Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 11


__ADS_3

Setelah selesai solat subuh berjamaah Syafina dan Khalid duduk kembali diatas tempat tidurnya, diluar masih sangat gelap. Syafina duduk kakinya ditutupinya dengan selimut, karena pagi itu agak dingin.


Syafina meraih ponselnya melihat lihat laman medsosnya. Khalid menyentuh paha Syafina dari luar selimut.


"Eits jangan macam macam"


"Siapa yang mau macam macam, ayo buka jahitan"


"Oo, tunggu ku ambil alatnya" Syafina mengambil gunting dan pinset steril yang disimpannya dalam bak instrumen kecil. Dia memang menyiapkan alat alat itu dirumahnya.


"Baru disentuh dari luar selimut saja sudah begitu reaksinya, gimana kalau aku peluk, atau aku cium? " batin Khalid.


"Sini" Syafina menghampiri Khalid, lalu mulai melepaskan jahitan satu persatu, semuanya ada tujuh jahitan. Selama Syafina mengerjakan itu Khalid menatap wajah istrinya. Tak sengaja pandangan mata mereka bertemu sangat dekat, Syafina buru buru menunduk karena gugup ketahuan memandang suaminya. Khalid tersenyum kecil melihat istrinya yang malu malu.


"Tapi malam tadi di tempat parkir syafina diam saja aku peluk, mungkin karena dia ketakutan" batin Khalid.


"Sudah selesai, lukanya sudah kering"


"Makasih Fina"


Syafina mengangguk, lalu dia meletakkan alat tadi di atas meja kecil di kamarnya.


"Fina, ada yang mau abang bicarakan"


"Bicara apa bang" Syafina duduk disamping Khalid.


"Fina takut kalau abang dekat dekat sama Fina ?"


"Ehmm, nggak"


"Abang tahu Fina, abang bisa lihat kok. Kita suami istri jadi wajar kalau abang menyentuhmu bahkan lebih dari itu semuanya halal"


"Fina cuma belum terbiasa bang"


"Abang maklum, kita menikah karena di jodoh. Dan kita menikah pun baru dua hari".


"Maafin Fina ya bang" Syafina menatap Khalid lalu menunduk kembali, dia tak berani menatap Khalid lama lama.


"Kamu harus membiasakan diri dengan abang Fina, apa akan seperti ini terus. Abang nggak maksa kamu, cuma abang minta kamu berusaha menerima abang".


Syafina lama terdiam mendengar penuturan Khalid.


"Bang, Fina maunya kita pacaran saja" mata Syafina berbinar binar seakan akan idenya sangat cemerlang.


"Hahh pacaran, nggak mau !"


"Ayolah bang masa nggak mau" Syafina kelihatan merengek.


"Ada ada saja, sudah nikah kok pacaran, yang ada malah kita tambah jauh kalau kita tinggal sendiri sendiri"


"Heii siapa bilang kita tinggal sendiri sendiri, tetap sama sama tetap sekamar tapi hanya seperti pasangan yang pacaran, nggak boleh gitu gitu"


"Nggak boleh gitu gimana, masa nggak boleh."


"Boleh nanti kalau aku sudah siap, katanya abang tadi Fina harus membiasakan diri, harus berusaha nerima abang sebagai suami... ya ada prosesnya bang. Pacaran dulu"


"Astagfirulah !, aku sudah tua begini masih di ajak pacaran. Bagaimana mau punya anak" batin Khalid.


"Gimana mau nggak? " tanya Syafina.


"Oke, abang ngerti maksud kamu tapi ada Syaratnya. Kita harus melupakan masa lalu. Bagaimanapun indahnya masa lalu mu lupakanlah, begitu juga abang."


"Iya bang"


"Walaupun dulunya nggak saling kenal tapi sekarang kita adalah suami istri yang sah, jadi kita mulai kehidupan kita dari sekarang" Khalid menatap mata Syafina


Syafina mengangguk. "jadi pacaran nih sekarang ?"


"Terserah kamu lah mau anggap abang pacarmu, tapi nurut ya sama pacarmu ini"


"Oke, tapi abang nggak boleh macam macam"


"Terus apa yang boleh, peluk boleh nggak, cium boleh ? " Khalid mendekatkan wajahnya dengan wajah Syafina seperti akan menciumnya.


"Ehmm, tapi izin dulu ya. Sarapan yuk bang" Syafina langsung berdiri dan keluar dari kamar.


