
Syafina membuka matanya dengan perlahan, lalu dia memicingkan matanya karena silau oleh cahaya mentari yang masuk dari jendela. Dia masih ingin bermalas malasan di tempat tidurnya. Hari ini hari kedua liburan Syafina dan suaminya. Syafina menoleh kesamping, suaminya sudah tak ada disebelahnya. Pagi pagi sekali memang Khalid sudah bangun, dia tidak tidur lagi setelah solat subuh.
"Abang kemana ya, hmm malam tadi abang sangat romantis" Syafina tersenyum senyum membayangkan malam tadi suaminya yang memperlakukannya sangat manis dan romantis.
"Bulan madu yang terlambat, tapi tak apa" Syafina kembali tersenyum senyum.
Syafina lalu perlahan turun dari tempat tidur, dia mengambil Facial wash miliknya lalu masuk kedalam kamar mandi.
Khalid masuk kedalam kamarnya membawa bungkusan makanan, dia membeli soto untuk dirinya berdua Syafina. Kemudian Khalid menyidangkan soto itu di atas meja.
Ponsel Khalid berbunyi, lalu dia meraih ponselnya. Ada panggilan video call dari Sherina.
"Ada apa lagi sih si Sherin?" Khalid berpikir sejenak mempertimbangkan akan mengangkat panggilan video call dari Sherin atau tidak, akhirnya dia mengangkatnya.
"Ada apa Sher? "
"Abang dimana sih,?"
"Aku lagi liburan"
"Bang, aku sakit mual muntah terus terusan. pusing juga"
"Lah terus abang kan bukan dokter, sakit ya berobat"
"Abang kok nggak peka sih, aku kan hamil. Aku ingin dekat abang"
Syafina telah selesai bersih bersih dan membuka pintu kamar mandi, dilihatnya suaminya berdiri membelakanginya seperti mengobrol dengan seseorang melalui panggilan video call.
"Hei Sherin, kamu bukan istriku kenapa ingin dekat dekat denganku"
"Abang lupa aku ini hamil anak kamu bang, aku tidak makan dua hari ini. Aku ingin abang yang membelikan aku makanan"
"Kamu ini ada ada saja, kan bisa pesan"
"Rasanya beda bang, aku mau abang pulang sekarang juga. Abang mau anak kita tidak bagus perkembangannya?"
"Hhh, sudahlah jangan banyak alasan" Khalid memutuskan panggilan video call itu. Khalid membalikkan badannya, Syafina menatapnya dengan pandangan datar.
"Pulanglah, mungkin Sherin benar benar membutuhkanmu"
"Fina, memangnya kamu mau membiarkan suamimu diambil orang?"
__ADS_1
"Dari dulu juga sudah aku minta abang menjauhi Sherina, karena feeling aku tidak enak padanya. Tapi abang selalu membelanya. Aku larang abang dekat dengannya tapi abang tak peduli, abang masih saja menemuinya. Kini abang dijebaknya, dan abang sudah terperangkap dalam jebakannya. Sebagai istri aku bisa apalagi ?"
"Fina, bukannya kemaren kamu bilang akan selalu dukung abang? "
"Aku sampai kapanpun akan dukung abang, tapi aku juga tak boleh egois bang. Ada orang lain yang juga membutuhkan abang"
Syafina mengambil pakaiannya lalu kekamar mandi kembali untuk ganti pakaian.
"Fina biar abang bantu kamu ganti pakaian"
"Aku bisa sendiri, aku harus membiasakan hidup tanpa abang." Syafina lalu menutup pintu kamar mandi.
Kata kata Syafina membuat hati Khalid terasa sangat sakit, dia sadar akan kesalahannya. Syafina telah memperingatkannya berkali kali untuk menjauhi Sherina, bahkan dulu dia pernah berjanji menjauhi Sherina. Tapi ketika Sherina mendekatinya dengan berbagai cara dia tetap saja berhubungan dengan Sherina tanpa mempedulikan perasaan istrinya.
"Aku memang bodoh, padahal aku tahu bagaimana perasaan Sherina padaku, tapi aku masih saja mempercayainya."
Khalid sangat menyesali selama ini dia tidak peduli dengan kata kata istrinya, Dia anggap Syafina yang ngambek hanya karena pengaruh hamil saja. Syafina yang rewel hanya karena masih terlalu muda saja, Syafina yang cemberut hanya karena butuh perhatian saja.
Syafina membuka pintu kamar mandi, dia sudah selesai berpakaian, dia memakai gamis motif Flora berwarna peach. Sangat cantik.
