
Syafina lagi duduk berselojor di tempat tidur, sambilan mengunyah cemilan di dalam toples. Akhir akhir ini dia jadi doyan ngemil. Khalid menghampiri istrinya lalu mencomot keripik pisang dalam toples yang dipeluk istrinya.
"Nggak pegal ngunyah trus Fin ?"
"Nggak,"
"Fina abang mau cerita" Khalid berbaring di pangkuan istrinya, dia memindahkan toples ke atas nakas.
"Ceritain aja bang" jawab Syafina sambil mengunyah keripik pisang asinnya, tidak terlalu asin makanya Syafina suka.
"Tiga hari yang lalu kan abang ke kota beliin kamu martabak mesir, jadi suami penjual martabak itu adalah Sonni yang nyelakain kamu"
"Jadi abang marahin dia ya ?"
"Tidak, pengennya abang patahin atau bunuh saja sekalian. Tapi abang masih bisa sabar Fin. Tahu nggak yang mengejutkan rupanya Sonni, Sherin dan Tio sudah lama saling kenal, katanya 13 tahun lalu Sherinlah yang menyuruh mereka menyerang abang dan Sherin pura pura nyelamatin abang."
"Oo" Syafina mengngangguk angguk mendengar penuturan suaminya.
"Abang kecewa sama Sherin? "
"Kecewa sih nggak, tapi abang nggak nyangka orang yang abang anggap adik, abang sekolahkan, abang beri barang mewah ternyata telah menipu abang"
"Terus abang mau ambil lagi milik abang ?"
"Entahlah Fin, nasi sudah jadi bubur. Abang sudah terlanjur punya anak dari Sherin"
"Hh, bang. Kalau masih rezeki tak akan kemana, semua akan kembali"
"Mudah mudahan, seharusnya dulu abang dengerin kamu Fin, bukan malah ngeremehin feeling istri, maafin abang ya? "
"Fina juga salah bang, nggak jadi nemanin abang ke kota C hari itu. Jika aku ada mungkin hal itu nggak akan terjadi"
Keduanya lalu terdiam sama sama menyesali kesalahan masing masing.
"Fin, pijitin abang ya? "
"Iya sini Fina pijitin"
Khalid lalu berbaring menelungkup tapi masih di pangkuan istrinya, Syafina memijat punggungnya dia sudah tahu benar bagaimana pijatan yang disukai Khalid.
"Abang nanti gantian ya pijitin Fina ? "
"Iya, nanti abang kasih plus juga"
"Nggak mau, sakit"
__ADS_1
"Masa sih" Khalid jadi mendongakkan wajahnya.
"Lihat tangan abang sebesar itu masa mau kasih plus sama Fina? "
"Hhh, rupanya dia masih belum ngerti juga maksud pijat plus" Khalid menggerutu dalam hati tapi tak akan mengendorkan niat baiknya memberi yang plus plus.
***
Di sudut kamarnya Sherina menangis meratapi nasibnya, seharusnya saat ini dia dimanjakan seorang suami. Hamil sendirian benar benar membuatnya tersiksa. Ternyata kebahagian memang tak cukup dengan harta saja, dia menginginkan seorang suami yang memanjakannya dan memperhatikannya, dia ingin orang itu Khalid.
Sherina teringat dengan kejadian 13 tahun lalu
Flash back on
Sherina ketika itu mengangumi seorang laki laki, setiap laki laki itu pulang sekolah akan lewat didepan rumahnya. Sherin sering tersenyum pada laki laki itu, bukannya dibalas senyum tapi laki laki itu bahkan tak melihat kearahnya.
"Tiap kali dia lewat kamu senyum senyum terus, kau kira dia mau sama kamu gadis miskin, melirik kamu saja dia tak sudi" kata salah seorang teman perempuannya mencemeeh.
"Suatu saat dia akan melihat padaku, dan membalas senyumku"
"Haha, mimpi. Lihat dia sangat tampan. dia nanti pasti akan jadi orang yang sukses. Kau sendiri sudah tak sekolah lagi, makan saja susah" temannya yang satu lagi ikut mencemeehkannya.
