Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 30


__ADS_3

Pagi yang cerah, Khalid dan Syafina turun dari kamarnya, Khalid menggandeng tangan Syafina menuruni tangga. Seminggu berlalu setelah malam itu, Khalid dan Syafina sudah seperti suami istri pada umumnya. Syafina terlihat sangat cantik begitu pula dengan Khalid terlihat sangat tampan.


Hari ini Dendi dan Cintya akan menikah, ijab Qabul dilakukan dirumah cintya, tidak ada resepsi.


Karena mengingat mama Sefni yang kondisinya agak menurun, dan juga Cintya memang tak ingin ada resepsi. Karena dia sudah tak mempunyai orangtua lagi. Hanya akan membuatnya bersedih bila harus berdiri di pelaminan bila tak ada kedua orangtua yang menyaksikannya. Cintya di nikahkan oleh kakak laki lakinya Adam.


"Bang, bukannya kakaknya Cintya pemilik nursery itu". Syafina jadi teringat dia pernah memborong calathea dan aglonema di Adam Nursery.


"Iya, Adam pemilik Nursery itu, dia sarjana pertanian. Makanya dia buka usaha nursery"


"Oo gitu, dia sudah menikah?"


"Setahu aku belum".


Akhirnya rangkaian acara berlangsung dengan lancar. Khalid dan Syafina mengucapkan selamat kepada pengantin. Arga dan Vivian juga mengucapkan selamat kepada Dendi.


"Ini tiket bulan madu untuk kalian, sekalian hotelnya sudah dipesan" Khalid memberi tiket itu kepada Dendi.


"Loh, kamu sendiri sudah lebih sebulan menikah belum bulan madu?" tanya Arga.


"Fina gimana, kita ikut? " Tanya Khalid sambil memeluk pinggang istrinya.


"Sudah basi kali bang"


"Ayolah" ajak Cintya.


"Kalian saja, aku lebih senang dirumah sama bang Khalid" Syafina tersenyum.


"Oo," Cintya mengangguk.


"Khalid bikin Fina betah dirumah" kata vivian menimpali.


"Bukan, yang ada juga Syafina bikin Khalid betah dirumah, biasanya kan dia menghabiskan malam di cafeku." tukas Arga.


mereka tertawa bersama.


"Makasih ya Khal, kamu memang sahabat terbaik" Dendi Merangkul bahu Khalid.


"Ini ide Syafina, berterima kasihlah pada iparmu ini" Khalid merangkul pinggang Syafina.


"Makasih Fina"


"Iya sama sama"


Reyhan tersenyum melihat kebersamaan mereka, dia diam diam masih sangat mengagumi kecantikan Syafina.


Sementara ada seseorang yang memandang dengan tatapan benci, Sherin. Dia berkali kali gagal mencelakai Syafina, dan juga gagal menggoda Khalid.


****


Viana datang kerumah Arsya, dia sengaja tidak memberitahu terlebih dahulu. Dia sangat cantik dengan mini dress yang berwarna pink baby.


Didepan rumah dia bertemu dengan ART dirumah itu.


"Bi ada Arsya dirumah? "


"Ada, silahkan masuk nona, pak Arsya dikamar tunggu saya panggilkan"

__ADS_1


"Eh tunggu bi, papanya Arsya ada dirumah nggak?"


"Tuan tidak ada dirumah nona, keluar kota"


"Oke, nggak usah di panggil Arsya nya, kamarnya dimana? ".


"Di atas, kamar yang pertama dari tangga"


Viana lalu menuju kamar Arsya, dia mengetuk pintu. Mendengar pintu diketuk Arsya dengan malas membukanya.


"Viana, kenapa nggak bilang mau kesini? "Arsya melotot dengan muka bantalnya.


"Kejutaan" Viana dengan gaya genitnya. lalu dia masuk kedalam kamar Arsya, dan duduk diatas sofa.


"Sya keluar yuk,"


"Aku baru pulang piket malam Via, ini baru tidur sekitar se jam kamu sudah datang"


"Maaf ya kalau aku ganggu, dirumah juga nggak apa apa. Aku disini saja menunggu kamu "


"Mau ngapain disini, aku masih ngantuk nggak bisa nemenin kamu ngobrol"


"Ya udah tidur saja kalau masih ngantuk, nggak aku apa apakan kok"


"Nanti dua jam lagi banguni aku" Arsya tidur menelungkup.


"Iya, tidurlah" kata Viana. Lalu viana membuka ponselnya melihat lihat media sosial.


"Untung saja tampan, kalau nggak mungkin sudah lama aku bosan cari perhatian kamu"


"Apa aku cek handphonenya saja ya?", Viana berjalan ke meja dimana handphone Arsya ditaruhnya.


"Nggak usahlah, gimana kalau ketahuan bisa marah besar Arsya. Nanti aku di usir". Viana kembali ke tempat duduknya.


