Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 92


__ADS_3

"Hari ini kita keluar dari Homestay" ucap Khalid sambil mengusap rambut Syafina, istrinya itu bersandar didada telanjangnya.


"Katanya mau libur seminggu" Syafina mendongak menatap suaminya.


"Iya, kita dari sini lanjut ke kota A, cuma satu jam tiga puluh menit perjalanan dari sini"


"Oo, gitu. Terserah abang Fina ikut saja".


"Nanti barangmu biar abang yang siapkan," Khalid turun dari tempat tidur, lalu mengambil handuk dan melilitkan ke pinggangnya. Kemudian dia berjalan ke kamar mandi.


"Kamu nggak mandi Fin, biar abang siapin air panas.", Khalid menoleh pada istrinya.


"Iya nanti, abang duluan saja mandinya" sahut Syafina.


Khalid tersenyum kecil melihat istrinya yang sepertinya takut di ajak mandi bersama.


Setelah selesai mandi Khalid lalu menyiapkan air untuk istrinya dengan suhu yang pas. Yah Dia memang sudah bersalah menyebabkan Syafina harus mandi pagi pagi buta begini.


Jam 09.00 pagi Khalid dan Syafina sudah dalam perjalanan menuju kota A. Dalam perjalanan Syafina tertidur. Bangun jam lima subuh, jam 09.30 Syafina sudah tidur kembali.


"Lelah sekali nampaknya Fina" Khalid melirik Syafina yang tertidur di sebelahnya. Ada rasa kasihan dalam hati Khalid melihat istrinya, dia tahu istrinya berusaha untuk tegar.


Jam 10.30 Khalid telah sampai didepan sebuah rumah sederhana. Dia memarkirkan mobilnya di depan rumah itu lalu dia turun membuka kunci rumah itu. Khalid kembali untuk menggendong istrinya kedalam rumah. Ketika menggendong istrinya tetangga sebelah kiri rumah melongok melihat siapa yang datang. Khalid memberi senyum kepada orang itu. Rumah sederhana itu memang terletak di komplek perumahan sederhana yang ramai.


Khalid meletakkan Syafina di atas tempat tidur, kemaren dia sudah menyuruh Sakir mencari orang untuk membersihkan rumah itu.


Khalid membiarkan Syafina tetap tidur, sementara ia membereskan barang dan memindahkan pakaian mereka kedalam lemari. Setelah selesai Semua khalid lalu memasak air sedikit kemudian dia membuat susu untuk istrinya.


****


Jam menunjukkan pukul 11.00 siang, Silvana telah selesai memberi konsultasi pada pasien pasiennya, Hari ini jadwal dia di clinik milik Angel di kota C. Silvana melirik ke pintu dilihatnya Angel baru saja datang.


Silvana lalu keluar dari ruangannya, dia berjalan ke ruangan Angel.


"Hai Angel, lama nggak jumpa kamu, kabarnya kemaren kamu sakit? "


"Iya, Flu berat. Silahkan duduk Sil"


"Hmm udah sembuh ya. Oh ya, sudah lama juga ya kamu nggak main ke kota B." Silvana duduk di sofa berwarna merah di ruang kerja Angel.


"Iya, apa kabar si Sherin?"


"Kurang sehat, dia hamil" Silvana sengaja mengatakan hal itu.


"Apaa, bukannya dia sudah cerai. Berarti rujuk lagi donk sama Robbi"


"Bukan, dia hamil anaknya Khalid"


"Kamu jangan asal bicara Silvana. Sherin adiknya Khalid" Angel memandang tak suka kepada Silvana


"Mereka saudara angkat, dia bilang kejadiannya waktu dia menghadiri acara peresmian clinik milikmu."


Angel terdiam, mulutnya menganga. Dia tak dapat bicara.


"Kenapa, kau tak percaya Khalid menghamili Sherina?" Tanya Silvana, dia tahu Angel pasti tak percaya apa yang didengarnya.


