Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 86


__ADS_3

Sudah jam sebelas siang Sherina belum memakan apapun, tak ada sesuatu pun yang ingin dimakannya. Perutnya sudah terasa sangat perih, bahkan pagi sewaktu bangun tidur dia juga muntah yang banyak.


"Apa karena kehamilanku ya, tapi kok Syafina kemaren biasa biasa saja?"


Sherina lalu berbaring diatas sofa, dia sudah kelelahan. Tiba tiba dia membayangkan rujak pak De, ingin sekali rasanya Sherina melahap rujak itu sekarang juga.


"Apa kupesan Delivery saja ya, aku pusing tak sanggup nyetir mobil" Sherina lalu meraih ponselnya diatas meja, mencari kontak pak De.


"Ah, tapi aku maunya ayah anakku yang bawakan untukku, bagaimana ini? "


Sherina memaksakan dirinya berdiri, dia keluar dari ruangannya. Sherina berjalan perlahan karena kepalanya sedikit pusing. Didepan pintu masuk Sherin hampir menabrak seseorang.


"Sherina, kenapa pucat sekali wajahmu? " Silvana yang baru datang terkejut melihat Sherina. Dia lalu membimbing Sherina masuk kembali keruangan mendudukkan Sherina diatas sofa.


"Ku ambilkan minum ya?"


"Nggak usah Sil" Sherina menggeleng.


"Kamu belum makan ya, apa kamu sakit?"


"Aku belum makan dari pagi tadi"


"Aku belikan makanan ya"


"Nggak usah, aku mau rujak saja"


"Rujak, nanti tambah sakit loh.. tadi kamu mau kemana sih?"


"Mau ke Coffe Shop sebelah"


"Mungkin maag kamu kambuh, rujak dan kopi adalah pantangan sakit maag"


Perut Sherina lalu mual, mencium aroma obat obatan yang mungkin dari ruangan treatment.


"Hueek," Sherina berlari kekamar mandi. Dia muntah berkali kali hanya mengeluarkan air saja, karena dia tak makan apapun hari ini. Sherina sangat kelelahan, Dia berpegangan di pintu kamar mandi untuk berdiri. Melihat itu Silvana membantunya berjalan.


"Kamu kenapa sih, Silvana melihat kewajah Sherina dengan seksama. Kamu hamil Sher? "


Sherina mengangguk, dia mengelap keringat didahinya. Sherina benar benar kelelahan.


"Apaa, Siapa ayah anakmu? "


"Khalid"


"Sherin, aku tak percaya. Dia kan kakakmu. atau ada Khalid yang lain?"


"Khalid kakak angkatku, kejadiannya saat aku pergi keacara peresmian clinic milik Angel"


Silvana menutup mulutnya, susah untuk percaya apa yang baru saja didengarnya.


"Khalid sangat menghormati wanita. Tak mungkin dia menodai adik angkatnya sendiri. ini pasti ada yang tak beres" batin Silvana dalam hati.


"Aku tak mengira Khalid seperti itu, apa dia sudah tahu kamu hamil ?"

__ADS_1


"Sudah, istrinya pun sudah tahu"


"Tadi aku ketemu Khalid dan istrinya, sepertinya mereka mau berlibur, tapi aku tak tahu kemana"


"Apaa, enak saja mereka berlibur. Sementara aku disini lagi sakit butuh perhatian"


"Kamu tenang Sherin, mungkin dia menenangkan pikiran istrinya, istri mana yang tidak stress jika suaminya menghamili wanita lain"


Sherina menghela nafasnya, dan menyibakkan rambutnya.


"Khalid harus menikahiku, aku tak peduli dengan istrinya" Sherina menatap tajam Silvana.


Silvana merinding melihat tatapan mata Sherina.


"Ih ehmm, semoga saja Khalid mau bertanggung jawab. Aku keruanganku ya, masih ada pekerjaan". Silvana langsung saja ngeloyor keluar. Dia ngeri melihat sorot mata Sherina.


Didalam ruangannya Silvana bertanya tanya pada dirinya sendiri. Sejujurnya dia belum bisa percaya Khalid menghamili adik angkatnya sendiri.


"Apa mungkin waktu itu Khalid mabuk?, atau dia dijebak?, Tapi bukannya Angel yang menggilai Khalid? " beberapa pertanyaan beruntun ditanyakannya pada dirinya sendiri.


"Apa ku tanya Angel saja mengenai hal ini?"


Semenjak launcing clinik miliknya, Angel tak pernah lagi nampak bersama Sherina, biasanya mereka sangat dekat. Bahkan Silvana ditinggal oleh mereka berdua.


