Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 95


__ADS_3

Ponsel Khalid berbunyi, lalu dia keluar ruangan untuk mengangkat telepon itu. Setelah beberapa lama berbincang dia kembali kedalam.


"Fina, abang harus ke kantor. Kamu ikut?"


"Ehhmm, antar aku kerumah saja bang. Aku sudah lelah"


"Baiklah, bu kami permisi."


Fatimah mengangguk, "kau sering seringlah kesini Khalid"


Khalid tak menanggapi permintaan ibunya, dia langsung saja keluar dengan menggandeng Syafina. Khalid lebih dahulu mengantar Syafina pulang kerumah. Pak Udin dan Lastri membantu membawa barang Syafina termasuk dua buah sepeda milik bos mereka.


"Bagaimana liburannya nona, sepertinya nona sudah agak gemukan"


"Liburannya sangat menyenangkan bi, hmm bagaimana tidak gemuk, bang Khalid selalu menyuapiku dan memaksaku makan yang banyak. "


"Owh, pak Khalid sangat menyayangi nona". bi Lastri membawa koper pakaian Khalid dan syafina kekamarnya. Sementara Syafina membawa tas belanjaan berisi oleh oleh yang dibelinya.


****


Di meja kerjanya Khalid duduk berhadapan bersama Dendi, Dendi akan menyampaikan hasil penyelidikannya tentang Tio Ardana Putra.


"Khal, kamu pasti tak percaya jika aku bilang siapa Tio", Dendi menyunggingkan senyumnya yang membuat khalid penasaran.


"Siapa, jangan main tebak tebakan"


"Dia adalah pelaku penusukan terhadap kamu, 14 tahun yang lalu. Dia sudah keluar dari penjara 10 tahun yang lalu".


"Astagfirullah, apakah dia masih dendam padaku sehingga dia meneror Syafina selama ini? "


"Bisa jadi, dia dendam sama kamu. Untungnya kamu cepat ambil langkah memberi Syafina bodyguard, sehingga sekarang dia tak meneror Syafina lagi."


Khalid mengangguk angguk mendengar penuturan Dendi, memang semenjak dijaga bodyguard Syafina tidak diteror lagi.


"Tapi kau harus hati hati, Syafina harus tetap dijaga bodyguard.'


"Kau benar Den, untuk jaga jaga jika suatu saat dia akan beraksi lagi".


"Tapi katanya peneror Syafina itu selalu dua orang, siapa satu orangnya lagi?" tanya Dendi.


"Jika kebetulan ketemu mungkin Syafina akan mengenalnya, seperti waktu dia mengenali Tio"


Kali ini Dendi yang mengangguk angguk menyetujui.


"Kurasa yang satunya juga salah satu dari mantan napi yang menyerangmu waktu itu"


"Bisa jadi Den. Ehm mana berkas berkas yang harus aku cek dan ditanda tangani?"


Dendi lalu memberikan berkas yang menumpuk, dia juga melaporkan hasil kerjanya selama Khalid tidak ada. Selama empat jam mereka berdua berkutat dengan berkas dan laptop. Akhirnya selesai juga. Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 Khalid sudah merasa sangat lapar sekali.


"Ehmm aku minta tolong padamu urus surat surat perpindahan asetku menjadi milik Sherina. Aku ingin secepatnya"

__ADS_1


"Kau gila Khal, apa yang membuatmu melakukan hal ini? " Dendi sungguh terkejut mendengar Khalid dengan entengnya mengatakan akan memindahkan hartanya menjadi milik Sherina.


"Aku tak mau menikahi Sherina, sebagai gantinya aku akan berikan semua hartaku padanya"


"Apa kau masih waras? "


"Aku masih waras untuk tidak menyakiti istriku" Khalid menatap Dendi lekat menandakan dia sangat yakin.


"Tapi kabarnya Sherina hamil anakmu, ibumu sibuk beberapa hari ini minta tolong padaku menyuruh kamu pulang, katanya Sherina sakit karena ngidam."


"Justru karena aku tanggung jawab makanya aku berikan hartaku padanya. "


"Terserah kamu lah, aku akan hubungi pengacaramu dan notaris"


"Lakukan secepatnya, aku ingin terbebas dari Sherina"


Dendi menatap sahabatnya itu, dia geleng geleng kepala. Perasaan sedih campur haru dalam hati Dendi, usaha yang dirintisnya dari nol akan diberikan kepada orang lain karena dia tak mau menyakiti istrinya.


"Apa yang harus aku lakukan untuk sahabatku ini, aku tak rela dia memberikan begitu saja semua hartanya kepada Sherina" gumam Dendi dalam hatinya.


