Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 15


__ADS_3

Fatimah sedang merawat tanaman hiasnya, menyiramnya dan memberi pupuk sebagian tanaman hias yang belum sempat di pupuknya. Sherin membantunya.


Tert tert ponselnya berbunyi, tapi ponsel itu ditaruhnya dimeja ruang tamu.


"Sherin ambilkan ponsel ibu"


Sherin lalu mengambil ponsel itu


"Assalamualaikum Khal"


"Wa alaikum salam bu, ibu lagi ngapain? "


"Ibu nyiram kembang, Sherin yang bantu"


"Maaf bu baru ngasih tahu sekarang, aku sama Syafina sudah pindah kerumahku bu. Hari selasa kemaren kami pindah"


"Memangnya rumahmu sudah selesai? "


"Sudah bu, tapi plafon belum siap semua"


"Perabotan disana belum ada, sudah dibeli belum?"


"Belum bu"


"Ajaklah istrimu belanja biar dia yang memilih apa yang disukainya."


"Iya bu, sudah bu ya. kalau gitu aku ajak fina belanja sekarang. Assalamualaikum".


"Waalaikum salam"


Khalid menutup telponnya.


"Buk, bang Khalid pindah rumah barunya ya? " tanya Sherin.


"Iya Sher, baguslah itu lebih baik untuk mereka, tau nggak tadi ibu bilang perabotan dirumahnya belum ada, ajak istrimu belanja. eh langsung mau di ajak sekarang juga sama Khalid istrinya belanja"


"Oo enaklah bu, rumah baru kan perabotan harus baru juga, Sherin kedalam ya bu" Sherin lalu masuk ke dalam rumah.


****


"Fina ayo siap siap kita belanja"


"Sekarang?, belanja apa?"


"Iya sekarang, beli perabotan buat rumah kita. apa yang perlu dibeli"


"Banyak yang perlu bang, ada uangnya nggak?"


"Ada, abang buka celengan"


"Iya deh, tunggu aku siap siap dulu" Syafina segera bersiap siap. Setelah selesai mereka berdua berangkat.


Di perjalanan Syafina merasa penasaran dengan suaminya. "Kemaren aku baru tahu dia punya mobil, dan itu mobil bagus, eh besoknya ketahuan punya rumah. Rumahnya pun tergolong rumah bagus, ukurannya juga lumayan besar. Hari ini ketahuan punya restoran, dia ini punya apalagi sih, memangnya kerjaan dia apa".


"Bang, abang kerjanya apa sih bang? "


"Kan kemaren sudah tahu, sudah ikut abang ke kantor.


"Belum tahu.. " jawab Syafina


"Kamu lihat di luar kantor itu tulisan apa?


"MK Group"


"MK itu kepanjangannya apa"


"Nggak tahu, Muhammad Khalid mungkin"


"Bukan mungkin lagi, memang itu kepanjangannya"

__ADS_1


"Jadi abang pemilik MK Group itu?"


"Ehmm" Khalid mengangguk.


"Yang katanya ganteng, playboy, tapi baik..yang ku dengar begitu dari orang".


"Playboy apaan, gosip darimana? "


"Temanku Helen yang bilang"


"Helen, aku nggak kenal"


"Mungkin dia tahu dari orang lain yang pernah jadi korban abang"


"Jangan percaya, mana ada playboy mau dijodohin"


"Mau playboy atau apa, yang jelas abang suami aku, ingat nggak janji kemaren lupain masa lalu"


"Iya abang ingat, ngomong ngomong kamu selama ini nggak tahu apa apa ya tentang aku?"


"Nggak tahu, yang aku tahu cuma om Khalid anak dari nenek Fatimah, selebihnya nggak tahu"


"Nggak pernah cari tahu? "


"Buat apaan cari tahu tentang om om"


"Aku belum tua Fina, cocoklah buat suami kamu, jangan panggil om".


"Lah emang kamu om aku kan, baru sekarang saja jadi suamiku"


"Iya sih,".. Khalid akhirnya mengalah.


Khalid memarkirkan mobilnya di depan sebuah toko furniture terbesar di kota itu. Kemudian mereka sibuk memilih apa yang harus dibeli.


"Aku rasa sudah cukup ini bang, satu tempat tidur, satu lemari pakaian, meja rias, meja makan, kursi tamu, lemari"


"Nggak ada yang lain lagi, kalau nggak ada lagi kita ke toko elektronik, ini sudah jam empat"


"Nggak. Kan belinya cuma satu satu, ayolah kalo sudah selesai, biar abang suruh totalin"


"Sudah cukup kok"


Setelah dari toko furniture, mereka ketoko elektronik. lama memilih disana Syafina merasa kehausan.


"Bang, aku ke minimarket seberang sana ya, beli minum"


"Iya hati hati".


Syafina bejalan ke mini market itu, sampai disana Syafina membeli air mineral dan snack. Setelah keluar dari minimarket Syafina langsung meminum air mineral sehingga habis setengahnya dari botol.


