
Syafina lama menunggu suaminya pulang, dia merasa kesepian dirumah. Lama juga tadi dia mengobrol dengan bi Lastri, kemudian merawat tanaman hiasnya. Sekarang sudah pukul lima sore, biasanya Khalid pulang jam tiga siang, atau malah lebih cepat.
"Apa lembur lagi ya?, Syafina bertanya dalam hatinya. Akhirnya dia pergi ke teras depan menunggu suaminya disana.
Sekitar lima belas menit dia duduk disana, akhirnya suaminya pulang. ketika suaminya sampai diteras Syafina menyambutnya menyalami dan mencium tangan suaminya.
Dalam hati Khalid heran, kenapa istrinya semakin manis saja sikapnya. tapi dia sangat senang Syafina menunggu kedatangannya.
"Nungguin abang ya? "
"Iya, aku kesepian. Giliran aku libur abang malah lambat pulangnya". Syafina dan Khalid berjalan beriringan menaiki tangga kekamar mereka.
"Nanti malam kita keluar ya"
"Boleh, kemana bang?" Syafina girang
"Kemana saja, yang bisa bikin kamu senang"
Malam harinya jam tujuh malam Syafina sudah bersiap siap, dia kelihatan sangat cantik. kali ini dia sedikit berdandan, Ia memakai dress dibawah lutut berwarna millo.
Khalid menatap Syafina lama, dia terkagum dengan kecantikan istrinya.
"Biasanya kamu nggak dandan kalau ku ajak keluar".
"Aku nggak mau terlihat jelek dibilang nggak pantas jadi istrimu,"
"Mau dandan atau nggak kamu itu tetap cantik. Siapa yang bilang kamu nggak pantas jadi istriku?"
"Sudahlah lupakan, ayo berangkat" Kali ini Syafina yang menggandeng Khalid.
Syafina mengajak Khalid makan di warung makan di pinggir jalan.
"Fina, memangnya siapa yang bilang kamu nggak pantas jadi istriku, aku yakin pasti ada yang bilang begitu"
"Nggak usah dibahas bang"
"Abang nggak mau kamu kepikiran kata kata orang itu Fin, apa Marsha atau Viana? "
"Viana?, siapa dia? "
"Yang bersama Arsya kemaren"
"O iya lupa. Bukan dia" Syafina keceplosan seakan dia memberi petunjuk siapa orangnya.
"Sudah pasti Marsha, kenapa sih dia cari gara gara terus, aku nggak mau kamu terus terusan disakitinya"
"Sudah ku bilang jangan dibahas" kata Syafina. sambil mencomot lalapan di depannya.
"Nggak bisa Fin, aku akan bicara sama dia"
"Terserah abang lah",
Kemudian Khalid dan syafina melanjutkan makan mereka sampai habis. Setelah mereka selesai makan, tiba tiba seorang ibu ibu muda mendekat.
"Ini Khalid kan?"
Khalid pun menoleh kepada ibu ibu itu, dan seperti biasa dia tersenyum dengan orang yang menyapanya. Lalu dia mengangguk.
"Iya buk, ada yang bisa saya bantu?"
"Aku nggak nyangka Ketemu Khalid disini, pemilik restoran bunda makan di warung pinggir jalan." ibu itu menunjukkan wajah terkejut plus senangnya.
__ADS_1
"Saya biasa makan di tempat begini buk" kata Khalid.
Seorang remaja yang menyadari itu adalah Khalid ikut ikutan mendekat.
"Ganteng banget ya bang Khalid ini, ini istrinya ya bang. OMG cantik banget lagi" kata remaja itu dengan gaya khas abege nya.
"Rerimakasih" kata Khalid.
Khalid lalu tak sungkan menanyakan nama ibu dan remaja tadi.
"Siapa namanya buk, dek? "
"Aku Imel" jawab ibu tadi.
"Aku mike" jawab gadis remaja itu.
Lalu Khalid menyalami mereka. Syafina ikut meyalami dua orang itu dan tersenyum pada mereka.
"Senang berkenalan dengan kalian, pasangan yang benar benar serasi. cantik dan tampan" kata ibu yang mengaku namanya imel itu.
"Makasih buk, kami juga senang kenalan sama ibuk" jawab Syafina.
Kemudian ibu ibu dan remaja itu pamit karena pesanan mereka sudah selesai. Khalid dan Syafina juga membayar makanan mereka.
Pemilik warung makan itu menghampiri Khalid dan Syafina
"Terimakasih sudah makan di tempat kami, apa bapak masih ingat saya pak? "
"Siapa ya, saya lupa" kata Khalid.
"Emm, bapak ini bukannya yang nolong saya di parkiran waktu itu?" tanya Syafina.
