Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Perpisahan


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir Khalid dirumahnya, hari ini dia akan pergi dari rumahnya itu. Karena semua hartanya telah menjadi milik Sherina. Malam tadi dia belum menyampaikan pada Syafina bahwa pagi ini mereka akan meninggalkan rumah itu, Khalid takut istrinya tidak bisa tidur lelap karenanya.


Setelah subuh berjamaah Syafina menyalami dan mencium punggung tangan suaminya.


"Fina, ada yang ingin abang beritahu"


"Apa itu bang? "


"Dendi telah selesai mengurus semua perpindahan semua aset milik abang menjadi milik Sherina. Dan hari ini kita akan meninggalkan rumah ini, maaf abang memberitahu tiba tiba."


"Oh, tidak apa apa. Kalau gitu kita berkemas. Aku akan ikut abang kemana saja".


"Nanti saja berkemasnya, abang ingin memasak untuk semua orang dirumah ini. Nanti takut keduluan bi Lastri"


"Aku bantu ya bang"


Mereka berdua pun turun kedapur dan memasak bersama, ayam kecap. Tumis kangkung, dan sambal cabai menu sederhana yang dimasak Khalid.


"Pak Khalid, biar bibik yang memasak. Bapak sama bu Syafina nonton tv saja"


"Untuk kali ini biar saya yang masak bi, sudah hampir selesai juga. Bibi kerjakan yang lainnya saja"


"Oh gitu, bibi nyuci saja" Dalam hati bi Lastri heran kenapa bosnya tiba tiba hari ini memasak. Apakah non Syafina ulang tahun, atau pak Khalid sendiri yang ulang tahun.


Setelah selesai masak, Khalid memanggil pak Udin dan bi Lastri untuk makan bersama. Kebetulan Linda Heru dan Ridho juga sudah datang mereka juga di ajak sarapan bareng. Sementara ibu Fatimah dirumah sakit menunggui Sherina.


"Ehm, ini kami makannya sama nona Syafina dan pak Khalid juga? "Tanya Linda kepada bi Lastri yang duduk disebelahnya. Linda agak canggung harus makan dengan bosnya. Biasanya dia bertiga Heru dan Ridho makan setelah bosnya selesai.


"Hari ini spesial, bahkan semua ini pak boss yang masak". Bi Lastri menjawab.


"Ayolah semua, kita sarapan." perintah Khalid, membuat semua yang mengelilingi meja makan memulai sarapan mereka.


Setelah sarapan selesai, Khalid menahan semuanya agar tidak meninggalkan meja makan. Semua masih mengelilingi meja makan penasaran pengumuman apa yang akan disampaikan pak Khalid.


"Hari ini saya dan Syafina akan meninggalkan rumah ini. Rumah ini bukan milik kami lagi"


Semua yang berada disana terkejut dan tak percaya apa yang mereka dengar, tapi tak berani menanyakan apa sebenarnya masalahnya. Mereka hanya menunggu Khalid meneruskan ucapannya.


"Semua harta saya telah menjadi milik Sherina, mungkin kalian sudah tahu masalah yang menimpa rumah tangga kami akhir akhir ini. Saya tidak bisa menikahi Sherina. Lebih baik saya memberikan semua harta yang saya miliki pada Sherina"


Semuanya terkejut dengan keputusan bos mereka, tapi mereka juga kagum dan terharu dengan Khalid yang sangat menyayangi istrinya.


"Maafkan saya dan Syafina jika ada salah, dan apabila ada kata yang kasar keluar dari mulut kami..., setelah ini saya bukan bos kalian lagi. Mungkin kita masih bisa berteman."


Tak terasa bi Lastri menitikkan airmatanya, pak Udin juga sudah berkaca kaca. Mereka berdua lah yang paling lama disana, dan mereka berdua yang sering menyaksikan kemesraan Khalid dan Syafina.


Tidak pernah ada kata kata kasar keluar dari mulut Khalid maupun Syafina. Tak menyangka hanya enam bulan kebersamaan mereka dirumah itu, kini mereka harus menyaksikan bos mereka akan meninggalkan rumahnya sendiri.


"aku lebih baik dipecat daripada harus menyaksikan pak Khalid dan nona Syafina meninggalkan rumah ini. " bi Lastri memberanikan diri bicara disela tangisnya.


"Tidak ada kata kata yang kasar dari mulut pak bos dan nona Syafina, kami yang seharusnya minta maaf. Belum bisa bekerja lebih baik, padahal kami digaji mahal." Pak Udin ikut bicara dengan menahan tangisnya.

__ADS_1


"Aku sudah digaji banyak, tapi hanya beberapa kali saja menyopiri nona Syafina. Aku yang harus minta maaf" ujar Linda yang matanya sudah merah.


"Saya berdua Heru sudah dibayar selama enam bulan. Jadi saya memutuskan untuk tetap menjaga nona Syafina."


"Saya juga, kami akan ikut kemana pak bos dan nona Syafina pergi, biarkan kami melakukan tugas kami dengan baik" Heru menimpali.


"Aku menghargai keputusan kalian, Heru dan Ridho. Jika kalian tak melanjutkan tugas kalian juga tak masalah bagiku"


"Hari ini saya dan Ridho akan melaksanakan janji kami dengan nona Syafina kemaren, secepatnya akan kami kabari jika ada informasi penting. "


Syafina merasa terharu mendapat pengawal seperti Ridho dan Heru yang sangat bertanggung jawab. Mereka bahkan rela ikut kemana dia pergi.


"Terimakasih pak, emm saya dan bang Khalid harus berkemas. kami keatas dulu". Syafina pamit kekamarnya, dia tak lupa selalu tersenyum pada 5 orang mantan pegawainya itu walaupun dalam hatinya sangat perih, ingin menangis.


