Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 85


__ADS_3

Di sebuah kamar seorang wanita sedang terhanyut dalam sepertiga malamnya, bermunajat kepada Allah dengan berlinang air mata mengharap keridhoannya.


Dalam doanya Syafina meminta kepada Allah agar terlepas dari masalah yang menimpa keluarga kecilnya. Dia tersadar hanya Allah tempat mengadu, tempat mencurahkan isi hatinya. Syafina hanya pasrah kepada Allah apakah rumah tangganya hanya sebatas ini dan Allah akan menjauhkannya dari suaminya atau Allah akan mendekatkannya sedekat dekatnya dengan suaminya.


Syafina tertidur meringkuk diatas sajadahnya, sampai terdengar suara adzan subuh berkumandang dia terbangun dalam keadaan yang jauh lebih tenang. Setelah mengerjakan solat subuh dia tertidur kembali kali ini diatas tempat tidurnya yang nyaman. Suatu hal yang jarang dilakukannya tidur kembali setelah subuh.


****


Khalid yang tidak tidur semalaman memutuskan akan menyusul istrinya pagi itu juga. Dengan mata yang merah dan perih menahan kantuk ia mengemudikan mobilnya perlahan menuju rumah mertuanya.


Kurang lebih 90 menit perjalanan Khalid sampai di tempat tujuannya. Khalid menepikan mobilnya di depan rumah mertuanya, Salman kelihatan tengah asyik menjemur kopi hasil panennya bersama beberapa orang buruh harian yang di upahnya. Selain bertani nanas salman juga bertani kopi dan jahe.


"Assalamualaikum pa, apa ada Syafina dirumah? "


"Iya ada, dia belum keluar dari kamarnya"


"Makasih pa, aku kedalam dulu" Khalid izin kepada mertuanya.


"Iya silahkan" Salman memberi izin, dia tahu Khalid dan Syafina tengah dirundung masalah.


Khalid berpas pasan dengan Zaenab di ruang keluarga.


"Ma bagaimana kabar Syafina?"


"Dia masih dikamarnya, kamu lihatlah dia. Siapa tahu pagi ini dia lebih tenang dan mau ketemu sama kamu"


"Baik ma" Khalid mengangguk, lalu dia menuju kamar Syafina, kamar itu tak di kunci. Khalid masuk saja.


Syafina yang masih terlelap tak menyadari suaminya berada di dekatnya dan mengelus lembut rambutnya.


"Bang" ucap Syafina, namun matanya terpejam. Khalid tersenyum mendengar Syafina mengigaukan namanya.


"Bang maafkan Fina"


"Sst, abang yang harus minta maaf" Khalid mengelus elus lembut pipi Syafina.


Karena merasa ada yang menyentuhnya Syafina membuka matanya perlahan, dilihatnya ada Khalid di depannya. Dia sungguh rindu dengan laki laki didepannya itu.


"Bang Khalid, benaran ini abang? "


"Iya benar, makanya cuci muka biar sadar seratus persen"


Syafina yang sadar bahwa ternyata dia tidak mimpi bersemu merah karena malu, tapi dia senang sekali Khalid mengunjunginya sepagi itu.


"Abang kok pagi pagi sudah kesini? "


"Terus kapan lagi, ini saja suamimu tidak tidur semalaman kangen sama kamu. Aku bisa gila kalau harus nunggu beberapa jam lagi"


"Ah segitunya"


"iya segitunya Fin, apa kamu nggak rindu sama suami ? "


Syafina mengangguk dia tertunduk, dalam hati dia menyesal pergi tanpa pamit.

__ADS_1


"Maafin Fina nggak pamit bang"


"Iya sudah abang maafin, abang belum mandi belum sarapan juga. Bisa kamu siapin sarapannya sementara abang mandi dulu? "


Syafina lalu cuci muka kemudian bergegas menyiapkan sarapan untuk suaminya dan dirinya sendiri. Sarapan itu sebenarnya sudah siap Syafina hanya menyajikannya saja kedalam piring.


Khalid yang sudah selesai mandi hanya memakai celana pendek dan kaos oblong miliknya yang sengaja ditinggalkannya ketika pindahan beberapa bulan lalu.


"Ayo bang, kita sarapan sama sama" ajak Syafina.


Syafina melayaninya seperti biasa, tetap tersenyum seperti biasa. Dalam hati Khalid merasa kagum dengan istrinya yang sanggup menyimpan kesedihannya. Bukannya meledakkan amarahnya tapi malah memberi ketenangan kepada suaminya.


"Terbuat dari apa hatimu Fina, seharusnya kau mengusirku atau membunuhku saja. Aku pantas menerimanya" lirih Khalid dalam hati.


