Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 59


__ADS_3

Setelah selesai solat subuh, Khalid bersiap siap. Pakaiannya sudah disiapkan Syafina kemarin di dalam cover.


"Sebentar lagi pak Lukman sampai, abang ke bawah sarapan ya"


"Aku bantu siapin ya bang" mereka berdua pun turun ke dapur. Khalid sekalian membawa koper dan menyandang tas nya.


"Abang mau dibikinin nasi goreng?"


"Tidak usah Fina, sarapan roti saja sama susu"


Syafina mengambil roti dan selai dari dalam lemari, lalu menghidangkannya di atas meja makan. Khalid mengoles sendiri selai coklat ke atas rotinya, sementara Syafina menuangkan susu cair ke dalam gelas.


"Ini susunya bang". Syafina duduk di samping suaminya.


"Kamu nggak ikut sarapan Fina?"


"Nanti saja bang, aku mau nasi goreng"


Khalid menghabiskan 3 potong roti, dan segelas susu.


"Sudah kenyang? " tanya Syafina.


"Belum," Khalid menggeleng.


"Makanya tadi makan nasi goreng saja"


"Abang nggak mau" Khalid menarik tangan Syafina.


"Duduk disini" Khalid menepuk pahanya.


Syafina melihat sekeliling, tidak ada orang. Lalu dia duduk di pangkuan suaminya.


"Abang lanjutin sarapan ya ? " Kata Khalid dengan senyum nakalnya.


"Apa? jangan bilang abang mau makan aku disini"


"Hush diam". Khalid menarik pundak istrinya lalu dia menciumi istrinya, Syafina membalasnya.


Seseorang yang menyaksikan adegan itu dari kejauhan menitikkan air mata, Sherina kembali ke kamarnya. Dia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia menangis tak sanggup melihat Khalid bermesraan dengan Syafina.


Suara salam dari luar membuyarkan kemesraan Khalid dan Syafina.


"Bang, mungkin itu pak Lukman"


"Cepat sekali dia datang" gerutu Khalid


"Lihat jam enam tepat" Syafina menunjuk jam di dinding.


Dengan kecewa Khalid melepaskan pelukannya. Dia lalu berdiri mengambil kopernya.


"Abang berangkat ya"


"Iya" Syafina mengangguk.


"Bang rasanya manis seperti coklat" Syafina tersenyum nakal menggoda suaminya.


"Mau lagi ? "


"Tidak, itu pak Lukman Kelamaan di luar dari tadi ngucapin salam". Syafina mengantar suaminya sampai keluar, dia melihat suaminya berangkat.


"Abang hati hati ya" Dia melambaikan tangannya. Khalid membalasnya.

__ADS_1


"Bilang sama ibu aku sudah berangkat"


"Iya bang". Syafina menatap mobil suaminya yang mulai berangkat


Pak Lukman berhenti didepan post satpam, terlihat Khalid menjulurkan kepalanya keluar dia berbicara dengan pak Udin juga H dan R. setelah beberapa saat Khalid berbicara terlihat pak Udin, H dan R mengangguk anggukkan kepalanya. Kemudian barulah Pak Lukman melajukan mobilnya.


Syafina menatap mobil suaminya sampai hilang dari pandangannya, lalu dia duduk di kursi teras.


****


Sherina berdiri menatap cermin, Dia menangis menyesali dirinya.


"Apa kurangnya diriku, kenapa Khalid tak pernah bisa menerima diriku, dia tak menghargai perhatian dan pengorbananku. Semua karena Syafina. Aku benci Syafina" Sherina menangis tersedu sedu.


"Wanita kampung itu sekarang di jaga pengawal, aku tak bisa lagi bertindak dengan cara kasar kepada Syafina, pengawalnya pasti akan curiga. Sekarang Khalid lah sasaranku"


****


Syafina masih duduk di kursi teras menikmati udara pagi. Di pos satpam terlihat Pak Udin sedang siaga, H dan R juga kelihatan bolak balik. Sementara Linda belum datang, mungkin sebentar lagi. Syafina tersenyum melihat tiga orang laki laki bertubuh tegap itu.


"Mengapa mereka patuh sekali dengan bang Khalid, subuh mereka sudah siaga. Berapa mereka di bayar ya ?".


Khalid memang baik dengan orang yang kerja dirumahnya pak Udin dan bi Lastri, sekarang bertambah tiga orang lagi orang yang kerja di rumah itu. Syafina tidak tahu menahu berapa mereka di bayar, bahkan tidak tahu kapan mereka gajian. Untuk hal itu Dendi lah yang mengurus semuanya.


"Syafina, bang Khalid kemana ya? " Sherina tiba tiba datang.


"Abang ke kota A, dia barusan berangkat"


"Oo, saya juga mau keluar"


"Kamu sudah ketemu ibu? "


"Belum, beritahu saja kalau aku malam tadi menginap disini"


Sherina melajukan mobilnya, Pak Udin membuka gerbang.


"Bukankah itu Sherin? " suara Ibu Fatimah yang berdiri dibelakang Syafina.


