
Sherina pagi ini sudah diperbolehkan pulang, Fatimah telah menyelesaikan administrasi kepulangan Sherina.
"Apa kamu kuat menyetir sendiri?" tanya Fatimah.
"Entahlah bu,"
"Apa kamu punya teman, kamu masih terlalu lemah."
"Ada bu. Aku hubungi dulu"
***
Reyhan pagi itu piket pagi, pasien tidak terlalu ramai. Dia duduk di bangkunya menghadap keluar, melihat lihat siapa tahu ada pasien yang masuk UGD, agar dia bisa segera menyongsong keluar. Tiba tiba dia melihat seseorang yang dikenalnya, namun ia masih ragu.
"Sepertinya itu orang yang menyebut nama bang Khalid di warung makan tempo hari, si Son." Reyhan lalu keluar mengikuti kemana orang itu pergi. Dia terus mengikuti sampai orang itu berhenti di depan sebuah kamar pasien dan akhirnya masuk kedalam.
Reyhan mengikuti ke kamar itu, ketika sampai didepan kamar nampak olehnya suatu pemandangan yang tak dipercayainya.
"Son, tolong angkatin barangku. Ini kunci mobil, aku belum kuat nyetir" Sherina memberikan kunci mobil kepada orang itu, disana juga ada ibu Fatimah.
"Astagfirullah, apa ibu Fatimah dan Sherin bersekongkol meneror Syafina? " gumam Reyhan.
"Assalamualaikum" salam Reyhan.
"Waalaikumsalam, hai nak Reyhan" Fatimah menyapa Reyhan.
"Aku kebetulan lewat, nampak ibu dan kak Sherin, kak Sherin sakit apa ? "
"Biasa, mual muntah." jawab Fatimah.
"HEG Rey" Sherina juga menjawab, namun Fatimah tak mengerti maksud HEG.
Degg jantung Reyhan berdegup keras mendengarnya, "HEG..? Apa Sherina hamil setelah kejadian itu, hamil anaknya bang Khalid ? "
"Oo, semoga lekas pulih ya kak, aku permisi"
Fatimah dan Sherina mengangguk, Reyhan pun berlalu dari tempat itu. Reyhan menunggu diparkiran dia ingin mengikuti orang itu, nanti dia pulang kemana.
***
Tert tert ponsel Syafina berbunyi, dia segera meraih ponselnya. Ternyata panggilan dari Ridho.
"Assalamualaikum pak"
"Waalaikumsalam, non kami sudah dapat informasi siapa yang menyuruh Tio. Feeling nona selama ini benar, dia adalah nona Sherina. "
"Astagfirullah, bagaimama Tio sampai mengaku pak ?"
"Kami menangkapnya, ya dengan cara Heru akhirnya dia mengaku. Nggak susah susah amat non bikin dia ngaku, dia langsung sebut nama Sherina sebagai dalang penjebakan di rumah sakit "
"Dia dimana sekarang"
__ADS_1
"Masih sama kami, Heru mengamankannya. Kami juga punya rekaman video saat dia mengaku"
"Sipp, bagus pak. Sekarang kita ke rencana selanjutnya,"
"Siap non"
Syafina lalu menutup teleponnya. Dia bertanya tanya dalam hatinya kenapa Sherina begitu jahat padanya. Hanya karena Khalid kah?, sebegitu terobsesinya dia.
"Gila Sherina, kali ini kau akan ku lapor ke polisi. Tindakanmu sudah kriminal" Syafina berbicara pada dirinya sendiri.
"Nanti kalau abang sudah pulang saja ku ceritakan"
Sementara di tempat lain, Reyhan mengikuti Son yang baru selesai mengantar Sherina. Pria itu kembali ke parkiran rumah sakit menjemput motornya, Reyhan terus mengikutinya. Ditempat yang agak sepi Reyhan berhasil menyalip motor Son, dia menghadang Son dan meminta Son turun dari motornya. Reyhan dengan sigap memutar tangan pria itu kebelakang, dan menekannya ke tembok gang yang sempit.
"Maksudnya apa ini? " pria itu sepertinya ketakutan.
"Aku hanya ingin tahu mengapa kau mencelakai Syafina ?" Reyhan menekan ujung pisaunya kepunggung pria itu.
"Maksudnya? "
"Tak usah pura pura tak mengerti, Aku sudah tahu. Kau akan dikurung di penjara bersama bossmu, kau pikir suami Syafina akan membiarkan kau lepas? "
"Maafkan aku, aku hanya menjalankan tugas dari Sherina. Aku sudah insyaf."
