
Zaenab menelpon Syafina karena rindu dengan anak semata wayangnya itu,
"Assalmualaikum ma"
"Waalaikumsalam, kamu baik baik saja Fin? "
"Aku baik baik saja ma" Syafina tak ingin menceritakan yang terjadi padanya malam tadi. karena ia tak ingin orangtuanya cemas.
"Benar kamu baik baik saja Fin,? Khalid gimana kabarnya? "
"Benar ma aku sehat saja kok ma, bang Khalid juga Dia lagi baring tuh di sofa"
"Nggak ngantor khalid Fin? "
"Nggak kayaknya ma, dia barusan sampai dirumah jam tiga tadi dari kota A. Masih ngantuk katanya."
"Oh gitu, ibu senang mendengar kalian baik baik saja. Sudah ya Fina, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam ma" Syafina lalu duduk disebelah Khalid
"Abang kok kelihatan nggak tenang gitu,?"
"Bagaimana aku bisa tenang Fina, ada orang yang ingin mencelakaimu. Kamu tertidur di mobil Arsya dan entah apa yang dilakukannya sama kamu. Sementara kau tertidur ?"
"Aku merasa nggak di apa apain, aku baik baik saja bang"
"Jangan membelanya, aku bisa percaya sama Reyhan, tapi tidak dengan Arsya."
"Oke, aku nggak mau lama lama salah faham begini, kamu telpon saja Reyhan atau Arsya. Ini nomornya" kata Syafina tegas. Syafina lalu menghubungi nomor Reyhan dan memberikan ponselnya kepada Khalid.
"Hallo Fina" Kata Reyhan di seberang sana.
"Ini aku Khalid, ada yang ingin kubicarakan. bisa kita ketemu"
"Bisa, abang dimana. Aku kesana sekarang"
"Aku dirumah".
****
"Fina kamu disini saja, biar aku yang nemui Rey". perintah Khalid
"Kenapa bang, aku juga mau dengar pembicaraan kalian" tukas Syafina.
"Kenapa ?, karena aku cemburu !". kata Khalid, lalu dia pergi menemui Reyhan di ruang tamu.
Khalid, dan Reyhan duduk di sofa di ruang tamu. Khalid duduk dengan menyilangkan kakinya.
"Rey ceritakan kepadaku apa yang terjadi semalam, jangan ada yang kau tutupi". Khalid menatap Reyhan tajam.
"Sebelumnya mas Dendi mengirim pesan padaku, untuk mengikuti Syafina berangkat kerja dan memastikan dia sampai di rumah sakit dengan selamat, dan mengikutinya pulang memastikan ia sampai kerumah dengan selamat".
__ADS_1
"Dendi mengirim pesan seperti itu?, dia tak memberitahuku"
"Iya bang, ini pesannya masih ada di ponselku. mungkin dia punya alasan untuk tak memberitahu abang".
"Oke, jadi kenapa bisa terjadi kejadian malam tadi sama Syafina"
"Aku piket malam, aku berpas pasan dengan Syafina di depan UGD. Tapi aku tak bisa mengikutinya pulang seperti yang disuruh mas Dendi karena pasien banyak di UGD".
"Bagaimana dengan Arsya ? "
"Arsya piket sore, dia satu ruangan dengan Syafina. Ketika aku sampai di UGD aku melihatnya ngobrol dengan dokter Thamrin, tak lama kemudian dia juga pulang".
"Arsya satu ruangan dengan Syafina ? "
"Benar bang, dia di mutasikan ke ruang perinatologi baru baru ini. Tak lama Arsya pulang dia menelponku, menyuruhku menemuinya di depan mini market Azalia, katanya ada Syafina didalam mobilnya. Aku langsung kesana"
"Kenapa dia menelponmu, kenapa Syafina bisa ada di mobilnya ? "
"Menurut keterangan Arsya awalnya dia tidak tahu ada Syafina didalam mobilnya. Karena Syafina tertidur di bangku belakang. Kata Arsya ada orang yang ingin menjebaknya dengan Syafina. Karena dia merasa ada yang memasukkan obat perangsang ke dalam air minumnya, dan Syafina diberi obat bius makanya dia tertidur dan orang itu memasukkan Syafina kedalam mobil Arsya"
"Jadi Arsya sudah minum obat perangsang itu?"