"Aku tak percaya Sil, aku seringkali menggoda Khalid. Dia tak pernah tergoda sama sekali bahkan dia sering memarahiku". Angel cemberut mengingat hal itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada malam itu Angel, kenapa bisa Khalid dan Sherina berbuat bejat seperti itu" Silvana menyelidik.


"Ehmm, sebenarnya itu salahku." Angel menunduk, dia tak berani menceritakan semuanya.


"Ceritakanlah padaku, aku yakin Sherina sudah merencanakan ini dari sebelumnya. Aku yakin dia memang sudah lama mencintai Khalid"


"Aku memberi obat tidur kedalam minuman Khalid, Sherina tahu itu karena aku sudah cerita sebelumnya. Aku ingin menjebak dengan mengambil foto aku berdua Khalid di kamar hotel"


Silvana mengangguk angguk mendengar penuturan Angel.

__ADS_1


"Berarti Sherin memanfaatkan rencana gila kamu itu, dengan rencana yang lebih gila lagi. Dia menjebak Khalid, sehingga Khalid melakukan itu padanya"


"Tak kusangka Sherin memanfaatkan aku, terus bagaimana mereka sekarang? "


"Kemungkinan mereka akan menikah, aku kasihan sama istrinya Khalid. Dia gadis yang baik, masih polos. Sherin hanya mengarang cerita mengatakan istri Khalid selingkuh. Dia juga pernah menyuruhku menggoda Khalid"


"Tapi tau tidak, kemaren ada berita di medsos Khalid memukul Arsya, Sherin pernah cerita padaku kalau selingkuhan istri Khalid bernama Arsya."


"Oh ya, Khalid memukul Arsya?, Thamrin pernah bilang padaku Arsya memang mantan pacar Syafina istri Khalid. Mungkin dia melakukan hal yang membuat Khalid emosi lalu memukulnya"


"Siapa Thamrin?"


"Dokter temannya Arsya, kebetulan aku pacaran sama Thamrin"


"Oo gitu, kau sudah ada pacar sekarang, pantasan nggak mau gabung sama kami"


"Hhh aku malas saja, kalau gabung sama kalian pasti ceritain Khalid" Silvana memutar bola matanya.


"Sil, kau tahu tidak, Khalid sebulan tidak menyentuh istrinya. Kata Sherin Syafina tak mencintai Khalid, dia tak memberi hak Khalid sebagai suami, karena dia mencintai Arsya. "


"Masa sih? " Silvana penasaran lagi.


"Iya, Sherina melihat surat keterangan dokter yang menyatakan Syafina masih perawan karena Khalid curiga istrinya tak perawan lagi karena Arsya. Makanya dia mengajak istrinya periksa ke dokter" Angel menuturkan.


"Oo gitu, Sebulan aja tahan. Masa di kasih obat tidur saja dia sudah tak kuat iman. Obat tidur kan efeknya cuma mengantuk, perasaan melayang dan tidur. Apa Sherin juga memberinya obat perangsang?"


"Hmm bisa jadi, dasar wanita ular"


"Seharusnya dari awal kita sudah tahu Sherina ingin menjebak kita, secara abangnya masih beristri dia sudah cari cari jodohnya"


"Kau benar Sil, aku sudah termakan umpan Sherin. Sherina sekarang hamil"


Silvana terdiam, dalam hati dia merasa tak percaya Khalid menghamili Sherina. Tapi bagaimana cara membuktikannya


****


"Sudah bangun bunda? "


Khalid tiba tiba sudah di pintu.


"Iya, kita dimana ini bang? "


"Ini rumah abang, abang membelinya waktu masih tinggal di kota ini. Kemaren Sakir yang menempatinya.Tapi sekarang sakir sudah beli rumah yang lebih bagus"


"Oowh"


"Minumlah susu mu, pagi tadi abang lupa bikinkan kamu susu" Khalid menunjukkan segelas susu di atas nakas disamping tempat tidur.


Syafina mengambil susu itu, lalu menghabiskannya.


"Mau makan apa biar abang pesan"


"Aku mau makan di luar saja, mau Siomay dan es Shanghay di jalan senopati, aku mau kwetiau juga" Syafina seperti meneteskan air liur memikirkan makanan itu.