"Eh ibu, iya bu malam tadi Sherin menginap disini"


"Oo gitu, kenapa dia buru buru sekali ? " Fatimah lalu duduk di kursi disamping Syafina.


"Nggak tahu bu, bang Khalid juga sudah berangkat setengah jam yang lalu. Katanya dia tak ingin mengganggu istirahat ibu, makanya dia tidak pamit.


"Sebenarnya tadi ibu sudah lama bangun, tapi ibu mengaji di kamar, Khalid sudah sarapan tadi kan sebelum berangkat ? "


"Sudah bu, setelah solat subuh abang langsung siap siap dan sarapan"


"Tadi Sherina ada bilang sesuatu? "


"Tidak bu, dia datang malam tadi ketika ibu sudah tidur, dia menangis sampai sampai dia memeluk bang Khalid"


"Dia nangis lagi ? Sherina memang sangat manja dengan Khalid. Apa dia bertengkar lagi dengan Robi ya Fin? "


"Mungkin bu, soalnya dia bilang dia sudah tidak tahan sama Robi".


"Setelah Khalid pulang ibu akan menyuruh dia menemui Robi, kamu nggak apa apa kan kalau suami kamu meluangkan waktunya sedikit mengurus Sherina ?"


"Iya nggak apa apa bu"


"Makasih ya Fina, kamu tadi juga sudah sarapan? "

__ADS_1


"Belum bu, ayolah bu kita sarapan bareng". Ajak Syafina.


Mereka berdua lalu masuk kedalam rumah, Fatimah menutup pintu.


****


Sherina mengisi bahan bakar di pom bensin, Dia akan melakukan perjalanan cukup jauh. Setelah selesai dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Lalu dia menelpon Angel.


"Kamu tunggu sekitar satu jam lagi aku sampai depan rumahmu"


"Oke, aku tunggu"


Sherina memutuskan sambungan teleponnya. ponselnya berbunyi seseorang menelponnya. Sherina menerima telepon itu


"Ada apalagi? "


"Sherina, kamu mau kemana. Tadi aku lihat kamu isi bahan bakar"


"Bukan urusanmu, aku mau menyusul Khalid. kau sudah tahu juga kan. kami itu tak dapat dipisahkan." Sherina memutuskan hubungan telponnya.


"Ada apa lagi yang dilakukan Sherina, ." Robi berbicara dengan dirinya sendiri. Dia sudah lelah menghadapi sikap istrinya.


Flash back


Pagi itu Robi meminta Sherina membuat teh untuknya, Dia tahu pasti nanti Sherina akan menolak. Tapi tetap dia meminta Sherina melakukannya, dengan tujuan agar Sherina terbiasa dengan dirinya sebagai suami.


"Sherin, bisa bikinin abang teh, abang masih ada kerjaan nih? "


"Apa, bikin saja sendiri"


"Sher, kapan sih kamu bisa melayaniku, aku nggak minta lebih. Ya minimal kamu mau bikinin aku teh dan sarapan pagi saja sudah cukup".


"Jangan menghayal terlalu tinggi" jawab Sherina.


"Sherin, aku sudah lelah sama kamu. sebenarnya mau kamu itu apa sih, kalau tidak mencintaiku kenapa kamu minta aku menikahimu? "


"Aku terpaksa karena ibu memintaku menikah, kamu tahu sendiri kan aku dan Khalid saling mencintai"


"Khalid tidak mencintaimu Sherin, kalau dia mencintaimu sudah pasti kamu yang jadi istrinya"


"Ibu yang menghalangi cinta kami, Khalid hanya mencintaiku"


"Terus sekarang apa yang akan kamu lakukan, sekarang dia sudah beristri dan istrinya sudah hamil. Lupakanlah dia"


"Aku tak akan melupakannya, aku harus mendapatkannya. Aku akan jadi istrinya"


"Kau istri aku Sherina !"


"Sekarang ceraikan aku, biar aku bisa bebas"


"Tidak akan ku ceraikan !"


"Ceraikan aku !" Sherina menarik kerah baju Robi dengan kuat.


Robi mencoba melepaskan tangan Sherina yang menarik kerah bajunya. akhirnya cengkraman tangan sherina terlepas, Robi menarik tangan Sherina terlalu kuat, sehingga bekas tangannya membekas di tangan Sherina.


"Sherin, aku bisa saja memaksamu. Aku juga bisa bilang sama ibumu kalau kamu tidak pernah menunaikan kewajibanmu. Tapi tidak kulakukan. Aku ingin kau sadar bahwa aku sangat mencintaimu".


"Tapi aku hanya mencintai Khalid, dan dia mencintaiku"


"Omong kosong, apa buktinya Khalid mencintaimu? "

__ADS_1


"Oke, akan ku buktikan. Aku buktikan sama kamu dan akan kubuktikan sama ibu bahwa kami tidak bisa di pisahkan. Kau lihat saja" Sherina menunjuk wajah Robi.


****


__ADS_2