Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 27


__ADS_3

Fatimah terpaksa dirawat karena kondisinya masih lemah.


"Khal antar saja istrimu pulang nak, kasihan dia"


"Nggak bu, biar aku nungguin ibu"


"Biar Khalid sama Sherin saja yang nungguin ibu, kamu kan lagi promil sayang".


"Iya biar aku sama bang Khalid saja yang nungguin ibu" Sherin senang karena dapat kesempatan berdua dengan Khalid.


"Iyalah bu, antar aku pulang sekarang bang"


"Aku saja yang antar, aku mau ambil keperluanku soalnya". Sherin sengaja mau mengantar Syafina karena dia tak akan membiarkan Khalid dan Syafina berduaan malam ini.


"Ya udah, sama Sherin saja" kata Syafina.


"Nggak bisa, Syafina harus tetap disini. Dia kan perawat, jadi tahu bagaimana mengurus orang sakit. Fina juga sudah kenal dengan dokter dirumah sakit ini"


"Tapi aku mau menemani ibu bang" tukas Sherina.


"Kamu mana paham ngurus orang sakit, yang ada juga kamu bikin ibu sakit !"


"Khalid jangan bilang begitu, Sherin nggak sengaja".


"Yang boleh nungguin pasien hanya dua orang, jadi kamu harus pulang atau tidur di luar saja kalau kamu mau"


"Khal, kamu kenapa kasar begitu sama Sherin. Ya udah Sherin kamu pulang saja. Biar Fina sama Khalid disini"


"Iya bu" Sherina kecewa dengan keputusan Fatimah. Akhirnya dia pulang juga tapi tidak kerumah Khalid, dia pulang kerumah ibu Fatimah.


Khalid dan Syafina duduk diatas sofa yang ada diruangan itu. Bu Fatimah sudah tertidur.


"Abang tidur saja biar aku yang jagain ibu, besok kan abang harus kerja"


"Oh iya Fin, kamu besok piket apa ?" tanya Khalid.


"Seharusnya malam, kalau ibu belum ada perubahan aku bisa izin kok bang"


"Mudah mudahan besok ibu sudah membaik"


"Moga saja bang"


"Fin, abang ada permintaan sama kamu"


"Permintaan apa sih bang ?"


"Bisa nggak kamu nggak satu jadwal sama Arsya, kalau ada jadwal yang sama kamu cengan saja sama temanmu"


"Insha Allah bisa bang, aku usahakan"


"Janji ya, abang nggak suka kamu dekat dia"


"Iya abangku, ishh cemburuan banget suamiku ini". Syafina mencubit hidung suaminya.


"Tidurlah bang", Syafina kasihan melihat suaminya yang kelihatan kecapean.


"Abang susah tidur nggak ada bantal"


"Ini bantal, ayo tidurlah" Syafina menunjuk pangkuannya. Khalid lalu berbaring di pangkuan Syafina, terasa sangat nyaman baginya bisa bermanja dengan Syafina. Syafina mengusap usap rambut suaminya. Akhirnya Khalid pun tertidur.


****


Pukul dua dinihari seorang perawat mengetuk pintu,


"Sebentar sus", Syafina menurunkan kepala Khalid yang berbantal di pahanya dengan hati hati, dia takut Khalid terbangun. Kemudian dia membuka pintu.


"Maaf kak Fina, ada jadwal injeksi"


"Iya silahkan".

__ADS_1


Perawat itupun menginjeksi Fatimah.


"Ini mertua kakak ya"


"Iya dek, makasih ya"


"Sama sama kak, saya permisi" perawat itupun keluar.


Syafina membuka jaketnya yang dipakainya dan menyelimutinya pada suaminya. Syafina kembali duduk, dia mengangkat kepala Khalid keatas pangkuannya.


"Maafin Fina bang, Fina belum memberi hak abang" Syafina mengelus ngelus rambut Khalid, kemudian dia mencium kening suaminya itu. Tiba Tiba Khalid terbangun.


"Kamu nyium abang? " Khalid mengucek matanya.


"Nggak kok" Syafina merasa sangat malu karena ketahuan mencium suaminya. Mukanya memerah.


"Abang terasa tadi"


"Abang mimpi kali"


"Nggak, bukan mimpi. Jelas banget terasa. Kok kamu nggak mau ngaku Fin? "


"Sudahlah, tidur lagi" Syafina kembali mengusap usap rambut Suaminya.


"Apa nggak pegal Fin, gantian kamu yang tidur ya"


"Abang saja, aku sudah biasa begadang jagain pasien".


"Ayolah kita gantian" Khalid bangun dia menarik Syafina agar berbaring dipangkuannya.


Syafina pun menurutinya berbaring di pangkuan suaminya. Khalid membelai rambutnya.


"Enak begini ?"


Syafina mengangguk


"Tidurlah, kamu juga harus istirahat" Khalid kembali membelai rambut panjang sang istri. Dan akhirnya Syafina yang memang lelah pun tertidur.


****


"Khal, Khalid" Fatimah memanggil putranya, tapi Khalid tak mendengarnya.


