
Jam sudah menunjukkan pukul 00.35. Fatimah, Khalid dan Sherina sudah sampai dirumah.
"Anton kau menginap saja disini, besok Lukman akan mengantar mu " perintah Fatimah.
"Baik nyonya"
"Lastri antar Pak Anton kekamarnya"
"Baik bu"
Anton lalu mengikuti Lastri kekamar tamu.
Khalid yang masih kelelahan dan mengantuk bergegas menaiki tangga hendak ke kamarnya untuk istirahat.
"Khalid tunggu, kau duduk disini dulu. Sherina kau juga" Fatimah memerintahkan Khalid dan Sherina untuk duduk di sofa ruang keluarga
"Baik bu" jawab Sherina.
Khalid dengan malas membalikkan tubuhnya kebelakang dan berjalan gontai. Khalid duduk di hadapan ibunya.
"Khalid sekarang kau boleh menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi"
"Ibu, ini semua berawal dari pesta itu. Tiba tiba aku merasa tidak enak badan, pusing. aku ingin istirahat. Angel menawariku istirahat di kamar hotelnya. Dan aku tidak mau, jadi aku pergi dari sana hendak istirahat di ruang istirahatku di restoran. Aku terjatuh di lobi hotel akhirnya Sherina yang mengantarku bu. Di mobil aku mulai merasa gerah kehausan dan mengantuk. setelah sampai di restoran aku sudah tertidur, aku masih ingat pelayan yang mengantarku kekamar. Setelah itu aku benar benar lupa sampai ibu datang" Khalid menuturkan kronologi kejadian semalam yang masih bisa di ingatnya.
"Dan kau Sherina, ceritakan semuanya" Fatimah menatap Sherin tajam.
"Di pesta itu aku lihat bang Khalid sepertinya tidak enak badan, Angel menawarinya istirahat di kamar hotelnya. Bang Khalid tidak mau, Dia meninggalkan pesta itu. Aku menyusulnya aku lihat dia terjatuh di lobi lalu aku menawari mengantar bang Khalid. Di mobil bang Khalid tertidur. Pelayan mengantar bang Khalid kekamarnya dan aku mengikutinya karena aku khawatir dengan bang Khalid." Sherina berhenti sejenak bercerita, dia kelihatan gemetaran.
"Lanjutkan ceritamu Sayang, ceritakan lah semua" Fatimah mengusap usap punggung putri angkatnya itu.
"Sepertinya bang Khalid telah diberi seseorang obat perangsang dia memaksaku bu, dia memanggil nama istrinya. Dia memang tak sadar melakukannya. Aku mencoba melawan tapi tentu saja bang Khalid lebih kuat. Dan terjadilah semua itu bu. Mungkin dia pikir aku ini istrinya. Ibu.. Robby pasti marah padaku, aku belum pernah memberikan haknya, tapi bang Khalid telah dulu menodaiku.. hik hik" Sherina menangis tersedu sedu.
"Kamu bohong Sherina !"
"Robby pasti akan membuangku Bu.. hik hik" Sherina menangis semakin menjadi.
"Sst, sudah. Pokoknya kau harus tanggung jawab dengan perbuatanmu pada Sherina."
"Tanggung jawab apaan bu, ini tak adil. Aku dijebak"
"Khalid aku tak ingin kau jadi laki laki yang lari dari tanggung jawab, kau harus menikahi Sherina"
"Sherina masih istri Robi bu" jawab Khalid.
"Robi bisa menceraikannya, lalu kalian akan menikah setelah masa idah habis"
"Belum tentu Robby menceraikan Sherina Bu, kenapa aku harus tanggung jawab?"
"Ibu, kenapa bang Khalid harus menikahi Sherina? " Syafina tiba tiba muncul di ruang keluarga. Sebenarnya tadi dia sudah mendengar semuanya, tapi dia belum paham sebenarnya masalah apa yang terjadi.
"Syafina maafin ibu nak, ini semua salah ibu. Fatimah berdiri dan memeluk Syafina dan menangis terisak"
"Ada apa bu ?" Syafina masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Bang Khalid beritahu aku ada apa bang?" Syafina menghampiri suaminya dan duduk disebelah suaminya itu. Syafina menggenggam tangan suaminya.
__ADS_1
Khalid tak berani menatap wajah istrinya dia merasa sangat bersalah, Syafina tak pantas menerima semua ini.
"Maafin abang" hanya itu ucapan yang mampu keluar dari mulut Khalid. Dia balas menggenggam tangan istrinya, tangan mereka saling menggenggam kuat.
"Suamimu sudah menodaiku" Sherina berbicara dengan menahan tangisnya.
"Apaa, nggak mungkin. Aku tak percaya, bang ini tidak benar kan bang? "
Khalid tak berani menatap wajah istrinya, dadanya pun sesak menahan tangisnya, dia kasihan kepada Syafina yang harus menerima kenyataan pahit ini.
"Ibu, katakan ini tidak benar" Syafina menoleh kepada ibu mertuanya.
"Maafin ibu Fina, ibu tak bisa menjaga suamimu "
Tangisan Syafina pecah, dia menangis terisak isak. Sekarang dia mengerti dengan apa yang sudah terjadi.
"Fina, maafin abang" Khalid memberanikan diri menatap wajah istrinya.
Syafina diam saja dia melepas genggaman tangannya dari tangan suaminya. Dadanya sesak karena menangis. Syafina menutup wajahnya dengan tangan kirinya.