"Sudah bang, makanya dia menelponku dan menyuruhku mengantar Syafina karena dia takut hilang kendali dibawah pengaruh obat itu, lagi pula dia tidak tahu alamat Syafina yang sekarang".
"Apa menurutmu Arsya belum melakukan apa apa dengan Syafina sebelum kau datang?"
"Itu aku kurang tahu bang"
"Iya bang, aku tahu setelah Syafina sampai di kamarnya. Karena sebelumnya Tubuh Syafina diselimuti jas Arsya."
"Oo begitu, terimakasih penjelasan dari kamu Rey. Kamu boleh pulang"
"Iya bang, saya pamit"
Khalid mengangguk. Kemudian Reyhan pulang. lalu Khalid pergi menemui Syafina di kamarnya.
Dikamar Khalid menatap Syafina, dia kasihan kepada istrinya itu.
"Apa Arsya sudah menodai kamu Fin, aku takkan memaafkannya". batin Khalid.
"Kenapa bang, apa kata Reyhan ?"
"Dari keterangannya abang jadi curiga sama Arsya, jangan jangan dia sudah menodai kamu Fin".
"Jangan mengada ada bang, aku merasa tak ada apa apa dengan diriku"
"Ya mana kamu tahu Fin, kau tertidur. Bahkan saat aku pulang kau pun masih tertidur"
"Kenapa sih abang jadi lebih memikirkan apa yang dilakukan Arsya padaku, kenapa abang tidak memikirkan siapa orang yang mau menjebak kami ? ".
Khalid terdiam mendengar kata kata Syafina
__ADS_1
"Benar juga, kenapa aku tak memikirkan siapa yang menjebak Syafina dan Arsya? " kata Khalid dalam hati.
"Bisa saja musuh kamu, atau musuh Arsya mungkin?" jawab Khalid asal.
"Musuh?, aku tak punya musuh. Kalaupun musuh Arsya rasanya untuk apa dia pakai cara menjebakku dengan Arsya. kenapa tidak menjebak Arsya dengan wanita lain ? "
Khalid mengangkat bahunya tanda tak paham.
"Abang, kemungkinan ini musuhmu. Apa abang tak merasa ada musuh,? saingan bisnis mungkin, atau... mantan pacar abang ? "
"Saingan bisnis, apa kaitannya dengan kamu dan Arsya Fin? "
"Mempermalukanmu dan orangtua Arsya, bisa jadi kan? bukankah Arsya juga anak pengusaha kaya ? ".
"Arsya anak siapa memangnya?"
"Andri wijaya, dia pengusaha terkaya di propinsi A"
"Andri wijaya ?, ya abang kenal". Khalid mengangguk angguk, dia merasa saingannya kini tambah berat. Arsya wijaya anak dari Andri wijaya
"Nah itu, pikiran abang kenapa tak sampai kesana ?"
"Fina, bisa jadi itu saingan bisnis abang atau saingan bisnis pak Andri, tapi yang jelas abang sangat kuatir kau sudah di apa apakan sama Arsya"
"Apaan sih abang" Syafina mulai merasa kesal.
Syafina lalu keluar dari kamar, berdua dengan Khalid membuatnya bertambah pusing. Syafina memutuskan untuk membuat cemilan, dia teringat ibu Fatimah bilang Khalid suka menikmati cemilan.
Sementara Khalid dikamar memikirkan siapa kira kira pelaku yang menjebak Syafina.
"Rasanya saingan bisnisku tak ada yang perlu aku curigai, atau jangan jangan Marsha... Ya ini ulah Marsha". Khalid merasa yakin.
****
Dendi sedang duduk diatas ranjang disamping mamanya.
"Bagaimana kabar mama sekarang, maaf aku selalu sibuk ma"
"Mama sudah segar Den, makan juga lebih banyak dari biasa. Den, kamu kapan menikahi Cintya, kamu kan sudah melamarnya sebulan yang lalu"
"Menurut rencana kami bulan depan ma, kemaren aku dan cintya juga sudah memesan cincin kawin"
"Benarkah, anak mama akan menikah" Mama Sefni menggenggam tangan putranya itu.
"Insha allah ma, doain saja lancar ya ma"
"Iya, mama hanya bisa bantu kamu dengan doa. Semoga semua urusan dan rizkimu lancar."
"Aamiin" Dendi mengamini.
****
__ADS_1