Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 108 Syafina melahirkan bayi Syakha


__ADS_3

Syafina sudah berada di ruang bersalin dia sendirian. Reyhan tak boleh masuk kedalamnya. Dirinya terus menangis tak bersuara tapi air mata terus mengalir dipipinya. Namun kini dia sedikit demi sedikit sudah bisa menerima kenyataan bahwa suaminya sudah tiada. Melahirkan tanpa ada suami yang memberi dukungan sungguh amat berat terasa bagi Syafina.


"Fina, jangan menangis terus. Ini berpengaruh dengan janinmu dek, berusahalah untuk tenang, atur nafasmu dan istigfar saja dalam hati" Bidan Anita menasehati.


"Iya kak, temani Fina ya kak. Fina takut sendirian" Syafina menyeka air matanya dengan jarinya.


"Iya, kakak temani kamu. Tadi kakak sudah lapor dokter spesialis, katanya kamu bisa melahirkan normal."


"Alhamdulillah. Kak, tolong berikan ponselku sama Kak Rey, suruh dia menelpon mamaku untuk memberitahu aku mau melahirkan"


Bidan Anita mengambil ponsel dari tangan Syafina lalu dia keluar untuk memberikannya pada Reyhan. Kemudian Reyhan menelpon mama Syafina memberitahu kondisi Syafina saat ini dan kecelakaan yang menimpa Khalid. Zaenab sangat Syok mendengarnya.


Reyhan berjalan mondar mandir, dia mencemaskan kondisi Syafina dan bayinya. Baru saja beberapa menit yang lalu Syafina diuji kehilangan suaminya sekarang Syafina sudah harus diuji lagi dengan melahirkan bayi yang prematur.


"Kuatkan Syafina ya Allah, kasihanilah dia" Doa Reyhan dalam hati.


"Bagaimana kondisi Fina?" seseorang bertanya, Reyhan menoleh ternyata Arsya.


"Dia didalam, mungkin sebentar lagi bayinya akan lahir"


"Aku turut berduka cita atas kejadian yang menimpa suami Syafina, aku nggak nyangka begitu berat cobaan Syafina. Kasihan dia" ujar Arsya.


"Moga dia bisa tabah, dan kuat menjalaninya".


Arsya mengangguk menyetujui Reyhan, Terdengar suara Syafina di dalam yang merintih kesakitan Arsya dan Reyhan jadi menahan nafas mendengarnya, mereka lalu saling berpandangan. Kedua laki laki ini ingin mendampingi Syafina, saat ini Syafina pasti butuh dikuatkan. Tapi para bidan tidak mengizinkan mereka berdua masuk mendampingi Syafina.


***


Satu jam setengah telah berlalu, Syafina merasakan sakit di perut dan pinggangnya bertambah kuat


"Sebentar lagi Fina, sudah pembukaan 8cm, pembukaannya sangat cepat, itu karena sakitnya yang sangat kuat. "


Syafina mengangguk tanda mengerti penjelasan bidan. Syafina beristigfar didalam hatinya, sekarang dia sudah tak menangis lagi. Dia meyakinkan dirinya untuk kuat melahirkan anaknya tanpa ada suami disampingnya.


"Aku akan melahirkan Syakha anak kita bang, " lirih Syafina dalam hati.


Syafina mengatur nafasnya mencoba untuk tenang, dia terus beristigfar. Ketika kontraksi datang dia memejamkan matanya menahan sakit, dalam hati ia ingin suaminya memijatnya, mungkin itu akan membuatnya merasa nyaman. Kontraksi datang berkali kali, semakin lama dan semakin kuat.


"Kak, aku ingin buang air besar" ucap Syafina yang terengah engah menahan sakit.


"Kakak periksa lagi ya, mungkin sudah pembukaan lengkap" Bidan itu lalu melakukan pemeriksaan dalam.

__ADS_1


"Pembukaan lengkap, kakak atur posisi kamu dulu ya. Sekarang kamu sudah boleh mengedan, nanti kakak pimpin"


"Baik kak" Syafina mengikuti saja instruksi kakak Bidan yang membantu persalinannya.


"Buka matanya, mulutnya ditutup dan mengedan yang kuat" Bidan anita memimpin Syafina mengedan.


Saat datang kontraksi Syafina melakukan seperti yang dianjurkan bidan, Syafina melakukannya dengan sekuat tenaga.


Sementara diluar Arsya dan Reyhan juga merasakan ingin mengedan, duduk salah dan berdiri juga salah. Mendengar suara Syafina yang terpekik karena sakit mereka jadi menahan nafas. Keluarga pasien lain yang kebetulan berada disana terheran heran melihatnya. Sebenarnya siapa diantara mereka yang istrinya mau melahirkan.


"Perasaanku pasien didalam cuma dua orang, istriku dan ada satu lagi istri siapa ya? " Bapak itu mengernyitkan dahinya memikirkan.


