Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
bab 38


__ADS_3

Sherina penasaran bagaimana kabar Syafina, apakah dia keguguran atau bagaimana. akhirnya dia memutuskan untuk menelpon Khalid saja. Sherin lalu mengambil Handphone nya dan mencari nomor kontak Khalid.


"Assalamualaikum bang"


"Waalaikumsalam, napa lagi Sher? "


"Ini bang, mau nanya kabar Syafina. Kemaren ada karyawan di clinic bilang lihat Syafina di bawa kerumah sakit, emangnya sakit apa bang ? "


"Oo, dia terjatuh. Kakinya terkilir"


"Kok bisa jatuh ?, terus gimana kehamilannya. Kata ibu dia lagi hamil"


"Nggak tahu juga gimana kejadiannya, tapi kehamilannya baik baik saja"


"Oh syukurlah, ya udah bang nanya itu saja".


"Sher, jangan bilang sama ibu ya, nanti dia khawatir Syafina kenapa kenapa"


"Oke bang, nggak aku bilang kok, udah ya bang, Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam"


Sherina lalu memutuskan sambungan teleponnya. Dia sangat kesal ternyata Syafina tidak kenapa kenapa. Dia harus merencanakan sesuatu yang bisa mencelakai Syafina atau bayinya, atau mungkin rencana membuat Khalid dan Syafina bertengkar hebat. Sherina tersenyum licik.


Syafina keluar dari kamar mandi dia mendengar Khalid mengobrol dengan orang di telpon, tapi dia tidak tahu dengan siapa.


"Siapa bang? " tanya Syafina, dia lalu berbaring di sebelah suaminya.


"Sherina, nanyain kabarmu "


"Hah, tumben nanyain kabar aku"


"Kenapa Fina, kamu kok kelihatannya nggak suka sama Sherin" Khalid bergeser mendekat kepada Syafina.


"Nggak kok, cuma aku rasa dia itu gimana ya..."


"Suka sama abang maksudnya? abang sudah tahu kok. Tapi aku nggak pernah memperdulikannya karena dipikiranku selama bertahun tahun ini hanya ada kamu Syafina". Khalid mencubit hidung mancung istrinya.


Mendengar itu Syafina tersenyum sangat manis, senyum yang dulu membuat Khalid tak bisa tidur membayangkannya, tapi sekarang dia setiap hari dihadiahkan Syafina senyum itu.


"Nah gitu donk senyum sama suami, dari tadi siang nggak ada senyum". Khalid merengkuhkan Syafina agar bersender di bahunya.


"Maafin abang ya Fin" Khalid mengusap usap rambut istrinya dan menciuminya.


"Maaf kenapa bang?" Syafina mendongak menatap suaminya.

__ADS_1


"Maafin abang nggak bisa jagain Fina, seharusnya tadi abang yang ngantar Fina". Khalid sangat menyesali yang sudah terjadi dengan Syafina


"Nggak apa bang, nggak mungkin abang jagain aku 24 jam. Lagian aku nggak kenapa kenapa"


"Nggak kenapa gimana, kakimu ini pasti sakit. Ya Alhamdulilah anak kita nggak kenapa"


"Sudahlah ini sudah sembuh kok, bang memangnya siapa ya yang mau nyelakai aku? "


"Kok ngomong gitu Fin, ini cuma kebetulan kok. Memangnya menurutmu siapa yg mau nyelakain kamu?"


"Ya kali aja bang, soalnya udah seringkali aku hampir celaka"


"Kalau masalah kamu di jebak maren sih abang memang curiga sama Marsha tapi kalau mau nyelakain kamu kayaknya nggak mungkinlah"


"Moga saja semuanya hanya kebetulan" kata Syafina, tapi dalam hatinya dia merasa ada keanehan.


"Fina, sebenarnya abang maunya kamu berhenti saja kerja. Tapi kalau kamu mau, kalau nggak mau ya nggak apa apa".


Mendengarnya Syafina terdiam dan berpikir.


"Bang, mungkin lain kali saja aku berhenti kerja. Jangan sekarang rasanya terlalu cepat".


"Ya terserah kamu Fin, tapi abang yang selalu antar kamu ya, dan kemana mana juga abang yang ngantar. Abang nggak mau kamu kenapa kenapa"


"Fina jangan godain abang kalau kakimu masih sakit, tanggung sendiri resikonya nanti"


"Eeh nggak kok, aku tu niatnya nggak godain, abang saja yang mudah tergoda" Syafina manyun membuat Khalid makin tergoda.


"Makanya tidur, hayo" Khalid membaringkan istrinya lalu menyelimutinya.


