Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 97


__ADS_3

Di dalam Mobil Syafina memperhatikan dengan telaten rekaman cctv di restoran, sepertinya dia mengenal salah satu tamu pada hari itu.


"Coba bapak putar kembali ke belakang"


Pak Ridho memutar kembali ke belakang, seperti permintaan nonanya.


"Zoomkan pada orang ini pak"


Pak Ridho pun melakukannya.


"Hmm, ini adalah orang yang sama. Dia adalah Tio andara Putra"


"Anda yakin Nona? "


"Sangat yakin pak, apa hubungannya Sherina dengan Tio, atau hanya kebetulan saja Tio makan disana ? "


"Jika kita menaruh curiga tidak ada istilah kebetulan nona, izinkan saya menyelidikinya"


Syafina melihat ke arah pak Ridho.


"Bapak benar, kebetulan bisa kita katakan jika terbukti tak ada hubungan antara Sherina dan Tio"


Pak Ridho mengangguk menyetujui pendapat Syafina.


Perjalanan menuju kota B masih sekitar satu jam lagi, Sesaat mereka terdiam, tenggelam dalam lamunan masing masing. Linda fokus pada kemudinya.


****


Jam 12.05 Syafina telah sampai dikota B, Bertiga dengan Linda dan Ridho mereka berencana ketemuan di cafe JJ. Linda memarkirkan mobilnya dihalaman parkir cafe JJ.


Di cafe itu telah menunggu Heru, dilihatnya bosnya Syafina sudah sampai di cafe itu, dia menyilahkan Syafina untuk duduk, kemudiam menyilahkan dua temannya juga duduk. Sementara dia sudah memesan juice untuk mereka berempat.


"Tunjukkan padaku video itu pak Ridho"kata Syafina kemudian menyeruput juice wortelnya.


Ridho mengeluarkan Tabletnya, lalu dia memperlihatkan rekaman cctv itu kepada Syafina.


"Astagfirullah dia orang yang sama dengan tamu di restoran bunda, Tio Ardana Putra."


"Benarkah nona, apa nona mengenalnya?"


"Iya saya mengenalnya, sepertinya dia sangat dendam sama bang Khalid. Tapi kenapa dia di restoran malam itu ya? "


"Apa mungkin kerja sama dengan Sherina? " tanya Heru.


"Kerja sama untuk apa? "Syafina balik bertanya.


"Untuk itu izinkan kami menyelidikinya nona"


"Oke, kalian selidikah dahulu."


"Baik nona, Hari ini juga kami akan mencari orang yang bernama Tio itu."

__ADS_1


"Ehmm, saya serahkan sama bapak berdua, Linda antar saya pulang sekarang"


"Baik nona"


"Kami segera laksanakan tugas kami sekarang juga nona"


Syafina mengangguk, dalam hati dia sangat berharap Heru dan Ridho menemukan titik terang.


Dari cafe JJ Syafina mengajak Linda singgah dimesjid Agung Annur, untuk melakukan solat zuhur karena adzan zuhur sudah berkumandang.


Setelah selesai solat, Syafina memasukkan sejumlah uang kedalam kotak amal. Ketika membalikkan badan dia berpas pasan dengan imam mesjid itu.


"Ehm bukannya nona, istrinya Khalid? "


"Benar pak," Syafina mengangguk.


"Sampaikan salamku padanya, dari ustad Harizal"


"Baik pak ustad, saya sampaikan" Syafina mengangguk lagi.


"Semoga masalah yang dihadapinya segera berakhir, saya permisi dulu"


Syafina sejenak melongo, darimana pak imam itu tahu suaminya tengah dalam masalah.


***


Syafina sudah sampai dirumahnya ternyata suaminya telah sampai duluan, Mobil Khalid sudah terparkir di halaman. Syafina bergegas masuk dia ingin bercerita dengan suaminya.


Syafina membuka pintu kamarnya, ditempat tidur terlihat Khalid berbaring sambil memijit mijit dahinya sendiri.


Khalid pun bangun melihat istrinya sudah sampai, dia kemudian duduk dipinggir tempat tidur. Syafina lalu berjongkok didepan suaminya.


"Abang lelah? " Syafina menggenggam tangan suaminya, dia tahu pasti suaminya saat ini sedang butuh diperhatikan.


"Abang tidak apa apa, kamu tadi darimana saja? "


"Oh ya bang, aku tadi ke restoran Bunda dikota C abang tahu apa yang kudapat disana? "


"Apa itu? "


"Salah satu tamu restoran malam itu adalah Tio Ardana Putra"


"Kau yakin? "


"Aku yakin bang, dan rekaman cctv di rumah sakit saat aku dijebak juga ada Tio disana dia masuk kedalam kamar dokter. Kemungkinan dia yang memasukkan obat perangsang kedalam botol minuman Arsya"


"Tapi apa yang dilakukannya di restoran, mungkin saja dia hanya kebetulan makan? "


"Abang, pak Heru dan pak Ridho akan menyelidikinya, mereka curiga Sherina kerja sama dengan Tio"


Khalid mengangguk angguk tanda mulai paham.

