Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 68


__ADS_3

Fatimah berdiri dari tempat duduknya.


"Wil, aku menyusul anak anakku ke Restoran ya"


"Biar sopir keluargaku yang mengantarmu Fat" wilona menawari.


"Iya boleh" Fatimah mengangguk.


Wilona lalu menelpon sopirnya agar bersiap siap mengantar Fatimah. Kemudian dia mengantar Fatimah sampai ke teras.


Sopir keluarga pak Yos mengantar Fatimah sampai ke depan Restoran Bunda yang berada di kota C.


"Makasih ya pak sudah ngantar saya" Fatimah tersenyum kepada sopir itu.


"Iya buk sama sama, saya permisi" lalu sopir itu melajukan kembali mobilnya.


Fatimah masuk ke dalam restoran milik Khalid. Dia menghampiri resepsionis untuk bertanya.


"Maaf Dek, tadi apa Khalid dan Sherina kesini?"


"Ehmm, dengan ibu siapa ini ya? "


"Saya Fatimah, ibundanya Khalid"


"Maaf nyonya tadi saya tidak tahu nyonya adalah ibunya pak Khalid"


"Tidak apa apa, apa tadi anak anak saya kesini?" Fatimah mengulangi pertanyaannya.


"Iya nyonya, tadi pak Khalid sepertinya mabuk berat dia diangkat oleh pelayan ke ruang istirahatnya"


"Apa, Khalid mabuk berat,? dia tidak pernah minum minuman keras" Fatimah tidak percaya dengan keterangan yang diberikan resepsionis itu.


"Tapi teman wanitanya bilang seperti itu, maaf nyonya saya kurang tahu pasti. Lebih baik nyonya mengecek sendiri kekamarnya"


"Tunjukkan dimana kamarnya"


"Baik nyonya" Resepsionis itu mengantar Fatimah kekamar dimana Khalid biasa istirahat.


Fatimah mengetuk pintu kamar Itu, tapi pintu itu tidak di buka.


Fatimah mengetuk lagi berkali kali, seraya memanggil nama Khalid.


"Khalid, apa kamu di dalam nak? " Tapi tak ada suara sahutan dari dalam. Fatimah mulai merasa Khawatir


"Apa kalian punya kunci cadangan kamar ini"


"Ada nyonya tapi sama pak Anton manager restoran ini"


"Tolong minta sama dia"


Resepsionis itu berlari ke suatu ruangan, tak lama dia kembali dengan seorang lelaki.


"Nyonya Fatimah ada apa nyonya kesini?"


"Saya mau menemui Khalid, mungkin dia tertidur dalam kamar ini. Katanya dia tadi mabuk berat"


"Apaa. pak Khalid disini? , kenapa kau tak memberitahuku ?" pak Anton membentak resepsionis itu.

__ADS_1


"Maaf pak, tadi pak Khalid bersama seorang wanita, kupikir dia tak ingin di ganggu"


"Wanita itu pasti Sherina, dia adiknya Khalid" jawab Fatimah.


"Ada apa ini, pemilik dari restoran ini berada disini, dan nona Sherina adik pak Khalid juga disini kau tak memberitahuku. ?"


"Maaf pak, aku benar benar tidak tahu"


"Sudahlah Pak Anton, buka saja pintu ini aku Khawatir dengan Khalid"


"Baik nyonya". Anton lalu membuka pintu kamar itu dengan kunci cadangan. Dan akhirnya pintu itu pun terbuka.


"Astagfirullahaladzim" Fatimah menutup wajahnya melihat pemandangan di depan matanya. Wajahnya seketika pucat.


Anton bergegas menutup pintu kamar itu kembali, takut jika ada orang lain melihatnya.


Khalid yang tertidur tanpa baju sedang tertidur bersama Sherina yang hanya memakai bra. Mereka ditutupi selimut hanya sebatas pinggang mereka. Seketika itu tangis Fatimah pecah, sementara dua orang yang telah berbuat salah itu tak bergeming sedikitpun. Mereka masih tertidur.


"Maaf pak Anton, Sherina adalah anak angkatku. setelah ini mungkin aku akan menikahkan mereka"


"Iya bu, saya akan tutup mulut atas kejadian ini"


Fatimah hanya mengangguk.


"Kau dengar kau juga harus tutup mulut kalau tidak aku akan melenyapkanmu beserta keluargamu juga", Anton mengancam resepsionis itu.


"Iya pak" resepsionis itu mengangguk, dan dia menunduk tak berani melihat pemandangan di depannya


"Sekarang kau boleh keluar, ingat kata kataku tadi" Anton membuka sedikit pintu agar resepsionis itu bisa keluar, dan dia menutup kembali pintu kamar itu.


Khalid yang sedang tertidur terkejut, dan membuka matanya. dia bergegas duduk. Sejenak dia terkejut melihat ibunya yang menatapnya dengan mata menyala nyala penuh amarah.


"Ibu, pak Anton ada apa ini? " tanya Khalid tak mengerti.


"Jelaskan pada ibu apa yang kau dan Sherina lakukan Khalid"


Khalid menoleh kesebelahnya.


Dia sangat terkejut melihat Sherina yang tanpa busana berbaring disebelahnya.


"Sherinaa" Khalid berteriak. Membuat Sherina terbangun dan mengerjap ngerjapkan matanya. Dia menarik selimut sampai ke Dadanya.


"Ibu, aku tidak mengerti semua ini. Kami tidak berbuat apa apa bu" Khalid menjelaskan.


