
Khalid duduk dikursi tunggu, kepalanya tertunduk. Perasaannya kini sangat cemas, dan ia merasa bersalah. Lagi lagi ia kecolongan. Dia hanya bisa berharap Syafina akan segera sadar dan sehat.
"Siapa yang tega berbuat seperti ini pada Syafina, apa jangan jangan benar dugaan Fina bahwa ada yang ingin mencelakai dia. Tapi siapa?, apa Marsha?". Selama ini hanya Marsha yang menampakkan ketidak sukaannya sama Syafina.
Aku harus bicara sama Marsha, Khalid lalu berjalan setengah berlari menuju tempat parkir.
"Aku harus buat perhitungan dengan Marsha, tak sudah sudahnya dia mengganggu Fina, ini sudah kriminal namanya" Khalid mengepalkan tangannya kuat.
Khalid melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tujuannya sekarang adalah rumah dinas yang ditempati pak Zulkarnain, dia sudah tak peduli siapa orang tua Marsha. Marsha harus bertanggung jawab dengan perbuatannya.
Khalid sudah sampai di depan gerbang rumah dinas bupati, tiga orang satpol pp yang berjaga disana menghalanginya masuk.
"Pak, saya tidak menemui pak Zulkarnain, tapi saya mau menemui Marsha, anaknya"
"Bapak tidak bisa sembarangan masuk kedalam, lagi pula nona Marsha tidak ada dirumah"
"Dimana dia, saya mau bicara"
"Kami kurang tahu pak, bapak bisa telpon saja nona Marsha"
Khalid merasa sangat kesal tidak dapat menjumpai Marsha, lalu dia kembali kedalam mobilnya. Khalid lalu mengambil ponselnya menghubungi Marsha.
Belum sempat Khalid mengucapkan salam Marsha sudah nyerocos duluan.
"Hallo sayang, akhirnya nelpon juga. Nggak tahan juga kan jauh jauh dari aku?"
"Marsha, kamu dimana aku mau bicara"
"Aku sekarang di Bali, liburan. Kalau tahu kamu kangen sama aku, enak aku ajak saja sekalian kemaren"
"Sudahlah Marsha sebenarnya kamu sekarang dimana, aku tahu apa yang sudah kamu lakukan sama istriku"
"Hoo sudah tahu ya, dia ngadu?"
"Yang kamu lakukan ini tindakan kriminal, kamu bisa saya laporkan kepolisi"
"Kriminal, maksud kamu apa sih. Jangan lebay deh"
"Tidak usah pura pura Marsha, aku tak peduli lagi dengan nama baik orang tuamu, akan ku laporkan kau ke polisi"
"Tunggu, ada apa sebenarnya. Aku nggak tahu apa apa, kamu jangan main lapor kalau tidak ada buktinya. Aku saja nggak tahu kasusnya apa"
"Kamu sudah menyuruh orang menabrak Syafina, sekarang istriku dirumah sakit, kalau terjadi apa apa sama istri dan anakku kau tahu akibatnya !"
"Khal pliss, bukan aku pelakunya. Kamu nggak bisa main tuduh begitu saja, mana buktinya ? aku bisa melapor balik kamu kalau begitu".
"Kita lihat saja marsha, akan kucari buktinya". Khalid lalu memutuskan sambungan teleponnya. Dia lalu kembali ke rumah sakit.
__ADS_1
****
Dirumah sakit sudah ada Dendi, cintya dan Viana.
Dendi tahu dari pak Lukman bahwa Syafina dirawat karena kecelakaan, sementara Viana tahu dari Arsya. ketika dia menelpon Arsya, Arsya memberitahu bahwa Syafina kecelakaan, dan dialah yang membawa Syafina kerumah sakit.
"Jadi Arsya yang membawa Syafina kerumah sakit? " tanya Cintya. Cintya dan Viana duduk di bangku ruang tunggu, sementara Dendi melihat Syafina kedalam.
"Benar. Sekarang aku tahu pasti sebelum ini ada hubungan spesial antara mas Arsya dan Syafina"
"Maksud kamu mereka mantan kekasih? " tanya Cintya.
Viana mengangguk. "Bahkan sampai sekarang mas Arsya tidak bisa melupakan Syafina, bisa ku lihat dari cara dia menatap Syafina dan kau ingat kemaren, dia sangat cemas dengan Syafina"
"Iya aku lihat itu" Cintya mengangguk.
"Tapi kamu nggak usah khawatir, Fina sangat mencintai suaminya. Dia nggak mungkin balikkan sama Arsya"
"Iya. Aku kagum sama Syafina dia sangat sederhana tapi kenapa dia dicintai oleh dua orang pria, Khalid dan Arsya. Kau tahu Tya, dulu sebelum kenal Arsya aku mati matian mengejar cinta Khalid, tapi dia cuek sama aku".