Syafina segera kembali ke toko elektronik didepan mini market itu, ketika menyebrangi jalan sebuah motor dari arah kanan melaju dengan kecepatan tinggi Syafina tidak melihatnya. Ketika motor itu hampir menabrak Syafina, Khalid melihatnya dari seberang jalan.


"Syafinaaa awaas" Khalid berlari, tapi terlambat dan terdengarlah suara benturan yang keras.


"buuughh" diiringi suara jeritan Syafina. Syafina didorong oleh seseorang sehingga orang itulah yang terserempet. Sementara pengendara motor itu melarikan diri.


Khalid berlari mendekati Syafina,


"Kamu nggak apa apa Fina" tanya Khalid.


"Nggak apa apa, cuma lututku sakit membentur aspal". Khalid lalu membimbing Syafina ke pinggir jalan.


Sementara orang orang yang berada di dalam mini market keluar membantu orang yang menyelamatkan Syafina. Pria itu berdiri dengan tertatih lalu menghampiri Syafina.


"Kamu nggak apa apa fina ?" orang itu kelihatan Khawatir.


"Nggak apa apa mas, mas nggak apa apa juga kan ?. Ternyata orang itu adalah Arsya.


"Kamu kenal dia Fina ? "

__ADS_1


"Iya bang, ini mas Arsya"


"Makasih sudah menyelamatkan istri saya".


"Iya". jawab Arsya.


"Kaki anda lecet, kelihatannya keseleo juga biar saya bawa anda kerumah sakit"


"Tidak usah. Saya bisa obati sendiri" Arsya menolak.


"Benaran tidak apa apa ?" tanya Khalid


"Tidak apa. Fina lain kali kamu itu hati hati kalau nyebrang, lututmu memar."


"Iya mas, makasih ya"


Arsya mengangguk.


"Saya pulang ya" Arsya menoleh kepada Khalid. Lalu dia berjalan ke dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat itu.


"Iya, terimakasih banyak" Jawab Khalid.


"Ayo kita pulang, sudah hampir jam lima. Barang barang di antar besok pagi". lalu mereka pulang kembali kerumah.


Didalam perjalanan, Khalid merasa penasaran dengan Arsya.


"Siapa Arsya, rasanya aku tak asing dengan wajahnya, kenapa sepertinya dia sangat perhatian Dengan Syafina." batin Khalid dalam hati.


****


Menjelang tidur Khalid hendak menanyakan siapa Arsya kepada Syafina, karena dia sangat penasaran.


"Arsya itu siapa sih Fin, aku rasanya nggak asing sama wajahnya"


"Dia dokter di UGD rumah sakit tempat aku kerja, dia kemaren kan datang ke resepsi kita"


"Oo, pantasan wajahnya nggak asing. Tapi kok dia perhatian banget sama kamu ya? "


"Mungkin karena sudah lama kenal, hampir tiap hari ketemu soalnya"


"Oh gitu, berarti besok besok ketemu lagi donk"


"Nggak, aku kan mulai hari ini sudah pindah ke ruangan lain nggak di UGD lagi."


"Syukurlah"


"Kenapa memangnya bang"


"Nggak nyaman saja abang lihat cara dia memandang kamu, apa jangan jangan kamu mantan dia"


Syafina diam saja, dia sedang tak ingin membahas mantan.


"Benar nggak, dia mantan kamu kan Fin,? abang jujur loh sama kamu soal Marsha"


"Kami pernah dekat, tapi tak pernah pacaran mungkin seperti Abang sama Marsha"


"Oo gitu, ya sudahlah. Yang penting untuk sekarang dan selamanya jaga hatimu buat abang ya". Khalid menggenggam tangan Syafina lalu mencium tangan istrinya itu.


"Iya bang," Syafina menatap wajah suaminya, kali ini dia memberanikan diri menatap suaminya. Lama mereka berpandangan, sehingga Syafina salah tingkah sendiri. Khalid tersenyum geli melihat istrinya salah tingkah.


Khalid merangkul Syafina dan menariknya menyender ke dadanya. Khalid mengusap rambut istrinya itu. Tercium wangi rambut Syafina, membuat jantungnya berdebar kencang Sementara Syafina seperti biasa merasa tegang bila dia sangat dekat dengan Khalid. Tapi kali ini dia berusaha menikmati dipeluk oleh suaminya, tercium wangi parfum suaminya yang maskulin.


Khalid menikmati momen mesranya bersama istri, dia terus membelai rambut istrinya yang harum dan lembut, diciuminya rambut istrinya itu. Terdengar olehnya nafas Syafina dan terasa nafas itu di lehernya.


"Fina.." Khalid menatap wajahnya Syafina.


"Kamu sudah tidur? cepat sekali dia tidur" gerutu Khalid, lalu dia memindahkan kepala Syafina keatas bantal dengan hati hati.


"Mungkin dia kecapean" gumam Khalid, lalu dia menyelimuti istrinya.

__ADS_1


****


__ADS_2