"Fina kamu istirahatlah nak, kamu hamil tidak boleh stress. Semua ini salah ibu nak" Fatimah sangat menyesali dirinya yang tak menjaga putranya, padahal Syafina sudah menitip Khalid padanya.
Syafina berdiri dan berlari kearah tangga, dia menaiki tangga dengan tergesa gesa ingin lekas kekamarnya. Melihat itu Khalid menyusul istrinya.
****
Sherina masuk kedalam kamarnya dia merasa sangat bahagia karena impiannya selama ini sebentar lagi akan terwujud, tak masalah jika dia harus jadi istri kedua.
"Tak kusangka nenek itu malah menyuruh Khalid menikahiku tanpa ku minta, haha.. tak masalah jadi yang kedua toh nantinya aku akan mengusir gadis kampung itu dari rumah ini"
Sherina menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur, dia menatap langit langit kamarnya sambil tersenyum senyum.
***
Khalid menghampiri istrinya yang sedang berbaring membelakanginya, terdengar olehnya suara isak tangis Syafina. Membuat hati Khalid menjadi teriris, kasihan melihat istrinya yang pasti sangat stres dan sakit hati.
Khalid menyentuh rambut Syafina ingin membelainya untuk menenangkan hati Syafina.
"Jangan sentuh aku, kau kotor"
Mendengar itu Khalid menarik kembali tangannya.
"Yah aku memang sangat kotor" batin Khalid.
"Maafin suamimu ini, izinkan aku menjelaskan semuanya fina"
"Nggak perlu abang jelaskan, tadi aku sudah mendengar semuanya"
"Fina, tapi aku tak mau menikahi Sherina. Aku sama sekali tak ingat apa benar aku melakukannya"
"Aku juga tak ingin percaya, saat kejadian akupun tak disana. Tapi apakah aku tak boleh mempercayai ibu juga, apa ibu membohongiku? "
"Sherina bilang dia masih perawan , karena sebelumnya tak pernah melakukannya dengan suaminya., itulah yang membuat ibu yakin aku telah menodai Sherina karena terlihat jelas bercak darah di selimut Sherina"
Mendengar itu Syafina menjadi tersentak, dia segera menoleh kepada suaminya.
__ADS_1
"Kita bisa periksa Sherina ke dokter sekarang juga "
"Maksudmu Fina? "
"Sebagai istri aku akan membelamu sekuat tenagaku, tapi nanti jika terbukti kau bersalah aku ragu apa aku bisa bertahan. Karena aku tak bisa berbagi"
"Apa kasus ini akan dibawa ke polisi untuk minta surat permintaan visum dari kepolisian?"
"Tidak perlu SPV, kita hanya periksa saja. hanya perlu keterangan dokter seperti aku dulu"
Khalid berdiri dan menarik tangan istrinya.
"Ayo ikut aku, kita bawa Sherina ke dokter sekarang juga. Aku yakin aku tak bersalah"
mereka berdua berjalan tergesa gesa menuruni tangga, setelah sampai di depan Kamar Sherina. Khalid menggedor gedor pintu kamar Sherina. Membuat Salman dan Zaenab yang bersebelahan kamar dengan Sherina juga terbangun.
"Ada apa? " Sherina membuka sedikit pintu kamarnya.
"Ikut aku ke dokter, kau akan diperiksa"
"Bang, mana ada dokter yang buka tengah malam begini, lagipula aku tak ingin melapor kasus ini ke polisi" kata Sherina, dia melihat Salman dan Zaenab berdiri didepan pintu kamar mereka
"Jangan banyak alasan, ikut saja"
"Oke, apa istrimu ini tak percaya kau telah memperkosaku? "
Salman dan Zaenab bagai tersambar petir mendengar ucapan Sherina.
"Syafina, ada apa ini?" tanya zaenab.
"Mama, yang mama dengar belum tentu benar. nanti aku jelaskan semuanya ya ma. kami mau ke dokter sekarang aku yakin suamiku tak bersalah ma"
"Baiklah Fina, mama dan papamu hanya berharap suamimu tak bersalah."
Akhirnya Sherina dibawa oleh Khalid dan Syafina ke dokter malam itu juga.
"Ma, sebenarnya apa yang terjadi. Apa benar Khalid memperkosa sherina. Bukankah tadi mereka ke kota C bersama bibi Fatimah juga?"
"Mama juga nggak ngerti, nanti saja kita tanyakan. doain saja yang terbaik pa"
Dalam perjalanan khalid menelpon Robi untuk menyusul mereka ke klinik medica, clinic yang buka 24 jam. Dia akan menanyakan apakah benar Robi belum pernah berhubungan suami istri dengan Sherina.
"Hallo Robi, ini Khalid"
"Iya ada apa? "
"Apa kau bisa ke clinic medica sekarang juga? "
"Ada apa, apa Sherina sakit?"
"Kau kesana saja sekarang, saya dan Sherina juga akan kesana"
"Baiklah"
Robi merasa khawatir dengan Sherina, dia tahu Sherina menginap dirumah Khalid. Pikirnya tak apa, karena Khalid pasti akan menasehati adiknya itu. Dan Fatimah pasti akan membujuk Sherina untuk pulang. Tapi jika Sherina sakit itu adalah tanggung jawab dirinya untuk mengurus istrinya itu.
__ADS_1
****
Jangan lupa jempol cantiknya gaess