Khalid geleng geleng kepala melihat Syafina.


"Aneh sudah nikah masih mau pacaran. Aku sih sudah bosan pacaran, mantan pacar saja mungkin sudah belasan orang". gumam Khalid. Lalu dia mengikuti Syafina keluar dari kamar.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan Syafina dan Khalid duduk di ruang keluarga menonton siaran televisi.


"Fina, jam sepuluh nanti abang mau keluar, jenguk ibunya Dendi teman abang dirawat. kamu ikut ? "


"Nggak lah bang, Fina dirumah saja" kata Syafina sambil menukar siaran televisi.


Khalid menggeserkan duduknya agar lebih dekat dengan istrinya, lalu dia menyenderkan kepalanya di bahu Syafina. Syafina bergeser menjauh, bukan apa apa dia sebenarnya merasa gugup.


"Kok geser sih Fin? "


"Abang sih pake nyender nyender segala"


"Masa nyender sama pacar nggak boleh?"


"Pacaran itu ceweknya yang nyender, bukan cowok" Syafina protes.


"Oo gitu, Fina boleh kok nyender sama abang, bobo juga boleh disini" Khalid menepuk pahanya.


"Ihh, malu sama mama papa nanti mereka lihat"


"Mama papa pasti ngerti kok, lagian bukannya mereka tadi keluar ya ? "


Syafina menarik nafas panjang matanya mendelik ke atas. "Oh my god"


"Kamu sebenarnya benci sama abang atau malu sih Fin? "


"Eh aku nggak benci kok bang"


"Terus kenapa menghindar terus"


"Ehmm, anu aku gugup dekat abang"


"Makanya biasakan, sini" Khalid tiba tiba mengangkat tubuh mungil istrinya dan didudukkannya di pahanya.


"Abang, malu baang" Syafina memberontak.


"Huss diam, nurut sama pacar !" Khalid semakin memeluk erat pinggang istrinya yang duduk di pangkuannya. Perlahan lahan Syafina tenang, percuma memberontak Khalid tak akan melepaskannya.


"Nah gimana nyaman kan,? "


Syafina mengangguk "Tapi lepasin donk abang, nanti tiba tiba ada yang masuk gimana? "


Khalid melepaskan pelukakannya pada pinggang Syafina, Syafina lalu bergeser turun dari pangkuan suaminya. Sebenarnya dalam hati dia ingin berlama lama dipangku suaminya, tapi dia takut suaminya nanti akan bertindak lebih jauh dan terjadi hal lainnya.


****


"Kelihatannya mama Sefni sudah segar, kapan bisa pulang? " Khalid bertanya kepada Reyhan.


"Tadi dokter visite katanya besok bisa pulang, asalkan kondisinya tidak ngedrop lagi" jawab Reyhan


"Semangat ya ma, mama pasti bisa. Makan yang banyak ini aku bawakan makanan dan buah buahan." kata Khalid memberi semangat.


"Makasih nak Khalid, kamu yang mendonorkan darah sama mama ya. kamu sangat baik nak. maaf mama tidak bisa melihatmu menikah"


"Nggak apa apa ma, aku sudah anggap mama sebagai mamaku sendiri, aku anggap Dendi dan Reyhan adikku"


"Bang Khalid sangat baik, kamu pantas dapatkan Syafina bang" batin Reyhan.


"Penyakit mama ini sudah berat, sehat sebentar kambuh lagi. kanker rahim mama sudah stadium empat khal. Mama rasa umur mama nggak panjang lagi"


"Mama jangan gitu ma, mama harus kuat mama pasti sehat. Ada Dendi dan Reyhan yang sangat menyayangi mama".


"Mama ingin melihat Dendi dan Reyhan menikah seperti kamu Khal"


"Hayo Rey, mama ingin lihat kamu nikah. kapan Rey ?." Kata Khalid. Mendengar itu Rey terdiam, dia menarik nafas panjang dan menunduk.


"Katanya kemaren dia mau ngenalin calon istrinya sama mama, tapi sampai sekarang belum juga" kata mama Sefni.


"Dia sudah menikah ma" jawab Reyhan


"Dia sudah menikah, kenapa nggak bilang sama mama. Mama menunggu nunggu kamu bawa dia ketemu mama"


"Sudahlah ma, nggak usah dibahas. Mungkin dia sudah bahagia sama pilihannya".


