Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 78


__ADS_3

Syafina tak mampu membendung air matanya, wanita mana yang bisa tegar jika mengetahui suaminya akan menikah lagi. Khalid menghapus airmata istrinya dengan tisu, lalu membenarkan Jilbab Syafina yang sudah berantakan.


"Sudahlah Fina jangan nangis lagi, bukannya tadi kamu bilang kita hadapi ini sama sama. Abang tak akan menikah lagi"


"Aku takut itu benar benar terjadi bang"


"Syafina Almaira, kamu percayalah pada suamimu" Khalid mengusap lagi bulir bening yang masih saja mentetes.


Syafina mengngguk dia berusaha menahan tangisnya, Syafina menarik nafas dalam dan menghembusnya perlahan.


Khalid mengambil ponselnya lalu menelpon Dendi. Dia menyuruh Dendi ke kota C untuk menyelidiki masalah ini.


"Dendi bilang dia akan segera ke kota C sore ini juga, ayolah kita pulang kamu kelihatannya sangat lelah" Khalid mengajak Syafina pulang kerumah.


Sementara Arsya dan Reyhan juga menghentikan pencarian mereka karena memang sudah lelah apalagi malam tadi mereka shif malam.


****


Viana tengah asyik memilih barang belanjaannya, memasukkan bahan bahan memasak ke dalan trolinya. Viana sekarang menemukan hobi baru selain berdandan, ternyata memasak juga hal yang menyenangkan.


"Aku akan jadi wanita sesungguhnya, selain cantik aku juga pintar memasak. Ahhh laki laki mana yang takkan tertarik padaku. Hanya Arsya saja yang agak rabun matanya" Viana tersenyum senyum sendiri sambil mendorong troli.


Viana juga akan berbelanja beberapa potong pakaian yang sopan, dia ingin menuruti saran Viana kemaren. Terbukti kemaren Arsya sudah mau menatapnya jika berbicara, biasanya Arsya selalu melihat arah lain atau menunduk.


"Apa dia ngeri lihat dadaku ya? "


"Hii, segitu mengerikan penampilanku kemaren? " Viana jadi ngomong sendiri. Ekspresinya seperti orang jijik.


Ketika sedang memilih memilih baju, Viana melihat pemandangan yang menurutnya agak tak bisa dipercayainya.


"Heh itu Jesica, kok rangkulan sih sama papanya Arsya. Ponaan sama paman, bos dan bawahan atau apa ini? " Viana bertanya dalam hati. Viana mendekat dan dia berdiri dibalik manekuin. Jiwa keponya tiba tiba muncul seketika.


Terlihat Jesica bergelayut ditangan pak Andri, Mereka sedang melihat lihat pakaian. Sedangkan di tangan pak Andri terlihat beberapa paperbag mungkin berisi sepatu dan tas.


"Bebi, aku mau yang ini" Jesika menunjuk sebuah dres dari brand terkenal


"Omaigad, bebi. Aku saja tak berani manggil Arsya bebi, bisa bisa matanya melotot menatapku". Viana merasa geli dengan panggilan Jesika kepada om Andri.


"Aku yakin mereka ini pacaran, tapi kok selera Jesika bapak bapak 50an ya. Ya tapi nggak apalah yang penting bukan suami orang." Viana mengangguk angguk di balik manekuin.

__ADS_1


"Iya hani, ambil saja" jawab pak Andri.


"Huek, hani.. Astagfirullah tak kusangaka om Andri bisa bebi hani begini. Benar benar kalah yang muda" Viana geli geli sendiri melihat dua pasang kekasih itu.


****


Syafina hendak mengganti tuniknya dengan Piyama, Syafina membuka satu persatu kancing tunik yang dipakainya, terasa agak susah karena menggunakan satu tangan. Ketika mengeluarkan tangannya dari lengan bajunya terasa nyeri di tangannya, tapi Syafina tetap melanjutkan aktifitasnya. Akhirnya selesailah dia mengganti pakaiannya, namun terasa sangat nyeri ditangannya.


Khalid masuk ke dalam kamar, dia baru bertemu dengan Hendri dan Rido.


"Bang, kenapa abang cari H dan R ?"


