Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 28


__ADS_3

Fatimah sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, Syafina mengemasi barang barang untuk dibawa pulang sementara Khalid menyelesaikan urusan administrasi. Setelah selesai mereka pun pulang kerumah.


Syafina mengantar mertuanya kekamar dan membimbing mertuanya ke tempat tidur. Kemudian Khalid dan Sherina menyusul masuk kekamar ibunya.


Syafina sambil meletakkan barang barang Fatimah. Menysunnya dalam lemari.


"Ini obat ibu dimakan tiga kali sehari" Syafina menunjukkan obat oral kepada mertuanya.


"Kapan mulai dimakan Fin, ingati ibu ya? "


"Malam nanti bu sekitar jam sembilan. Malam nanti aku kerja malam, biar bang Khalid yang berikan ibu obat nanti"


"Fina nanti malam kerja?, ini sudah jam empat sore loh, istirahatlah. Dari malam tadi kamu ngurusin ibu, kamu pasti lelah"


"Iya bu, aku ke atas ya bu" Syafina pamit.


"Aku juga ke atas bu, kalau ada apa apa panggil saja bu" Kata Khalid.


Fatimah mengangguk, bahagia dia melihat anak dan menantunya sangat dekat, beda dengan waktu baru menikah.


"Semoga aku segera dapat cucu, aamiin"


Setelah solat Ashar Syafina merebahkan tubuhnya di tempat tidur, Syafina mengambil handphone nya lalu menelpon ibunya, dia memang sudah kangen sekali sama orangtuanya.


"Assalamualaikum ma"


"Waalaikumsalam, Fina apa kabar nak? "


"Baik ma, mama sama papa gimana sehat nggak?"


"Alhamdulillah sehat, suamimu dimana Fin"


"Ada ini ma, oh ya ma ibu Fatimah ada disini, ibu baru keluar dari rumah sakit sore ini, barusan sampai dirumah"


"Sakit apa mertuamu nak? "


"Diare dan muntah muntah ma, kayaknya ada salah makan"


"Kalau gitu, mama dan papa mau jenguk mertua kamu malam ini setelah magrib. sekalian nginap rumah kamu. Kami kan belum pernah nginap disana"


"Benaran ma, tapi aku piket malam ini. Jadi nggak bisa ngobrol sama mama"


"Besoknya kan bisa sayang, kami nginap dua hari."


"Janji ya ma nginap dua hari, udah dulu ya ma. Assalamualaikum".


Khalid mendekati istrinya, memegang jemari istrinya. "Mama ya Fin? " tanya Khalid.


"Iya, katanya mau nginap disini, sekalian jenguk ibu"


"Oh baguslah, jadi rame. Sayangnya kamu piket malam". khalid menciumi jemari istrinya. Lalu dia menarik Syafina kepelukannya.


"Abang pliiss, aku mau istirahat" Syafina menatap suaminya, Pandangannya seakan memohon"


"Baru juga cium jari. Istirahatlah, abang juga sangat lelah sudah tiga hari ini nggak jelas tidurnya" Khalid mengusap usap rambut istrinya sampai dia tertidur.


****


Khalid menghadap ke laptopnya, beberapa hari ini pekerjaan banyak yang tertunda terpaksa dibawanya kerumah. Sementara Syafina sedang bersiap siap untuk ke rumah sakit.


"Selesai nanti bilang aja ya Fin, abang antar kamu"


"Oke" , Syafina memakai bedak tipis dan lipstik warna bibir. Walaupun kerjanya malam tapi tetap harus berpenampilan segar.


"Nggak usah dandan, malam juga nggak ada yang lihat"


"Cuma bedak tipis kok bang" kata Syafina, lalu dia menyemprot parfum.


"Kamu nggak se jadwal sama Arsya malam ini kan Fin? "

__ADS_1


"Nggak bang, tenang aja. Udah selesai nih.. yuk turun". Syafina turun untuk pamit sama mertua dan orangtuanya yang tadi sudah sampai.


"Fina berangkat kerja ya, ma papa, ibu dimana?"


"Iya Fin hati hati, ibu mertuamu dikamar" kata zaenab.


"O iyalah Fina pamit ma"


Ting ponsel Syafina berbunyi, ada pesan masuk dari mbak Melli.


"Fina, tolong mbak. Biar mbak yang masuk malam ini kamu masuk besok pagi saja, soalnya besok pagi mbak ada acara. Jadi nggak bisa masuk kerja besok."


"Bang, mbak Melli mau gantiin Fina malam ini, tapi Fina besok masuk pagi. Gimana bang? "


"Ya bagus lah" Khalid ingin bersorak saking gembiranya, malam ini dia bisa bersama dengan istrinya.


Syafina lalu membalas pesan dari Melli, mengatakan ia bisa membantu Melli.


"Fina ngobrol sama mama dan papa ya bang, masih kangen. Nanti Fina keatas".


"Iya, abang lanjut kerja saja di kamar. Jangan lama lama ya".


Syafina mengangguk malu malu, dia mengerti maksud dan keinginan suaminya.


Syafina dan kedua orangtuanya mengobrol dikamar yang dikhususkan untuk orangtuanya bila menginap. Lama mereka mengobrol melepaskan rindu.


"Fina, mama lihat kamu sudah dekat banget sama suamimu. Kamu sudah mencintainya nak? "


"Sepertinya begitu ma, bang Khalid orangnya penyabar, perhatian."


"Syukurlah kamu sudah membuka hati untuk suamimu, mama doakan rumah tangga kalian langgeng, kalau ada masalah bicarakan berdua baik baik. Kunci rumah tangga itu harus saling terbuka" Zaenab memberi nasehat.


"Iya ma"


"Kapan nih kasih kami cucu" Salman menimpali.


