
Hari ini Syafina piket pagi seperti biasa Khalid mengantarnya sampai ke ruangan. Semenjak beberapakali kejadian terhadap istrinya Khalid memang lebih protektif terhadap Syafina, bukan mencurigai orang lain akan mencelakai istrinya tapi Khalid merasa harus bertanggung jawab dengan istrinya. Karena semua kejadian itu terjadi karena dia membiarkan istrinya sendirian. sendirian berkendara, sendirian berjalan dan sendirian dirumah. Ingin ia menyewa seseorang mengawal istrinya tapi takut membuat Syafina tidak nyaman.
Setelah mengantar Syafina kerumah sakit, Khalid segera ke kantornya.
"Apa aku suruh Fina berhenti kerja saja ya?, ngeri banget kalau suatu hari dia shift malam dan aku nggak bisa ngantar dia". Khalid mencoba mencari solusi sendiri.
"Ah tapi Syafina tidak akan mau berhenti bekerja, susah susah dia sekolah demi cita citanya enak saja aku nyuruh di berhenti kerja. Yang jelas sekarang selagi aku bisa antar jemput aku antar jemput saja, nanti aku carikan sopir saja buat dia, kalau pak lukman kan sopir kantor." Khalid berbicara panjang lebar dengan dirinya sendiri.
****
Syafina dan teman temannya sedang berdiri berjejer menunggu dokter Spesialis Anak visite, tadi dia sudah menelpon akan masuk sebentar lagi. Ternyata benar, tak lama kemudian Dr Sofian Hadi SpA masuk kedalam ruangan perinatologi diikuti oleh dokter umum.
Betapa Terkejut Syafina kenapa bukan dokter Anna, tapi malah dokter Arsya Wijaya yang menemani dokter Sofian pagi itu.
Syafina dan teman temannya menjawab pertanyaan dokter Sofian seputar perkembangan bayi bayi yang dirawat disana. Sementara dokter Arsya terlihat menulis di list pasien. Syafina melirik ke arah Arsya, bukan ingin memandangnya tapi dia heran kenapa Arsya di ruang perinatologi, bukannya dia dokter jaga UGD?, apa dia sengaja pindah kesini?.
Arsya menulis list pasien, sesekali dia melirik perawat didepannya. Dan pandangannya bertemu dengan Syafina. Syafina cepat cepat menunduk, Arsya jadi tersenyum sendiri.
"Bilang saja kamu ingin memandangku lama lama, kangen kan ? " gumam Arsya.
"Aduuh, kenapa aku lihat lihat dia pasti dia ke geeran. Dikiranya aku gak bisa move on" Batin Syafina.
Selesai visite Dokter Sofian dan dokter Arsya meninggalkan ruangan itu, ketika hendak keluar dari ruangan Arsya berbisik kepada Syafina.
"Kita satu ruangan lagi". Dia lalu menyunggingkan senyumnya yang manis, tapi membuat Syafina sedikit merinding.
"Kenapa sekarang senyum mas Arsya menakutkan ya ?" batin Syafina. Lalu Syafina kembali dengan pekerjaannya, sesuai instruksi dari dokter Sofian tadi.
"Pak Arsya sekarang menggantikan dokter Anna, kakak agak ngeri sama dia. Kabarnya dia sedikit galak sama perawat dan jarang senyum" kata Eka kepala ruangan.
"Kenapa dia pindah kesini kak? " tanya Syafina menyelidik
"Seperti biasa Fin, setiap awal tahun rotasi di rumah sakit kita, ada yang tetap di ruangan lama, ada juga yang di pindahkan"
"Oo gitu ya kak, aku belum tahu karena baru empat belas bulan disini, awal tahun yang kemaren aku kurang perhatian"
"Eh Fin, pak Arsya tu gimana orangnya, kamu kan dari UGD juga"
"Ya gitu lah kak, memang sedikit jutek kalau pekerjaan kita nggak beres dan lamban. dia sedikit senyum tapi sebenarnya baik orangnya". Syafina menjelaskan.
****
"Khal, kita harus berangkat hari ini juga ke kota A, kamu bisa kan?"
__ADS_1
"Insha Allah bisa"
"Acaranya besok jam berapa? " tanya Khalid.
"Besok jam sembilan pagi, selesai acara dari sana kita ke Bengkel dan Restoran kamu yang disana" jawab Dendi.
