
Khalid dan Syafina sudah sampai dirumah, saat mereka berjalan melewati ruang keluarga ternyata Sherina dan Fatimah sedang berbincang berdua. Khalid dan Syafina melewati mereka tanpa menegur, bukannya Khalid tak mau menegur ibunya tapi dia enggan melihat Sherina. Melihat Khalid hanya melewati mereka berdua Fatimah menegur Khalid.
"Khalid, nanti kau kembali kesini ya Khal"
Khalid menoleh ke belakang. "iya bu". Khalid lalu menaruh barang belanjaannya di dapur, disana ada bi Lastri.
"Bi tolong simpan belanjaan ini" perintah Khalid.
"Iya pak" bi Lastri mengangguk lalu segera mengambil barang belanjaan dari tangan tuannya.
Khalid Lalu menggandeng Syafina menaiki tangga kekamarnya. Sherina berusaha menahan rasa tak sukanya melihat Khalid dan Syafina berduaan karena dia sedang berbincang dengan Fatimah. Dia tak mau Fatimah melihat wajahnya yang tak suka memandang Syafina.
Dikamarnya Khalid dan Syafina duduk diatas sofa melepas lelah sejenak.
"Ada apa ya ibu menyuruhku menemuinya? "
"Abang temui saja dulu biar tahu apa yang ingin ibu sampaikan"
"Sudah pasti membicarakan masalah itu, aku malas disana ada Sherin" Khalid mengusap wajahnya hingga rambutnya.
"Jangan lari dari masalah, lebih baik abang hadapi".
"Abang pusing memikirkannya Fina, abang takut sesuatu yang buruk terjadi dengan rumah tangga kita," Kata Khalid seperti kehilangan semangat. Pandangan matanya lurus kedepan.
"Sini" Syafina menarik bahu suaminya agar berbaring di pangkuannya. Syafina mengusap usap lembut rambut suaminya. Setidaknya cara ini mungkin bisa menenangkan suaminya.
"Rumah tangga kita sedang diuji, aku janji akan selalu dukung suamiku. Ayolah Muhammad Khalid, kita hadapi ini sama sama"
"Apa kau benar benar percaya suamimu ini tak bersalah? " Khalid mendongakkan wajahnya menatap istrinya.
"Kalau bukan aku lalu siapa lagi yang harus mempercayai suamiku" Syafina memberi senyumannya untuk menenangkan suaminya. Dan senyuman itu mampu menguatkan Khalid.
"Janji ya kita selalu sama sama"
"Janji" Lalu Syafina mengecup dahi suaminya, terasa seperti sebuah kekuatan bagi Khalid dalam menghadapi masalah yang menimpanya.
Tok tok suara pintu kamar di ketuk. Khalid lalu bangun membuka pintu.
"Maaf pak Khalid Nyonya Fatimah meminta saya memanggil bapak"
"Ya saya kesana" Khalid menoleh kepada istrinya seperti ingin meminta izin.
"Temuilah ibu"
Khalid mengangguk, lalu dia berjalan menuruni tangga menemui ibunya. Sesampainya di ruang keluarga Khalid duduk berhadapan dengan ibunya, di sebelah ibunya ada Sherin.
"Ada apa bu? "
__ADS_1
"Khal, ibu ingin membicarakan masalah perbuatan kalian. Ini adalah perbuatan yang sangat memalukan apalagi ada orang lain yang mengetahuinya. Kita tak bisa menjamin mereka tak menceritakan kepada orang lain."
"Iya saya tahu kemungkinan itu bu, kita tak bisa menjamin Anton dan resepsionis itu tak menceritakannya kepada orang lain. "
"Nah, seperti yang sudah pernah ibu bilang kemaren. Sebaiknya kalian menikah saja tunggu Sherin dan Robi resmi bercerai. Barusan tadi Robi melayangkan gugatan cerai ke pengadilan agama".
"Bu, apa tidak ada jalan keluar lain, aku tak harus menikahi Sherina. Bagaimana perasaan Syafina bu?"
"Kau kepala rumah tangga, bicarakan baik baik dengan istrimu. Ibu yakin Syafina pasti akan mengerti. Nanti ibu juga akan mengajak Syafina berbicara. "
"Aduh gimana ini, Syafina sudah mengatakan jika dia tak ingin berbagi, itu berarti jika aku menikahi Sherina dia yang akan pergi" batin Khalid.
"Kenapa diam Khal, kau harus bertanggung jawab dengan masalah yang telah kau perbuat"
"Tapi bu aku ragu apa benar aku salah"
"Khalid, maksud kamu apa?, kau pikir Sherina berbohong. Kau sendiri sudah lihat hasil pemeriksaan dokter. Ibu tak mau punya anak laki laki yang lari dari tanggung jawab"
"Bang, apa abang anggap aku merekayasa ini semua, apa abang pikir dokter itu berbohong. Abang sendiri yang memilih dokternya"
"Iya, maaf bukan maksudku bilang kau berbohong Sher. Tapi aku masih tak percaya saja melakukan hal seperti itu"
"Bang, aku memang sudah lama mencintaimu. Aku ingin jadi istrimu tapi tidak dengan cara yang salah bang. Mungkin begini takdir kita, disatukan dengan cara begini"
Khalid diam saja mendengar penuturan Sherina. Sungguh dia tak mampu memikirkan hari itu terjadi, saat dia harus menikahi Sherina dan hari itu juga Syafina akan pergi.
