cctv itu.
****
__ADS_1