
Fatimah terbaring lemah diranjangnya, hatinya sangat hancur saat mendengar kabar tentang Khalid. Pagi ini mayat putranya akan dikebumikan. Fatimah sangat lemah, dia tak bisa menghadiri pemakaman. Fatimah menyerahkan kepada Dendi untuk mengurus segala sesuatunya. Ingin ia menjenguk cucunya tapi sungguh kondisinya belum pulih.
Dendi juga sudah memberitahunya bahwa kemungkinan otak dari kecelakaan itu adalah Sherina. Fatimah tak ingin mempercayai cerita Dendi, tapi dia bukanlah orang tak tak bisa menerima pendapat orang lain. Bukankah Sherina juga yang selama ini mencelakai Syafina. Fatimah sekarang benar benar menyesal telah membela Sherina daripada menantunya sendiri. Tapi apa mau dikata nasi telah jadi bubur.
Sementara dirumah sakit Syafina sudah diperbolehkan pulang karena dia melahirkan normal, dan Jody telah selesai mengurus semua administrasi. Syafina sekarang bersiap siap menjenguk bayi Syakha terlebih dahulu. Hari ini pemakaman suaminya, dia ingin menghadirinya tapi semua orang melarangnya takut nanti dia tak kuat, mengingat kondisinya yang masih lemah.
"Sudah boleh pulang Fin? " Rey tiba tiba datang.
"Iya kak"
"Biar kakak selesaikan dulu administrasinya"
"Sudah saya selesaikan bro" Jody menjawab, dia barusan datang dari mengurus adminstrasi.
Reyhan menoleh, dia tak mengenali laki laki itu.
"Kak Rey, kenalkan ini Jody sepupuku"
"Reyhan"
"Jody"
Mereka berdua pun bersalaman dan saling tersenyum.
"Mau jenguk keponakanku dulu kan beb ?" tanya Jody.
"Iya, ikut yuk" ajak Syafina.
"Tentu saja, sini aku bimbing kamu kesana" Jody menggandeng tangan Syafina, Syafina memang masih susah untuk berjalan. Reyhan yang awalnya juga ingin membantu Syafina jadi mengurungkan niatnya.
Syafina masuk kedalam ruang perinatologi, Jody, Reyhan dan mama Zaenab menunggu diluar.
"Ajarin bayinya menyusu ya Fin?" Melli menyerahkan bayi Syakha kepada Syafina, Syafina sudah duduk di kursi untuk ibu menyusui di ruang laktasi.
Untuk pertamakalinya Syafina menyusui bayi Syakha, bayi kecil itu nampak mencari cari ******. Kemaren ketika baru lahir memang dilakukan juga inisiasi menyusui dini.
Bayi Syakha mulai mengisap perlahan, daya isapnya memang masih lemah. Namun cukup membuat hormon cinta dalam tubuh Syafina berfungsi sempurna. Syafina merasakan ada sesuatu yang hangat dalam hatinya, merasa bertambah cintanya pada bayi Syakha. Bayi Syakha menatap wajah bundanya itu seakan tahu wanita inilah ibu yang melahirkannya. Beberapa lama kemudian bayi Syakha melepas isapannya pertanda dia sudah kenyang. Syafina lalu mengajak bayi Syakha untuk berbicara.
"Anak bunda yang kuat ya nyusunya, biar cepat besar. Kita pulang kerumah"
Bayi syakha menjawabnya dengan rintihan kecil.
"Syakha doain ayah ya nak, biar nanti kita kumpul lagi sama ayah".
Bayi kecil Syakha yang merasa sangat nyaman di pelukan bundanya jadi tertidur, terlihat nafasnya teratur. Syafina lalu menyerahkan kembali anaknya pada Melli untuk dimasukkan ke dalam inkubator. Mereka keluar dari ruang laktasi karena inkubator berada di ruang perawatan.
"Hallo anak papa, apa kabar pagi ini? " Arsya menyapa. Syafina terkejut dengan Arsya yang menyebut dirinya papa. Tapi ya terserah dia lah, Syafina diam saja.
"Baby Syakha sudah bisa minum susu sendiri dari bundanya pak" Melli yang menjawab.
"Oh ya, pintar donk. Biar cepat besar ya nak? " Arsya mendekati Melli untuk melihat bayi Syakha.
"Sini papa yang pindahkan ke inkubator" Arsya mengambil Syakha dari Melli, lalu dengan hati hati dia memindahkan bayi kecil itu ke dalam inkubator.
__ADS_1
"Bolehkah mamaku melihat Syakha mas, ehm sebenarnya ada sepupuku dan Reyhan juga". Syafina meminta izin pada Arsya.
"Boleh, bergantian masuknya"
"Makasih mas"
Zaenab merasa sesak menahan tangisnya melihat cucunya yang terlihat lemah, apalagi saat bayi kecil itu lahir ayahnya sudah tiada. Zaenab tak lama di ruangan itu karena dia tak mampu untuk menahan tangisnya.
"Mama keluar saja Fin" Zaenab permisi untuk keluar.
Reyhan masuk, ternyata tadi diluar Jody sudah mengajaknya untuk suit menentukan siapa yang duluan masuk. Dan di menangkan oleh Reyhan.
Reyhan menatap bayi Syakha yang tertidur. Reyhan teringat dengan Khalid karena Syakha sangat mirip dengan ayahnya.
"Cepat besar ya Syakha, Daddy banyak belikan kamu mainan. Nanti Syakha main sama daddy ya ?" ucap Reyhan perlahan tapi bisa didengar oleh Syafina dan Arsya. Reyhan tadi memang kebetulan lewat toko mainan, dia langsung saja membeli banyak mainan untuk Syakha. Padahal belum bisa dimainkan oleh Syakha yang hanya 1900 gram.
