
Lama Syafina menunggu suaminya, dia menunggu sambil memainkan ponselnya. beberapa orang pelayan toko menyapa dia dengan ramah. Kali ini dia tahu toko ini milik suaminya tanpa bertanya. Dari namanya sendiri toko ini saja sudah ketahuan FK Cell, pasti Fatimah Khalid.
Akhirnya urusan Khalid selesai juga.
"Mau handphone Fin, ambil saja" tawar Khalid.
"Nggak lah, pulang saja yuk. bentar lagi ibu sampai loh".
Akhirnya mereka berdua pulang, Didalam mobil Khalid menggenggam tangan Syafina dengan tangan kirinya.
"Maafin abang ya Fina, sebenarnya semua yang terjadi sama kamu ini salahku nggak bisa jagain kamu"
"Nggak usah dipikirin lagi bang, abang ada curiga sama seseorang nggak? "
"Mungkin Marsha, tapi belum pasti. Aku hanya curiga saja"
"Kenapa nggak lapor polisi saja biar diselidiki"
"Marsha itu bukan orang sembarangan, dia anak pak Zulkarnain"
"Pak Zulkarnain walikota maksud abang? "
Khalid mengangguk, "bukannya aku takut karena dia anak walikota, aku hanya memikirkan nama baik pak Zul saja"
"Bahaya juga kalau dibiarin bang"
"Aku akan coba ngomong baik baik sama dia".
Khalid dan Syafina sudah sampai didepan rumah mereka, Khalid memarkirkan mobilnya lalu turun dan membuka pintu untuk Syafina. Tapi Syafina tidak turun dari mobil.
"Ayo turun Fina"
"Gendong"
"Apaan sih Fina, ayolah turun"
"Gendong" Syafina menatap suaminya dengan manja.
"Hhh, ada ada saja nggak malu dilihat satpam?" Tapi Khalid menuruti juga kehendak Syafina, dia menggendong Syafina. Pada saat bersamaan Fatimah dan Sherin sampai.
"Mesra banget penganten baru pakai acara gendong gendongan segala" kata Fatimah.
Sementara hati Sherin panas melihat pemandangan di depannya.
"Mereka kok baik baik saja sih" batin Sherin kesal. Sherin lalu memarkirkan mobilnya, Fatimah segera turun.
"Bang turunin"
"Nggak, tadi kamu minta digendong"
"Senang sekali ibu lihat kalian mesra, darimana? "
"Dari praktek dokter Diandra bu" jawab Khalid lalu masuk ke dalam rumah dan menurunkan Syafina di dalam rumah. Fatimah dan Sherin juga masuk kedalam rumah.
"Dokter Diandra spesialis kandungan itu kan?, kenapa kesana? "
"Syafina program hamil bu" jawab Khalid berbohong.
"Ooh, moga Syafina cepat hamil ya"
"Aamiin" jawab Khalid dan Syafina berbarengan.
"Mereka kok seperti nggak terjadi apa apa" batin Sherina.
"Ya udah aku kembali ke kantor sebentar, jam dua belas pulang lagi". Khalid lalu berangkat kembali kekantornya.
"Ma aku antar kekamar ya". Syafina menaruh tasnya di atas meja, lalu mengantar ibu Fatimah kekamar, Fatimah dan Sherin mengikutinya.
__ADS_1
"Ini kamar mama, barusan tiga hari yang lalu bang Khalid membeli perabotan untuk kamar ini".
Fatimah lalu menaruh tasnya di atas tempat tidur.
"Ibu, Sherin, istirahat saja ya, aku bantu bi Lastri masak ya bu". Syafina pergi kedapur.
"Iya Fina". kata Fatimah.
"Ibu aku keluar ya, nonton tivi" kata Sherin.
Fatimah mengangguk, dia lalu berbaring di tempat tidur.
Sherin duduk di atas sofa di ruang keluarga dan menyetel siaran televisi.
"Aneh kok seakan nggak terjadi apa apa, apa mereka hanya pura pura ya"
"Kenapa mereka ke dokter Spesialis kandungan, apa iya secepat itu mau promil" Sherin curiga. Tiba tiba Sherina melihat tas Syafina di atas meja. Lalu dia mengambil tas itu dan melihat isinya. Dia menemukan handphone, lipstik, dan secarik kertas.
"Kertas apa ini", lalu Sherina membuka lipatan kertas itu.
"Surat visum? " Sherina membacanya.
"Apaa.. Syafina masih perawan?"
"Berarti malam itu Arsya nggak ngapa ngapain Syafina, atau orang suruhanku yang ngasih laporan bohong" Sherina lalu cepat cepat mengembalikan kertas itu kedalam tas Syafina.
"Kurang ajar, berani beraninya bohong sama aku. Katanya Syafina sudah pingsan dan Arsya sudah diberi obat perangsang".
"Tapi kenapa Syafina masih perawan ya, apa Khalid tak pernah melakukannya? "
Sherina mengembangkan senyum liciknya.
***
Malam harinya Khalid Fatimah Syafina dan Sherin duduk di ruang keluarga, mereka berbincang bincang. Syafina duduk disebelah suaminya.
