Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 94


__ADS_3

Fatimah sangat cemas dengan kondisi Sherin, ketika ia sampai Sherin sudah tergeletak di depan pintu dapur, entah berapa lama dia pingsan. Dengan di bantu Linda Fatimah mengangkat Sherina ke dalam mobil lalu dilarikan kerumah sakit.


Di UGD Sherina sudah sadar dari pingsannya. Dia menanyakan Khalid Pada ibu Fatimah.


"Ibu, kapan bang Khalid menjengukku, aku hanya ingin ketemu dia. Aku tak mau dirawat"


"Sherin, ibu akan pastikan Khalid pulang malam ini juga, tapi kamu harus dirawat Kamu sangat lemah. "


"Benaran ya bu, suruh bang Khalid menjengukku"


"Iya, pokoknya malam ini Khalid harus pulang dari liburannya"


"Enak saja Syafina liburan, sementara aku menderita sendirian" batin Sherina.


"Ibu, aku ingin bang Khalid yang menungguiku ini keinginan anak kami bu"


"Iya, ibu telpon Khalid dulu ya". Fatimah mengelus elus punggung Sherina.


****


"Assalamuaaikum bu"


"Wa alaikum salam Khalid pulanglah. Sherina sangat lemah, dia tadi ibu temukan pingsan di dapur. Sekarang dia dirawat"


"Iya bu, besok saja ini sudah malam. Kasihan Syafina kami baru saja sampai di kota A siang tadi, masa malamnya harus pulang lagi"


Syafina yang baru dari kamar mandi di dapur mendengar ucapan suaminya, dia lalu duduk di tempat tidur memperhatikan suaminya bicara di telepon.


"Tapi Sherin ingin kamu yang nemanin dia"


"Bu plis, aku sendiri juga lelah jika harus pulang malam ini juga"


"Tapi janji ya pulang besok? "


"Insha Allah" Khalid menutup sambungan teleponnya. Khalid menarik nafas dalam, dan memijit dahinya dengan jemarinya sendiri.


"Bang, apa ibu meminta kita pulang? "


"Iya, Sherina sakit dia dirawat"


"Kalau gitu ayolah kita pulang saja, Sherin butuh abang"


"Tidak, kamu kenapa sih Fina, apa kamu benar benar merelakan abang dengan Sherin, kamu nggak mau mempertahankan suamimu? "


"Aku bisa apa lagi bang, dalam hati aku tak rela. Tapi mau tak mau aku harus mendukung abang, walaupun abang harus menikahi Sherin. Aku berusaha ikhlas, aku izinkan abang menikahi Sherin"

__ADS_1


"Syafina, bukan dukungan seperti itu yang abang butuhkan. Abang ingin kamu mempertahankan abang, bukan merelakannya sama orang lain"


Khalid jadi meneteskan air mata, dia butuh sekali dukungan istrinya. Dia frustasi dan lelah dengan keadaan. Melihat itu Syafina jatuh iba melihat suaminya.


"Abang maafin Fina ya, Fina janji akan mempertahankan abang" Syafina menghapus air mata dipipi suaminya dengan jemari. Dalam hati ia sangat iba melihat suaminya.


"Janji ya Fin pertahankan abang, abang tak akan menikahi Sherina. Jika besok abang memberikan seluruh harta abang untuk Sherina, kamu masih mau kan mendampingi suami miskinmu? "


"Abang ngomong apa sih, tentu saja aku akan mendampingi suamiku bagaimanapun keadaanyannya." Syafina mengelus pipi suaminya, lalu dia mencium dahi suaminya. Khalid merasa ada ketenangan menelusup kedadanya.


Syafina lalu mendekatkan tubuhnya kepada suaminya, dia memeluk suaminya itu. Syafina tahu dipelukannya Khalid akan merasa tenang dan kuat. Khalid membalas pelukan istrinya, tubuh Syafina yang hangat seperti mengalirkan energi padanya.


****


Dalam perjalanan kembali ke kota B, Khalid banyak diam. Berkali kali Syafina memancingnya untuk mengobrol, tapi dia seperti tak ada semangat, dia lebih memilih diam dan menjawab seperlunya pertanyaan Syafina kepadanya.


Khalid sepertinya sangat terpukul, hari ini dia akan mengurus perpindahan aset miliknya menjadi milik Sherina.


"Ah apa aku egois sekali ya, lebih memilih suami miskin dan membiarkannya hidup menderita. Seharusnya suamiku masih bisa menikmati jerih payahnya selama ini" batin Syafina dalam hati.


"Abang yakin akan memberikan semua harta abang kepada Sherin? "


"Iya abang yakin" jawab Khalid tanpa menoleh, dia fokus dengan jalan di depannya.