__ADS_1


"Maafkan abang, seharusnya dari kemaren rekaman cctv itu ditunjukkan padamu, kamu tak perlu susah susah kekota C hari ini."


"Sudahlah, tak apa. oh ya. Tadi aku ketemu ustad Harizal di mesjid, dia kirim salam sama abang "


"Wa alaikum salam, dia bilang apa lagi? "


"Katanya semoga masalah yang abang hadapi segera berakhir."


"Aamiin, insha Allah akan segera berakhir sayang"


"Mau Fina siapin makan? "


"Abang sudah makan Fin, abang mau dipeluk saja"


"Siang siang gini? " Syafina menautkan alisnya, keheranan dengan permintaan suaminya.


Khalid mengangguk, pamer wajah polosnya.


"Ayolah, peluk suamimu" pinta Khalid merengek.


Syafina bangun dari jongkoknya lalu dia duduk ditepi tempat tidur, memeluk suaminya, dagunya diletakkannya diatas pundak suaminya. Sedangkan Khalid melingkar tangannya pada pinggang istrinya.


"Maafkan abang, seharusnya kau tak menyelidiki ini sendiri"


"Kita harus kerja sama bang, Fina tahu abang sangat sibuk apalagi pikiran abang sedang kacau karena Fitnah Sherina, itu bikin abang tak fokus menyelidikinya". tutur Syafina masih dengan pelukannya.


Khalid merenggangkan pelukannya, dia menangkupkan kedua tangannya kewajah Syafina.


"Istri yang sangat pengertian," lalu dia mengecup Syafina.


***


Dendi telah selesai dengan urusannya, walaupun dia kerjakan dengan berat hati. Kini waktunya dia memberitahu Khalid bahwa tugasnya sudah selesai.


"Ikey, terimakasih Den, kau melakukannya dengan baik". Khalid memutuskan sambungan teleponnya, dia menatap wajah syafina yang tertidur disebelahnya.


Rasa sangat bersalah di dada Khalid, tak seharusnya Syafina menerima akibat perbuatannya. Rasa kasihan pada Syafina membuncah dalam dadanya. Melihat tangan Syafina yang masih belum sembuh, hati Khalid sangat sakit. Siapa yang sebenarnya tega ingin melenyapkan Syafina istri kecilnya yang tak bersalah. Apakah benar Sherina. Dengan memberikan semua hartanya pada Sherina Khalid berharap Sherina tak meneror Syafina lagi. Khalid berharap siapapun dia pelakunya tak lagi meneror Syafina, memangnya apalagi yang diinginkan orang dari dirinya yang sudah tak punya apa apa.


Khalid yakin istrinya itu akan setia menemaninya walaupun dia sudah tak punya harta lagi, Syafina bukanlah tipe wanita yang mementingkan harta.


Khalid mengelus perut istrinya yang sudah membuncit karena mengandung anaknya, bahagia menjalar di dada Khalid saat terpikir dia akan jadi ayah. Nanti dia akan hidup sederhana bersama keluarga kecilnya.


Bagaimana anaknya dengan Sherina, Khalid bukan tak mau tanggung jawab, tapi dia tak harus menikahi Sherina. Bukankah anak itu anak diluar nikah, Khalid tak bisa memberi nasab namanya kepada anak itu nanti walaupun ibunya dinikahi. Tapi Khalid berjanji akan sepenuhnya tanggung jawab dengan masa depan anak itu.


Syafina terbangun karena tendangan kecil janin di rahimnya, akibat ulah suaminya yang mengusap usap perutnya. Anak dalam rahimnya itu seakan menyadari ayahnya didekatnya, setiap ayahnya mengelus perut bundanya dia selalu memberi reaksi dengan tendangan tendangan kecil. Mungkin itu seperti permainan kecilnya bersama sang ayah.


"Abang sudah bangun ?, ini sudah waktunya Ashar" Syafina melirik jam didinding.


"Ayolah mandi sama sama lagi? "goda Khalid dengan senyum genitnya.


"Nggak abang duluan saja, aku mau bikin susu ke dapur, Syafina beralasan".

__ADS_1


Khalid jadi senyum senyum geli melihat istrinya yang lagi lagi cemas di ajak mandi bersama. Sementara Syafina sudah ngeloyor pergi.


****


__ADS_2