
Reyhan dan Dendi sedang duduk di sofa diruangan keluarga rumahnya. Jarang sekali mereka begini karena kesibukan masing masing.
"Bagaimana kabar mama hari ini Rey,"
"Mama sudah banyak makannya, sudah bisa duduk lebih lama juga"
"Maaf ya aku akhir akhir ini sibuk, dikantor lagi banyak kerjaan"
"Nggak apa apa,"
"Kamu itu sekarang kurus banget lo Rey, sudahlah jangan terlalu memikirkan mantan kamu itu"
Reyhan diam saja, dia memang tidak teratur makan dan jarang istirahat, karena sibuk mengurus mamanya, juga tak bisa dipungkiri dia sangat terluka ditinggal Syafina menikah.
****
Syafina sedang memasak untuk makan malam, untuk malam ini dia hanya bisa masak seadanya karena tadi sore hanya belanja sedikit, karena dirumahnya belum mempunyai kulkas. Syafina akan memasak Ikan goreng yang di bumbui dengan tepung bumbu sachetan, sayur bayam dan sambal cabai merah.
"Abang bantuin ya" Khalid datang menghampirinya.
"Nggak usah, abang duduk saja"
"Duduk dimana, nggak ada kursi disini"
"Ya sudah berdiri saja" kata Syafina sambil membalikkan ikan goreng di dalam wajan.
"Sini abang ikat rapi rambutnya" Khalid menarik ikat rambut syafina, lalu mengikatnya kembali rambut istrinya itu.
"Kalau masak itu rambut dirapikan" kata Khalid dekat telinga Syafina.
"Ihh geli, jangan dekat dekat kuping ngomongnya. Nafas abang bikin geli" Syafina menghindar dari suaminya.
Khalid tersenyum melihat istrinya, padahal dia memang sengaja membuat istrinya merasa geli. Khalid lalu membenarkan tali celemek Syafina yang tidak terpasang dengan baik. Setelah membenarkan tali celemek Syafina dia memeluk Syafina dari belakang.
"Abang gangguin saja, abang kekamar gih". Syafina mengusir Khalid karena dia merasa deg degan diperlakukan Khalid seperti itu.
"Nggak mau" jawab Khalid masih memeluk Syafina.
"Terus maunya apa ? " tanya Syafina, sebenarnya Syafina mulai takut.
"Oh tuhan aku mau lari kemana ini" batin syafina, dia merasa jantungnya berdebar.
"Mau bantu kamu masak"
"Masakin sayur bayamnya, bisa kan? "
"Bisa, sini" akhirnya Khalid melepas pelukannya, Syafina bisa bernafas lega.
Mereka memasak untuk makan malam berdua, tak lama selesailah menu sederhana mereka malam itu.
"Makannya dimana ini" tanya Syafina.
"Di lantai saja lesehan, tunggu abang ambil karpet. Kan ada karpet dari kosan kamu tadi" Khalid lalu mengambil karpet itu kemudian membentangnya dilantai.
Akhirnya Syafina dan Khalid menikmati makan malam mereka berdua.
"Kayaknya punya kamu lebih enak Fin"
"Sama saja bang, "
"Lebih enak punya kamu Fin, ikannya lebih segar mungkin. Suapin abang"
Syafina lalu menyuapi Khalid dengan tangannya.
"Bener, lebih enak punya kamu Fin, suapin lagi"
"Abang modus ah". Tapi Syafina tetap menyuapi suaminya. Sementara Khalid tersenyum merasa menang.
Akhirnya selesailah mereka makan malam, Syafina mencuci peralatan makan Mereka. Sementara Khalid masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar di bentangnya kasur yang dibawa dari kosan Syafina.
"Bang perempuan tadi siang mantan pacar kamu ya ? "
"Sebenarnya abang nggak pernah pacaran sama dia"
"Masa sih nggak pacaran, terus kenapa dia begitu? "
"Benar Fin, abang nggak pernah pacaran sama Marsha"
"Ya udah nggak mau ngaku juga nggak apa apa. Yang penting kamu bisa lupain dia" Syafina tersenyum.