"Ayolah makan abang suapi"
"Aku bisa sendiri bang, aku tidak bisa bergantung dengan orang lain"
Syafina menyuapkan soto itu perlahan lahan kedalam mulutnya, Khalid membiarkannya saja. Dia melihat apakah istrinya membutuhkan bantuannya. Berkali kali kuah soto tumpah, Syafina mengelapnya dengan tisu.
"Ayolah abang suapin ya sayang?"
Syafina diam saja dia tetap melanjutkan aktifitasnya.
"Setelah ini kita jalan jalan kemana Fin, kita jalan jalan ke taman bunga atau ke tempat penjual kerajinan?" Khalid mencoba mengalihkan perhatian Syafina.
"Bukannya abang disuruh Sherin pulang? "
"Aku tak mau pulang. Itu alasannya saja agar dekat denganku"
"Nah, sekarang ngerti kan alasannya saja agar dekat dengan abang. Dulu kok nggak peduli aku suruh jauhi Sherin masih saja dekat dekat sama dia !" Nada suara Syafina meninggi.
"Maafin abang Fina"
"Memaafkan memang mudah, tapi apakah maaf bisa mengembalikan keadaan seperti semula ? " Syafina menyudahi makannya lalu dia membawa peralatan makannya ke wastafel. Lalu dia mencucinya. Khalid mengikuti istrinya ingin membantunya.
__ADS_1
"Abang belum makan, makanlah dulu" perintah Syafina.
"Hmm ternyata masih peduli juga sama suami?" Khalid tersenyum kecil.
"Aku memang peduli sama suamiku, suamiku saja yang tak peduli sama aku. Nggak ngerti perasaan istri"
Degg jantung Khalid terasa sangat sakit mendengarnya, memang benar selama ini dia kurang memperhatikan perasaan istrinya.
Membahagiakan Syafina memang sangat mudah, perhatian perhatian kecil telah mampu membuatnya tersenyum dan gembira. Jika Syafina ngambek dia akan mudah tersenyum kembali. Khalid mengira sudah cukup dengan hal hal kecil membahagiakan Syafina. Ternyata ia salah, didalam hatinya wanita itu menyimpan luka saat suaminya tak mempedulikan kata katanya.
Khalid duduk di kursi dekat meja makan, dia memperhatikan Syafina yang mengelap mangkok yang sudah di cucinya. Syafina terlihat kesusahan, Khalid ingin membantunya tapi ia takut Syafina akan marah lagi . Tiba tiba mangkok itu terjatuh dan pecah membentur lantai dengan secepat kilat Khalid menarik Syafina takut istrinya terluka oleh pecahan mangkok itu.
"Makanya jangan ngerjainnya sendiri, suami mau bantuin malah kamu nggak mau dibantu" Khalid memunguti beling itu dan menaruhnya di tong sampah.
"Aku bukannya tak mau di bantu, aku hanya membiasakan diri tanpa bantuan abang."
"Abang akan selalu bantu apapun pekerjaan kamu Fina"
"Abang lupa pulang dari sini abang akan disibukkan dengan Sherina yang lagi ngidam"
"Ckk, aku tak mau pulang. Pokoknya seminggu ini waktu aku sama kamu Fina. Sherin tak bisa ganggu kita" Khalid memegang tangan Syafina dan menatap mata istrinya.
"Hmm tetap saja sepulang dari sini aku akan berbagi dengan Sherin, atau kuberikan saja kamu bulat bulat sama Sherina. Biar dia yang urus semua keperluanmu" Syafina berlalu meninggalkan suaminya sendiri, dia pergi keluar ingin menghirup udara segar.
Khalid tertegun mendengar ucapan istrinya barusan.
"Diberikan bulat bulat kepada Sherin, iii" Khalid bergidik ngeri membayangkannya, lalu dia berlari menyusul istrinya keluar.
Khalid berdiri disamping istrinya, sangat rapat. lalu dia berbisik.
"Kau tega sekali memberikanku bulat bulat sama Sherina"
Syafina mendongakkan wajahnya menatap suaminya.
"Sebenarnya aku tak mau memberikan abang kepada Sherin, tapi abang sendiri yang menyerahkan tubuh abang kepada Sherin, masih untung aku masih mau melayani abang setelah peristiwa itu."
Khalid lagi lagi merasa hatinya tersayat sembilu mendengar kata kata Syafina. Semua yang di bilang Syafina benar.
"Sudahlah jangan bicara tentang Sherin lagi. Aku maunya kita senang senang disini" Khalid memeluk istrinya dari belakang.
Syafina membiarkannya, selagi Khalid masih suaminya dia akan membiarkan Khalid melakukan apapun kepadanya. Khalid berhak atas dirinya. Tapi jika nanti saat itu tiba mungkin dia akan pergi.
__ADS_1
****
Komentar dan likenya ya. 🙏🙏