"Abang mau nanya apakah ada yang mecurigakan selama dia menjaga kamu, dan apa ada yang mencurigakan di sekeliling rumah kita"


"Terus apa katanya? "


"Katanya tidak ada apa apa yang mencurigakan"


"Baguslah. Berarti orang yang mau nyelakain aku sudah tobat. Moga saja dia tak menggangguku lagi"


"Atau dia tahu kamu sudah di jaga bodyguard"


"Bisa jadi bang, yang penting aku aman dari gangguannya. makasih ya bang sudah jagain aku" Fina merangkul tangannya kirinya kepundak suaminya.


Khalid mengecup bibir istrinya dalam, dia sudah sangat rindu dengan istrinya ketika Khalid akan melakukan sesuatu yang lebih tiba tiba Syafina merasa kesakitan lagi pada tangannya.


"Auu, sakit"


"Ada apa? " tanya Khalid


"Tanganku sakit mungkin tersenggol abang tadi"


"Maaf ya sayang, apa benar benar sakit?"


"Iya, ini terasa sangat sakit dan berdenyut. Memang malam ini aku belum minum obatnya"


Khalid segera mengambil obat Syafina, lalu memberikan obat itu beserta sebotol air kepada istrinya.


"Minumlah", khalid menyodorkan.

__ADS_1


Syafina meminum obat itu lalu dia beristirahat di tempat tidur.


"Kau tidurlah," perintah Khalid.


"Bang, anak kita sudah mulai bergerak beberapa hari ini, ini dia sedang bergerak bang" Syafina merasa geli karena pergerakan janin di rahimnya.


"Benarkah anak Ayah sudah bergerak,?"


Syafina mengangguk, Khalid lalu menyingkap sedikit piyama istrinya lalu mengelus perut istrinya.


"Anak ayah jangan nakal ya" Khalid membacakan doa untuk anaknya lalu dia mencium perut istrinya. Khalid mengusap rambut Syafina agar istrinya itu bisa tertidur. Memang Khalid sudah hapal betul cara agar Syafina cepat tertidur. Khalid tak mau istrinya kecapean dan tangannya sakit lagi.


****


Dendi menelpon Khalid, jam sudah menunjukkan pukul 23.15 malam. Dendi masih di kota C dengan beberapa orang suruhannya. Mereka menyelidik siapakah yang memasukkan obat ke dalam minuman Khalid, dan menyelidiki apakah ada rekaman cctv yang mencurigakan di restoran.


"Hallo Den, ada kabar apa? "


"Khal, setelah anak buahku menyelidiki. ternyata memang Angel yang menyuruh pelayan memasukkan obat kedalam minumanmu. Dia juga sudah menyuruh pelayan mengambil foto kalian dikamar hotelnya, tapi untung kau menolak istirahat di kamar hotelnya. "


"Terus bagaimana dengan kejadian dikamar istirahatku di restoran, apa ada hal yang mencurigakan? "


"Hanya ada rekaman kau dibawa dua orang pelayan ke kamarmu, tak ada hal lain yang mencurigakan"


"Baiklah Den, terimakasih infonya, besok aku menunggumu di kantor."


"Oke boss"


Khalid lalu memutuskan sambungan teleponnya.


"Jadi Angel, ingin menjebakku dikamar hotelnya. Tapi untung aku tidak mau kekamar hotel itu. Tapi di restoran itu, apa iya aku melakukannya dengan Sherina. Aku masih tak percaya"


Khalid merasa pusing memikirkannya, jika ia memang telah menodai Sherina, apakah dia akan bertanggung jawab seperti keinginan ibunya. Bagaimana dengan Syafina dia tak sanggup kehilangan istri yang sangat dicintainya itu. Sudah pasti Syafina akan pergi meninggalkannya.


"Aku rela beberapa asetku dipindahkan atas nama Sherina asal tidak menikahinya. Aku tak akan menikahinya". Khalid mengepalkan tangannya.


Khalid kembali kekamarnya dilihatnya ibu hamil cantik itu sedang tertidur pulas. Terlihat ada beban di wajahnya.


"Aku tak tega menyakitimu Syafina, kau telah mengandung anakku. Kau adalah anugerah terindah dalam hidupku"

__ADS_1


Khalid menciumi kening istrinya, lalu dia berbaring disamping istrinya dan mencoba memejamkan matanya.


****


__ADS_2