"Benaran, kami nggak pacaran, tapi dia anggap abang pacarnya.. kamu cemburu ya? "
"Cemburu? nggak tahu... hmm apa ya ini namanya. Rasanya aku nggak suka lihat dia. Pengen aku semprot pakai saos pedas mukanya"
"Kamu itu cemburunya sadis banget Fina, abang nggak nyangka tadi kamu nyeret dia keluar. "
"Aku nggak cemburu !"
__ADS_1
"Itu cemburu namanya Fina... ". Khalid mencubit gemas pipi istrinya. Khalid manatap wajah Syafina.
"Tidur yuk" ajak Fina yang mulai merasa grogi.
"Nggak belum ngantuk"
"Aku tidur duluan" Syafina berbaring lalu menarik selimut sampai ke dadanya.
Khalid menarik selimut Syafina dan memeluk istrinya itu dari belakang.
"Aaa, abang apaan sih"
"Ya ampun baru juga dipeluk,"
"Lepasin plis.. aku jadi deg degan" Syafina berusaha lepas dari pelukan suaminya. tapi Khalid malah memeluknya tambah erat.
"Nggak, kamu diam saja bisa nggak !"
Syafina diam, dia mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar dan menikmati moment itu.
"Bang sudah donk peluknya" pinta Syafina memelas.
"Fina mau sampai kapan sih kamu takut sama abang ?" Khalid masih memeluk Syafina.
"Sudah hampir dua minggu lo kita nikah,"
"Aku takut bang"
"Ya Tuhan kamu kira aku akan nyiksa kamu, kamu ini lucu Fin. Orang pacaran saja sudah biasa begini malahan lebih. Ini kamu sudah jadi istri masih saja takut" Khalid melepaskan pelukannya lalu duduk disamping istrinya.
"Maafin Fina bang" Syafina mendongak menatap suaminya.
"Abang nggak akan maksa kamu, abang tunggu kapan kamu siap. Tapi kalau abang dekat dekat jangan ketakutan terus ya".
"Iya bang, maafin Fina ya"
"Ya, tidurlah". Khalid mengusap rambut Syafina. Ada rasa kasihan Khalid pada Syafina, Khalid berbaring kembali berusaha untuk memejamkan matanya.
"Mungkin dia benar benar ketakutan bila aku dekati, aku harus bersabar"
*****
Pagi Hari di kediaman Andri wijaya.
"Arsya, kapan kamu kenalin papa sama pacarmu itu, siapa namanya papa lupa lagi". kata Andri wijaya, lalu ia menghirup kopinya.
"Menikah, jadi kamu ditinggalin pacarmu? "
Arsya diam saja, tidak menanggapi pertanyaan papanya barusan.
"Sama siapa dia menikah". Andri wijaya penasaran siapa orang yang menikung putranya.
"Khalid"
"Muhammad Khalid maksudmu? "
Arsya mengangguk.
"Ternyata Syafina sama saja dengan wanita lainnya, wanita matre mencari pria kaya"
"Syafina tidak seperti itu pa, dia dijodoh orangtuanya".
"Masih membelanya, kamu jangan dibutakan cinta Arsya"
"Pa, Syafina memang meninggalkanku tapi dia tidak mencari pria kaya. Memangnya siapa yang lebih kaya dari papa di kota ini".
"Papa memang terkaya Arsya, tapi kamu tidak. Kamu hanya seorang dokter yang bekerja di rumah sakit pemerintah"
"Pa.. jangan meremehkan pekerjaanku"
"Papa tidak meremehkan pekerjaanmu sebagai dokter. Papa bisa saja mendirikan rumah sakit yang besar dan lengkap untuk kamu pimpin. Tapi kamu malah memilih jadi pegawai negeri".
"Pa, aku tidak suka papa meremehkan pekerjaanku sebagai dokter dan sebagai abdi negara pa".
"Pacarmu sendiri meremehkanmu, dia memilih pengusaha yang kaya"
"Sudahlah pa, aku tidak mau bertengkar dengan papa". Arsya berlalu meninggalkan papanya, dia bersiap siap untuk kerumah sakit.
****
Khalid dan Syafina berangkat kerja berbarengan, akhirnya mereka sampai di depan rumah sakit Khalid menepikan mobilnya.
"Aku duluan ya" kata Syafina dia menyalami suaminya.
"Cium tangan suami"
Syafina menatap suaminya ragu apakah akan mencium tangan suaminya atau tidak. Lalu dia memutuskan untuk mencium tangan suaminya.
