Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 74


__ADS_3

Reyhan malam ini giliran sif malam, beberapa pasien di UGD malam ini sudah ditanganinya sesuai instruksi dokter. Sekarang sudah jam 00.15 dia bisa istirahat. Reyhan meraih ponselnya dari saku baju seragam putihnya. Dia hendak menelpon Arsya. Karena tadi dia melihat Arsya di parkiran ketika baru datang, berarti malam ini dia juga piket malam.


"Hallo Arsya, kamu sibuk? "


"Sudah nggak sibuk lagi, ini lagi istirahat"


"Aku kesana sekarang bisa? "


"Bisa". Dalam hati Arsya heran kenapa Reyhan ingin bertemu dengannya tengah malam begini. Apakah mengenai Syafina lagi.


Tak lama kemudian Reyhan sampai ke ruangan Arsya, Arsya sudah menunggunya di luar. Dia duduk di kursi tunggu pasien.


"Disini ada cctv kan? "


"Ada, itu" Arsya menunjuk ke sudut atas.


"Waktu kejadian kau di jebak dengan Syafina kamu menaruh tas atau peralatanmu dimana? "


"Dalam kamar istirahat dokter, itu kamar dokternya" Arsya menunjuk ke sebuah ruangan.


"Kita cek cctv ini, kita ke ruang pak Umar. sekarang. malam ini dia yang piket"


"Apa menurutmu ada orang yang menyelinap memasukkan obat kedalam botol minumanku?" tanya Arsya.


"Ya jelas" jawab Reyhan.


"Lemot juga ini dokter" gumam Reyhan dalam hati


"Kenapa selama ini aku nggak cari tahu ya, padahal aku juga sudah curiga"


"Karena kamu fokus dengan cara mendapatkan Syafina kembali, bukan fokus mengeluarkan Syafina dari masalahnya". Reyhan berjalan mendahului Arsya.


"Apa bedanya denganmu? " Arsya menyusul dari belakang.


"Aku tak sepertimu" Reyhan membela diri.


Tak lama mereka sudah berada dalam ruangan pak umar, pak umar yang bertugas memantau cctv malam ini. Reyhan menyampaikan maksudnya, lalu pak umar mempersilahkan Reyhan dan dokter Arsya mengecek cctv.


Ternyata benar, terlihat seseorang masuk kedalam ruang dokter. sekitar tiga menit dia didalam lalu dia keluar kembali.


"Kok wajahnya nggak ditutupnya ya?" Reyhan merasa heran.


"Ya jelas, kalau ditutup dia akan di curigai orang" jawab Arsya.

__ADS_1


"Lemot juga ini orang" batin Arsya dalam hati.


"Tunggu, aku rasanya mengenal orang ini," Reyhan memfokuskan ke wajah orang tersebut.


"Namanya Doyok, atau yoyok pokoknya temannya manggil dia yok"


"Kamu pernah lihat orang ini dimana?" tanya Arsya.


"Di warung makan, waktu itu aku lagi gowes. Temannya yang bernama son menyebut nama Khalid aku jadi penasaran. Berarti benar Khalid yang disebutnya adalah suami Syafina. Dari pembicaraan mereka yang dapat kutangkap mereka ini disuruh oleh seseorang mencelakai istri Khalid, karena cinta yang tak terbalas.


"Kira Kira Siapa orang yang menyuruh mereka?" tanya Arsya.


"Itu aku tidak tahu, setahu aku Khalid memang banyak digemari wanita. Mungkin Dendi lebih kenal siapa saja wanita wanita itu. "


"hHhh, sudah kuduga dari awal , Khalid memang tak pantas untuk Syafina"


"Sudahlah, mereka sudah mau punya anak juga. lagipula kau lihat sendiri Syafina sangat mencintai suaminya"


"Kau salin saja rekaman ini, mungkin siang nanti kita bisa melanjutkan pencarian". Arsya mengalihkan pembicaraan. Dalam hati Arsya tak mau mengakui bahwa Syafina sangat mencintai suaminya, dia yakin masih ada rasa cinta dihati Syafina untuk dirinya.


Reyhan menyalin rekaman cctv itu, lalu mereka keluar dari ruangan pak umar. Untuk kembali ke ruangan mereka masing masing.


