
Pagi ini Khalid sudah dipindahkan keruang perawatan biasa, karena kondisinya sudah semakin baik. Syafina mengantar suaminya keruang rawat inap. Dia sengaja meminta ruang rawat inap bedah biasa dikelas utama, tidak meminta kamar Vip, karena ingin kamar Khalid berdekatan dengan perinatologi. Akan mempermudah dia mengurusi dua orang laki laki tersayangnya itu.
"Fina, aku ingin menjenguk anakku"
"Tunggu jam besuk ya bang, sekarang hanya ibunya yang boleh mengunjunginya"
"Kapan jam besuknya?"
"Dua jam lagi"
"Ehm, kamu sudah menyusuinya? "
"Sudah satu jam yang lalu, berarti satu jam lagi aku harus menyusuinya lagi"
"Berarti masih lama kamu bisa nemanin aku, jangan pergi ya. Aku tak punya teman disini"
"Iya, Fina temani abang disini kok." Syafina meraih tangan suaminya.
"Ehm,, memangnya ibumu nggak kamu anggap Khal ? " Fatimah pura pura merajuk.
"Maaf bu, bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin mencoba mengingat ingat kebersamaanku sama istriku bu"
"Hmm, ibu ngerti kok. Ibu Cuma bercanda. Kamu belum ingat apa apa saja sudah bucin begini"
"Bucin, apa itu? " tanya Khalid dengan mengernyitkan dahinya.
"Apa ya, ibu sering dengar istilah gitu buat orang yang tergila gila sama pasangannya, nggak mau pisah gitu. Kamu itu memang istri terbaik Fin, bisa bikin Khalid nyaman didekatmu"
"Ah ibu bisa aja"
"Kalian memang pasangan serasi, ibu doakan rumah tangga kalian bahagia, tanpa ada musibah lagi"
"Aamiin" Khalid dan Syafina mengamini.
Khalid banyak bertanya tentang kebersaman mereka dahulu, awal mereka kenal sampai mereka menikah. Syafina menceritakan semuanya.
"Kita menikah dijodoh" ujar Syafina.
"Kok bisa ya dijodoh, tapi kamu nggak terpaksa kan menikah sama aku ? ".
"Ehmm, ya nggak lah bang." Syafina jadi ragu menjawab bagian ini, karena dulu memang dia terpaksa menikahi Khalid.
"Dulu abang suka menguntitku, kata abang sih sedari aku SD abang sudah naksir sama aku. Sampai aku kuliah abang sering menguntitku. Tapi abang nggak berani bilang cinta sama aku."
"Unik juga kisah kita ya?".
Syafina mengangguk, Khalid memandangi wajah istrinya lekat, memperhatikan setiap inchi wajah istrinya. Merasa diperhatikan Syafina jadi malu malu.
"Kenapa lihatin Fina gitu bang? "
"Kamu cantik, pantasan aku naksir sudah belasan tahun. Untung saja kita berjodoh ya, kalau nggak aku bisa gila nggak menikah sama kamu".
__ADS_1
"Hh, masih sakit saja gombalnya minta ampun, benaran lupa ingatan nggak sih abang ini ?"
"Benar, tapi nggak masalah buatku. Aku dirawat istriku yang cantik dan sangat sayang sama aku"
Fatimah yang duduk diatas sofa memperhatikan kebersamaan anak dan menantunya, dalam hati terbersit sesal selama ini telah menambah masalah dalam rumah tangga anaknya.
"Ampuni hamba ya Allah, hamba salah telah berusaha menghancurkan dua orang yang saling mencintai."
Fatimah sangat kagum akan kekuatan cinta Khalid dan Syafina. Dalam kondisi tak ingat apapun Khalid bisa senyaman itu bersama Syafina.
"Bang, aku pamit ya. Syakha mungkin sudah lapar."
"Iya, tapi kembali kesini ya. Nanti aku mau kamu saja yang suapin"
Syafina mengangguk, Lalu dia keluar dari kamar inap Khalid.
"Hhh, ayah sama anaknya berebutan minta perhatian. Malah lebih parah ayahnya" Syafina jadi geleng geleng kepala. Tapi dia bahagia ternyata suaminya sangat nyaman didekatnya walaupun dia tak ingat apa apa.
***
Syafina menaruh kembali bayi Syakha kedalam inkubatornya, beratnya hari ini betambah 1900 gram kembali setelah awalnya kemaren terjadi penurunan berat badan hingga 200 gram. Hal itu biasa terjadi pada bayi baru lahir. Kata dokter setelah berat badan mencapai minimal 2000 gram bayi Syakha bisa dipulangkan.
"Fin, tadi pak Arsya minta disampaikan maafnya dia hari ini nggak bisa jagain Syakha. Dia sibuk dikantor katanya."
