
Zulkarnain akhirnya membuka suaranya setelah ia lama terdiam.
"Maafin papa Marsha, papa tak bisa menuruti keinginanmu" Zulkarnain meraih tangan anaknya untuk meminta maaf.
"Pa, kumohon. Bukankah bang Khalid tadi sudah setuju. Bukankah laki laki boleh beristri dua ? "
Zulkarnain menggeleng,
"Tidak, papa tidak akan mengizinkan anak papa menjadi istri kedua. Biarkan Khalid pulang bersama istrinya"
Marsha menangis terisak isak mendengar ucapan papanya. Tinggal beberapa menit lagi dia akan menjadi istri sah Khalid, tapi ini semua akan gagal.
"Bawalah suamimu pulang, maafkan saya nak" Zulkarnain menghampiri Syafina dia mengulurkan tangannya.
Syafina nampak ragu menerima uluran tangan Zulkarnain, dia menoleh kepada Dendi disampingnya. Dendi pun mengangguk.
"Maafin saya" ucap Zulkarnain lagi, Syafina menerima uluran tangannya.
"Bawalah suamimu pulang, tak seharusnya saya merebut kebahagiaanmu"
"Bagaimana dengan Marsha pak? "
"Dia akan saya bawa jauh dari sini"
Syafina mengangguk, Lalu dia menghampiri suaminya. Syafina memeluk suaminya dan menangis terharu penuh kerinduan.
Khalid belum bisa mengingat siapa Syafina, namun dalam hatinya terasa ada ikatan yang kuat antara dia dan wanita yang memeluknya itu. Khalid membalas pelukan Syafina, dia merasa sangat nyaman dan hangat dipeluk oleh wanita yang sedang menangis itu.
"Sudahlah jangan nangis, aku akan pulang bersamamu. Benarkah kita sudah punya anak ? ".
Syafina melepas pelukannya, dia mengangguk.
"Iya bang, anak kita laki laki namanya Syakha Anugerah Putra. Abang yang memberi namanya".
Khalid menghapus airmata dipipi Syafina dengan jemarinya. Dan dia menangkupkan kedua tangannya dipipi Syafina.
"Aku tak mengingat siapa dirimu, tapi aku yakin kamulah tempatku untuk pulang." Syafina dan Khalid kembali berpelukan.
Hati Marsha panas melihat adegan mesra itu, dia ingin sekali menghajar Syafina.
Zulkarnain menggamit tangan Marsha untuk mengajak pergi dari tempat itu, tapi Marsha menepisnya dia berlari menghampiri Syafina dan Khalid. Marsha mendorong Syafina cukup kuat hingga hampir terjatuh, Khalid dengan cepat meraih tubuh Syafina. Jhoni bergegas menarik tangan keponakannya agar tidak menyerang Syafina lagi.
Marsha berteriak teriak minta dilepaskan namun Jhoni memegang kuat tangannya.
"Lepasin, lepasin oom. Biarkan aku menghajar wanita itu.. !" Marsha menghentakkan tangan Jhoni yang terus menggenggam kuat tangannya.
"Ayo Jhoni bawa Marsha pergi dari sini, semuanya mari kita tinggalkan tempat ini. Pernikahan dibatalkan"
"Tidaaak, aaaa" Marsha berteriak kuat dan menangis.
Jhoni menyeret paksa Marsha keluar dari rumah itu. Penghulu juga meninggalkan tempat itu karena dia sudah tidak ada keperluan lagi disana.
__ADS_1
Sebelum meninggalkan tempat itu Zulkarnain kembali meminta maaf kepada Syafina dan Khalid.
"Maafkan saya.. Syafina, Khalid. Saya benar benar malu karena sudah hampir merebut kebahagian kalian".
"Tidak apa apa pak, saya sudah maafkan" jawab Syafina.
"Sebelum saya meninggalkan tempat ini saya ada permintaan kepada kalian semua. Tolong rahasiakan kejadian hari ini. Saya janji Marsha tidak akan mengganggu rumah tangga kalian lagi" Zulkarnain nampak bersungguh sungguh dengan janjinya itu.
Semua yang berada disana mengangguk, mereka sepakat merahasiakan kejadian hari ini demi nama baik Zulkarnain seorang walikota dikota B.
"Kami janji tidak akan menceritakan kepada orang lain, cukup sampai disini saja pak". Syafina berbicara mewakili semuanya. Yang lain pun mengangguk setuju.
Kemudian Zulkarnain menyalami Syafina dan Khalid dan meyalami semua yang berada disana, kemudian dia meninggalkan rumah itu.
***
Semua sudah bernafas lega, Lulu dan Zein menceritakan bagaimana mereka bertemu dengan Khalid, bagaimana mereka membawa kabur Khalid dari rumah Zulkarnain, dan bagaimana Zulkarnain dengan mudah pula menemukan mereka.
"Untung ada kalian, aku sangat berterimakasih pada kalian berdua. Kak Lulu dan dokter Zein, makasih ya".
Zein dan Lulu mengangguk. Syafina sangat bersyukur suaminya ditemukan kembali, dia menggenggam tangan suaminya seakan takut suaminya pergi. Khalid membiarkan Syafina melakukan itu.
"Ada yang membuatku penasaran, mengapa bang Khalid bisa sama Marsha. Bukankah kabarnya Tio merawatnya di rumah sakit kota D ?"
"Entah bagaimana, yang jelas sepertinya Tio sudah berkhianat dari Sherina" Dendi mencoba menebak.