__ADS_1
Khalid lalu dengan cepat mencium kening istrinya itu, muka Syafina jadi berubah merah jambu.
"Aku turun ya bang" Syafina bergegas turun.
"Ha ha, baru dicium kening saja sudah merah jambu mukanya, memangnya dia selama ini nggak pernah pacaran apa ? " batin Khalid. lalu dia kembali melajukan mobilnya menuju kantornya.
Di ruang perinatologi Syafina bertemu dengan Renna. Renna bersiap siap pulang karena dia tadi piket malam.
"Ren, ruang kak Eka mana. Aku mau melapor"
"Sini kuantar". Renna lalu menggandeng tangan Syafina mengajaknya ke ruangan kepala ruangan perinatologi.
"Kak Eka ini Syafina, dia gabung dengan kita mulai hari ini".
"Silahkan duduk Fina" kata Eka.
"Aku permisi ya kak, Fina" pamit Renna.
Eka dan Syafina mengangguk.
"Kak, aku kerja disni mulai hari ini"
"Selamat bergabung di perinatologi ya Fin, semoga betah. Sini kakak perkenalkan kamu dengan yang lain dan kakak beritahu apa saja tugas perawat di ruangan ini" Eka berdiri lalu masuk keruang perawatan perinatologi, Syafina mengikutinya.
Setelah selesai perkenalan dan mengetahui apa saja tugasnya di ruang perinatologi Syafina minta izin kepada Eka untuk pergi ke UGD.
"Kak, boleh minta izin ke UGD, Saya mau pamit sama buk Eva.
"Oh boleh, jangan lama lama ya"
"Iya kak". Syafina lalu bergegas berjalan menuju UGD, sesampainya di UGD dia langsung ke ruangan bu Eva.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, ee ada penganten baru, masuk Fin"
Syafina duduk di kursi dihadapan meja buk Eva.
"Bu, sudah baca surat pindah aku kan bu"
"Sudah Fina, kenapa sih kamu pindah? "
"Aku nggak enak sama Pak Arsya dan kak Rey jika masih di ruangan ini bu".
"Ibu mengerti, baik baik saja di ruangan barumu ya. Arsya benar benar hancur kamu tinggalkan nikah Fin, dia jadi semakin pemarah sekarang. Tubuhnya juga jadi kurus".
"Masa sih bu"
"Setelah dapat undangan dari kamu dia langsung nangis, ibu sih nggak lihat tapi banyak yang melihatnya. Setelah itu dia nggak masuk tiga hari, nggak ada kabarnya".
"Kalau Reyhan gimana bu"
"Reyhan malah jadi sering diam Fin, tapi dia baru masuk kerja beberapa hari ini. Dia kan sibuk ngurus mamanya sakit"
"Oh gitu, o ya Fina kembali ke ruang perinatologi ya bu"
"Iya silahkan"
Syafina lalu keluar dari ruangan bu Eva, ketika lewat depan meja Arsya dilihatnya Arsya menatapnya tajam. Syafina menundukkan wajahnya pura pura tak melihat.
Di ruangan barunya Syafina banyak bertanya dengan temannya, tak susah baginya mempelajari tindakan di ruangan perinatologi. Karena pada dasarnya sama. Hanya disini pasiennya adalah bayi usia 0 sampai 28 hari.
Khalid menjemput istrinya pulang kerja, lalu mereka singgah di Restoran Bunda
"Makannya di bungkus saja ya Fin, kita makan dirumah"
"Kok beli makan disini terus bang? "
"Katanya kamu suka, abang pesan dulu ya. kamu tunggu didalam mobil saja". Lalu Khalid keluar, tak lama dia datang kembali membawa dua bungkusan.
"Bang kamu tadi belum bayar, ku lihat dari sini"
"Nggak apa apa"
"Nggak apa apa gimana? aku baru ingat kemaren juga abang nggak bayar"
"Ya nggak usah bayar, restorannya aku yang punya"
"Masa sih bang? "
"Iya seratus persen saham di sana punya abang"
"Begitu ?, kenapa nggak bilang dari kemaren"
"Kamu nggak nanya, ayolah kita pulang. Aku nggak kembali lagi kekantor setelah ini". Lalu Khalid melajukan mobilnya pulang kerumah.
****
__ADS_1