"Aku maunya di cium, di peluk", pinta Syafina yang membuat Khalid terkejut.


"Makin agresif saja istriku ini, sudah berani bilang keinginannya" Batinnya senang.


Khalid menuruti keinginan istrinya, dia mencium kening istrinya lalu memeluk wanita kesayangannya itu.


"Meluknya yang erat" Kata Syafina lagi.


"Ya ampun, kamu nggak tahu abang yang tersiksa kalau begini."


"Tersiksa gimana bang, biasanya Abang suka peluk peluk aku kan?"


"Tauk ah" Khalid akhirnya mengeratkan pelukannya, membuat tubuhnya jadi menegang.


"Coba saja kalau kakimu nggak sakit Fina, juga Iskan kau sekarang juga" batin Khalid dalam hati. Tapi dia dapat menahan hasratnya. Tercium olehnya wangi tubuh istrinya yang jadi candu baginya.

__ADS_1


"Awas saja kalau sudah sehat" batin Khalid. Dia tersenyum sendiri dengan pikirannya saat ini.


Khalid merasa sangat bersalah dengan Syafina, kenapa setiap terjadi sesuatu dengan istrinya dia tidak bisa membantunya, sejujurnya kini Khalid sangat cemas apalagi sekarang istrinya lagi hamil anaknya. Khalid mengusap perut istrinya yang masih datar, dalam hati dia mendoakan keselamatan istri dan anaknya.


Khalid tak menyadari semua kejadian dengan Syafina ada hubungannya dan direncanakan oleh orang yang sama, dia hanya mengira itu adalah karena kebetulan saja atau hanya kecerobohan Syafina saja.


****


Sherin tak bisa memejamkan matanya, padahal Roby sudah berusaha menuruti keinginannya malam ini. Dia mau nya Robi tidur diatas sofa Roby menurutinya, tadinya Roby juga mencuci semua pakaian mereka berdua. Alasannya Sherin seharian ini lelah. Sherin memang sekarang tinggal Berdua saja dengan Roby di rumah kontrakan mereka. Roby yang bekerja disebuah perusahaan swasta belum mampu membeli rumah untuk mereka, tapi dia bertekad akan memberi yang terbaik untuk Sherina.


Setelah dua minggu pernikahan mereka Roby belum pernah menyentuhnya bukan Roby tak ingin, tapi Sherin tak mengizinkannya dengan alasan dia belum siap. Roby hanya bisa bersabar menghadapi wanita yang dicintainya itu. Dia berharap suatu saat Sherina bisa menerimanya dan mencintainya.


Sebelum menikah Roby pernah menanyakan mengapa Sherina mau menikah dengannya. Sherina menjawab karena dia sudah dewasa dan ingin berkeluarga, dia merasa Roby yang cocok jadi suaminya. Yang jelas apapun alasan Sherina baginya dapat menikahi Sherina saja telah membuatnya bahagia.


Roby bahkan tak mengetahui bahwa ia telah difitnah oleh istrinya, Sherin mengatakan kepada Khalid bahwa Roby telah memukulnya, padahal sebenarnya Sherinalah yang sengaja membentur wajahnya hanya untuk mencari perhatian Khalid.


"Kenapa belum tidur sherin? "


"Kepikiran masalah pekerjaan"


"Nggak usah terlalu dipikirin, ini sudah malam tidurlah jaga kesehatanmu. biar besok pikiranmu jernih. kamu bisa kerja lagi"


Sherin tak menanggapi suaminya. Dia malah membalikkan badannya yang tadinya posisi terlentang


"Kalau lelah bisa aku pijitin kamu"


"Jangan harap ya kamu nyentuh aku, jangan bikin alasan mau mijitin"


"Sher, aku hanya kasihan sama kamu kelelahan kerja"


"Sudahlah, kamu tidur saja. Nanti juga aku pasti ketiduran".


****


Sementara di singapura Reyhan sedang merawat mamanya, menyuapi mamanya makan, memberi obat dan memijiti tubuh ringkih mamanya. Dia sangat lembut kepada mamanya.


Reyhan berharap pengobatan ibunya di Singapura akan membuahkan hasil baik. Dia sangat berterimakasih kepada Khalid yang telah banyak membantu keluarganya.


"Bagaimana aku bisa membalas kebaikan bang Khalid," gumam Reyhan dalam hati.


"Aku harus memastikan bang Khalid dan Syafina bahagia, tak akan ku biarkan Arsya mengganggu rumah tangga kalian" Reyhan berbicara dalam hatinya.


****


Tinggalkan jejak like nya buat karya receh author ya readers tersayang.

__ADS_1


__ADS_2