"Emang sibuk ngantor apa sih Ren ? "
"Dikantor papanya, pak Andri kan sekarang sudah pindah ke jakarta. Katanya istri mudanya nggak mau tingal dikota kecil. Makanya dia pindah ke jakarta."
tert tert ponsel Syafina berbunyi panggilan dari Dendi, Syafina segera menjauh dari inkubator dan menjawab panggilan itu.
"Hallo mas Den ?"
"Iya Fin, ini soal Tio. Reyhan sudah menemui dia. Dan polisi pun sudah menginterogasinya. Mengenai kecelakaan itu memang benar dalangnya adalah Sherina."
"Gila benar dia" Syafina tak habis pikir mengapa Sherina yang cinta mati sama Khalid malah tega hendak membunuh Khalid.
"Dan pada malam itu di restoran dia hanya ditugasi Sherina mengawasi jika ada manager Anton, kita kan sudah lihat Tio nggak kemana mana, dia hanya di tempat duduknya sampai kira kira saat ibu Fatimah datang."
"Oo, makasih mas informasinya"
"Iya Fin, kalau kamu masih ragu kenapa nggak tes DNA saja. Kan usia kehamilan Sherin sudah bisa di Tes DNA nya."
"Iya mas, tapi di kota kita ini nggak ada lembaga tes DNA dirumah sakit pun tidak ada, harus ke kota A."
"Kok nggak ada ?"
"Iya memang, belum ada alatnya katanya. Maklum kita ini bukan tinggal dikota besar mas. Membawa Sherin ke kota A kurasa terlalu beresiko, dia pun tak akan mau".
"Apa aku paksa saja dia? "
"Hh, apa mas lupa Sherin di tangan polisi sekarang? mau tak mau tunggu bayinya lahir dulu, sekarang hamilnya sekitar 16 minggu"
__ADS_1
"Iya, hanya itu jalan satu satunya, bagaimanapun kita harus merahasiakan juga kehamilan Sherin untuk nama baik Khalid".
"Kamu benar mas"
"Ya udah dulu ya Fin" Dendi memutuskan sambungan.
***
Jam besuk sudah tiba, Syafina menjemput Khalid dikamarnya. Dia mendorong kursi roda Khalid ke ruang perinatologi.
"Bang, itu bayi kita yang sebelah sana. Abang tunggu disini ya Fina gendong saja Syakha kesini."
Syafina menggendong Syakha dan membawanya kehadapan suaminya.
"Abang mau coba menggendongnya? "
Khalid mengangguk, lalu Syafina menaruh Syakha ditangan suaminya dengan hati hati. Khalid tak tahan untuk menitikkan airmatanya melihat anaknya yang bertubuh kurus, karena memang berat lahirnya kurang.
"Maafkan ayah ya nak. Kamu lahir sebelum waktunya dan ayah tak mendampingi ibumu berjuang melahirkanmu" gumam Khalid lirih.
"Jangan nangis bang, Syakha bayi yang kuat. Tuh lihat dia melihat mata kamu bang"
"Ehm, Syakha kulitnya gelap ya Fin. Nggak putih kayak kamu ? "
"Loh, kan item mirip ayahnya"
"Aku? "
"Ya iya, siapa lagi ? "
"Ha ha, Syakha itemnya mirip ayah ya nak? " Khalid yang tadinya nangis jadi tertawa sendiri.
"Hh, dia pikir kulitnya putih apa, aku jadi deg degan kirain nggak ngaku Syakha anaknya gegara Syakha item" Syafina jadi ngomel dalam hati.
Renna yang menonton kejadian itu jadi geli sendiri.
"Ada ada saja sih pak Khalid, kalau bapaknya Syakha itu dokter Arsya atau kak Reyhan baru Syakha bisa berkulit putih, hehe" Renna jadi tertawa geli dalam hati.
Setelah lama Khalid bermain dengan Syakha, mengajak Syakha mengobrol Syafina kembali menaruh Syakha ke dalam inkubator.
"Daah Syakha, besok ayah kesini lagi ya nak". Syafina lalu mendorong kursi roda suaminya kembali kekamar rawat inapnya.
"Fina, sekarang giliran aku ya. Janji kan tadi suapin aku ? "
"Iya bang, nanti sampai diruangan Fina suapin". jawab Syafina sambil terus mendorong kursi roda.
"Hmm, kenapa sih bang Khalid jadi tambah manja gini ya. Apa memang begitu efek dari kecelakaannya? " Syafina merasa heran saja, tapi dia melayani semua keinginan suaminya dengan senang hati.
****
Tinggalkan selalu jejak likenya ya,, 🙏🙏
__ADS_1