"Iya bang".
"Gimana di clinic?" Khalid berbincang sementara tangannya memegang tangan Syafina.
"Ramai bang, nggak ada masalah."
"Oh ia bu, asam urat ibu masih sering kambuh nggak? ", Khalid masih saja tetap memegang jemari Syafina.
"Nggak pernah kambuh lagi Khal"
"Alhamdulillah" jawab Khalid dan Syafina berbarengan.
"Kayaknya Khalid sayang banget sama kamu Fin, dari tadi pegang tangan kamu terus"
"Takut Fina kabur bu" Khalid yang menjawab.
"Mana mungkinlah aku kabur, mana tahan aku jauh dari suamiku ini" Syafina menggombal, lalu dia mencium tangan suaminya yang sedari tadi memegang tangannya.
Sherin menoleh tak mau melihat adegan mesra itu, hatinya bertambah panas.
"Duh senangnya ibu lihat kalian"
"Maaf bu, Aku keluar bentar ya ada urusan. nggak sampai satu jam kok" Sherin izin keluar.
"Iya Sher, hati hati. Jangan lama lama" jawab Fatimah. Lalu Sherin keluar.
"Fina Khalid kalian istirahatlah, ibu juga mau kekamar mau solat"
"Iya bu" jawab Khalid.
Fatimah masuk kekamarnya, Khalid dan Syafina juga masuk ke kamar mereka. Khalid dan Syafina bergantian membersihkan diri dan berwudhu, lalu mereka solat isya berjamaah kemudian berdoa.
__ADS_1
Setelah selesai solat Syafina berdiri didepan meja riasnya dia memakai krim malam dari dokter Randa. Khalid menghampirinya, memeluk Syafina dari belakang. Khalid mengangkat rambut Syafina sehingga nampak tengkuknya, Khalid menciumi leher istrinya dari belakang. Syafina membiarkannya dan menikmatinya. Khalid lalu membalikkan tubuh istrinya sehingga mereka berhadapan. Diciuminya istrinya dengan lembut dan Syafina membalasnya. Lama sekali mereka melakukannya.
Tok tok,
Khalid menghentikan Aktifitasnya
"Siapa sih,?" Lalu dia membuka pintu.
"Napa bi? "
"Nyonya Fatimah sakit perut, mencret terus muntah juga, nyonya nyuruh bapak kekamarnya".
"Iya saya kesana"
"Fina aku kekamar ibu ya"
Syafina mengangguk. Syafina membenarkan rambutnya dan baju tidurnya, lalu dia mengambil minyak kayu putih kemudian Syafina menyusul Khalid.
"Bu ada apa, apa yang ibu makan tadi? "
"Ibu muntah mencret juga, sudah dua kali"
Fatimah kembali muntah dia kekamar mandi Khalid membimbing ibunya. Sementara Sherin mengusap usap punggung Fatimah.
Setelah keluar isi perutnya Fatimah merasa agak enak, Khalid menyiram muntah yang berserakan di lantai kamar mandi dan Sherin membimbing Fatimah ketempat tidur. Syafina datang, lalu dia menggosokkan minyak kayu putih ke perut dada dan leher mertuanya.
"Apa yang ibu makan tadi? " Khalid mengulang pertanyaannya tadi.
"Ibu makan martabak manis yang dibawa Sherin".
Khalid menatap Sherin tajam.
"Maafkan aku bang, biasanya ibu suka martabak manis makanya tadi aku belikan"
"Kau beli dimana, mana sisanya? "
"Sisanya sudah ku buang, nggak usah cari penjualnya bang"
"Dia itu sudah menjual makanan yang mengandung bakteri, kamu beli dimana?"
"Khalid sudahlah, tidak ada penjual yang mau meracuni pelanggannya. Dia pasti tak sengaja" kata Fatimah.
"Tapi ibu sakit bu" Khalid berkeras.
"Khal, ibu nggak mau kau mendatangi penjual itu, memarahinya lalu semua orang tahu makanannya tidak sehat, pelanggannya akan pergi Khal".
"Iya bang, benar kata ibu" timpal Syafina.
Kemudian perut Fatimah terasa mulas lagi, dia kembali ke toilet. Setelah keluar dari toilet Fatimah kelihatan sangat lemas dan pucat.
"Kita bawa ibu kerumah sakit saja" ajak Syafina.
"Ayolah" Khalid setuju. Khalid lalu menggendong ibunya.
"Bang tunggu, aku ikut" kata Syafina.
"Kalau mau ikut pakai jaket, aku tunggu di mobil". Khalid menyuruh Syafina memakai jaket karena saat itu Syafina memakai baju tidur yang belahan dadanya rendah.
Setelah memakai jaket Syafina segera turun kebawah, dan masuk kedalam mobil disebelah Khalid, Fatimah dibelakang bersama Sherina.
Sesampainya di rumah sakit Fatimah segera ditangani di UGD,
"Bagaimana keadaan mertua saya pak? "Syafina bertanya kepada dokter Thamrin.
"Bu Fatimah kita observasi dulu, jika membaik boleh pulang malam ini. Kalau tidak ada perubahan terpaksa dirawat.
****
__ADS_1