Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 46


__ADS_3

Fatimah sudah selesai sarapan dan bersiap siap hendak kerumah sakit, ia ingin melihat keadaan Syafina menantunya. Fatimah sangat mencemaskan menantunya itu.


"Khalid pasti sibuk, apa ku telpon taksi online atau ajak Sherin saja ya" Fatimah berpikir bagaimana cara dia kerumah sakit.


"Sama Sherin saja, dia kan belum menjenguk Syafina" Lalu Fatimah menelpon Sherin.


"Hallo Sher"


"Iya bu, ada apa? "


"Bisa temani ibu kerumah sakit nggak, kamu belum jenguk Syafina kan? ibu sekarang dirumah Khalid"


"Bisa bu, tunggu ya sebentar lagi aku kesana". Sherin lalu bersiap siap, lalu dia bergegas menjemput Fatimah. Sherin penasaran bagaimana kondisi Syafina sekarang.


Sherin sampai dirumah Khalid, Fatimah sudah menunggu di teras depan. Fatimah segera masuk kedalam mobil Sherin dan duduk di sebelah Sherin.


"Bagaimana kondisi Fina bu, apa kecelakaannya parah? "


"Kemaren dia sempat nggak sadar, kepalanya terbentur. Tangannya patah, kakinya itu ibu kurang tahu apa patah atau hanya terkilir saja"


"Bayinya bagaimana? "


"Alhamdulillah baik baik saja"


"Gimana sih, apa orang yang nabrak kemarin nggak nabrak kuat ya? " kata Sherin dalam hati. akhirnya mereka sampai dirumah sakit. Mereka segera menuju ruangan dimana Syafina dirawat.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam", pintu dibuka dari dalam.


"Masuk bu, Sherin" Khalid melebarkan bukaan pintu agar Sherin dan ibunya bisa masuk. kemudian Khalid melanjutkan menyuapi Syafina.


Fatimah menghampiri Syafina dan memeluknya.


"Bagaimana pagi ini Fin, kepalamu masih sakit sayang? " tanya Fatimah.


"Masih agak sakit bu, tapi tanganku nggak bisa digerakkan"


"Dokter bedah tulangnya sudah masuk?


"Mungkin sebentar lagi bu".


Sebagian rambut Syafina berantakan menutupi wajahnya, ikatan rambutnya memang sudah longgar. Khalid menarik ikatan rambut istrinya, merapikan rambut istrinya itu dengan jarinya. lalu ia mengikatnya kembali. Kemudian Khalid kembali menyuapi wanita tersayangnya itu.


"Bang maaf ya baru sempat jenguk sekarang" Kata Sherin


"Nggak apa apa, aku juga kan belum ngasih tahu kamu".


"Khalid belum ngasih tahu Sherin?, kok tadi Sherin tahu Fina kecelakaan?" Fatimah bertanya dalam hatinya.


"Mungkin dia tahu dari orang lain, sekarang kan berita memang cepat tersebar" gumam Fatimah dalam hati.


"Aku ke clinic ya bang," Sherin pamit, Khalid mengangguk. Sebenarnya Sherin buru buru pergi karena tidak tahan dengan kemesraan antara Khalid dan Syafina. Bagaimana ia tak sakit hati, Khalid yang menyuapi Syafina dan matanya tak berhenti menatap istrinya, seakan hanya mereka berdua di ruangan itu.


Keluar dari rumah sakit Sherin masuk kedalam mobilnya dan menelpon orang yang disuruhnya menabrak Syafina.


"Kamu ini gimana son, urusan kamu nggak ada yang tuntas. Sekarang Syafina baik baik saja dirumah sakit, dia cuma cedera ringan. "


"Tapi aku sudah melakukan yang kamu suruh, ya aku nggak tahu apa di mati, cedera berat atau ringan"


"Dasar nggak guna, lain kali aku nggak akan memakaimu lagi".

__ADS_1


"Terserah kamu, aku juga sudah bosan nurutin maumu". Lalu pria itu mematikan ponselnya.


"Kurang ajar, dia matikan aku belum selesai bicara" Sherina kesal dengan orang suruhannya.


****


Khalid menelpon Dendi mengatakan Dia tidak bisa kekantor hari ini.