"Khalid"


Syafina mendengarnya diapun terbangun, karena dia sudah terbiasa mendengar pasien memanggil.


"Ada apa bu" Syafina menghampiri mertuanya.


"Perut ibu mules, mual juga antar ke WC Fin"


Fina lalu membimbing Fatimah ke WC, setelah selesai dia lalu membimbing mertuanya itu kembali ketempat tidur. Lalu ia menyetel kembali infus yang tadi di stop. Kemudian Syafina membalurkan perut dan punggung ibu mertuanya nya dengan minyak kayu putih.


"Tidurlah kembali bu, kalau mual atau mules lagi panggil saja Fina."


"Iya Fin, makasih ya"


"Beruntung Khalid dapat istri baik seperti Syafina, aku nggak salah pilih menantu. Sudah cantik, baik, ramah, sifatnya juga lemah lembut" Fatimah berbicara dalam hatinya.


Syafina kembali ke Sofa dilihatnya Khalid tertidur dengan posisi duduk, Syafina lalu merubah posisi Khalid agar berbaring dipangkuannya kembali, Dia sendiri tidak tidur.


Dirumah memang Syafina mudah sekali tertidur, itu karena dia memang lelah sehabis aktifitasnya dirumah sakit, tapi ketika sedang bekerja dirumah sakit dia tidur hanya satu atau dua jam saja bahkan sanggup semalaman tidak tidur. Setelah adzan subuh Syafina membangunkan Khalid.


"Kok abanh yang tidur di pangkuanmu Fin? "


"Aku kasihan lihat suamiku tidur sambil duduk, makanya biar suamiku saja yang tidur di pangkuanku. Solatlah abang duluan"


Mereka pun solat bergantian, kemudian Syafina membangunkan Fatimah dan membantu mertuanya itu berwudhu.


Khalid senang melihat Syafina mengurus ibunya dengan baik. Dia merasa sangat bersyukur mendapat istri seperti Syafina.

__ADS_1


****


Khalid pulang kerumah untuk menjemput pakaiannya dan pakaian Syafina, dirumah dia tak melihat Sherin.


"Bi Lastri, mana Sherin? "


"Dia nggak pulang kerumah pak"


"O iya lah, bibi siapkan air panas dalam termos untuk kubawakan kerumah sakit"


"Iya pak".


Khalid pun bersiap siap, semua barang yang diperlukan sudah ada. lalu dia kembali kerumah sakit.


Khalid lalu memesan makanan untuk dia dan Syafina dari restoran miliknya, lalu dia menelpon Dendi mengatakan ia tidak masuk kerja hari ini.


Khalid menyuapi ibunya dengan bubur dari rumah sakit.


"Ibu lain kali jangan makan makanan yang dibeli pinggir jalan, ini ibu jadi sakit"


"Iya Khal, lain kali ibu lebih hati hati. O ya Sherin kok nggak balik kesini lagi ya, apa tadi dia belum bangun Khal? "


"Malam tadi dia nggak pulang kerumahku bu, mungkin dia pulang kerumah ibu".


Khalid menyuapi ibunya sampai buburnya habis, kemudian Sherin datang.


"Bu, maafin Sherin ya" dia menangis


"Iya nggak apa apa, jangan nangis"


"Lain kali hati hati memberikan ibu makanan" kata Khalid dengan ketus.


"Iya bang", padahal Sherina memang sengaja memasukkan sesuatu kedalam martabak manis malam tadi, agar Fatimah sakit dengan begitu Khalid tidak bisa berdekatan dengan istrinya.


"Sudahlah kamu kerja saja, disini ada aku dan Syafina yang urus ibu"


"Aku pamit ke clinic sekarang ya bu". Sebenarnya Sherin masih ingin berada disana.


"Iya Sherin, kamu kerja saja" tambah Fatimah.


Sherina lalu keluar dari ruangan. Dia merasa keberadaanya tak diinginkan disana.


Jam sebelas siang dokter datang untuk visite. Dia memeriksa kondisi Fatimah dan menanyakan keluhannya.


"Pagi ini berapa kali muntah dan diarenya nya?"


"Hanya satu kali pak" jawab Khalid.


"Kalau sudah tidak muntah dan diare lagi, ibu Fatimah boleh pulang sore nanti"


"Iya pak". jawab Khalid. Setelah itu dokter itu pun keluar.


Seseorang mengetuk pintu, ternyata Reyhan. Dia memakai seragam kerjanya karena hari ini Reyhan piket pagi.


"Apa kabar ibu bang? "


"Sudah membaik Rey"


"Mas Dendi memberitahuku kalau ibu sakit, jadi aku kesini"


"Iya, makasih ya Rey"


Syafina duduk disofa, dia hanya diam saja tidak ikut mengobrol dengan suaminya dan Rey.


"Sefni apa kabarnya Rey" tanya Fatimah


"Alhamdulillah baik bu, makannya sudah banyak. Tapi ya masih lemas juga."


"Kelihatannya keluarga bang Khalid cukup akrab dengan keluarga kak Rey" kata Syafina dalam hati.

__ADS_1


****


__ADS_2