"Hahh, banyak amat? "


"Ayolah bang, aku sudah tak tahan lagi mencicipinya" Syafina membujuk suaminya dengan nada merengek.


"Oke, ayo kita pergi sekarang" Khalid menepuk nepuk lembut bahu istrinya.


Sesampainya di tempat yang di tuju, Syafina langsung saja memesan semua yang ia inginkan, es sanghay, kwetiau, dan siomay. Sementara Khalid memesan nasi goreng dan es teh saja.


"Abang dulu pernah lihat kamu makan disini"


"Oh ya, ?"


"Iya, abang kan penguntit kamu. waktu itu kamu sama temanmu"

__ADS_1


"Marsella" Dulu dia memang selalu pergi keluar dengan Marsella.


"Ehmm, iya mungkin Marsella, abang sering lihat kamu pergi sama dia"


Syafina menghabiskan semua pesanannya tanpa tersisa.


"Alhamdulillah, " Syafina mereguk air putih.


"Wow, kalau makannya begini bisa donk anak ayah naik beratnya"


"Insya Allah bang" Syafina tersenyum.


Khalid juga sudah selesai makannya, dia lalu berdiri untuk membayar dikasir. Syafina keluar terlebih dahulu karena di dalam agak sempit. Sambil menunggu suaminya antri Syafina melihat lihat pengunjung lainnya. Tiba tiba dia melihat seseorang yang telah selesai membayar dikasir. Orang itu keluar dari warung.


Syafina mengikuti orang itu, Syafina berjalan lebih cepat karena ia takut orang itu segera naik ke atas motornya. Syafina menarik kemeja laki laki itu dari belakang, sehingga laki laki itu menoleh.


"Ada yang bisa saya bantu nona? "


"Kamu orang yang menyerangku sekitar enam bulan lalu, "


"Nona mungkin salah orang"


"Tidak, aku jelas sekali dengan tato di lenganmu ini, Kau juga memakai kemeja dan sepeda motor yang sama"


"Haha, kebetulan saja mungkin"


"Mana ada ketiga tiganya kebetulan, aku yakin kau orangnya. walaupun waktu itu wajahmu ditutup"


"Sebenarnya mau kamu apa sih nona, menuduh tanpa bukti. aku bisa melapormu"


"Aku hanya ingin tahu siapa yang menyuruhmu, dan aku ingin melihat tanda pengenalmu"


"Apaan ini, menyuruh apa? "


"Katakan saja, aku hanya perlu tahu siapa yang menyuruhmu. atau perlihatkan saja padaku KTP atau SIM milikmu. "


Pada saat yang sama Khalid datang, dia sudah mencari cari istri ya. Pikirnya Syafina kabur lagi.


"Ada apa ini? tanya Khalid.


"Bang, dia yang menyerangku yang menyebabkan abang terluka 6 bulan lalu."


"Darimana kau tahu? "


"Aku begitu jelas dengan tato di lengannya, kemeja juga sama, dan motornya juga sama. Aku minta dia memperlihatkan tanda pengenalnya."


"Kebetulan saja mungkin pak" orang itu berusaha menjelaskan.


"Gini saja, apa susahnya kau memperlihatkan KTP atau SIM milikmu


"Okey ini SIM milikku, KTP ketinggalan"


Syafina memotret SIM orang itu. Ternyata namanya Tio Ardana Putra.


"Makasih, ini saya kembalikan lagi"


Orang itu mengambil kembali SIM nya, dan bergegas menaiki motor dan menstarternya.


"Hmm, jika ketahuan aku bilang saja Sherina yang menyuruhku. Biar dia yang tanggung jawab,"


Syafina menatap orang itu, dia yakin sekali orang itu yang menyerangnya.


"Yuk kita ke restoran milik abang sekarang. Abang ingin mengenalkanmu dengan teman teman dan karyawan abang disana"


Syafina mengangguk. Lalu bergelayut manja di tangan suaminya.


****

__ADS_1


__ADS_2