"Den, maaf ya aku nggak bisa ngantor"


"Nggak apa apa, kerjaan juga nggak banyak hari ini. Apa kabar Syafina? "


"Dokter bedah tulang belum masuk, nanti apa tangannya yang patah di operasi apa tidak belum tahu. Kalau dokter kandungan sudah masuk jam delapan tadi, katanya bayinya sehat"


"Syukurlah. Khal kamu nggak curiga ada yang mau nyelakain istrimu, soalnya sudah sering kali dia hampir celaka. Tidak mungkin hanya kebetulan Khal"


"Mungkin Marsha, siapa lagi kalau bukan dia"


"Marsha, masa sih cewek secengeng Marsha bisa begitu? "


"Bisa saja Den, kan keinginan dia semuanya harus dituruti. Dia tidak mau ada yang lebih dari dia"


"Kenapa nggak kamu lapor polisi saja, biar polisi yang selidiki"


"Entahlah Den, aku sebenarnya bingung juga. Sebenarnya aku tidak mau bertindak gegabah. Kalau Marsha pelakunya, aku maunya dia bisa menggerti dan Sadar akan perbuatannya"


"Kemaren kejadiannya dimana Khal? "


"Depan toko Zahara colection"


"Oo disana," Dendi mengangguk angguk.


"Ya sudah Den, kamu handel kantor ya"


Khalid lalu memutuskan teleponnya.


Sementara Dendi berpikir, kemungkinan siapa orang yang ingin mencelakai Syafina.


Ada beberapa nama yang terpikir dalam otak Dendi. Dia tahu semua orang yang dekat dengan Khalid, dia tahu siapa yang iri dengan Khalid dan siapa saja yang tidak senang dengan keberhasilan Khalid.


Dendi mendatangi toko Zahara tempat Syafina berbelanja kemaren.


"Mbak bisa saya bicara sama pemilik toko ini?" Dendi bertanya kepada karyawan toko itu.


"Tunggu saya panggil ya pak",


Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya datang.


"Ada apa ya dek? "


"Buk, boleh saya lihat rekaman cctv di toko ini, saya mau lihat apa kecelakaan siang maren terekam cctv"


"Kalau boleh tahu adek siapa ya? "


"Saya keluarga bu Syafina yang mengalami kecelakaan kemaren"


"Kenapa nggak dilapor polisi saja?"


"Suaminya belum mau melaporkan , saya kurang tahu juga apa alasannya"


"Oh gitu, silahkan dek ikut keruangan saya"

__ADS_1


Dendi lalu mengikuti wanita itu kedalam ruangan kerjanya.


"Ini rekaman yang kemaren, kamu bisa lihat kalau nggak salah kejadiannya sekitar 14.30 siang"


Dendi lalu melihat rekaman itu memperhatikannya dengan seksama bagaimana kejadiannya.


"Bu boleh saya salin rekamannya? "


"Boleh silahkan"


****


Dokter spesialis bedah tulang sedang melakukan visite, Dia melakukan pemeriksaan kepada Syafina, setelah selesai dia menjelaskan hasil pemeriksaan nya kepada Khalid.


"Dari hasil pemeriksaan dan dilihat dari foto rontgen tidak perlu di lakukan operasi pada tangan bu Syafina. Akan saya pasang Gift saja, apalagi mengingat bu Syafina lagi hamil. Akan ada efek untuk janinnya bila dilakukan bius umum pada ibunya. "


"Kapan di pasang pak ? "


"Sekarang juga, sementara perawat menyiapkan perlengkapannya dahulu"


"Bagaimana baiknya saja. Saya percaya sepenuhnya sama pak Dokter"


Kemudian dokter itu memasang gift pada tangan Syafina yang mengalami fraktur.


"Sudah selesai pak, sementara tangannya di istirahatkan dulu. Saya akan resepkan obat untuk mempercepat penyembuhan patah tulang" .


"Baik pak dokter".


****


Sherina sampai di Fatimah glow clinic, dia mencari dokter Silvana.


"Hai bu dokter, cantik sekali pagi ini"


"Ah bisa saja kmu Sher, kamu juga cantik, dari mana saja kok telat sampainya? "


"Aku tadi ketemu bang Khalid, membicarakan masalah buka cabang clinic kita di kota C"


"Oh ya, apa katanya? "


"Dia bilang urusannya diserahkan sama kita saja, dia kirim salam loh sama kamu"


"Masa sih Sher," muka Silvana berubah merah jambu.


"Iya, sepertinya dia suka sama kamu"


"Uuu yang benar Sher, eh dia sudah punya pacar belum ? "


"Punya istri tapi dia nggak cinta karena menikah di jodoh sama ibuku, istrinya selingkuh sama Arsya. Sekarang mereka lagi proses cerai"


"Arsya?"


"Hemm, itu nama mantan pacar istri bang Khalid, sekarang mereka selingkuh. Kasihan bang Khalid"


"Kasihan ya, eh siapa tau mereka nggak jadi cerai. Aku nggak mau merusak rumah tangga orang"


"Merusak apanya, aku sebagai adiknya tahu penderitaan kakakku selama ini. Dia kan memang sudah mau cerai dari sebelum kenal kamu,"


"Oh begitu? "


"Iya, aku atur deh kalau kamu mau ngedate sama bang Khalid, siapa tahu kamu bisa bikin dia move on"

__ADS_1


"Boleh boleh", Dokter Silvana tersenyum senang.


*****


__ADS_2