"Tidak berbuat apa apa katamu, kau lihat apa ini,?" Fatimah menunjukkan bercak merah diselimut yang dikenakan Sherina.


Khalid melihat selimut itu, persis saat malam itu ketika dia pertamakali melakukannya dengan Syafina.


"Sherina kau jelaskan apa yang terjadi" kata Fatimah.


"Maaf bu, kami sudah melakukannya, aku selama ini belum pernah melakukannya dengan Robi. Aku masih perawan bu".


"Kalian benar benar tidak tahu malu, jijik aku melihat kalian seperti ini. Kalian berpakaianlah" perintah Fatimah


Khalid bergegas meraih pakaiannya yang berceceran dilantai, kepalanya terasa masih pusing. Sherina juga memungut pakaiannya dilantai lalu dia kekamar mandi untuk berpakaian. Tubuhnya diselimutinya dengan selimut yang terlihat bercak merah disana.


"Ibu aku bisa jelaskan semua ini, pasti ada yang menjebak kami bu, percayalah padaku bu" Khalid mencoba membela diri

__ADS_1


"Di jebak atau tidak, yang jelas kalian sudah melakukannya" jawab Fatimah tanpa menoleh kepada Khalid, dia merasa jijik dengan kelakuan putranya itu.


Khalid terdiam mendengar ucapan Ibunya, lalu dia beranjak berpakaian di ruang ganti dia mencoba mengingat ingat apa yang terjadi dengannya malam ini.


"Aahh, kenapa semua ini terjadi. Bagaimana perasaan Syafina mengetahui semua ini. ya Allah bantu hamba mejalani cobaan ini ya Allah"


Khalid selesai berpakaian dia menemui ibunya yang duduk diatas sofa. Sementara pak Anton berdiri di sebelah ibu Fatimah.


Khalid merasa gugup dan takut untuk berbicara dengan ibunya. Khalid berdiri saja di depan ibunya menatap wajah ibunya saja dia tak berani. Sherina sudah selesai berpakaian dia juga menemui ibunya. Lalu dia berdiri tak jauh dekat Khalid. dia menunduk sama seperti Khalid. Tidak ada diantara mereka berdua yang membuka suara.


"Kita pulang sekarang, Anton kau antar kami. Khalid masih dalam pengaruh minumannya"


"Baik nyonya"


"Dan kau pastikan berita ini tak menyebar keluar"


"Siap nyonya"


Fatimah lalu berdiri, dia berjalan lebih dahulu keluar dari kamar itu. Sherina memberikan kunci mobil Khalid yang kebetulan masih didalam tasnya kepada Anton. Anton lalu menyusul Fatimah kemudian Khalid dan Sherina. Ketika melewati pintu Khalid mencengkeram tangan Sherina dengan kuat.


"Kau jangan berpura pura Sherina, aku tak mungkin melakukannya padamu."


"Baru beberapa jam saja kau sudah lupa?, kau yang memaksaku Khalid"


"Itu tak mungkin"


"Kamu dibawah pengaruh obat, kau ingat di mobil saja kau sudah tak karuan?"


"Apa kau yang menaruh obat itu Sherina, aku nggak menyangka kau selicik itu Sherina"


Sherina menitikkan air matanya dan menangis terisak isak.


"Bang, aku disini hanya korban. Bukan aku yang menaruh obat itu"


"Lalu siapa?"


"Apa kau pikir aku sebejat itu bang, mungkin saja Angel yang melakukannya. Kau ingat dia berkeras agar kau istirahat dikamar hotelnya"


"Angel dan kau sama saja, perempuan licik" Khalid menghentakkan tangan Sherina dengan keras.


"Aww, bang jangan mengasariku.


"Cck" Khalid berdecak kesal dia mengunci pintu kamar itu lalu berjalan dengan cepat menyusul ibunya. Perasaan Khalid saat ini tak menentu, perasaan marah kesal merasa telah dibohongi Angel dan Sherina.


"Nggak mungkin aku melakukan ini, nggak mungkin" Khalid mengusap mukanya dengan kasar, menyesali yang telah terjadi.


Diluar beberapa orang pelayan menatap mereka dengan heran. Tapi pelayan pelayan itu tetap menunduk memberi hormat ketika tuan mereka lewat.


Fatimah dan Anton sudah menunggu dalam mobil, Khalid bergegas mengambil posisi di bangku penumpang di sebelah ibunya Sementara Sherina duduk di sebelah Pak Anton.


Di dalam perjalanan semua terdiam, Khalid mencoba mengingat ingat apa yang terjadi dengannya malam ini. Di mobil Dia merasa sangat mengantuk dan Sherina memberikannya air mineral. Tiba tiba dia sangat menginginkan istrinya Syafina. Terakhir Khalid ingat dia di angkat oleh dua orang pelayan kekamar, saat itu dia sangat mengantuk kepalanya pusing. Setelah dalam kamar dia samar samar melihat Sherina juga masuk dan menutup pintu. Setelah itu dia benar benar tertidur.


Dalam tidur Khalid bermimpi dengan istrinya Syafina, Khalid bermimpi bermesraan dan mencumbui istrinya.


"Oh Tuhan. Apa aku melakukannya dengan Sherina tapi aku merasa dia adalah Syafina. Astagfirulahaladzim apa yang sudah aku lakukan, ampuni aku Ya Allah" Khalid sangat menyesal dalam hatinya. Apa daya semua telah terjadi.


****

__ADS_1


__ADS_2