Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 66


__ADS_3

"Sher, tadi aku sudah ketemu sama Robi"


"Abang ketemuan sama Robi, kenapa nggak bilang sama aku? abang tanya apa sama dia? "


"Abang nggak nanya apa apa, abang cuma minta dia untuk nggak bertindak kasar lagi sama kamu"


"Terus, apa kata Robi? "


"Dia bilang kalau kemaren itu nggak sengaja, katanya kamu marah marah sama dia narik narik baju dia, akhirnya dia nggak sengaja dorong kamu"


"Dia cuma bilang itu? "


"Iya, dia bilang cuma sekali. Terus abang bilang malah sudah sering abang lihat kamu lebam di wajah dan bagian lain, katanya dia nggak tahu menahu soal itu. Kamu juga nggak cerita sama dia katanya"


"Abang jangan dengerin semua alasan dia, dia itu ngeles bang"


"Sher, kamu juga jangan terlalu galak sama suami, pengertian dikitlah. Suami istri itu harus saling dukung. Mungkin dia capek pulang kerja malah kamu omelin , wajar dia sering marah sama kamu" Khalid menasehati.


"Benar kata abangmu sher, kamu coba contoh Syafina dia sangat pengertian sama Khalid. Kadang bertengkar juga, itu wajar. Tapi mereka cepat baikannya. Benar kan Khal ? "


"Ngapain nyuruh aku mencontoh gadis kampungan itu, nanti juga mereka bertengkar nggak akan baikan lagi. Lihat saja nanti" Kata Sherina dalam hati.


"Iya ma, Syafina itu sering juga ngambeknya sampai nangis nangis. Tapi nggak sampai juga sehari dia udah maafin aku lagi, beruntung banget aku punya istri seperti dia. Padahal ada saja perempuan yang yang sengaja bikin dia cemburu"


"Emang kamu sering digodain perempuan Khal?"


"Ehm, iya begitulah bu" Khalid menggaruk kepalanya. Dia menyesal karena keceplosan.


"Kamu itu ya, nggak berubah berubah dari dulu banyak sekali teman perempuan. Sekarang kamu itu sudah beristri, jaga perasaan istrimu."


"Iya bu, iya"


"Awas sekali lagi kamu buat menantuku menangis"


"Nggak lagi bu, janji"


"Aduh, ini mau nasehatin Sherina malah aku yang dapat nasehat" gerutu Khalid dalam hati.


Mereka bertiga masih dalam perjalanan menuju ke kota C.


****


Syafina telah sampai di depan cafe JJ, dia memakai gamis berwarna dusty senada dengan pashminanya. Tak lupa dia memakai bedak tipis dan liptin di bibirnya. Syafina kelihatan sangat cantik dan kalem. Syafina mengedarkan pandangannya kedalam Cafe, tadi Viana mengirim pesan bahwa dia sudah menunggu disana.


"Fina, aku disini" seseorang memanggilnya, Syafina melihat kearah suara itu, Viana tampak melambaikan tangannya.


Syafina bergegas menghampiri Viana. Viana berdiri menyambut Syafina dan memeluk Syafina.


"Wow, kehamilan kamu sudah kelihatan Fin, kamu juga makin cantik berjilbab",


"Alhamdulilah, makasih ya mbak"


"Oh ya duduk Fina, mbak tadi sampai pangling lihat kamu, ini benar Syafina atau bukan". Syafina memilih duduk di samping Viana, karena akan terasa lebih akrab mengobrol daripada duduk berhadapan.


"Kamu kesini pakai apa Fina? "


"Aku diantar sopir mbak, dia menunggu di mobil"

__ADS_1


Seorang pelayan menghampiri mereka, dan memberikan buku menu.


"Pesan apa mbak? " tanya pelayan itu


"saya jus jeruk saja, kamu Fina? "


"Aku jus wortel saja"


"Makannya apa mbak? " tanya pelayan itu lagi.


"Nggak usah, kamu Fin? "


"Aku juga nggak usah, masih kenyang"


"Baiklah mbak" kata pelayan itu seraya menunduk.


"Ehmm, Fina kamu sudah sehat kan. nggak ada pusing pusing lagi?"


"Alhamdulillah sudah sehat mbak, cuma tanganku ini saja"


"Syukurlah, siapa sih yang nyelakain kamu itu. Mas Arsya cerita kalian dulu juga pernah hampir di jebak seseorang"


"Iya mbak, aku nggak tahu persis ceritanya, untunglah orang itu tak berhasil menjebak kami"


"Mbak penasaran siapa sih yang mencelakai kamu?"


"Aku juga nggak tahu mbak, bang Khalid curiganya sama Marsha."