"Papa doakan kamu cepat hamilnya Fin, papa nggak sabar pengen gendong cucu".


"Iya pa,, insya Allah"


Setelah selesai berbincang melepaskan rindu Syafina kembali kekamarnya, didapatinya suaminya masih asik dengan pekerjaannya. Syafina menggantikan baju seragam kerjanya yang tadi belum diganti, sekarang dia memakai kimono tidur.


"Cantik" kata Khalid tapi masih menatap laptopnya jari jarinya diatas keyboard.


"Siapa ? "


"Ya siapa lagi, pacar abang"


"Kalau aku juga sudah tiap hari tiap malam cantik abang.." Syafina berdiri didepan Khalid dengan gaya genitnya.


"Sudah berani godain Abang sekarang ya? "


"Nggak godain kok, abang saja yang tergoda"


Khalid mematikan laptopnya, lalu menutupnya. Khalid menghampiri Syafina yang masih berdiri didepannya, lalu dia menyentuh bibir istrinya itu.


"Apa dia akan menciumku?, mau sih tapi aku masih takut" batin Syafina, jantungnya mulai berdebar kencang. Syafina berusaha menenangkan dirinya.


"Kamu pakai lipstik, cucilah. Tidur masa pakai lipstik"


"Ehmm, iya bang" Syafina bergegas ke kamar mandi dan mencuci mukanya.


Tok tok


Pintu kamar diketuk oleh seseorang, ternyata bi Lastri.


"Kenapa bi"


"Dibawah ada tamu pak"

__ADS_1


"Iya saya turun" Khalid lalu turun menemui tamu yang datang.


"Hai Ga, Den ada apa ya?. duduk.. " Khalid mempersilahkan Arga dan Dendi duduk.


"Khal maaf, kami gangguin nggak? " tanya Arga.


"Nggak, tumben bertamu malam malam"


"Mau jenguk ibu, tadi Dendi ke cafe, jadi dia cerita kalau ibu sakit. Makanya kami kesini jenguk, lagi pula aku belum pernah kerumah kamu Khal"


Mereka bertiga pun menemui ibu Fatimah. Fatimah memang sangat baik memperlakukan Arga dan Dendi, oleh karena itu Arga dan Dendi juga sangat peduli dengan Fatimah.


"Ga, anakmu sudah bisa apa sekarang? " tanya Fatimah.


"Belajar jalan buk, yah lagi lucu lucunya"


"Pasti kamu senang banget main sama anak kamu ya Ga? "


"Iya buk, kalau kerja tu jadi pengen cepat cepat pulang kerumah main sama Bella"


"Semoga Khalid cepat punya anak, ibuk nggak sabaran pengen gendong cucu"


Khalid hanya tersenyum mendengar kata kata ibunya.


"Kalau kamu Den, kapan nikahnya? " tanya fatimah kepada Dendi.


"Mungkin di percepat bu, seminggu lagi"


"Ibu doakan lancar ya Den"


"Ya, makasih bu"


Selesai berbincang dengan ibu fatimah, mereka bertiga berbincang di ruang tamu. Sementara Syafina merasa penasaran, suaminya dimana. Sudah lima belas menit menunggu suaminya tak kembali kekamar. Akhirnya dia turun ke bawah mencari Khalid. Didapatinya suaminya sedang mengobrol dengan kedua sahabatnya.


"Lagi ngobrol pasti lama nih. Aku kembali saja ke kamar" Syafina tak ingin mengganggu waktu Khalid bersama sahabatnya. Syafina mampir ke dapur, disana ada bi Lastri yang sedang mencuci piring.


"Bi tolong bikinkan minuman buat tamu, kopi saja ya bi, sekalian ada brownis di kulkas bawa saja ke depan"


"Baik nona"


Syafina lalu kembali kekamarnya, dikamarnya dia memainkan ponselnya, setelah satu jam berlalu Syafina bosan memainkan ponselnya, dia pun sudah mengantuk. Jam sudah pukul sepuluh malam. Akhirnya dia tertidur.


Tiga orang sahabat yang sedang mengobrol seakan lupa waktu, mereka akhir akhir ini memang sudah lama tak kumpul bertiga. Tak ada habisnya bahan pembicaraan mereka, selalu ada bahan pembicaraan yang di buka Arga dan Dendi, sementara Khalid seperti biasa banyak tertawa tersenyum dan sesekali menimpali.


"Den bentar lagi kan kamu nikah, kayaknya kamu perlu belajar dari kami gimana cara menyenangkan istri" Kata Arga.


"Aku sudah tahu apa yang bikin Cintya senang" jawab Dendi.


"Beda Den, nyenangin pacar dengan nyenangin istri, nyenangin istri lebih intim, ya nggak Khal?"


"Heh iya beda" jawab Khalid singkat.


"Den, Belajar sama Khalid saja, tiap hari kalian ketemu. Tanyain gimana trik triknya." kata Arga lagi. Khalid hanya tersenyum senyum mendengarnya.


"Noh kan senyum senyum dia, ajarin Dendi Khal"


"Apa sih, emang aku anak bawah umur perlu di ajari segala".


"Aku saja belum pernah" batin Khalid.


"Dari tadi Khalid cuma senyam senyum, kita aja yang ngobrol Den. Mungkin kita gangguin dia"


"Ya udah, pulang yuk" ajak Dendi. Akhirnya Arga dan Dendi pamit pulang. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


Setelah dua sahabatnya pulang Khalid kembali kekamarnya, dilihatnya Syafina sudah tertidur pulas. Khalid menyelimuti tubuh istrinya, dan membenarkan bantalnya.


"Selamat malam istri mungilku, cup" Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir mungil Syafina.


****

__ADS_1


__ADS_2