Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Romantis Ala Arsya


__ADS_3

"Bang ayo kita pulang"


Khalid menggeleng, dia mengisyaratkan tangannya agar Syafina tetap di tempatnya.


"Kenapa sih masih tetap disini, nanti kamu juga yang cemburu" batin Syafina dalam hati.


Terdengar suara merdu Arsya melantunkan surat cinta untuk Starla. Semua tamu seakan diperintahkan untuk diam, mereka penasaran dengan suara merdu pemilik Syanaya Resort.


Kutuliskan kenangan tentang


caraku menemukan dirimu


Tentang apa yang membuatku mudah


berikan hatiku padamu


Takkan habis sejuta lagu


menceritakan cantikmu


Kan teramat panjang puisi


tuk menyuratkan cinta ini


Telah habis sudah cinta ini


tak lagi tersisa untuk dunia


Karena tlah kuhabiskan


sisa cintaku hanya untukmu


Aku pernah berpikir tentang


hidupku tanpa ada dirimu


Dapatkah lebih indah dari


yang kujalani sampai kini


Aku selalu bermimpi tentang


indah hari tua bersamamu


Tetap cantik rambut panjangmu


meski nanti tak hitam lagi


Bila habis sudah waktu ini


tak lagi berpijak pada dunia


Telah kuhabiskan


sisa hidupku hanya untukmu


Dan tlah habis sudah cinta ini


tak lagi tersisa untuk dunia


Karena telah kuhabiskan


sisa cintaku hanya untukmu


Bila musim berganti


sampai waktu terhenti


Walau dunia membenci


ku kan tetap disini


Bila habis sudah waktu ini

__ADS_1


tak lagi berpijak pada dunia


Telah kuhabiskan


sisa hidupku hanya untukmu


Bila habis sudah cinta ini


tak lagi tersisa untuk dunia


Karena telah kuhabiskan


sisa cintaku hanya untukmu


Arsya menyudahi lagu itu dengan sangat memukau tamu yang hadir pada malam itu, semua bertepuk tangan dengan meriah termasuk para pelayan di restoran itu. Kecuali Khalid yang menahan nafasnya dan syafina yang tertunduk malu. Para tamu bertanya satu sama lainnya, penasaran siapa Syafina Almaira.


Host mengambil alih acara


"Semua yang hadir pada malam ini termasuk saya tak menyangka pak Arsya semuda dan setampan ini. Apalagi suaranya sangat merdu. Hmm, ada yang bertanya tanya ini pak, apakah Syafina Almaira hadir pada malam ini?"


"Iya dia hadir, berada diantara salah satu tamu pada malam ini"


Ucapan Arysa sontak membuat tamu pada heboh, mereka melihat kiri kanan siapa tahu melihat wanita yang bernama Syafina Almaira. Beberapa orang melihat ke arah syafina. Tapi salah satu dari mereka berkata.


"Tak mungkin dia, dia wanita hamil dan bersama suaminya. "


Syafina akhirnya bernafas lega, dia lolos dari kecurigaan orang orang pada malam itu. Sementara Khalid menarik nafas panjang dan melepasnya dengan kasar.


Dari kejauhan Arsya menatap Syafina lekat, dimatanya penampilan Syafina malam itu begitu sempurna.


"Andai saja aku yang disampingmu Fina"


Syafina menyadari Arsya memperhatikannya, dia merasa risih. Takut orang orang tahu dialah Syafina Almaira.


"Bang, kita pulang sekarang" Syafina menyentuh tangan suaminya.


Tanpa menjawab Khalid pun berdiri, dia juga tahu Arsya sedari tadi menatap istrinya. Khalid takut akan kehilangan kesabaran dan memukul Arsya.


