Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 55


__ADS_3

Khalid sampai di rumahnya setelah malam hari, dia merasa sangat lelah karena perjalanan yang jauh. Khalid masuk ke dalam kamarnya, ingin menemui istrinya. Dia sudah merindukan Syafina. Baginya Syafina lah obat lelahnya.


Syafina melihat ponselnya, dia sedang mengobrol dengan Cintya di Whatsapp. mereka saling curhat tentang kehamilan mereka.


"Hai bunda, lagi ngapain. Asyik benar nggak sadar suami sudah pulang"


"Abang sudah pulang. Aku lagi ngobrol sama Cintya"


"Ngobrol apaan, asyik bener? " Khalid mendekati istrinya lalu mencium dahi istrinya.


"Biasa bang, ibu hamil"


"Oo, ibu hamil abang ini sudah makan belum ?"


"Baru saja mau kebawah makan, Cintya kirim pesan jadi balas balasan pesan dulu".


"Biar abang ambil makanannya ya, "


"Nggak usah bang, abang baru saja datang. Mandi saja dulu ganti pakaian"


"Iya abang mandi dulu, nanti makannya bareng ya"


"Iya" Syafina mengangguk.


Khalid pergi kekamar mandi, sementara Syafina masih melanjutkan obrolannya dengan Cintya. kemudian dia menyiapkan pakaian untuk suaminya.


Setelah selesai mandi Khalid mengganti pakaiannya yang telah disiapkan Syafina.


"Kamu yang nyiapin pakaian abang?"


"Iya siapa lagi? "


"Tanganmu kan masih sakit"


"Kan tangan kiri nggak sakit bang, aktifitas yang harus dua tangan memang Fina nggak bisa".


"Oo gitu, makasih ya Fin. Yuk turun kita makan".


Di meja makan, sudah terhidang lauk dan sayur, tapi nasi belum di hidangkan. Syafina mengambil piring untuk dimasukkan nasi.


"Fina, biar abang saja. Katanya nggak bisa aktifitas dengan dua tangan"


"Fina coba dulu bang, pakai satu tangan juga bisa kok"


"Fina, biar abang"


"Nggak, abang duduk saja. Biar aku yang melayani abang, abang pasti lelah"


"Iya deh, tapi pelan pelan ya. " Khalid memperhatikan istrinya yang berusaha melayaninya, walaupun kesusahan hanya dengan satu tangan.


Syafina akhirnya selesai juga menghidangkan nasi di meja makan.

__ADS_1


"Tapi abang yang suapin kamu ya? "


"Fina bisa sendiri abang... "


"Nggak, jangan bantah. Mana bisa kamu makan kidal, nanti nasimu malah masuk ke telinga"


"Tadi siang juga Fina makan sendiri kok"


"Tapi kesusahan kan, nasinya kebanyakan tumpah. Udah nurut saja sama suami"


Syafina akhirnya nurut saja dengan suaminya. Suaminya menyuapinya satu sendok kemudian menyuapi dirinya sendiri satu sendok pula, begitulah seterusnya sampai makanannya habis.


"Melihat perlakuannya dengan diriku, aku yakin bang Khalid sangat mencintaiku. Mana mungkin dia bisa lembut begini dengan wanita yang tak dia cintai".


"Kenapa Fin, natap abang begitu? "


"Kangen Karena seharian nggak ketemu"


"Gombalin abang ya, kira kira tangan itu nggak apa apa nanti kalau abang minta upah suapin kamu? "


"Hah, apaan abang ini dikit dikit minta upah, nggak ikhlas bener bantu istri". Fina merasa geli dengan kata kata suaminya, dia tahu suaminya sudah sangat merindukannya.


"Tentu abang akan dapatkan upahnya bang" kata Syafina dalam hati, dia tersenyum geli.


Khalid membereskan piring kotor dan menaruhnya diwastafel.


"Hayoo kekamar, abang mau upahnya satu juta"


"Banyak amat.." Syafina mencubit pinggang suaminya. Mereka berdua kembali kedalam kamar, Khalid menggandeng istrinya menaiki tangga.


"Fin, abang ada permintaan sama Fina. Tapi kalau nggak setuju jangan marah sama abang ya"


"Apa itu bang? "


"Kamu berhenti saja kerja ya Fin?"