"Fina apa kamu nggak marah sama abang? "


"Buat apa aku marah bang, sudahku bilang aku janji selalu dukung abang"


"Tapi kenapa kamu pergi nggak pamit sama abang, abang khawatir sekali kemaren"


"Aku hanya butuh ketenangan saja, dan pagi ini aku sudah merasa jauh lebih baik"


Khalid mengangguk, dia mengerti perasaan istrinya.


Setelah selesai sarapan mereka berdua kembali kekamar. Mereka berbaring di tempat tidur. Terasa suasana yang agak kaku. Khalid mengerti pasti istrinya masih ada perasaan kesal padanya. Sebuah ide terlintas dalam pikiran Khalid. Dia ingin mengajak istrinya kesuatu tempat yang disana hanya ada mereka berdua.


"kamu ikut abang pergi ya?"


"kesuatu tempat, pokoknya kamu ikut saja "


"Kemana dulu aku diajak? "


"Pokoknya kamu ikut saja suamimu" Khalid menyentuh dagu istrinya.


"Mau ajak aku pergi kemana?, ah ikut saja lah. Tidak mungkin rasanya bang Khalid akan menyakitiku disana" batin Syafina.


"Ayolah pergi sekarang mumpung masih jam delapan pagi. " ajak Syafina.


"Bawa pakaianmu masukkan kekoper, bawa jaket atau sweater juga"


"Pergi kemana sih bang, disini tak banyak pakaianku. Kalaupun ada tak muat lagi. lihat perutku ini" Syafina meraba perutnya yang membuncit.


"O iya ya, pakaian abang juga tak banyak disini"


"Gini saja kita pulang saja dulu kerumah kita" ajak Syafina.


"Tidak, kita beli saja semuanya"


"Beli, dasar pemboros" Syafina cemberut.


"Abang nggak mau pulang kerumah. bikin abang tambah pusing saja. Lagi pula apa salahnya aku beli pakaian buat istriku dan aku sendiri? "


"Terserah abang lah"

__ADS_1


"Ayolah kita pamit sama mama dan papa, kamu juga belum mandi" Khalid menggamit tangan Syafina. Dalam hati Syafina bertanya tanya kemana suaminya akan mengajaknya pergi.


****


Fatimah berjalan mondar mandir di ruang keluarga, semalam Khalid tidak pulang. Sampai pagi ini pun belum pulang.


"Apa menyusul Syafina, tapi kenapa nggak bilang bilang mau pergi kemana nomor ponselnya juga tidak aktif"


Fatimah duduk diatas sofa, diraihnya ponselnya dari dalam tas tangannya.


"Assalamualaikum bu" Suara Dendi di seberang sana.


"Iya Den, kamu tahu Khalid dimana? "


"Barusan tadi telpon katanya dia liburan sama Syafina, urusan kantor diserahkannya sama aku dan Yulia bu"


"Oo gitu, apa dia kasih tahu liburan kemana? "


"Khalid nggak kasih tahu, dan aku juga nggak nanyain bu"


"Ehmm, makasih infonya Dendi. Assalamualaikum"


"Sama sama bu, waalaikumsalam". Fatimah memutuskan sambungan teleponnya.


"Kenapa nggak bilang bilang mau liburan, apa Khalid mau menghindari Sherina?"


Fatimah merasa pikirannya cukup berat, dia kasihan dengan Khalid dan Syafina tapi Sherin bagaimana, dia juga butuh keadilan.


****


Khalid menenteng barang belanjaan dia dan istrinya, pakaian, segala macam perlengkapan yang dibutuhkan, susu hamil Syafina dan tak lupa makanan ringan. Syafina hanya kebagian membawa makanan ringan saja.


Diparkiran mereka berpas pasan dengan Silvana.


"Eh banyak sekali belanjaannya, belanja bulanan ya? " tanya Silvana dengan ramah


"Bukan, rencananya kami mau liburan. makanya belanja dulu"Syafina yang menjawab.


"Oo selamat bersenang senang ya, liburan kemana nih?"


Khalid hanya tersenyum saja tanpa menjawab.


"Aku saja nggak dikasih tahu mau kemana, mau kasih surprise kayaknya" Syafina melirik suaminya.


"Eh, iya mau kasih surprise buat istri" jawab Khalid.


"Oo gitu, ya udah ya. saya kedalam selamat berlibur". Silvana meninggalkan mereka, lalu Khalid dan Syafina menaruh barang belanjaan mereka ke dalam mobil. Kemudian mereka juga masuk kedalam mobil.


Khalid melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Syafina menghidupkan music lagu lagu solawatan, dalam perjalanan Syafina bernyanyi mengikuti lagu lagu solawat itu. Sesekali Khalid menatap istrinya yang nampak mulai ceria. Khalid tahu Syafina berusaha enjoy dan melupakan masalahnya.


****


kasih like jempol cantiknya dunk.. 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2