
Sampai di rumah Khalid segera berlari kekamar mencari wanita kesayangannya. Dilihatnya Syafina sedang membereskan perlengkapan solatnya.
"Fina, periksa hamil yuk"
mendengar itu Syafina terkejut dia menoleh kepada suaminya, dia diam saja lalu duduk di pinggir tempat tidur.
"Dapat wangsit darimana kok tiba tiba datang ngajak periksa hamil" batin Syafina.
"Kok malah diam? ", gumam Khalid, diluar ekspektasinya, dipikirnya Syafina akan kegirangan dan memeluknya. Tapi Khalid tak mau menyerah membujuk istrinya, lalu dia berjongkok didepan Syafina.
"Fina, ayolah sayang. Abang nggak sabar pengen lihat anak abang disini" bujuk Khalid, dia mengelus perut istrinya.
"Kapan kapan saja" Syafina menjawab tanpa menoleh suaminya.
"Sayang, maafin abang selama ini nggak perhatian sama anak kita. Ayolah, jangan buat abang merasa bersalah begini",
Syafina diam saja tak menanggapi
"Periksa hamil yuk, mau ya sayang? "
Khalid berjongkok di depan Syafina, dan menggenggam tangan istrinya.
"Aku ingin istirahat saja. Katanya tadi mau main di Cafe Bella, Kenapa cepat sekali pulangnya"
"Aku tiba tiba kangen istri dan anakku, yuk periksa hamil Abang mau lihat anak Abang disini" Khalid menunjuk perut Syafina.
Syafina menatap mata suaminya, dilihatnya suaminya sepertinya bersungguh sungguh ingin menemaninya perisa hamil. Lagi pula memang itu yang dia inginkan.
"Iya, ayolah" Syafina tersenyum lembut.
"Nah gitu, abang ashar dulu ya", Khalid menciumi kening istrinya.
Selesai Khalid solat Ashar mereka berdua segera berangkat untuk periksa hamil di praktek dokter Diandra.
Disana mereka terpaksa ngantri karena sudah banyak pasien yang lebih duluan mendaftar. Selama antri Khalid menggenggam tangan istrinya, dia berharap bayinya sehat sehat saja.
"Usia kehamilan kamu berapa Fin ? "
"Seharusnya sudah masuk 8 minggu, abang nanti temani aku kedalam ya?"
"Iya sayang, abang saja nggak sabar pengen lihat seperti apa anak kita"
"Lihat saja nanti", Syafina tersenyum geli.
"Masih seperti biji kacang bang, hehe" kata Syafina dalam hati.
Ting, tanda pesan masuk di ponsel Khalid. Khalid membukanya.
"Bang, kerumahku ya bang"
"Maaf Sher, aku nggak bisa"
"Plis bang, Roby mau ngajak aku pindah ke kontrakan yang lebih kecil. Katanya yang sekarang mahal"
"Selesaikan saja urusan kalian berdua, abang nggak bisa ikut campur"
__ADS_1
"Tolong abang jelasin sama Roby, dia ada dirumah, aku nggak bisa di ajak pindah, mana jauh lagi bang"
"Sher, maaf abang ngak bisa. Aku nemani Fina periksa hamil". Khalid lalu keluar dari aplikasi pesan, dan menyimpan ponselnya kedalam saku celana.
"Siapa bang? " tanya Syafina
"Sherin"
"Kenapa lagi dia ? "
"Ngajak kerumahnya"
"Terus abang mau kesana sekarang? "
"Nggak, ngapain kesana.. ".
"Syukurlah"
Tak lama kemudian nama Syafina di panggil, mereka berdua masuk kedalam. Khalid merasa deg degan, sementara Syafina biasa saja, dia senang suaminya bisa menemaninya periksa kehamilan. Dokter Diandra menjelaskan perkembangan kehamilan Syafina, dan menjawab semua pertanyaan Khalid.
Khalid sangat antusias mendengar penjelasan dokter Diandra. kemudian dokter Diandra memberi resep vitamin untuk ibu hamil.
Setelah selesai menebus resep Khalid dan Syafina masuk kedalam mobil untuk pulang kembali kerumah.
"Nggak ada lagi yang dicari Fin? apa beli susu hamil ?"
"Nggak ada, susu masih ada pulang saja yok bang, bentar lagi magrib.
Namun ketika mereka melewati pedagang makanan di pinggir jalan, Khalid merasa kasihan dengan mereka, dagangan mereka masih banyak sementara langit gelap angin mulai kencang sepertinya mau turun hujan. Ada empat gerobak penjual makanan disana.
Khalid menepikan mobilnya, sejenak dia berpikir mau beli makanan apa.
"Apa ya.., itu gorengan yang sana batagor. Nggak deh aku kurang suka. Dulu sebenarnya suka, semenjak hamil nggak suka lagi".
"Abang keluar bentar ya", Khalid membuka pintu mobilnya. Syafina mengangguk.
Ada dua pedagang menjual gorengan, satu lagi penjual batagor, dan satunya lagi penjual martabak mesir. Khalid memborong semua dagangan mereka. Dia meminta pedagang pedagang itu membungkusnya.