"Benar Rey, mungkin dia sudah bahagia. Lagi pula perempuan banyak didunia ini Rey" kata Khalid.


"Perempuan memang banyak, tapi dia sangat istimewa. Aku tak bisa berhenti mencintainya" batin Reyhan dalam hati.


"Mama, Rey aku pulang ya sudah sore"

__ADS_1


"Iya bang, terimakasih "


****


Sudah lima hari Khalid dan Syafina menikah, seperti biasa malam hari Syafina tidur terlebih dahulu, Setelah selesai solat dia segera masuk kedalam selimutnya dan menyetel AC dengan suhu rendah agar dia cepat tertidur. Semuanya karena dia takut suaminya minta yang aneh aneh nanti padanya.


"Fina, cepat sekali kamu tidur. Pijitin abang Fin"


"Ngantuk banget aku bang" Syafina pura pura menguap.


"Nanti saja tidurnya, pijitin abang dulu tadi sore abang kan bantu papa dikebun, jadi pegal ini"


Khalid menarik narik piyama Syafina agar terbangun. Dan akhirnya Syafina bangun juga.


Syafina mulai memijit suaminya, kakinya tangannya lalu punggung suaminya. cukup lama dia memijat sampai suaminya bilang selesai.


"Sudah Fin, enak sekali pijatan kamu, lain kali pijit lagi ya"


"Iya, sekarang boleh Fina tidur? " wajah Syafina seperti memelas dikasihani.


"Iya boleh, eit tunggu dulu" Khalid mencium pipi istrinya.


Wajah Syafina memerah karena malu tapi dia tak protes, Syafina menunduk. Dia lalu menarik selimutnya dan berbaring membelakangi suaminya.


Khalid juga kembali berbaring, badannya yang pegal sudah terasa enakan dipijit Syafina. sudah saatnya juga dia tidur, mau apa lagi bermesraan sama istri juga tidak bisa, sudah pasti ditolak.


****


Sudah seminggu pernikahan Syafina dan Khalid, hari ini kamis Khalid kembali masuk kerja. Pagi pagi setelah solat subuh dia sudah siap berangkat.


"slSarapan dulu bang"


"mlMasak apa fin? "


"Nasi putih sama ayam goreng, ada sayur"


Syafina menghidang sarapan untuk suaminya. ponsel khalid berbunyi tanda pesan, ternyata dari Dendi. Khalid membalas pesan itu.


"Makanlah dulu bang, " kata Syafina


"Suapin" lalu Khalid membalas lagi pesan dari Dendi.


"Ayolah suapin, abang balas pesan ini" khalid berkata lagi sambil membalas pesan.


Syafina lalu menyuapi Suaminya


"dari siapa sih bang?"


"Dendi teman abang kerja"


Syafina lalu menyuapi Khalid lagi, lalu menyodorkan air minum kebibir Khalid. Khalid pun meminumnya.


"Sudah ya, makan sendiri saja"


"Tanggung ini, suapin sampai habis"


Mama zaenab yang berada di dapur saat itu melihat anak dan menantunya.


"Suapin suamimu sampai habis makannya Fin". Zaenab bahagia melihat anak dan menantunya kelihatan romantis.


"Iya ma" Syafina melotot ke arah Khalid.


"Kenapa?, kalau pacar makan ya disuapin, terus di pijitin kalau dia capek". Khalid memamerkan senyumannya membuat dia kelihatan lebih tampan.


Syafina diam saja. Dia terus menyuapi Suaminya sampai nasi dalam piring habis..


"Sebenarnya Bang Khalid ini manis banget orangnya, baru lihat senyumnya saja jantungku rasa deg degan" batin Syafina dalam hati.


"Makasih ya sayang" Khalid mencubit pipi Syafina, lalu mengedipkan matanya.


"Astagfirullah, nggak sanggup aku lama lama dekat dia tak baik buat jantungku" Syafina berbicara dalam hatinya.


"Abang berangkat ya". Khalid berdiri dan melangkah keluar. Syafina mengikutinya.


"Pulang jam berapa bang? "


"Jam dua sudah pulang, sampai dirumah sekitar jam tiga lewat". Khalid lalu naik ke atas motornya.


"Cium tangan nggak ya? " gumam Syafina dalam hati. "nggak usahlah". batin Syafina merasa gengsi.

__ADS_1


Khalid melajukan motornya, Syafina menatap suaminya sampai hilang dari pandangannya.


****


__ADS_2