"Pak Budi, benar kan?" tanya Khalid.
"Benar pak" jawab orang itu lagi.
"Tolong fotoin saya sama istri saya di depan pak" Kata Khalid menyodorkan handphone nya.
Khalid lalu berpose dengan merangkul pinggang Syafina didepan warung tenda itu. Selesai difoto Khalid mengambil kembali handphone nya.
"Terimakasih ya pak, saya izin upload foto ini di media sosial milik saya pak"
"Oo, kalau gitu saya yang terimakasih banyak pak Khalid"
"Sama sama" Akhirnya Khalid dan Syafina pamit dengan pak Budi pemilik warung tenda itu. Sesampainya di dalam mobil Khalid langsung mengupload foto dia bersama Syafina di instagramnya dengan caption yang menarik.
Jam baru menunjukkan pukul 20.30, Khalid mengajak Syafina ke toko perhiasan. Dia ingin memberi hadiah untuk istrinya, karena semenjak menikah Khalid belum pernah membeli hadiah untuk Syafina.
"Pilih saja Fin, mana yang kamu suka"
Syafina melihat lihat, tapi dia bingung mau pilih yang mana.
"Aku bingung bang, abang saja yang pilihkan"
"Kamu boleh pilih yang mana saja Fina, yang paling bagus menurutmu"
"Aku lebih senang bila abang yang memilihkan, ini kan hadiah dari kamu"
"Oke, biar abang yang pilih" Khalid lalu memilih sebuah kalung dan sebuah cincin yang sangat cantik dan elegan desainnya.
"Abang, salah satunya saja".
__ADS_1
"Ini satu set Fina" lalu Khalid memakaikan kalung itu ke leher istrinya. Syafina memakai sendiri cincin ke jarinya.
"Kalau aku yang milih aku maunya yang ini, kamu suka? " tanya Khalid. Syafina mengangguk.
"Dipakai ya, ngggak usah di simpan" kata Khalid lagi.
Lalu Khalid membayar, setelah itu mereka keluar dari toko itu.
"Kemana lagi bang, pulang saja yuk"
"Bentar dulu, ayo kita belanja lagi buat kamu"
Dalam hati Syafina heran kenapa suaminya begini,.
"Abang boros amat sih"
"Kan baru sekali ini Fina, ayolah"
Khalid mengajak Syafina ke sebuah butik, lalu pegawai disana mengantar Syafina berkeliling. Setelah melihat lihat Syafina kembali menghampiri Khalid.
"Bang, aku nggak butuh ini, lagian aku bingung mau beli apa"
"Fina ambil saja apa yang kamu suka, habisin saja duit suamimu ini"
"Bang, emangnya aku seperti Marsha yang tukang ngabisin duit kamu?"
"Eh, Fina kok tiba tiba ngomong gitu"
"Lah abang juga kenapa tiba tiba ngajak belanja ini itu, aku kan nggak butuh. Karena sudah biasa belanja sama Marsha kan ? "
"Aduh kok kenapa tiba tiba begini" batin Khalid.
"Okelah kalau kamu nggak mau, aku pilihkan saja ya. Anggap saja hadiah dari abang" Khalid lalu memilih satu stel dress panjang berwarna salem, dan high heels berwarna senada. Setelah membayar dia mengajak Syafina pulang.
Dirumah Khalid dan Syafina berbaring di tempat tidur.
"Fin maafin abang ya, bukan abang menganggap kamu sama seperti Marsha. Tapi abang benar benar ingin memberimu hadiah, kamu kan istriku"
"Iya, nggak apa"
"Memangnya kamu ketemu Marsha dimana sih,"
Syafina tak menjawabnya, dia malah menarik selimutnya.
"'Pasti kamu ada ketemu dia sebelum ini, dia ngomong apa? "
Syafina tetap diam saja, malah membalikkan badannya memeluk guling.
"Ya sudah kalau nggak mau cerita, lain kali kalau ketemu dia nggak usah diladeni. Jangan di dengar omongannya"
Khalid lalu menciumi wajah istrinya, lalu bibirnya lama dia berhenti disana. Syafina menikmati dan membalasnya. Khalid melepas perlahan ciumannya dan menatap dalam wajah istrinya.
"Sekarang boleh gantian abang yang minta hadiah? "
"Jadi abang ada modus ngasih aku hadiah tadi ya, aku tau abang minta hadiah apa" Syafina mengerucutkan bibirnya.
"Bagus kalau sudah tahu, jadi dikasih nggak nih hadiahnya" wajah Khalid seperti memelas.
"Ambil sendiri hadiahnya" Syafina akhirnya tertawa.
****
__ADS_1