"Arsya boleh bermimpi tentang hari tua bersamamu tapi tetap saja aku lebih beruntung karena dimiliki dirimu"


"Sudahlah bang, jangan bersaing sama Arsya"


"Siapa yang bersaing, tanpa bersaing pun aku sudah menang"


"Terserah abang, itu faktor keberuntungan abang saja"


"Oh ya, itu berarti kamu masih ada rasa sama Arsya, hmm baper ya sama lagu Arsya. Ckk perempuan memang mudah baper."


"Siapa yang baperan, abang itu lagi cemburu"


"Siapa yang cemburu. Kenapa Arsya tahu kamu makan malam disana, kamu memberitahunya ?"


"Apa sih curiga mulu. Aku saja nggak tahu Syanaya resort ini milik Arsya"


"Apa kamu benar benar mencintai Arsya ? jujur sama abang."


"Aku nggak suka pertanyaan abang, aku sudah bersuami mana mungkin aku mencintai laki laki lain."


"Kamu tinggal jawab saja."


Syafina diam tak mau menjawab pertanyaan Suaminya.


Pukul 22.15 Khalid dan Syafina sudah sampai di homestay. Syafina mengganti pakaiannya dengan piyama. Syafina masih saja diam tak menegur suaminya. Setelah ganti pakaian dia berbaring di atas tempat tidur dan menarik selimutnya. Hening tanpa ada suara diantara mereka


"Dia kira aku perempuan apa, mana mungkin aku mencintai laki laki lain" batin Syafina kesal.


"Memang aku yang salah merebut kekasihnya Arsya, wajar saja jika kalian masih saling mencintai" Khalid membuka suara memecah keheningan diantara mereka.


"Maksud kamu apa Khalid. Kau pikir aku sama sepertimu, punya anak dengan wanita lain !" Syafina menatap suaminya dengan mata berapi.


Kata kata Syafina seperti anak panah yang berbalik kepadanya. Khalid terdiam, sebenarnya bukan dia bermaksud menuduh istrinya bermain di belakang. Syafina telah salah paham.


Baru saja mereka berbahagia beberapa menit saja, kenapa Arsya tiba tiba mengganggu suasana dan membuat salah paham diantara dia dan istrinya

__ADS_1


Kini Khalid tak dapat bicara, membalas perkataan Syafina sama saja dengan menyatakan perang.


Syafina membelakangi Khalid, dia sangat kesal dengan kata kata suaminya barusan. Dia sudah berusaha mempercayai suaminya, akan selalu mendukungnya tapi malah dia berbalik menuduh dirinya bermain dibelakang, ini sungguh tak adil.


Khalid membolak balikkan badannya, sementara Syafina diam tak bergerak membelakanginya. Khalid tidak tenang matanya pun belum mengantuk sama sekali.


"Fina, maafin abang, Abang benar benar cemburu sama Arsya. Abang takut dia merebutmu"


Mendengar itu Syafina membalikkan badannya menghadap suaminya.


"Arsya memang ingin merebutku darimu, tapi aku bukan barang yang bisa direbut. Aku selalu menuruti kehendak suamiku untuk menjauhi Arsya ataupun Reyhan. Aku tak seperti suamiku yang tak mau dengar kata kataku"


Wajah Khalid serasa mendapat tamparan keras, kata kata Syafina memang benar. Lagi lagi dia kalah telak dengan ucapan Syafina.


Khalid menarik nafas dalam menghembusnya perlahan berusaha menenangkan pikirannya. Dihatinya terasa penyesalan yang teramat besar telah meremehkan perasaan istrinya.


Khalid menyesal selama ini tak peduli dengan kata kata istrinya. Selama ini dia menganggap omelan Syafina adalah rengekan ponakan kecilnya yang bermanja padanya.


"Apakah sudah terlambat memperbaikinya semua ini, aku tak mau pernikahanku dengan Syafina berakhir sampai disini" lirih Khalid dalam hati. Lalu dia menatap punggung Syafina yang membelakanginya, Khalid tahu istrinya belum tidur.


