Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 31


__ADS_3

Reyhan menyuapi mama Sefni dengan bubur yang dimasaknya sendiri, dia menyuapi mamanya dengan telaten. Setelah hari pernikahan Dendi, kesehatan mama Sefni jadi menurun, selera makannya berkurang dan tubuhnya lemas, mungkin karena kecapean. penyakit kanker yang dideritanya membuat pertahanan tubuhnya sangat lemah.


"Mama banyak makan ya ma, mama harus sehat"


"Rasanya hambar Rey, mama benar benar tidak ada selera makan"


"Paksakan ma, minimal mama habiskan separonya ma" Lalu Reyhan kembali menyuapi mamanya.


"Sudah Rey, nanti saja suapi lagi"


"Iya, mama istirahat saja dulu" Reyhan menaruh mangkok berisi sisa bubur ke atas meja kecil disamping tempat tidur. Reyhan memegang tangan mamanya yang kurus. Dia sangat menyayangi wanita yang telah melahirkannya itu.


"Rey, sekarang kakakmu sudah menikah, ibu juga ingin melihatmu menikah. Tapi rasanya ibu tak bisa melihatmu menikah nak".


"Jangan bilang begitu ma, mama pasti sembuh dan akan melihat aku menikah", Reyhan menciumi tangan keriput itu.


"Pacar saja kamu tak punya Rey, lupakanlah gadis itu Rey"


"Reyhan akan berusaha ma, tapi saat ini aku belum bisa membuka hatiku untuk perempuan lain ma"


"Ibu penasaran siapa perempuan yang membuatmu begini nak, seperti apa dia?"


"Ma, dia perempuan yang sangat baik dan lembut, dia cantik"


"Kamu masih saja memujinya Rey. Boleh mama lihat fotonya, apa kau masih menyimpannya? "


"Mama sudah pernah melihatnya kemaren di pernikahan mas Dendi"


"Siapa Rey, jujur sama mama nak"


"Dia istri Bang khalid"


"Istri Khalid?" tanya mama Sefni seakan tak percaya.


"Mama paham mengapa kamu sulit melupakannya, dia benar benar seorang perempuan yang manis, sopan, Khalid beruntung memilikinya"


"Iya ma"


"Rey, kamu jangan mengharapkannya lagi ya nak, jangan ganggu rumah tangganya"


"Ma aku nggak seperti itu, percayalah padaku"


"Iya, mama percaya"


****


Khalid sangat bahagia bisa mendapatkan cinta dari Syafina, dia tahu Syafina melayaninya tidak dengan terpaksa.


Khalid mengelap keringat didahi Syafina dengan tangannya, lalu menyelimuti istrinya. Syafina tertidur setelah kegiatan mereka malam ini.


Sementara Khalid ke ruang kerjanya, ada banyak yang harus dikerjakannya. Besok ada pertemuan dengan pak jhoni soal sekolah yang mereka dirikan bersama. Akhir akhir ini Khalid memang sangat sibuk karena dia banyak mendapat tawaran kerjasama, apalagi Dendi sudah beberapa hari ini tidak ada. Setelah jam satu dini hari barulah Khalid ke kamarnya kembali. Dia merebahkan diri disebelah istrinya dan dia pun tertidur.

__ADS_1


Pagi setelah subuh, Fatimah menelpon Khalid.


"Assalamualaikum bu"


"Waalaikum salam, gini Khal ibu mau ngasih tahu kalau Sherin mau menikah. Katanya dia mau nya cepat cepat saja"


"Sama siapa bu, apa nggak terlalu buru buru? "


"Sama Roby, kemaren dia sudah menemui ibu. anaknya kelihatannya baik"


"Roby, oh aku tahu orangnya, ya nggak apa apa. Biar aku bantu persiapan resepsinya"


"Sherin nggak mau ada resepsi Khal, padahal ibu ingin membuat pesta untuknya. Tapi dia ngotot nggak mau"


"Ya sudah, kalau memang itu mau dia. Kita nurut saja"


"Ya sudah Khal, ibu cuma mau ngasih tahu itu. Nanti ibu kabari lagi kapan hari H nya. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam". Khalid meletakkan handphone nya di atas meja. Khalid lega akhirnya Sherina memutuskan untuk menikah.


"Siapa bang" tanya Syafina.


"Ibu, katanya Sherin mau menikah"


"Kapan? "


"Nanti ibu kabari lagi kapan hari H nya, "


Tanpa aba aba Khalid mengangkat tubuh Syafina.


