
Satu minggu berlalu semenjak Syafina terkilir, kakinya benar benar sudah sehat. Syafina hendak menyirami tanaman hias koleksinya, Khalid membantu Syafina. Lebih tepatnya sebenarnya Khalid lah yang mengerjakannya. Syafina hanya menemani. Khalid tidak memperbolehkan istrinya mengerjakannya alasannya takut istrinya terjatuh main main air.
"Ada ada saja, memangnya semudah itukah aku jatuh" gumam Syafina. Dia membiarkan suaminya mengerjakan semuanya.
"Bang, boleh aku ke Adam nursery lagi nggak bang, mau cari jenis jenis calathea"
"Calathea?, yang gimana itu tanamannya?
"Tanaman hias juga bang, daunnya cantik cantik"
"Yang ini ada calathea nya nggak? " Khalid menunjuk deretan pot bunga koleksi Syafina.
"Itu belum ada, itu semuanya aglonema"
"Terserah kamu kapan mau kesana abang antar" Khalid menurut saja, asalkan bisa menyenangkan hati istrinya selagi hobi Syafina itu positif.
"Hari ini saja, bang nanti kalau ada Begonia boleh aku ambil juga kan? "
"Iya teserah Fina, abang nggak ngerti mana kalatea, mana begonia yang satu lagi apa tadi"
"Aglonema"
"Nah iya aglonema, janda bolong atau apalah".
"Benaran ya, " Syafina kegirangan.
"Ehmm" Khalid mengangguk.
"Aku siap siap tukar pakaian ya bang" Syafina lalu masuk kerumah, untuk bersiap siap karena sekarang dia hanya memakai daster.
Di adam Nursery,
"Kak Adam, lihat jenis jenis calathea nya sebelah mana ya? "
"Calathea di rak sebelah sana, sini ikut saya". Syafina lalu mengikuti Adam, khalid mengekori mereka.
"Wow, Masya Allah cantik cantiknya yang ini calathea apa namanya kak?" Syafina menunjuk salah satu tanaman hias yang berjejer di atas rak.
"Ini namanya, calathea reseopicta"
"Aku mau, aku ambil ya bang? "Syafina menoleh kepada Khalid dengan pandangan manja.
Khalid hanya mengangguk.
"Yang ini calathea apa kak? " Syafina menunjuk satu jenis lagi.
"Calathea Vitchiana, sangat cantik" jawab Adam.
"Aku mau yang ini juga bang" menatap suaminya sambil tersenyum senyum manja.
"Iya ambil saja semua jenis calathea yang ada disini" jawab Khalid.
Syafina menoleh kepada suaminya, membulatkan bola matanya "Serius?"
"Abang serius, sekalian begonia juga kalau ada disini ?"
"Benaran?" tanya syafina tak percaya.
"Iya benar. Mas antar saja semua jenis calatheanya dan begonia kerumah saya" Khalid berkata kepada Adam.
"Abang makasiih yaa" Syafina memeluk suaminya, lalu menciumi pipi suaminya kiri dan kanan. Adam yang melihatnya hanya senyum senyum saja.
"Diajak berburu tanaman hias semangatnya bukan main, di ajak shoping ke mall malah bingung".
__ADS_1
"Makanya abang yang semangat juga cari duitnya, asal abang tahu saja tanaman hias ini ada yang harganya puluhan juta satu potnya"
"Haah, yang benar Fina, ini sudah berapa pot ?" Khalid terkejut tak percaya.
"Benar, tanya saja kak Adam. Tapi yang aku beli ini nggak ada yang harganya puluhan juta"
"Benar Khal" Adam membenarkan kata kata Syafina.
Tanaman hias yang di borong Syafina semuanya ada 20 pot, Adam menyuruh karyawannya mengangkat kedalam mobil bak terbuka yang dipakainya khusus untuk mengantar pesanan pelanggannya.
Setelah selesai membayar, khalid mengajak Syafina pulang. Ditengah perjalanan Syafina melihat penjual es dawet ireng.
"Bang itu ada dawet ireng, berhenti bang".
Khalid menepikan mobilnya.
"Tunggu disini ya, biar abang belikan" Khalid lalu turun dan memesan dua bungkus dawet ireng. Setelah selesai dia kembali masuk kemobil dan memberikannya kepada Syafina. lalu mereka melanjutkan perjalanan pulang kerumah.
Sampai dirumah Syafina memindahkan es dawet nya kedalam mangkok dia langsung saja mencicipi es nya, sungguh nikmat terasa.
"Ini punya abang, makanlah" lalu mereka menikmati es dawet berdua.