"Maafin Fina ya bang, abang sudah susah payah membangunnya dari nol Hanya demi aku abang memberikannya kepada Sherin. "


Mendengar itu Syafina jadi semakin yakin suaminya sangat mencintainya, bukankah laki laki akan senang jika istrinya mengizinkan dia berpoligami. Tapi kenapa suaminya malah kebalikannya. Khalid lebih memilih hidup miskin daripada berpoligami.


****


Dendi sudah mendapatkan informasi tentang Tio Ardana Putra, tapi dia akan menjelaskan kepada Khalid setelah Khalid sampai di kota B saja. Karena pagi ini Khalid sudah menelponnya akan kembali ke kota B pagi ini.


Ada rahasia yang besar tentang masalalu Tio yang harus diketahui Khalid, apakah ini berkaitan dengan penyerangan terhadap Syafina atau hanya kebetulan belaka. Nanti setelah Khalid kembali akan ia ceritakan semua.


****


Khalid dan Syafina sudah sampai dirumah sakit, dimana ruang tempat Sherina dirawat.


"Khalid coba kamu suapin Sherina, siapa tahu dia mau makan jika kamu yang suapin, katanya dia ingin papa anaknya yang suapin dia" kata Fatimah.


Khalid tak bergeming dari tempatnya berdiri, dia hanya memandang Sherin. Syafina menggamit tangan suaminya.


"ayolah coba saja dulu" pinta Syafina.


Khalid menggeleng, kondisi Sherina yang lemah tak membuatnya merasa kasihan bahkan dia merasa berhadapan dengan seekor ular yang berbisa.

__ADS_1


"sekali ini saja bang" ucap Syafina lagi. lalu dia menarik tangan suaminya agar mendekat dengan Sherina.


"ehmm, mungkin Syafina sudah bisa berbagi dengan Sherina" gumam Fatimah dalam hati, dia bahagia melihatnya.


Syafina mengambil mangkok berisi bubur, dan memberikannya kepada suaminya. Khalid mencoba menyuapi Sherina, dengan senang hati Sherina menerimanya. Terlihat Sherina berusaha menelan bubur itu, dan Khalid menyuapinya lagi, dan tiba tiba Sherina memuntahkan bubur itu kembali. Perutnya tak mampu menerimanya, Fatimah secepatnya mengambil ember agar Sherina muntah kedalam ember saja. Sherina terlihat sangat lelah karena seluruh isi perutnya dimuntahkan.


"aneh" gumam Syafina.


"kalau kamu nggak bisa makan bubur, minum saja teh hangat ini dulu" kata Fatimah. Sherina meminum teh hangat yang diberikan Fatimah.


Khalid berdiri terpaku melihatnya, dulu Syafina tak seperti ini pikirnya.


"katanya dia ingin papa dari anaknya yang menyuapinya, tapi kok setelah disuapin abang dia malah muntah hebat?" Syafina bertanya dengan dirinya sendiri.


"Bu bisa kita bicara" Khalid lalu duduk di Sofa. Fatimah mengikutinya.


"mau bicara apa? "


"bu, aku benar benar tak bisa menikahi Sherina, Syafina sudah mengikhlaskan aku tapi aku tak bisa menyakitinya bu"


"tapi aku mengandung anakmu bang" Sherin menimpali pembicaraan Khalid dan ibunya.


"yang istriku adalah Syafina. Sherina hanya korban dari kecerobohanku dan kecerobohan dia juga. Syafina tak pantas jadi korban perbuatan kami"


"abang kau tak bisa begitu," sherina protes.


"aku akan tanggung jawab, setelah dia lahir, aku akan membawanya pulang. Syafina pasti akan menganggapnya anaknya sendiri"


"hmm benarkah Syafina?" Fatimah bertanya dengan menatap Syafina dalam.


"iya bu, aku akan menganggapnya sebagai anakku"


"ibu sih setuju saja, tapi bagaimana dengan Sherin"


"aku tak setuju bu, aku ingin mengurus anakku sendiri. Aku ingin diakui sebagai istri sah"


"Sherin, aku bisa memindahkan semua hartaku menjadi milikmu, hari ini juga aku lakukan jika kamu mau"


"cihh segitu sayangnya kamu dengan gadis kampung itu, kamu sanggup hidup miskin hanya demi gadis kampung itu" Sherin mengumpat dalam hati.


"aku tak mau hartamu"


Dalam hati Sherina tergiur dengan tawaran Khalid, tapi jika ia bisa mendapatkan Khalid sudah pasti dia mendapatkan hartanya juga.


"hmm aku lebih baik bertahan untuk dinikahi saja"

__ADS_1


****


__ADS_2