"Eh kenapa digendong, turunin bang"


"Biar aku gendong kamu ke bawah"


"Malu dilihatin bi Lastri bang, hayo turunin" Syafina merengek.


"Nggak, tutup mata saja kalau kamu malu"


Khalid tak mau menurunkan Syafina, dia tetap saja membawa Syafina keluar dan menggendongnya menuruni anak tangga. Syafina menyerah saja. Dari bawah bi Lastri dapat melihat bos nya yang lagi mesra. Dia senyum senyum ikut bahagia melihatnya.


****


Bahan makanan dan perlengkapan mandi dan mencuci habis, Syafina hendak membelinya. Dia mengirim pesan pada suaminya minta izin keluar.


"Bang, Fina mau pergi belanja"


"Ya, sebentar lagi pak Lukman jemput"


"Fina sendiri saja bang pakai motor"


"Jangan, nanti susah bawa belanjaannya. tunggu saja pak Lukman jemput kamu"

__ADS_1


"Iya lah bang". Syafina menurut saja.


Syafina memakai pakaian biasa saja, dia pun tidak dandan. hanya memakai pelembab dan lipglos. tapi dia kelihatan tetap cantik. tak lama pak Lukman pun sampai, kemudian mereka berangkat.


Pertama Syafina ke pasar Tradisional membeli ikan segar, daging dan sayuran disana. Dia memang lebih suka belanja di pasar Tradisional, sedari dulu memang disanalah dia belanja bahan makanan.


Kemudian Syafina ke Super market, untuk membeli bahan makanan lainnya perlengkapan mandi dan mencuci.


"Apalagi yang kurang ya? " Syafina berpikir.


"Susu dan madu buat bang Khalid" Sebenarnya susu dan madu untuk Khalid masih ada, tapi Syafina tetap memasukkannya ke dalam troli belanjaannya, daripada besok bolak balik lagi membelinya.


Syafina kemudian ke tempat penjual kosmetik, untuk membeli eyeliner.


"Mbak eyeliner yang itu satu" Syafina menunjuk eyeliner yang biasa dia pakai, dari kosmetik merk lokal. Ketika membalikan badannya Syafina hampir menabrak seseorang yang berdiri di sampingnya, Marsha. Marsha sengaja berdiri disana ketika dia melihat Syafina.


"Hei hati hati donk, kamu hampir nabrak saya"


"Maaf mbak Marsha, aku nggak tahu ada mbak Marsha"


"Mata di pakai, eh kamu belanja ? enak ya jadi nyonya Khalid bisa puas puas belanja."


"Nggak kok mbak, cuma beli eyeliner"


"Sini coba lihat" Marsha mengambil eyeliner dari tangan Syafina.


"Ih merk ini, ini murahan. Apa Khalid nggak sanggup beli kosmetik mahal buat istrinya? "


"Maaf mbak, aku memang sudah biasa pakai merk ini". Syafina tersenyum.


"Eh tahu nggak, dulu waktu sama aku dia rela ngabisin duit belasan juta sekali belanja, cuma beli kosmetik, sepatu dan baju doank. Oh ya ini tas yang aku pakai dia yang beli, kamu tahu berapa Harganya? "


Syafina menggeleng, dia ingin kabur saja malas meladeni Marsha.


"Yang jelas diatas lima puluh juta, terkejut kan?"


"Iya mbak, aku permisi ya"


"Eits tunggu dulu, " Marsha menahan Syafina.


"Mbak mbak disini, coba lihat perempuan ini. dia ini istri Khalid, kalian tahu Muhammad Khalid kan?"


Pelayan disana mengangguk,, karena mereka memang mengenal Khalid walaupun cuma sebatas pernah melihat saja.


"Coba lihat, dia nggak cocok kan sama Khalid?" pelayan disana diam saja, malas untuk menanggapi.


"Sudah mbak, saya permisi ya.. yang jelas saya sudah menang banyak dari mbak. Walaupun jelek saya sudah dapat suami tampan". Syafina buru buru kabur dari tempat itu. Marsha yang ditinggalkan menghentakkan kaki karena kesal, pelayan yang ada disana hanya senyum senyum saja melihat Marsha.


****


Sementara Sherina dan Roby sedang mengurus semua persyaratan untuk mereka menikah. Roby senang dapat menikahi gadis yang dicintainya, walaupun dia heran kenapa tiba tiba Sherina mau menikahinya, padahal selama ini Sherina selalu menolak cintanya.

__ADS_1


****


__ADS_2