"Daddy doakan Syakha baik baik saja, biar cepat pulang". Kemudian Reyhan keluar, dan terakhir Jody yang masuk melihat bayi Syakha.
"Hei anak Ayah, wuih ganteng banget ternyata. Mimik susu banyak banyak ya. Biar cepat besar main sama Ayah. "
Mendengar itu Syafina langsung protes, karena tak suka Syakha memanggil Jody dengan sebutan "ayah".
"Ada panggilan lain nggak Jo, jangan ayah donk"
"Lah terus apa, Papa, ?"
"Yang lain" sahut Syafina lagi.
"Umi Yulia, jadi kamu sama Yulia adiknya mas Arga...?"
"Iya, kami sudah jadian"
"Syukurlah"
Syafina bernafas lega, tadi dipikirnya Jody masih mengharapkan dirinya. Syafina lalu kembali mendekati bayinya, untuk pamit pulang.
"Bunda pulang ya nak, nanti bunda kesini lagi".
"Renna, mbak Melli aku titip Syakha ya"
"Iya Din" sahut Renna dan Melli bersamaan.
Syafina pulang ke kosan di dekat kosannya yang dulu, Reyhan yang telah mempersiapkannya. Syafina pindah ke kosan untuk sementara, agar bisa setiap hari mengunjungi bayi Syakha sampai setelah bayi Syakha diperbolehkan pulang nanti.
Syafina beristirahat di sofa ruang tamu, Reyhan dan Jody menemaninya. Zaenab sedang beberes di belakang.
"Kak, sudah selesai pemakaman bang Khalid? "
"Ehmm, Fin. Sebenarnya pemakaman tidak jadi dilakukan. Mas Dendi minta mayat yang diduga bang Khalid di autopsi."
"Maksudnya ? "
"Polisi curiga mayat itu bukan bang Khalid, dan kecelakaan dipastikan karena sabotase. Ridho, Heru dan Mas Dendi sedang mengurusi semuanya. "
__ADS_1
"Ya Allah, ada apa lagi ini. Apa benar yang terbakar itu bukan suamiku ? "
"Mudah mudahan, polisi sedang menyelidikinya"
"Terus jika bukan bang Khalid, berarti bang Khalid masih hidup. Dimana dia sekarang? siapa yang melakukan ini ? "
"Siapa lagi kalau bukan Sherina, tak semudah itu Sherina membodohi polisi. Polisi juga akan berusaha mencari dimana bang Khalid.".
"Aku juga sudah tahu tentang Sherina dari om Khalid, empat hari yang lalu om Khalid menceritakannya padaku saat dalam perjalanan pulang kedesa. Dia itu psikopat" Jody ikut nimbrung.
"Mungkin kalian juga bisa mencari keterangan sama Sonni, dia kan suami penjual martabak mesir" ujar Jody lagi.
"Oo, penjual martabak didekat mesjid Agung AnNur? padahal aku sama Arsya sudah obrak abrik ini kota buat cari Sonni"
"Benar, memang penjual martabak yang itu" jawab Syafina.
"Hhh ribet banget urusan Sherina ini, ingin ku cemplungin ke kolam piranha saja rasanya". Jody menggerutu.
"Fina, kamu tunggu saja kabar dariku atau dari mas Dendi ya, banyak berdoa saja buat bang Khalid"
Syafina mengangguk, dia bersyukur ditengah banyak masalah yang dihadapinya ternyata dia dikelilingi oleh orang orang yang menyayanginya.
***
Keesokan harinya, Syafina menyusui bayi Syakha. Pagi ini ini isapan bayi Syakha sudah lebih kuat, dia mendapatkan lebih banyak ASI. Bayi kecil itu tertidur setelah dia kekenyangan.
"Fin, tahu nggak pak Arsya merawat bayimu 24 jam. Dia telaten banget, sampai sampai ganti popok pun dia yang melakukannya"
"Masa sih, terus dia nggak tidur apa ? "
"Malam tadi kata Rita dia cuma tidur dua jam saja. Padahal pagi ini kan bukan jadwal dia yang jaga tapi dia tetap masuk buat bayi Syakha saja" Renna menuturkan.
"Aku bersyukur banyak yang menyayangi Syakha, aku nggak nyangka orang seperti mas Arsya bisa begitu lembut dengan bayi".
"Dia memang lebih lembut sama bayi daripada orang dewasa Fin, kalau sama aku dan mbak Melly keluar deh aura jahatnya".
Renna lalu menggendong bayi Syakha ke ruang perawatan, bayi Syakha akan dimasukkan kembali ke inkubator.
"Mas, kapan bayiku boleh pulang ? "
"Menurut pak Sofian, Syakha bisa dipulangkan jika berat badannya bertambah. Makanya rajin rajinlah menyusuinya secara langsung."
"Aku seharian ini disini menunggui bayiku mas"
"Iya, kamu bisa istirahat di ruanganku. Biar aku disini saja".
"Makasih mas"
Arsya mengangguk, dia memberikan ruangannya untuk Syafina agar Syafina bisa istirahat dan bisa kapan saja menyusui bayinya, Arsya ingin bayi kecil itu bisa bertambah beratnya, dan bisa segera pulang. Hari ini NGT bayi Syakha dilepas, karena dia sudah kuat menyusu langsung dari ibunya.
****
Minal Aidin wal Fa idzin Mohon maaf lahir dan Bathin 🙏🙏
__ADS_1