"Bisa jadi" Tambah Ridho. "Tio tahu Sherina akan ditahan, makanya dia menyerahkan Khalid pada Marsha"
"Oh ya kak, kak Lulu kenapa kok bisa disini? "
"Ehm,, aku sudah resign dari rumah sakit umum setelah kakak merawat kamu Fin., mencoba cari pekerjaan disini, kakak kan asli sini"
"Oo gitu"
"Ehm, Khalid masih butuh pengobatan. Sebaiknya dia diperiksa dulu sebelum pulang ke kota B, jika diperbolehkan pulang barulah kalian bawa dia pulang." Dokter Zein menjelaskan.
"Benar, kita bawa saja sekarang" sahut Dendi.
Khalid dilarikan kerumah sakit terbaik di kota E. Khalid menjalani serangkaian pemeriksaan dan tindakan, Kondisinya semakin melemah karena kelelahan. Dokter membuat surat untuk dokter di rumah sakit umum kota B, agar perawatan dilanjutkan disana, karena permintaan keluarga.
Dendi dan Ridho telah mengurus segala sesuatunya untuk Khalid, Khalid di terbangkan ke kota B malam ini juga dengan pesawat jet ambulans.
"Sayangnya semua harta Khalid diberikan sama Sherin, kalau nggak kan bisa nabung buat beli jet pribadi" Dendi menghayal.
"Kau kira suamiku Ardie Bakrie? aku nggak mau suamiku sekaya itu" Syafina cemberut.
"Hehe, iya ya. Belum sekaya Ardie Bakrie saja sudah dikejar kejar banyak wanita. Kalo sekaya Ardie pasti lebih sadis dari Sherina dan Marsha donk pelakornya, hii..!" Dendi bergidik ngeri.
Jam 21.00 jet ambulan sudah landing, Khalid langsung dilarikan kerumah sakit untuk melanjutkan perawatan.
Di UGD Fatimah dan Reyhan sudah menunggu, Karena Dendi memang memberitahu Reyhan agar membawa Fatimah ke UGD untuk bertemu Khalid. Kondisi kesehatan Fatimah memang sudah membaik dari kemaren.
__ADS_1
Fatimah memeluk Khalid erat sambil menangis, Khalid yang terbaring lemah membiarkan Fatimah melakukan itu walaupun dia tak ingat siapa Fatimah. Hati kecilnya berkata wanita itu adalah bagian yang penting dalam hidupnya. Beberapa saat kemudian dia memejamkan matanya tak sadarkan diri.
"Maafkan ibu nak, semua salah ibu. Jika ibu tak memintamu menjenguk ibu semua tak jadi begini". Fatimah bersimbah air mata melihat tubuh putranya yang lemah.
Dokter dan perawat dengan cekatan melayani Khalid, dia dibawa ke ruang perawatan intensif.
***
Tubuh Khalid dipasangi beberapa alat medis, Syafina menunggui suaminya. Dia bisa membaca alat alat itu, dia tahu tanda tanda vital Khalid tidak normal. Tekanan darahnya terlalu rendah, namun nafas dan denyut nadi normal. Mulutnya tak hentinya berdoa agar suaminya sehat kembali. Tadi dokter sudah menjelaskan Khalid hanya kelelahan.
Syafina keluar dari ruangan itu, karena dia ingin Fatimah melihat Khalid. Fatimah pasti ingin juga menemui putranya.
"Bu, masuklah. Aku harus menyusui Syakha"
"Syakha ?, apakah itu nama cucu ibu? "
"Iya bu"
"Ibu ingin sekali melihatnya, cucu ibu sehat kan Fin? "
"Iya bu Syakha baik baik saja, besok pagi ibu bisa mengunjungi Syakha. Sekarang ibu menunggui bang Khalid saja. Jika lelah ibu istirahat saja, perawat disini akan memantau bang Khalid bu"
Fatimah mengangguk, dia pun menangis kembali.
"Fina maafin ibu, ibu sangat bodoh mempercayai Sherina. Sudah jelas jelas dia menjebak Khalid, tapi ibu masih saja terus membelanya."
"Sudahlah bu, semua sudah terjadi. Yang terpenting bang Khalid selamat, dia harus kembali sembuh. Ibu jangan menangis lagi bu" Syafina memeluk Fatimah, dan mengusap usap punggung Fatimah untuk menenangkan ibu mertuanya yang terus menangis menyesali sikapnya selama ini.
Aku menyusui Syakha ya bu" Syafina melepas pelukannya. Fatimah mengangguk.
Syakha menyusu sangat kuat, dia baru saja terjaga dari tidurnya saat Syafina datang kesana. Arsya menungguinya, Arsya langsung pulang untuk istirahat setelah Syafina sampai disana.
"Fin, pak Arsya memang luar biasa. Hari ini dia istirahat hanya sebentar saja. Dia menjaga Syakha seperti jagain anaknya sendiri" Melli menuturkan.
"Aku nggak nyangka mas Arsya begitu cinta sama Syakha, apa Karena Syakha anakku? "
"Tentu saja karena Syakha anakmu, lagi pula dia memang sangat lembut pada semua bayi disini."
Syakha melepas isapannya dia sudah kenyang. Lalu Syafina mengajak anaknya mengobrol.
"Syakha, doain ayah agar cepat sembuh ya nak. Ayah pasti senang bertemu sama Syakha"
Bayi itu mengeluarkan suara rintihan kecil, seakan menjawab ucapan bundanya.
"Fin, kau pasti lelah. Biar aku yang menjaga Syakha. Syakha juga sudah kenyang. "
Syafina mengangguk, Lalu dia beristirahat dikamar Arsya. Kamar yang diberikan Arsya untuk tempat Syafina beristirahat.
*****
****
__ADS_1