Syafina dan Khalid berjalan kekamarnya, lima orang mantan pegawainya menatap mereka dengan terharu, masih tak percaya bos mereka sebentar lagi akan meninggalkan rumah mewah itu.


Dalam hati Ridho dan Heru berjanji akan selalu melindungi Khalid dan Syafina. Mereka berdua telah dibayar mahal untuk 6 bulan, yang sangat cukup memenuhi kebutuhan anak isteri mereka selama setahun.


***


"Bang kita akan kemana? "


"Mungkin kita ngontrak saja, cari kontrakan sederhana tak apa kan? "


"Ehmm, bang kenapa tak pulang kekampungku saja? "


"Abang malu sama papa dan mama"


"Tapi apa yang akan abang kerjakan di kampung, kalau disini abang bisa melamar kerja"


"Abang bisa bantu papa, papa pernah bilang padaku, dia sudah lelah harus mengerjakan semua pekerjaan."


"Ehm kalau gitu akan abang coba, kita kekampung saja"


"Iya bang," Syafina menatap suaminya. Tak lama mereka sudah selesai berkemas, Khalid tak membawa stelan jas miliknya, jika harus kekampung untuk apa stelan jas jas mahal itu.


Khalid menenteng koper dirinya dan Syafina menuruni tangga. Sementara Syafina membawa tas belanjaan waktu libur kemaren yang berisi oleh oleh yang belum sempat dibagi. Rencananya hari ini akan dibagikannya sekalian pamit dengan teman temannya.


Langkah kaki Khalid terasa berat meninggalkan rumah itu bukan karena harus meninggalkan kemewahan, tapi karena banyak sekali kenangan dirinya dan Syafina dirumah itu. Rumah itu saksi perjuangannya mendapatkan cinta istrinya, rumah itu adalah tempatnya untuk pulang, tempat yang hangat karena diteras itu istrinya menunggunya pulang kerja.


Bi lastri berdiri di teras rumah, pak udin dan Linda juga. Sedangkan Heru dan Ridho sudah berangkat.


"Bi, sebelum bibi pulang tolong sirami tanaman hiasku disamping, oh ya ini oleh oleh untuk kalian saya beli waktu liburan. Kemaren lupa membagikannya. "


Syafina memberi beberapa kantong keripik ubi kepada bi Lastri dan sebuah dompet rajut.


"Makasih nona" Bi Lastri menerimanya dengan senang hati


"Sling bag rajut ini untuk kak Linda" syafina memberikannya kepada Linda, Linda menerimanya sembari tersenyum.


"Cantik sekali nona, akan saya pakai"

__ADS_1


"Dan ini bonus kalian untuk bulan ini, untuk Linda, bi Lastri dan pak Udin" Khalid menyerahkan Tiga lembar amplop kepada udin.


"Tak usah pak Khalid" tolak pak udin.


"Ambil saja pak udin, saya tidak mau pemberian saya ditolak. Berikan pada bi Lastri dan linda juga. Itu sudah saya kasih nama amplopnya"


"Baiklah pak" pak udin mengangguk seraya menerima amplop itu.


"Kalau gitu kami permisi sekarang" pamit Khalid, dia tak mau berlama lama disitu.


"Tungguu!" bi Lastri setengah memekik, dia berlari memeluk Syafina. Lastri memeluk Syafina erat airmatanya menetes membasahi baju Syafina, dia menangis sesegukan. Linda yang melihat itu ikut berkaca kaca.


Syafina mendorong sedikit tubuh bi Lastri, dia menghapus airmata dipipi mantan ART nya itu.


"Bi, aku nggak pergi jauh kok, bibi bisa mengunjungiku. Aku sama bang Khalid juga bisa mengunjungi kalian semua. Hanya saja kalian tak bekerja dengan kami lagi."


"Nona dan Pak Khalid kemana? " tanya Lastri.


"Kami pulang kampung,


Linda mendekati Syafina, dia pun memeluk Syafina.


"Nona jaga Tuan mudaku ya, aku akan datang menjenguknya nanti jika dia sudah lahir"


"Tuan muda? "


"Iya nona, dia tuan mudaku"


"Iya aku akan menjaganya, aku kabari jika aku lahiran, jangan menangis. Okey?"


Linda mengangguk dia menghapus air bening dipipinya.


Khalid dan pak Udin pun berpelukan, dan mereka semua bersalaman.


"Kalian pergi dengan apa, biar saya antar" Linda menawari.


"Kami pergi dengan mobil Syafina, hanya itu barang yang saya beli atas nama Syafina. Selain itu semua atas nama saya telah jadi milik Sherina. "


Linda menganguk," Biar saya menjalankan tugas terakhir saya pak, saya ingin tahu dimana kampung nona Syafina.".


"Tapi kamu akan kesusahan cari tumpangan untuk pulang nantinya." jawab Khalid.


"Tak apa, saya bisa naik ojek"


"Saya akan menyusul dengan sepeda motor, Linda bisa pulang sama saya. Saya juga ingin menjalankan tugas terakhir saya. " ujar pak Udin.


"Okey, terserah kalian." Khalid akhirnya mengalah.


Udin dan Lastri membantu menaruh koper dan barang barang lainnya kedalam mobil. Beberapa menit kemudian mobil itu meluncur meninggalkan rumah itu, rumah yang dibangun Khalid untuk istrinya. Sebelum menikah dia sudah berencana akan mengajak istrinya nanti kerumah itu dan menua bersama dirumah itu. Tapi tak lebih enam bulan dia bersama istrinya berbahagia dirumah itu yang dibangun dengan hasil keringatnya sendiri.


***

__ADS_1


__ADS_2