****


Sampai di kamarnya Syafina melihat suaminya masih tidur pulas.


"Tumben tidur kembali setelah subuh, apa tidurnya bang Khalid malam tadi tidak nyenyak?" Syafina lalu menggoyang tangan Khalid untuk membangunkannya.


"Bang, bangun kita sarapan"


Khalid menggeliat, lalu dia membuka matanya. Dilihatnya Syafina duduk di sampingnya, lalu Khalid bangun dan duduk.


"Tumben abang tidur kembali setelah subuh? "


"Malam tadi aku nggak bisa tidur, mungkin setelah jam dua baru aku tertidur"


Mendengar itu Syafina merasa sangat bersalah. Seharusnya malam tadi dia melayani suaminya.


"Maafkan aku ya bang, malam tadi aku menolakmu" Syafina menatap suaminya berharap suaminya memaafkannya.


Khalid tersenyum, lalu dia menggenggam tangan istrinya. "iya abang maafkan,"


"Makasih ya bang sudah maafin aku"

__ADS_1


"Abang harap kita tetap seperti biasa walaupun rumah tangga kita sedang di uji. Kita harus tetap sama sama" Khalid lalu membawa istrinya dalam pelukannya. Khalid mengusap rambut istrinya lalu mencium pucuk kepala istrinya.


"Sekarang giliran abang minta maaf, Dari kemarin kamu belum maafin abang. Apa kamu mau maafin suamimu ini?"Khalid menatap mata istrinya.


Syafina balas menatap mata suaminya dalam, Sungguh dia mencintai laki laki ini. Dia tak mampu membenci laki laki itu, dan dia tak bisa berlama lama tak memberi maaf pada laki laki pilihannya itu.


"Iya, aku maafin suamiku ini. Aku akan selalu dukung ayah dari anakku,"


"Nah gitu donk, istri solehahnya abang" Khalid mencubit hidung mancung istrinya. Sebuah kecupan halus diberikannya pada bibir merah istrinya.


"Ayolah kita sarapan, sarapannya sudah kusiapkan" ajak Syafina. Mereka berdua lalu berjalan turun ke bawah, Khalid menggandeng tangan istrinya.


Dimeja makan telah menunggu Fatimah dan Sherina. Hati Sherina serasa ditusuk duri melihat kemesraan Khalid dan istrinya. Ingin rasanya dia berada di posisi itu sudah tiga belas tahun lamanya dia menunggu.


"Aku harus bersabar lagi, jadi yang keduapun aku tak masalah". Sherina menguatkan hatinya sendiri.


Sherina cepat cepat menyudahi sarapannya, awalnya tadi dia mendahului Syafina di meja makan untuk menyiapkan sarapan untuk Khalid tapi ternyata sarapan sudah siap, bahkan untuk Khalid sendiri sudah dihidangkan dalam piring plus segelas susu. Sherina tahu pasti Syafina sudah pagi pagi menyiapkannya. Kali ini dia kalah cepat.


Setelah selesai sarapan Sherina buru buri pamit.


"Ibu, bang Khalid aku duluan ya"


"Jangan lupa, kamu cari rumah kontrakanmu hari ini. Atau kamu mau beli juga boleh" kata Khalid.


"Iya bang"


"Kabari kalau sudah dapat"


Sherina mengangguk saja, lalu dia berlalu meninggalkan mereka di meja makan.


"kamu kok belum siap siap Khal, masih pake baju santai. biasanya sudah siap dulu baru sarapan" tanya ibu Fatimah.


"Aku nggak kerja hari ini bu, mau menghabiskan waktu sama Fina aja seharian ini" Khalid melirik istrinya. Yang dilirik tersenyum malu saja.


"Ngapain juga bilang sama ibu segala kalau mau habiskan waktu sama aku hari ini" batin Syafina, Sejujurnya dia malu sama mertuanya.


"Ya udah atur Quality time kalian berdua ya, menurut ibu kalian harus sering sama sama berdua"


"Iya bu" jawab Khalid, dalam hati dia merasa heran dengan sikap ibunya. Sepertinya ibunya sangat menyayangi Syafina tapi mengapa ibunya membuat keputusan yang menyakiti istrinya itu dengan menyuruh dirinya menikahi Sherina.


****


Tinggalkan jejak likenya yah.. 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2