****


Khalid dan Syafina sudah sampai dirumah, mereka dari pernikahan Dendi dan Cintya.


Khalid duduk di sofa ruang keluarga nonton televisi sambil menikmati kopinya, Syafina duduk disebelahnya. Dari tadi dia menatap suaminya, entah kenapa baginya sekarang Khalid seperti seorang idola baginya.


"Kenapa lihatin abang terus dari tadi" Sebenarnya Khalid menjadi grogi dilihatin istrinya dari tadi, tapi dia tak mau menampakkannya.


"Suka aja"


"Nanti perih matanya, nggak berkedip dari tadi"


"Mana mungkin perih, lihat yang adem"


"Ha ha" mendengarnya Khalid jadi terkekeh.


"Kenapa tertawa?"


"Kamu ada ada ada saja, emang AC"


"Kenapa ya bang, aku tu betah banget lihat abang lama lama"


"Nggak tahu" Khalid mengedikkan bahunya. Dalam hati dia merasa bersyukur istrinya sudah mencintainya. Khalid yakin itu.

__ADS_1


Tiba tiba Syafina sudah berbaring saja di pangkuan Khalid. Khalid mengelus rambut istrinya, dia membiarkan istrinya tidur dipangkuannya. Sesekali dia menciumi pipi istrinya.


"Hmm, biasanya jaim banget, sekarang malah nggak mau jauh jauh dari suami".


****


Siang ini Sherina menemui Fatimah ingin menyampaikan kalau dia akan menikah. Sherina menemui Fatimah di dalam kamarnya.


"Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" tanya Fatimah.


"Yakin bu, aku sudah lama kenal dengan Roby. kami saling mencintai"


"Kalau begitu suruh dia menemui ibu, kita bicarakan kapan kalian menikah"


"Kami ingin secepatnya bu, aku juga ingin pernikahan yang sederhana. tak usah ada resepsi"


"Terserah kamu Sher, tapi suruh Roby menemui ibu dahulu"


"Iya bu, besok aku ajak Roby menemui ibu"


Sherina menikahi Roby bukanlah karena cinta, tapi karena suatu rencana yang lebih besar direncanakannya. Tujuannya adalah hanya memiliki Khalid, dan menghancurkan orang yang menghalangi keinginannya itu.


****


Syafina sudah terbangun dari tidurnya, sudah lebih satu jam dia tertidur di pangkuan suaminya. Kaki Khalid bahkan kesemutan dibuatnya. Dia duduk lalu malah bersender didada suaminya.


"Bener bener udah lengket nih anak sama suaminya" Batin Khalid.


"Bang, emang dari kapan sih suka sama aku? ", Syafina bertanya. Khalid heran mengapa tiba tiba istrinya bertanya seperti itu.


"Kenapa nanya itu Fin?"


"Heran saja bang, kok abang langsung cinta saja sama aku. Kan kita di jodohin"


"Abang sudah lama suka sama kamu Fin, dari kamu kecil, waktu itu kamu masih SD" Khalid lalu menceritakan semua kepada Syafina.


Berawal dari Syafina yang ikut orangtuanya silaturrahmi kerumah bu Fatimah, waktu itu Syafina kira kira berumur 10 tahun, sementara Khalid waktu itu berumur 16 tahun. Semenjak saat itu Khalid sering memperhatikan Syafina dari jauh, mengikutinya. Tapi saat itu Khalid tak tahu persis seperti apa perasaannya, karena Syafina hanyalah seorang gadis kecil. Dan masih keponakannya sendiri.


Saat Syafina beranjak remaja Khalid semakin menyukai gadis itu, gerak geriknya, bahasa tubuhnya, cara bicara dan tertawanya Khalid suka. Seakan ada magnet yang membuatnya tertarik dengan Syafina. Khalid susah mengartikan perasaannya kepada Syafina saat itu. Pada saat itu Khalid sudah kuliah di kota A dan Syafina disekolah menengah juga dikota A.


Ketika Syafina duduk di bangku Kuliah akademi keperawatan dia tumbuh jadi gadis yang sangat ramah, cantik. Saat itu Khalid telah pindah kembali ke kota B, sekali atau dua kali sebulan dia ke kota A meninjau restoran dan bengkelnya disana, dia menyempatkan diri lewat didepan kosan Syafina kadang mengikutinya kemana Syafina jalan jalan.


"Abang nggak bohong, selama 12 tahun? "


"Buat apa bohong, yang jelas sekarang aku sudah jadi suami kamu, Syafina ku"


Khalid mencium pucuk kepala istrinya.


"Semua ini Tuhan yang mengaturnya bang" kata Syafina.


"Ya udah, lapar nih. Kita makan diluar yuk sayang"


"Okey, bakso ya".


"Iya, terserah Fina saja"


****

__ADS_1


__ADS_2