"Masa iya Marsha sampai segitunya, mbak rasa bukan dia loh Fin"


Pelayan tadi datang lagi membawa dua gelas minuman pesanan Syafina dan Viana.


"Makasih ya mbak" kata Syafina, dia langsung saja menghirup jus wortel miliknya.


"Bang Khalid ada nyelidikinya nggak?" tanya Viana lagi, seraya menyeruput jus jeruk pesanannya.


"Ada katanya mbak, bang Khalid juga sampai kasih aku bodyguard dua orang, pakai sopir juga"


"Sayang banget bang Khalid sama kamu Fin"


"Hhh, aku sampai risih harus pergi kemana mana dengan bodyguard, tapi ya sudah demi keselamatanku juga"


"Hmm iya Fin, kamu beruntung banget disayangi sama suamimu"


"Iya mbak, padahal kami menikah di jodoh"


"Sepertinya dia memang mencintai kamu dari sebelum menikah, apa kalian sudah kenal sebelumnya? "


"Bang Khalid bilang dia sudah menyukaiku semenjak dua belas tahun lalu, katanya dia sering mengikutiku juga. lucunya aku nggak pernah tahu itu".


"Wow, pantasan dia itu pacaran sama perempuan nggak pernah serius. Dulu sama aku juga, apalagi Marsha sama sekali nggak dianggapnya pacar. Rupanya dia sudah ada kamu"


"Masa sih mbak? ". "


"Benar Fin, kamu nggak tahu saja dia itu ngeselin banget, sudah janjian pergi kemana, giliran kita sudah siap dia enak saja membatalkan, apa dia nyari kamu kali ya Fin? "


"Hmm, sepertinya iya mbak"

__ADS_1


"Haha, Khalid Khalid" Viana geleng geleng kepala sambil tertawa.


"Maaf ya mbak, gara gara aku jadinya mbak batal ngedate"


"Santai saja, bukan salah kamu Fin, Khalid nya saja yang ngeselin hehe"


"Hehe, iya ya mbak. Aku rasa bang Khalid itu memang ngeselin."


"Oya Fin, mbak sebenarnya ngajak kamu ketemuan pengen nanya nanya tentang mas Arsya."


"Mau tanya tentang apa mbak?"


"Gini Fin, mbak sama Arsya sudah berhubungan hampir 4 bulan. Tapi hubungan kami nggak ada perkembangan Fin, jalan di tempat"


"Perasaan mbak sama mas Arsya gimana? "


"Mbak menyukai mas Arysa, mbak ingin hubungan yang lebih serius sama dia. Tapi dia dingin, cuek banget Fin."


"Mas Arsya memang begitu mbak, cuek tapi dia sebenarnya peduli"


"Fin, mbak tahu mas Arysa masih mencintai kamu"


"Itulah mbak, aku juga dibikin pusing sama sikap mas Arsya"


"Apa kamu tahu apa yang bikin dia senang. Fina bantu mbak ya? "


"Maaf mbak, mas Arsya itu suka perempuan yang penampilannya tertutup. Coba mbak rubah penampilan mbak jadi lebih tertutup. Satu lagi mbak, mas Arsya tidak suka makan di luar, dia lebih suka makan dirumah."


"Fin, apa ada laki laki tidak menyukai wanita cantik seperti mbak? "


"Semua laki laki menyukai wanita cantik seperti mbak, tapi ini kan mbak ingin jadikan mas Arsya suami kan mbak? untuk dijadikan istri kadang laki laki tak butuh wanita cantik saja mbak. Itu menurutku"


"Apa menurutmu mbak harus berhijab seperti kamu Fin? "


"Nggak harus berhijab mbak, mbak pakai pakaian tertutup saja itu sudah cukup. Tak harus juga jadi sepertiku, mas Arsya suka perempuan yang apa adanya"


"Iya Fin, mbak akan coba. Ehmm kamu bisa ajarin mbak masak ?. Mas Arsya suka makan apa? "


"Mas Arsya itu tukang makan mbak, dia suka apa saja. Yang penting masakan rumahan, nggak pakai micin. Sudah itu saja"


"Itu saja? "


"Iya mbak, ikan asin saja di lahapnya"


"Masa sih? '


"Cobain saja mbak masakin dia. Bawain mas Arsya bekal, bikinin jus. Dia pasti suka dengan perhatian mbak"


"Oke, mbak akan coba bawain dia bekal kerumah sakit, tapi Fina mbak nggak bisa masak sama sekali"


"Mbak ikut kelas memasak saja"


"Ide bagus, makasih ya Fin sarannya untuk mbak, moga saja mas Arsya akan lebih peduli sama mbak"


"Sama sama mbak, aku juga ingin lihat mas Arsya bahagia, kasian dia. Aku yakin mbak bisa membahagiakan mas Arsya"


****

__ADS_1


__ADS_2