"Aku pamit pulang, mungkin setelah ini aku tak jadi bos kamu lagi", Khalid berdiri lalu dengan cepat melangkah keluar ruang kerjanya seakan takut dicegah oleh Dendi. Dendi menatap punggung sahabatnya itu. Tak menyangka begini cerita jalan hidup Khalid, sungguh berat yang dihadapinya.


****


Setelah sampai dikamarnya Syafina langsung saja beristirahat dan dia tertidur karena lelahnya. Ketika bangun tidur suaminya ternyata belum juga pulang, dia kemudian mandi terlebih dahulu.


Setelah selesai mandi Khalid belum juga sampai dirumahnya, Syafina menelpon suaminya karena ia ingin menitipkan makanan pada suaminya. Tiba tiba dia ingin ayam geprek pak Budi tempo hari.


"Sudah, ini dalam perjalanan"


"Bang belikan ayam geprek pak Budi yang tempo hari itu ya, "


"Iya, ada yang lain. ?"


"Apa ya, ehmm cepat pulang saja sudah kangen"


"Ppff, kangen" Khalid menahan ketawanya.


"Lima hari ini kita berdua kemana mana baru ditinggal 4 jam saja sudah kangen? "


"Iya abang, abang nggak tahu saja gimana perasaanku. Aku nggak mau jauh jauh dari abang"


"Ehmm oke, abang cepat pulang kok, sudah ya. Assalamulaikum"


"Wa alaikumsalam."


Khalid sampai dirumah Syafina sudah menungguinya di depan teras, dengan memberi senyumannya. Khalid merasa lelahnya hilang, istrinya adalah tempatnya untuk pulang. Sebuah kecupan hangat diberikannya di dahi Syafina.


"Siapin dimeja makan ya, abang solat dulu nanti kita makan bareng"


Khalid kekamarnya sementara Syafina menyiapkan makanan di meja makan, tak berapa lama Khalid pun turun kemudian mereka makan bersama.

__ADS_1


"Eh tau nggak Fin, abang tadi kesusahan cari warung tenda pak Budi, rupanya dia sudah pindah keruko"


"Oh ya, alhamdulillah"


"Katanya semenjak kita makan disana warungnya jadi ramai dua sampai tiga kali lipat dari sebelumnya"


"Masa sih,?"


"Katanya sih gitu orang pada lihat di IG milik abang kita makan disana"


"Oo, rezekinya pak Budi itu bang"


"Iya" Khalid mengangguk menyetujui.


mereka telah selesai makan lalu bi Lastri yang mencuci peralatan makan mereka. Khalid dan Syafina beristirahat dikamar mereka.


"Bang, mas Dendi sudah tahu siapa Tio? "


"Sudah, ternyata Tio itu yang menyerang abang 14 tahun yang lalu, dia dipenjara 4 tahun. Mungkin karena motif dendam dia meneror kamu"


"Eh, apa nggak ada yang menyuruh dia? "


"Sepertinya karena dia ingin balas dendam, tapi semenjak ada H dan R kan nggak ada lagi yang meneror kamu"


"Apa karena dia takut H dan R ?, tapi aku tak selalu sama H dan R loh, selama kita liburan nggak sama mereka, bisa jadi yang menyuruhnya sudah nggak menyuruh dia menerorku lagi"


"Menurutmu begitu? "


"Iya" Syafina mengangguk.


Khalid memandang Syafina dalam, kasihan dan iba dia melihat istrinya yang harus menanggung semua akibat ulahnya, mulai dari beberapa kali penyerangan yang hampir merenggut nyawanya, dan sekarang dia harus menahan perasaan karena suaminya telah menghamili wanita lain.


"Semua karena salahku" batin Khalid.


"Bang, kenapa menatapku begitu? "


"Ehmm, abang nggak pernah puas menatap wajah kamu, lembut ada manis manisnya"


"Aishh, emangnya cake. Pergilah mandi sudah jam 17.30"


"Ayolah sama sama" Khalid mengedipkan matanya dan tersenyum nakal.


"Aku sudah mandi abaang" Syafina mengambil handuk lalu memberikannya kepada suaminya.


"Tadi katanya kangen"


"Ayo, keburu magrib nanti." Syafina mendorong suaminya agar masuk ke kamar mandi.


"Oke, jamaah nanti ya" Khalid lalu masuk kedalam kamar mandi.


"Aku harus menyelidiki sendiri siapa orang dibalik Tio, aku akan minta bantuan Linda, H dan R". Gumam Syafina

__ADS_1


****


__ADS_2