"Pak bungkus saja semuanya, saya sama istri solat dulu di masjid sana, nanti setelah solat saya kembali kesini". khalid berkata kepada pedagang disana.
"Yang benar pak, empat gerobak ini? benaran bapak kembali kesini? "
"Benar, ini saya bayar dulu segini" Khalid menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah. Salah satu pedagang itu menerimanya.
"Baik pak, kami bungkus"
"Iya, saya ke mesjid sebentar ya", Khalid lalu kembali kedalam mobilnya.
"Nggak jadi beli bang?" tanya Syafina
"Jadi, kita ke mesjid dulu solat, setelah itu baru di jemput kesini lagi" lalu mereka berdua pergi solat ke mesjid yang berada tak jauh dari sana.
Setelah selesai solat hari mulai gerimis. Khalid dan Syafina kembali ke tempat pedagang makanan tadi. Khalid membayar sisanya, lalu para pedagang itu mengangkat belanjaan Khalid kedalam mobil dan menaruhnya di bangku belakang.
"Benaran abang beli segini banyak?"
__ADS_1
"Hemm" Khalid mengangguk."
"Mau diberi sama siapa bang, banyak banget ini"
"Ikut saja, nanti juga tahu" Khalid lalu melajukan kembali mobilnya ke mesjid tadi tempat mereka solat magrib.
"Kenapa kesini lagi bang? " Tanya Syafina tak mengerti.
"Kita bagikan makanannya sama jamaah yang solat di sini, mereka adalah penduduk disekitar sini ada juga dari pedagang yang jualan disekitar sini. Di mesjid ini kan banyak juga anak anak yang belajar baca Alquran"
"Oh gitu, aku bantu bagikan ya bang?"
"Nanti saja kita solat isya saja dulu"
Diluar masih gerimis, Khalid dan Syafina turun dari mobil menunggu waktu isya. setelah selesai solat isya Khalid memberitahu kepada pengurus mesjid agar menahan dulu orang orang untuk pulang. Lalu Khalid meminta bantuan dengan marbot untuk mengangkat makanan di dalam mobil.
"Pak, tolong bantu saya angkat makanan ini kedalam, mau di bagikan kepada jamaah dan anak anak di dalam masjid".
Khalid dan Syafina dibantu oleh marbot mesjid membagikan makanan itu dua bungkus untuk satu orang.
Semua jamaah di mesjid itu mengucapkan terimakasih kepada Khalid dan Syafina.
"Makasih pak, buk. Semoga rizki bapak ibuk lancar dan dikaruniai anak yang banyak" ucap seorang bapak bapak setengah baya.
"Aamiin," ucap Khalid dan Syafina berbarengan.
"Terimakasih doanya pak" sambung Khalid seraya tersenyum.
Usai membagikan makanan itu, Khalid hendak pamit kepada pengurus mesjid untuk pulang.
"Makasih sedekahnya pak, moga rizki bapak lancar, bapak dan ibuk selalu dilindungi Allah" kata imam mesjid disana.
"Aamin"khalid dan Syafina mengamini.
"Saya dan istri pamit pulang pak, kapan kapan kami solat disini lagi. assalamualaikum"
"Waalaikumsalam". imam mesjid mengantar Khalid dan syafina keluar, diluar hujan mulai turun agak lebat.
Khalid melindungi kepala istrinya dengan jaket yang dipakainya sampai masuk kedalam mobil. Lalu mereka berlalu dengan mobil mereka.
Imam mesjid itu memandangi mobil mereka sampai hilang dari pandangannya.
"Muda, tampan dan cantik. Jarang jarang ada anak muda yang mau sedekah, semoga rezeki mereka lancar, rumah tangganya dilindungi Allah".
****
Dalam perjalanan menuju kerumah Syafina sudah tertidur, Khalid menoleh kepada istrinya.
"Sebenarnya sangat mudah membuatmu bahagia Fin, akunya saja yang tidak peka, maafin abang sayang". Khalid mengusap pipi Syafina dengan tangan kirinya. sementara tangan kanannya memegang setir.
"Terimakasih sudah memberi anak untukku dalam rahimmu, sama sama kita jaga anak kita ya sayang" Khalid mengusap ngusap perut istrinya yang masih rata.
Setelah sampai dirumah Khalid tidak tega membangunkan istrinya, dia menggendong istrinya yang bertubuh mungil itu. membawanya menaiki tangga menuju kamar mereka, lalu membaringkannya diatas tempat tidur. Terakhir Khalid menyelimuti Syafina
"Kamu sangat lelah Fin, istirahatlah sayang biar babyku juga istirahat".
__ADS_1
Khalid lalu mencium kening istrinya, memandangi wajah istrinya lama lama. Khalid jadi senyum senyum sendiri ketika ingat dulu dia hanya berani memandangi Syafina dari jauh, bahkan dia takut ketahuan jika membuntuti Syafina. Dia bahkan tidak tahu Syafina mempunyai tahi lalat kecil di dahinya saking tak pernah melihat dari dekat.
****