Disaat Syafina mengedan yang ketiga kalinya dengan sangat kuat, dia merasa melihat suaminya berdiri disampingnya.


"Ayo Fina berjuanglah demi anak kita". Khalid memberi semangat.


Syafina merasa mendapat tenaga yang sangat kuat dia menyambung mengedan yang panjang dengan sekuat tenaga yang tersisa. Dan akhirnya terdengarlah suara tangis bayi yang baru lahir kedunia, tangisnya kedengaran cukup kencang.


"Alhamdulillah" Syafina bersyukur telah melahirkan anaknya. Dia melihat anaknya yang diletakkan bidan diatas dadanya, bayi mungil itu kelihatan masih lemah.


"Alhamdulillah" Arysa dan Reyhan akhirnya bernafas lega. Mereka berdua berpandangan dan tersenyum.


"Kak, apakah bayiku baik baik saja?"


Syafina lalu memeluk bayinya, untuk memberi kehangatan untuk sikecil Syakha. Tak terasa airmata Syafina menetes lagi menatap mata bayinya yang juga menatapnya seakan ada kontak batin antara mereka berdua. Lalu sikecil Syakha menangis cukup kuat.


"Tangisannya kuat Fin, kakak bedong bayinya ya. Mau diadzankan lalu di pindahkan ke ruangan perinatologi untuk mendapat perawatan disana."


"Baik kak" Syafina menurut saja.


Bidan membuka sedikit pintu ruang bersalin, Arsya dam Reyhan yang masih tegang menunggu kabar dari dalam segera menghampiri bidan itu.


"Bayinya mau diadzankan, setelah ini akan dipindahkan ke ruang perinatologi. Siapa yang bisa mengazankan? " tanya bidan itu.


"Saya" sahut Reyhan dan Arsya berbarengan. Bidan itu pun jadi bingung. Bapak yang tadi pun tak kalah bingung.


"Biar saya saja" suara dari pintu masuk tiba tiba.


Semua menoleh kepada asal suara itu. Mereka tak mengenali siapa yang berdiri disana.


"Saya kakeknya, biar saya saja yang mengadzankan cucu saya" Salman meminta.

__ADS_1


Arsya dan Reyhan lalu menghampiri Salman, dan menyalami papanya Syafina itu.


"Silahkan masuk om, bayi Syafina sudah lahir sejak 15 menit yang lalu" Reyhan membimbing tangan Salman masuk kedalam ruang bersalin. Namun ia tak ikut masuk kedalam.


Salman mengadzankan cucunya di telinga kanannya, setelah selesai dia memberikannya kembali kepada bidan. Syafina jadi terharu melihat papanya mengadzankan anaknya, Syakha.


"Berapa berat anaku kak? "


"1900 gram , kakak bawa ke ruang perinatologi ya. Bapak ikut saya kesana ya pak" Bidan itu menoleh kepada Salman. Salman lalu mengikuti bidan itu. Sampai diluar Arysa dan Reyhan telah menunggu di depan pintu.


"Apa bayinya akan dibawa ke perinatologi? " tanya Arsya.


"Benar pak" sahut bidan itu.


"Saya ikut kesana" pinta Arsya.


"Biar saya yang menunggui Syafina disini" ujar Reyhan.


Salman jadi mengetahui siapa dua laki laki tampan didepannya ini, sudah pasti Arsya dan Reyhan.


"Rey, om titip Syafina ya,"


"Iya om" Reyhan mengangguk.


Arsya pun mengikuti Salman dan bidan ke perinatologi, sementara Reyhan mengurus keperluan Syafina di ruang bersalin. Lagi pula tadi dialah penanggung jawab ketika Syafina masuk dari UGD.


Di ruang perinatologi Arsya melakukan sendiri perawatan dan tindakan pada bayi kecil Syakha. Dia memang sudah terbiasa mengurus bayi bayi semenjak di ruang perinatologi.


"Om jangan khawatir biar saya yang menjaga bayi Syafina, saya yang bertanggung jawab om".


"Makasih Arsya, om titip cucu om ya? "


Arsya menngangguk. Dia memasukkan bayi kecil Syakha kedalam inkubator setelah dia memastikan inkubator dengan suhu yang tepat.


"Rita, tolong minta ASI Syafina, dia sekarang sudah dipindahkan ke ruang perawatan."


"Baik pak" Rita lalu pergi ke ruang perawatan nifas menemui Syafina. sekitar setengah jam kemudian dia membawa botol berisi ASI.


"Hanya 15 cc pak"


"Itu cukup" Arsya lalu memberikan sendiri ASI itu melalui NGT, karena bayi Syakha belum mempunyai reflek isap.

__ADS_1


Arsya duduk dibangku di sebelah inkubator, dia memandangi bayi kecil itu yang sedang tertidur karena sudah kekenyangan. Entah mengapa dia merasa jatuh cinta dengan bayi itu, apakah karena bayi itu milik Syafina.


****


__ADS_2