"Fina, selama hamil kamu jadi suka yang manis manis, itu tandanya anak Abang cewek apa cowok ? "
Syafina mengangkat bahunya "nggak tahu, abang maunya cewek apa cowok? "
"Mau dua duanya, maksud abang nggak masalah cewek apa cowok, cewek mau cowok juga mau"
"Kata mama dia hamil aku sering kedinginan seperti aku sekarang, suka juga sama yang manis manis"
"Berarti cewek donk" kata Khalid
"Belum tentu juga bang"
Khalid mengangguk, lalu menatap Syafina lekat.
"Abang nggak nyangka dalam perut kamu ada anak abang, abang akan punya anak dari kamu Fin".
"Aku juga nggak nyangka bang" Syafina tersenyum malu, lalu dia berdiri membawa mangkok mereka berdua ke tempat cuci piring, lalu dia mencucinya.
"Kekamar yuk bang, aku capek"
"Yuk,, " Khalid berjalan lebih dahulu.
"Abaang... "
"Apa lagi Fina? " khalid menoleh ke belakang.
"Gendong", kata Syafina pelan namun masih terdengar.
"Ihh manjanya" Khalid lalu menggendong istrinya menaiki tangga.
"Nggak teriak teriak lagi kalau abang gendong?"
"Nggak" Syafina menggeleng.
"Benaran nggak? " Khalid lalu menciumi bibir istrinya.
"Aaa jangan disini"
"Nah itu teriak",
"Abang curang, dilihat bi Lastri kan malu", Syafina malah membenamkan wajahnya didada suaminya.
__ADS_1
Sampai di kamar Khalid lalu menurunkan syafina ke atas tempat tidur .
"Istirahatlah, kalau Adam sampai nanti biar abang yang ke bawah".
****
Syafina sudah bangun dari tidurnya, jam sudah menunjukkan pukul empat sore dilihatnya Khalid sedang Solat Ashar.
Kemudian ponsel Khalid berbunyi tanda panggilan masuk, Syafina mengambil ponsel suaminya. Ternyata panggilan dari Sherina.
"Hallo kenapa Sher? "
"Eh Fina, bang Khalid ada Fina ? " suara Sherina terdengar parau.
"Ada, itu lagi solat dia"
"Bilang aku nelpon dia ya fin, nanti aku telpon lagi"
"Iya"
Lalu panggilan diputuskan oleh Sherina, Syafina menaruh kembali ponsel khalid ke atas meja.
Khalid telah selesai solat lalu duduk disebelah Syafina diatas tempat tidur.
"Bang kak Adam sudah antar barangnya?"
"Sudah, sejam yang lalu sudah ditatanya juga, tadi yang nelpon siapa? "
"Sherina, katanya dia mau nelpon kembali, kayaknya dia habis nangis"
"Kenapa lagi Sherin ? " Khalid bertanya pada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian ponsel Khalid kembali berbunyi.
"Hallo sher kenapa ? "
"Bang, bisa kerumah aku nggak? "
"Suami kamu ada dirumah? "
"Nggak ada bang"
"Aku nggak enak kesana kalau nggak ada Roby, tunggu dia pulang saja ya".
"Sekarang saja bang, justru aku nunggu dia nggak ada dirumah ada yang mau aku ceritakan sama abang"
"Kamu kenapa Sher kok sepertinya habis nangis"
"Abang kesini saja dulu" Sherin menutup telponnya.
Khalid menaruh ponselnya kedalam saku celananya.
"Fina abang kerumah Sherin ya, rumahnya tak jauh dari sini kok"
"Memang kenapa sih sherin bang ?"
"Kurang tahu juga, sepertinya dia butuh bantuan abang. Abang kerumahnya ya, kamu jangan lupa sholatnya" Syafina mengangguk.
Khalid lalu mengambil kunci motornya, karena rumah Sherin tak jauh dari rumahnya dia mengendarai motor saja.
Setelah Khalid pergi Syafina segera solat Ashar, kemudian dia turun kebawah untuk melihat tanaman hias yang baru dibelinya tadi. Sebenarnya dia tak suka suaminya kerumah Sherin apalagi suami Sherin tak ada dirumah, bukankah Khalid sendiri yang bilang mereka berdua bukan muhrim? Tapi Syafina juga tak mau egois, Khalid dan sherin sudah lama saling mengenal bahkan Khalid bilang Sherina pernah menyelamatkan nyawanya. Syafina tak tahu persis bagaimana ceritanya.
"Nanti kalau ada waktu yang tepat akan kutanyakan gimana ceritanya Sherin bisa menyelamatkan nyawa abang" pikir Syafina.
__ADS_1
*****
Semoga suka ya sama ceritaku, jangan lupa like nya.. 😘