Khalid diam saja tak menanggapi omongan ibunya yang panjang lebar.
"Khalid, kau dengar apa yang ibu bilang barusan? "
"Ehmm iya bu, aku dengar"
"Okey, sekarang kamu istirahatlah dahulu,"
Khalid telah sampai kembali dikamarnya, didapatinya Syafina yang sedang membaca Aquran. Melihat suaminya datang Syafina menyudahi tilawahnya.
"Ibu bilang apa bang? "
"Nanti saja abang bicarakan, kita solat zuhur dulu. Setelah itu kita makan siang diluar"
****
Siang ini Arsya ada janjian dengan Reyhan, mereka akan mencari laki laki yang mereka lihat di rekaman cctv.
Agar lebih mudah mereka menggunakan sepeda motor Reyhan. Memang pemandangan yang langka melihat dua orang laki laki tampan ini akur. Ini semua demi wanita yang mereka cintai.
Reyhan sebelumnya sudah meminta pelukis wajah melukis wajah Laki laki dalam cctv itu, dengan begitu mereka bisa menanyakan ke pada oang orang apakah ada yang mengenalnya. Mereka sengaja tak menyebar foto itu di tempat tertentu, atau menyebarnya di sosial media. Karena takut orang itu tahu kalau sedang dicari.
__ADS_1
Reyhan dan Arsya telah menanyakan kepada setiap orang yang mereka jumpai, tapi belum ada yang mengenal orang itu.
"Hhh, seberapa besar kota ini mencari satu orang ini susah sekali" gerutu Arsya.
Dia terlihat kepanasan di tengah terik matahari. Ya dia memang hampir tak pernah berpanas panasan dan keluar rumah dengan sepeda motor. Belum lagi banyak mata yang memandangnya dengan tatapan aneh. Mungkin karena dia sangat tampan dan berkulit putih, dan baru sekali itu terlihat.
Sekelompok wanita mungkin mahasiswi yang sedang duduk minum minum di taman kota terlihat memandang dan membicarakan Arsya. Arsya menyadari hal itu membuat dia bertambah gerah.
"Kamu kenapa Sya?" tanya Reyhan.
"Tidak apa apa"
"Apa kau malu dilihatin cewek cewek itu mungkin mereka ingin berkenalan denganmu" goda Reyhan.
"Ckk, bukan tipeku"
"Hei, Syafina juga begitu saat masih jadi mahasiswa"
"Mana mungkin"
"Asal kau tahu saja dulu Syafina sering lihatin aku sedang olahraga di kampus, dia duluan yang mengajakku kenalan. Sama saja pecicilannya dengan mereka itu".
Dulu Syafina dan Reyhan satu kampus, saat Reyhan menempuh pendidikan profesi Ners waktu itu Syafina kuliah di akademi keperawatan tingkat satu. Saat itu mereka hanya kenal begitu saja antara adik dan kakak tingkat, saat sama kerja di rumah sakitlah mereka mulai pendekatan. Tapi ada Arsya dan Marsella diantara mereka.
"Yang jelas aku mengenal Syafina dia sudah jadi wanita yang hampir sempurna, memenuhi kriteriaku"
"Ayolah ini belum sore, kita lanjut lagi kearah sana" ajak Reyhan.
"Sudah kubilang lapor polisi saja" kata Arsya.
"Setelah ini jika belum ketemu baru kita lapor". jawab Reyhan. Lalu dua pria itu melanjutkan pencarian mereka.
****
Syafina dan Khalid sedang makan siang, kali ini di cafe Bella. Sudah lama Khalid tak kesana, kali ini Khalid memesan makanan sama dengan yang di pesan Syafina. Mereka makan siang dengan lahap sesaat melupakan kejadian beberapa hari ini.
Setelah selesai makan, Syafina menanyakan kepada suaminya apa yang dia bicarakan dengan ibunya.
"Abang, tadi ibu ngomong apa sih? "
"Ibu bilang aku harus tanggung jawab dengan perbuatanku dengan menikahi Sherina. Dia tak mau punya anak laki laki yang lari dari tanggung jawab"
Mendengar itu Syafina bagai disambar petir, ternyata mertuanya tidak main main dengan ucapannya malam itu. Syafina sudah berat menahan tangisnya airmatanya pun menetes.
"Fina, apa kita ke mobil saja. Kau bisa menangis disana"
Syafina mengangguk, lalu mereka berdua berdiri dan Khalid membayar dikasir.
__ADS_1
****