Silvana sebenarnya sering bertemu dengan Angel ketika dia ada jadwal di clinik milik Angel. Tapi dia tak pernah menanyakan kenapa Angel tak berkunjung ke kota B lagi, Mungkin saja Angel sangat sibuk dengan bisnis barunya ini. Itu pikir Silvana.


****


Khalid membuka jendela agar udara bisa masuk, terasa sangat sejuk udara di sana. Home Stay itu terletak diatas bukit. menghadap kedanau. Dari jendela terlihat pemandangan danau, beberapa perahu terlihat sedang hilir mudik membawa wisatawan keliling danau.


"Fina, kamu mau naik perahu?"


Syafina menggeleng


"Kenapa, seru loh"


"Aku takut perahunya tenggelam, aku kan lagi hamil bang nanti susah berenangnya, tanganku juga belum sehat"


"Nanti sore kita keliling keliling saja ya"


"Hmm okey. Aku lapar bang. Kita makan siang yuk."


"Ayo," Khalid membantu Syafina bangun dari tempat tidur lalu menggandengnya keluar.


Restoran itu sangat ramai, Syafina memesan ikan bakar dan jus jeruk hangat. Khalid memesan yang sama.


Ketika pesanan mereka sampai, Khalid menawarkan akan menyuapi istrinya.


"Abang suapin ya Fin, nanti kamu susah makan dengan tangan kiri"


"Malu bang dilihat orang"


"Nggak ada malu malu, pokoknya abang suapin".

__ADS_1


"Iya deh" Syafina akhirnya menurut saja. Khalid menyuapi Syafina terlebih dahulu, banyak mata yang memandang mereka, iri dengan kemesraan mereka. Syafina berusaha untuk cuek saja dengan orang orang yang melihat dia makan disuapi oleh suaminya.


"Nambah? " tawar Khalid, ketika makanan dihadapan Syafina habis.


Syafina menggeleng, karena dia memang sudah kenyang.


"Kata dokter kamu harus banyak makan Fin" Khalid membujuk istrinya agar mau nambah makannya.


"Tapi aku benar benar sudah kenyang abang... , nggak muat lagi diperutku". Syafina mengelus ngelus perutnya yang kekenyangan.


"Okelah, tapi nanti sore makan lagi ya, sedikit tapi sering" Khalid ingin memastikan bayinya dalam kandungan Syafina sehat dan bertambah beratnya.


Setelah selesai mereka berdua makan, Khalid mengajak Syafina duduk di pinggir danau. Mereka berdua duduk di bangku menghadap ke danau, semilir angin membuat rambut Khalid yang biasa tersisir rapi kini berantakan.


Syafina tersenyum menatap suaminya, yang rambutnya berantakan. Syafina merapikan rambut suaminya, namun berantakan lagi. Angin memang lumayan kencang dan terasa sangat dingin.


"Cobain model rambut yang lebih pendek bang, pasti kelihatan lebih tampan"


"Oh ya, kamu suka rambut abang lebih pendek? "


"Sebenarnya sekarang juga tampan, tapi kayaknya anak kita pengen lihat ayahnya rubah model rambut"


"Anaknya apa bundanya? "


"Bunda sama anaknya"


"Iya deh, besok saja ya kita barbershop" Khalid menarik istrinya agar mendekat dan bersandar di bahunya.


"Kamu kedinginan,?"


Syafina mengangguk, padahal dia sudah merasa agak hangat ketika sudah duduk sangat dekat dengan suaminya.


Khalid kemudian memeluk istrinya, pelukan erat dan hangat agar istrinya merasa nyaman.


"Begini lebih nyaman? "


Syafina mengangguk lagi, lalu dia mendongakkan wajahnya menatap lekat wajah suaminya.


"Kenapa menatap suamimu seperti nggak pernah puas, ganteng sekali ya suamimu ini ?"


"Iya, sampai sampai aku takut orang lain menatapmu, hanya aku saja yang boleh menatapmu"


Khalid tersenyum mendengar gombalan istrinya, dia lalu mengusap ngusap kepala istrinya dari luar jilbabnya.


"Jika ketahuan ada yang menatapku bagaimana? "


"Nggak akan ada yang berani, karena kamu sekarang peluk aku, jadi orang tahu kamu milikku"


"Abang nggak nyangka kamu bisa sebucin ini sama abang"


"Biarin bucin, sama suami sendiri juga" Wajah Syafina terlihat sangat manja, membuat Khalid semakin gemas saja. Lalu dia mencium dahi istrinya. Lama mereka berdua duduk disana, saling berpelukan. Beberapa orang yang lewat memandangi mereka, tapi mereka tak peduli.


*****

__ADS_1


__ADS_2