"Oh benarkah?,"
"Suamimu pasti tau ceritanya, tapi Syafina tidak merebut khalid dari ku. Marsha lah yang membuat hubungan kami renggang"
"Marsha, ya aku tahu dia"
"Benar Via, kita doakan Syafina secepatnya sadar dan pulih". Cintya memegang tangan Viana.
"Iya Tya"
"Bahkan tak hanya Khalid dan Arsya saja, Reyhan adik suamiku juga mencintai Syafina". gumam Cintya dalam hatinya.
Cintya pun tidak tahu, bahwa suaminya dan suami Vivian pun pernah tertarik dengan Syafina. Tapi itu dulu sudah lama sekali.
****
Khalid sudah sampai dirumah sakit, emosinya sudah menurun. Dia bergegas menuju ruangan istrinya dirawat. Di ruang tunggu Khalid bertemu dengan Cintya dan Viana.
"Eh bang Khalid, darimana? " sapa Cintya.
"Dari rumah Marsha, tapi aku nggak ketemu dia"
"Hah, ngapain kamu kesana, istri sakit malah kamu kerumah nenek sihir itu" kata Viana ketus.
"Apa sih Via, aku itu ingin dia tanggung jawab sama perbuatannya".
"Maksud kamu ini perbuatan Marsha?"
__ADS_1
"Iya, dia pasti menyuruh orang mencelakai Syafina"
"Masa sih, bukannya Marsha nggak disini ya. Dia kan melanjutkan S2 di Jakarta"
"Di Jakarta?, barusan aku telpon katanya di Bali, jangan jangan dia keliaran disini".
"Tapi benar loh Khal" tukas Viana.
"Khalid, Syafina manggil kamu" Dendi tiba tiba datang.
"Alhamdulillah, Fina sudah sadar? " Khalid segera berlari ke ruangan Syafina.
"Fina, kamu sudah sadar sayang?". Khalid langsung menghambur memeluk istrinya, menciumi wajahnya.
"Abang, anak kita gimana bang? "
"Dia baik baik saja, anak kita kuat". Khalid melepaskan pelukannya, lalu duduk di atas kursi dekat tempat tidur Syafina., Khalid menggenggam tangan Istrinya.
"Khal, ibu keluar ya" , Fatimah memegang bahu Khalid. Khalid mengangguk.
Seorang dokter masuk bersama dua orang perawat, dokter itu memeriksa Syafina. Setelah selesai memeriksa dokter itu menjelaskan kepada Khalid.
"Bapak suami Syafina? "
"Benar pak dokter"
"Kondisi Syafina sudah stabil, malam ini dia bisa di pindahkan ke ruang rawat inap. nanti saya konsulkan dengan dokter bedah tulang, karena tangan kanan Syafina mengalami fraktur. Saya juga sudah konsul dengan dokter kandungan, kondisi janin baik baik saja hanya saja Syafina jangan sampai stress dan kelelahan, cukupkan nutrisinya. Beruntung janin dalam rahim istri bapak kuat"
"Baik pak, terimakasih penjelasannya."
****
Sherin tersenyum penuh kemenangan, Dia ingin merayakan kemenangannya kali ini.
"Walaupun kau tidak mati, setidaknya kau akan cacat Syafina, atau bayimu akan meninggal. Ha ha ha"
"Disaat kau sedang sakit begini akan ku buat drama yang membuat Khalid tak bisa mengelak menikahi ku"
Sherina lalu mengambil kunci mobilnya, lalu dia pergi entah kemana merayakan kemenangannya. Saat mobilnya melewati perempatan jalan, motor Roby lewat .
"Mau kemana Sherin malam malam begini, aku pulang dia keluar. bagaimana kami bisa berbincang bincang dirumah kalau begini terus." Roby lalu memutuskan mengikuti istrinya. Dia penasaran kemana Sherina pergi bertemu siapa, dan apa yang dilakukannya.
Semenjak menikah dan tinggal di kontrakan memang begitulah kehidupan rumah tangga Roby dan Sherina. Roby tak jarang harus lembur dan pulang malam, tapi ketika pulang Sherina malah tak dirumah, dan dia akan pulang setelah tengah malam. Alasan Sherina bertemu temannya.
Ketika mereka sama sama dirumah dihari libur pun Sherin enggan untuk didekati atau sekedar mengobrol dengan Roby, kalaupun mengobrol itu hanya sekedar tegur sapa, tak pernah berbincang dari hati kehati.
*****
__ADS_1