"Tidak ada yang tak mungkin. Kalian lihat saja nanti aku akan jadi orang yang paling disayanginya"
"Mimpi aja terus, dasar gadis gembel"
Sementara Sherina saat itu tak bersekolah lagi semenjak kedua orangtuanya meninggal. Dia hanya sekolah sampai kelas 1 SMP. Sekarang dia bekerja sebagai tukang cuci piring di kantin SMU. Sherina suka memperhatikan Khalid yang sedang berolahraga, dan ketika pulang sekolah dan sore hari Khalid pulang dari latihan pramuka akan lewat didepan rumahnya yang kebetulan berdekatan dengan gedung SMU.
flash back off
"Aku tak akan membiarkan orang lain menghalangi kebahagianku, Khalid hanya milikku" Sherin menangis tersedu sedu. Dia sekarang menempati rumah Khalid dan Syafina, dia sekarang tidur dikamar Khalid dan Syafina. Dan beberapa stelan jas Khalid yang tertinggal sering di pandangi dan dipeluknya.
Malam ini sungguh Sherina tak bisa tidur menahan kerinduannya, sudah tak bisa dia tahan lagi.
"Aku akan mendapatkan kamu" lirihnya.
***
Pagi yang sangat cerah seperti wajah Syafina pada pagi itu, dia berdandan di depan kaca rias memakai make up tipis. Rambutnya yang setengah basah dibiarkannya sementara tergerai belum dihijabnya.
Khalid yang sudah selesai bersiap dengan sabar menunggu ibu hamil cantik ini berdandan. Gerakannya jadi agak lamban karena tubuhnya yang sudah menonjol kedepan maupun belakang sudah terasa sangat berat. Hari ini usia kehamilannya sudah 30- 31minggu, dia akan kontrol kehamilannya bersama suaminya.
Syafina sudah selesai berdandan, lalu dia kembali mengahadap ke suaminya dengan maksud ingin komentar dari suaminya.
"Sudah cantik kayak bidadari saja,"
__ADS_1
Syafina jadi tersenyum malu, membuat wajahnya jadi kelihatan tambah imut.
"Udah jangan senyum senyum godain abang, nanti nggak jadi berangkatnya."
"Ihh sapa yang godain, abang sih mudah sekali tergoda baru disenyumin saja kok"
"Haha, tergoda dengan istri sendiri yang makin bahenol"
"Ayuk ah, cepetan sudah jam delapan nih"
***
Khalid dan Syafina berada didalam ruang periksa, dokter sedang melakukan USG.
"Perkembangan janin baik, letak kepala, tafsiran berat 2000 gram. Nah itu lihat dia aktif sekali nendang nendang tangannya menutupi wajahnya, sayangnya jadi nggak kelihatan wajahnya. " Dokter Diandra menjelaskan.
"Alhamdulillah," sahut Syafina dan Khalid bersamaan.
"Saya resepkan asam folat saja ya untuk sebulan, makannya seperti biasa menu seimbang"
"Baik dok" ujar Syafina, dia memang sudah mengerti yang disebut menu seimbang.
Pulang dari periksa hamil mereka berjalan jalan ke taman kota, Syafina menikmati es krim berbagai macam rasa. Khalid menuruti saja keinginan Syafina yang nggak seberapa tapi cukup membuatnya bahagia itu.
Sepasang mata menatap mereka penuh dengan kebencian, Sherina tak tahan untuk melihatnya. Lalu dia mendekat dan menarik tangan Khalid.
"Abang kau tega sekali sama aku, aku hamil sendiri aku juga butuh perhatian kamu"
"Apa lagi Sherin?, kau sudah dapatkan semua hartaku, jika kau inginkan diriku juga itu sungguh tak adil buat Syafina. "
"Luangkan waktumu sedikit saja bang, " Sherina merengek dan bersimbah air mata.
Syafina lalu membisiki sesuatu pada suaminya.
"Bang temani saja dia dulu, biar aku disini"
"Tidak Fina, jika aku pergi dengannya dia akan menjebak abang lagi. Sherin punya seribu akal licik"
"Sebentar saja bang 30 menit saja, ajak dia bicara agar mengerti. Abang kan belum pernah bicara dari hati ke hati sama Sherin. "
"Baiklah, Fina disini saja ya. Hati hati jaga diri ya ?"
"Iya bang pergilah"
Khalid akhirnya mengajak Sherina ke sebuah cafe didekat sana. Untuk berbincang mencoba membuat Sherina mengerti dan mengakhiri semuanya.
__ADS_1
****