"Kenapa bang? "


"Sebenarnya abang sangat khawatir sama kamu, takut kamu kenapa kenapa. Soalnya kamu kan sering kerja malam juga, kamu perempuan"


"Tapi bang perawat di rumah sakit memang banyak perempuan, mereka semua kebagian shif sore malam bang, bukan aku saja"


"Fina, mereka baik baik saja, tapi kamu beberapa kali hampir celaka. Abang takut terjadi sesuatu yang lebih besar sama kamu Fina. "


"Tidak semua kejadian, saat aku pulang dari kerja kan bang."


"Yang jelas ada yang ngikutin kamu Fina, entah siapa orangnya, akan lebih aman jika kamu resign dulu Fin, ingat kamu juga lagi hamil."


"Apa aku boleh kerja lagi setelah aku melahirkan? "


"Lihat kondisi ya Fin, kalau aman dan kamu bisa bagi waktu silahkan kerja lagi"

__ADS_1


"Ehmm, apa orang yang mencelakai aku akan berhenti beraksi setelah aku berhenti kerja, bagaimana kalau dia adalah orang yang dekat denganku? "


"Ya setidaknya resiko berkurang Fina? "


"Bang, bahkan orang itu mengikutiku sampai kerumah, abang ingat aku diserang dirumah pagi itu?"


"Ya Fin, abang tahu. Mulai besok kamu di jaga dua orang pengawal dan ada satu sopir"


"Mereka juga bisa menjagaku di rumah sakit kan bang, ? "


"Fina, jadi kamu nggak setuju berhenti kerja? mengertilah ini semua karena abang sangat menyayangimu "


"Jangan kerjaan aku yang disalahkan bang, semua akan berakhir ketika aku sudah tidak sama abang lagi, itu yang dia inginkan "


"Kamu ngomong apa Fina, abang akan selalu sama kamu "


"Bang..., abang pikir apa motif orang itu. Jelas jelas dia ingin membunuhku, ingin aku mati bang, apa abang nggak kepikir kesana? "


"Fin, apa sejauh itu keinginan orang itu, abang takutnya kita hanya sudzon saja, menerka nerka".


"Abang tak pernah bertanya apakah aku ketakutan dengan semua yang terjadi. nah sekarang tiba tiba ingin aku berhenti kerja. abang pikir pekerjaanku ini yang sial? ".


"Fina, maafin abang. Bukan pekerjaanmu yang salah, abang juga tak berpikir sejauh itu. Mulai sekarang abang akan melindungi kamu dari orang itu"


"Memangnya apa yang membuat orang menyerangku, aku tak punya harta bang. Yang aku punya hanya kamu, kamulah yang orang itu inginkan"


"Fina,, abang tak pernah terpikir sampai kesana."


"Apa dengan aku berhenti kerja orang itu berhenti menginginkan suamiku? "


"Fina, kamu tetap harus berhenti kerja. Karena abang tidak suka kamu ketemu sama Arsya"


"Oke, kalau itu alasannya aku terima bang, aku akan bikin surat pengunduran diri"


"Iya Fin, setidaknya kita usaha Fin, abang janji akan mencari siapa orang yang menyakitimu".


"Ehmm, iya. Sekarang tidurlah. Abang pasti lelah, pergi pagi pulang malam" Fina lalu berbaring dan menarik selimutnya.


"Iya Fin " Khalid pun berbaring disebelah Syafina.


"Apa benar yang diinginkan orang itu adalah aku?, sejauh itu pemikiran Syafina. Aku tak pernah terpikir Kesana, maafin abang Fin karena abang kamu disakiti orang". Khalid melirik Syafina di sebelahnya.


"Buset, sudah tidur. Aku yang lelah dia yang tidur duluan, apa obat yang dimakannya ada efek samping mengantuk ya? atau Fina cuma pura pura tidur." khalid mendekati Syafina, menggoyangkan bahunya.


"Fina, mau pakai lotion nggak?, abang pakaikan ya"


Syafina diam tak bersuara, karena dia memang sudah tertidur.


"Gagal deh, aku dapat upahnya".


Khalid memikirkan kata kata Syafina barusan, apakah benar orang yang menyerang syafina menginginkan dirinya seperti yang dugaan Syafina. Tapi siapa orangnya, rasanya nggak mungkin wanita wanita yang selama ini kukenal sejahat itu. Mereka semua wanita baik baik.

__ADS_1


****


Hayo siapa yang sudah baca tapi belom kasih jempol. 😍


__ADS_2