"Haha, Sherina?, kau akan membusuk bersama Sherina di penjara". Reyhan kembali menekan sedikit pisaunya, membuat pria itu bertambah ketakutan.
"Tidak usah jadi pembunuh bayaran kalau semudah ini kau mengaku". Reyhan masih menodong pisaunya kepada pria itu.
"Benaran kamu sudah insyaf ?, lalu siapa temanmu yang memberi obat perangsang kepada Arysa ?"
"Tio, dia sudah kabur dari kota ini"
"Kau jangan harap bisa kabur, mau kabur kemanapun polisi akan menemukanmu"
"Rey, polisi sudah datang" Dendi datang dengan beberapa orang polisi. Sebelumnya Reyhan menelpon Dendi untuk memanggil polisi, Dendi mengikuti motor Reyhan dari belakang.
****
Khalid dan Jody tengah beristirahat dibalai balai yang terbuat dari bambu, beratap daun. Jody beberapa kali melirik Khalid yang menurutnya ketampanannya jauh dibawah dirinya.
"Om aku nggak nyangka om berhasil menikahi Syafina, ternyata dia berjodoh juga sama om"
"Maksudmu?" Khalid menautkan alisnya.
"Aku tahu om penguntit Syafina, awalnya aku pikir om berniat jahat sama Fina. Tapi ternyata om diam diam sering menolong dia"
"Kau menguntitku? " Khalid membesarkan matanya.
"Haha, om ingat motor om lepas ban belakangnya dan spionnya hilang? " Jody tertawa cengengesan.
"Jadi kau pelakunya? " Khalid merasa geram.
__ADS_1
"Iya, salah om sendiri menguntit Syafina yang lagi pacaran sama aku."
"Oo, bocah cungkring dulu itu ternyata kamu, aku pikir hanya Fans Syafina. Dulu kau jelek sekali"
"Dan kini aku lebih tampan dari om, Arsya maupun Reyhan" Jody melirik Khalid dengan sinis.
"Kau kenal Arsya dan Reyhan ?"
"Iya, Syafina selalu cerita sama aku tentang teman laki lakinya, katanya mereka tak pacaran. Kupikir dia belum move on dariku
"Jadi kau dulu benar pacar Syafina? " Khalid tak kalah sinisnya.
"Iya, Jika saja aku tak kuliah diluar negeri om tak akan menikah dengan Syafina"
"Haha,, tidak usah terlalu percaya diri, Arsya dan Rey memang tak mampu membuat dia move on darimu, tapi aku bisa bikin dia tergila gila padaku". Khalid merasa sangat geram dengan Jody.
"Hmm, om itu menangnya karena di jodohi, kalau bersaing secara sehat mana mungkin bisa mengalahkanku"
"Hhh, terserah kau lah. Yang jelas kini Syafina hamil anakku. Masih berani bilang kau hebat dariku ?"
"Apaa, jadi Fina gendut itu karena hamil?" mata Jody membelalak.
"Ehmm" Khalid mengangguk bangga. Dia merasa menang banyak dari anak tengil itu, walaupun dalam hati dia mengakui Jody memang lebih tampan darinya.
"Jooo, kesini cepaatt" , Paman Syukri memanggil Jody.
"Siaapp", Jody berlari kearah ayahnya, tanpa pamit dengan Khalid.
"Diladeni ngelunjak, didiamin sombongnya mintak ampun. Tapi lumayan juga si Jody buat hiburan" Khalid senyum senyum sendiri.
Tert tert handphone Khalid berbunyi, ada panggilan dari Dendi.
"Hallo Den, ada apa? "
"Khal, orang yang meneror Syafina sudah dapat sekarang dia dibawa polisi"
"Alhamdulillah"
"Kau tahu siapa dalang dibaliknya,?" Sherina ! " Dendi bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya.
"Astagfirullah, kau yakin Den ?"
"Iya, dia mengaku. Dan sekarang polisi menjemput Sherina".
"Akhirnya terbongkar juga kebusukan Sherina" Khalid berkata lirih, dia tak menyangka adik angkatnya yang dia sayangi tega menyakiti Syafina istri yang sangat dicintainya.
"Iya Khal, akan aku kabari jika ada informasi lagi". Dendi menutup teleponnya.
Khalid bergegas pulang untuk mengabari hal ini pada Syafina. Khalid berharap Sherina akan mendapat hukuman berat atas perbuatannya.
****
__ADS_1
like en coment nya gaess yaa