"Fina, jika abang menikahi Sherina apa kau benar benar akan meninggalkan abang?."


"Nggak tahu, nanti saat kau menikahi Sherina mungkin hari itu aku akan mati saja atau pergi jauh" Syafina kembali membalikkan badannya menghadap suaminya.


"Jangan biarkan pernikahan kita berakhir. Aku benar benar tak sanggup hidup tanpa kamu Fin" Tak terasa air mata Khalid menetes, sungguh dia tak sanggup harus hidup tanpa istrinya.


Hati Syafina ikut sakit melihat suaminya menangis, dia tahu laki laki ini sangat menyayanginya. Syafina menghapus air mata yang mengalir dipipi suaminya.


"Tidurlah, abang kelihatan lelah. Jangan pikirkan masalah itu"


"Iya abang tidur, tapi janji jangan tinggalkan abang"


Syafina sadar dia telah egois, disaat suaminya butuh dirinya. Dia malah berpikir akan meninggalkan suaminya. Hanya istri durhaka yang tega meninggalkan suaminya.


"Iya, aku janji tidak akan meninggalkan kamu bang"


"Makasih Fina"


Syafina mengangguk, lalu membelai rambut suaminya, mengusapnya agar suaminya merasa tenang. Tak lama Khalid pun tertidur karena merasa sangat nyaman.


****


Dikamarnya Arsya masih belum bisa tidur padahal jam sudah menunjukkan pukul 01.20 dini hari. Pikirannya melayang pada Syafina, apakah Syafina malam ini bertengkar sama suaminya akibat ulah perbuatannya. Arsya merasa bersalah tapi hanya itu yang bisa dilakukannya agar Syafina tahu bahwa ia masih mencintainya.


Flash back on


Arsya mengantar Syafina pulang ke kosannya sehabis Sif sore, didalam mobil Arsya memutar lagu Bukti dari Virgoun. Arsya bernyanyi kecil mengikuti lagu itu sampai selesai. Karena lagu itu mewakili perasaannya saat itu.


"Memenangkan hatiku bukanlah hal yang mudah, kau berhasil membuat ku tak bisa hidup tanpa mu"


Setelah sampai didepan kosan Syafina, Arsya menahan Syafina agar tak segera keluar dari mobilnya.


"Tunggu Fina" Lalu Arsya mengambil sesuatu dari bangku belakang. Seikat mawar putih diberikannya pada gadis itu.


"Cantik sekali, makasih mas" Syafina mencium bunga itu.


"Fina, kamu mau menerima cintaku? mau kan jadi pacarku ?" Arsya menggenggam tangan Syafina yang sebelahnya, sebelah tangan Syafina memegang mawar pemberian Arsya.


"Ehmm. Aku senang sekali ternyata mas mencintaiku. Tapi aku tak pantas untukmu mas."


"Kau sangat pantas, hanya kau yang sangat pantas Fina. Tolong terimalah cintaku".


Syafina mengangguk, "Mas boleh mencintaiku, tapi aku nggak mau yang namanya pacaran"


"Jadi mas digantung nih"


Syafina tak menjawab dan hanya membalas dengan senyumannya. Namun Arsya tahu gadis didepannya ini juga mempunyai rasa yang sama untuknya.


Flash back off


Arsya menarik nafas dalam, membuangnya perlahan. Berkali kali dia mencoba melupakan Syafina, tapi selalu ada yang membuat dia harus dekat dengan gadis itu. Menyelamatkannya, membawanya kerumah sakit, dan malam ini dia tak sengaja bertemu di Syanaya restaurant. Membuatnya terbakar cemburu melihat Khalid memberi bunga dan cincin untuk Syafina. Arsya tergerak untuk memberikan sesuatu yang romantis juga buat Syafina dengan menyanyikannya sebuah lagu. Surat Cinta untuk Starla yang mewakili isi hatinya pada Syafina.


****

__ADS_1


__ADS_2