"Kenapa panitia reuni ngasih tahu baru hari ini ya, mendadak banget. Kalau nggak pergi nggak enak sama teman yang lain".
"Nggak apa apa lah Khal, kita berangkat jam empat nanti, sampai jam delapan malam. malamnya bisa istirahat, aku ke ruanganku ya" . Dendi lalu berlalu ke ruangannya.
"Aku beri tahu Syafina dulu". Lalu Khalid menelpon Syafina.
"Assalamualaikum bang"
"Wa alaikumsaam, Fina abang nanti sore jam empat berangkat ke kota A besok ada acara. kamu ikut nggak? "
"Pengen sih tapi aku kerja, berapa hari abang disana?"
"Dua hari, kamu nggak bisa izin kerjanya?"
"Nggak enak izin, baru seminggu Fina di ruangan baru,"
"O iya lah, nanti abang jemput ya. Assalamualaikum".
****
Syafina duduk diatas tempat tidur menyusun baju baju dan keperluan suaminya ke dalam koper.
"Selama abang di kota A bisa nggak kamu piketnya pagi saja, cengan jadwal sama teman"
"Insha Allah bisa bang, Fina sering kok ceng jadwal sama teman"
"Alhamdulillah kalau bisa, abang takut kalau kamu kerja malam"
"Acara apa disana bang? "
"Reuni, sekalian mau ke Restoran dan Bengkel disana"
"Abang punya Restoran dan bengkel juga disana? "
"Iya, justru disana usaha abang yang pertama."
"Kok aku nggak pernah tahu ya bang, aku kan kuliah akademi keperawatan dikota A juga."
__ADS_1
Mendengar itu Khalid tersenyum, lalu mengacak rambut istrinya.
"Kamu kan memang tak pernah mau tahu tentang aku".
"Bukan begitu bang, aku cuma jarang keluar". Syafina ingat dulu ia jarang sekali keluar, temannya hanya Marsella saja, tapi kini dia sudah renggang dengan Marsella.
"Gadis kuper" Khalid mencubit pipi istrinya.
"Abang nyubitnya jangan keras donk" Syafina menepis tangan Khalid.
"Terus begini?" Khalid mencubit lagi kedua pipi Syafina dengan kedua tangannya, kali ini lebih pelan.
"Iya begitu" kata Syafina sambil menatap suaminya. Tak berani menatap lama dia pun tertunduk. Khalid lalu mengangkat dagu Syafina agar menatapnya lagi.
"Kenapa, malu ya? "
"Pakaiannya sudah beres ini bang" Syafina mengalihkan pembicaraan.
"Iya makasih" khalid lalu memegang tengkuk Syafina menariknya mendekat, Khalid memandang mata istrinya dalam. Khalid mencium bibir Syafina dengan lembut, Syafina hanya diam tak membalas. Jantungnya berdebar tak menentu tapi ia juga tak ingin menolaknya. Syafina hanya membiarkan Khalid melakukannya.
Tert tert ponsel Khalid berbunyi, ternyata Dendi yang menghubunginya.
"Sudah mesra mesranya, aku diluar"
"Sudah... iya aku keluar sekarang" Khalid lalu menutup sambungan telponnya, padahal Dendi yang menelponnya.
"Sudah apaan, baru saja mau mulai" gerutu Khalid.
"Kenapa bang, berangkat sekarang ya? katanya jam empat, ini bru 15.45" Kata Syafina, sejujurnya dia juga merasa terganggu saat saat mesranya bersama suaminya jadi berakhir karena telpon dari Dendi.
"Abang berangkat sekarang ". Khalid dan Syafina lalu keluar.
"Khal kita isi bahan bakar dulu" kata Dendi.
"Fina abang berangkat ya". Syafina lalu menyalami dan mencium tangan suaminya. Dia menatap kepergian suaminya sampai hilang dari pandangannya.
Syafina masuk kedalam rumah lalu kekamarnya berbaring diatas tempat tidur. Syafina tersenyum senyum sendiri. Tadi adalah first kiss nya.
"Bang Khalid sabar banget, sudah 24 hari kami menikah baru kali ini dia menciumku, padahal dia bisa saja memaksaku"
Tiba tiba Syafina merasa bersalah kepada suaminya.
"Aku jahat banget sama bang Khalid"
__ADS_1
****